
Mata Zong Dian bergetar melihat Zong Xian seperti itu. Apalagi mendengar kata kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Ia mencengkram pisaunya dengan erat.
"Ada apa Dian'er? Bukankah kau ingin membunuhku? Uhuk...", Zong Xian kembali terbatuk darah. Ia tetap menatap kearah Zong Dian dengan senyuman.
Zong Dian saat ini ada di jarak sekitar 4 langkah dari Zong Xian. Ia mengarahkan pisau itu kearah Zong Xian dan mencengkramnya dengan kuat. Seakan ia sudah siap menusuk Zong Xian.
Zong Xian masih tetap tersenyum walaupun melihat hal itu. Liu Chen dan Han Liangyi hanya memperhatikan kedua orang itu saja, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Xian'er gege..", Zong Dian memberikan jeda sebentar dari ucapannya. Ia pun kembali melanjutkan, "Aku tak bisa melakukannya, aku tak bisa membunuhmu"
Pisau yang dipegang oleh Zong Dian pun berbalik arah dan menancap di tubuhnya. Sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah. Tubuhnya juga perlahan jatuh ke tanah.
Zong Xian melotot tak percaya. Ia langsung menghampiri adiknya dengan susah payah dan langsung menaruh kepala Zong Dian di pangkuannya. "Apa yang kau lakukan?!"
Zong Dian tersenyum menatap Zong Xian. Pandangannya agak kabur saat ini. Iapun terbatuk darah. "Xian'er gege, aku.. Tak bisa.. Membunuhmu.. Aku sangat menyayangi kakak.. Maafkan aku karna menusukmu tadi"
Zong Xian langsung mencabut pisau yang tertancap di tubuh adiknya. Di tepi matanya mengeluarkan air mata, "Seharusnya kau tak melukai dirimu sendiri, dasar bodoh! Kenapa kau malah melukai dirimu?!"
Zong Dian masih tersenyum, "Tentu aku harus melakukannya.. Karna aku tadi.. Melukaimu, Xian'er gege", pandangannya semakin lama semakin buram saat ini. Ia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak menutup mata, walau sejenak untuk mengatakan sesuatu pada kakaknya.
"Sepertinya.. Ini pertemuan terakhir kita.. Xian'er gege.. Aku menyayangimu" ucap Zong Dian. Perlahan, matanya pun tertutup dengan senyuman di bibirnya.
Zong Xian menepuk nepuk pipi Zong Dian, berharap agar adiknya membuka mata. "Dian'er! Buka matamu! Kenapa kau tak mau membuka matamu, hah?! Cepat buka matamu, Dian'er!", air keluar dari matanya dan mengenai wajah Zong Dian.
Liu Chen dan Han Liangyi langsung menghampiri Zong Xian.
Zong Xian menatap kearah Liu Chen, "Tolong sembuhkan Dian'er, Chen! Berikan dia pil apapun, agar dia sadar dan membuka matanya, Chen! Kumohon, tolong dia sekarang!"
Liu Chen berjongkok di dekat Zong Xian, iapun melihat luka dimana Zong Dian menusuk pisau ke tubuhnya sendiri. "Aku.. Tak bisa menyembuhkannya"
"Apa maksudmu, Chen?! Bukankah kau alkemis hebat?! Kau bisa membuat pil pil yang hebat?! Lalu apa maksudmu kau tak bisa menyembuhkan Dian'er?!" teriak Zong Xian. Air mata terus saja keluar membasahi wajah Zong Xian. Ia menatap Liu Chen dengan tajam.
"Tusukan itu tepat mengenai jantungnya. Nadi miliknya juga semakin lambat. Aku tak bisa melakukan apapun" ucap Liu Chen dengan tak berdaya.
"Pasti ada cara untuk menyelamatkan Dian'er! Pikirkanlah Chen!" teriak Zong Xian.
"Hei, dia sudah mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan apapun lagi untuk menyelamatkan adikmu" ucap Han Liangyi.
"Pasti ada cara menyelamatkannya!" ucap Zong Xian sambil menatap Han Liangyi dengan tajam.
Liu Chen pun teringat bahwa ia memiliki satu kesempatan untuk hidup lagi bila ia mati. "Aku hanya memiliki satu cara saja"
Zong Xian langsung menatap Liu Chen, "Kalau begitu cepat lakukan. Tubuh Dian'er semakin dingin!"
Liu Chen duduk bersila di dekat Zong Xian yang memangku kepala Zong Dian. Ia memfokuskan fikirannya.
"Apa yang kau laku-"
"Kau diam saja, perhatikan apa yang akan Chen lakukan", Han Liangyi memotong ucapan Zong Xian. Akhirnya pemuda itu pun diam.
Zong Xian menatap Zong Dian dengan khawatir.
Di dalam sebuah tempat yng serba putih, Liu Chen muncul disana. Ada juga sebuah bola cahaya yang melayang dihadapannya saat ini.
"Bola cahaya, aku ingin satu kesempatan hidupku itu diberikan pada Dian'er. Kau pasti melihatnya tadi, bukan? Bagaimana kejadian yang terjadi" ucap Liu Chen sambil menatap bola bercahaya di hadapannya.
"Tapi Tuan, bila anda mati nanti.. Maka anda tidak bisa dihidupkan lagi seperti saat itu"
Liu Chen menggelengkan kepala, "Tidak masalah, asalkan berikan satu kesempatan hidup itu untuk Dian'er"
"Baiklah Tuan, bila itu kemauan anda"
Liu Chen tersenyum, "Terimakasih"
Disaat yang bersamaan, ruangan serba putih itu mengeluarkan cahaya. Liu Chen menutup matanya karna cahaya terang itu.
Diluar, tubuh Liu Chen bersinar. Namun tidak sampai menyilaukan mata. Dikening Liu Chen, muncul gambar daun semanggi berdaun empat berwarna kuning keemasan. Cahaya bulat keluar dari tubuh Liu Chen menuju tubuh Zong Dian yang dingin.
Cahaya berbentuk bulat itupun masuk ke dalam tubuh Zong Dian dan membuat tubuhnya bersinar. Perlahan, sinar mulai meredup begitu juga sinar yang dikeluarkan dari tubuh Liu Chen.
Setelah cahaya itu menghilang dari tubuh Zong Dian, anak itu membuka mata secara perlahan.
__ADS_1
Zong Xian tersenyum senang melihat adiknya mulai membuka mata kembali. Bahkan bekas luka tusuk tadi sudah menghilang. Ia langsung memeluk adiknya dengan erat, "Dian'er! Akhirnya kau sadar juga, kau tau aku mencemaskanmu. Jangan melakukan hal seperti itu lagi, kau mengerti?!" ucap Zong Xian dengan marah, bercampur senang.
"Uhuk.. Xian'er gege.. Aku sulit.. Bernafas" ucap Zong Dian dengan kesulitan.
Akhirnya Zong Xian melepaskan pelukannya. Namun Zong Dian masih tetap ada di pangkuannya. "Jangan lakukan hal seperti tadi lagi, kau paham?"
"Maaf"
Cahaya yang ada di tubuh Liu Chen langsung menghilang. Tanda yang ada di keningnya juga menghilang. Tubuh Liu Chen terlihat akan jatuh, namun Han Liangyi langsung menjadi sandaran dari Liu Chen.
Mata pemuda itu masih terpejam, hal ini membuat Han Liangyi cukup cemas. "Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak bangun juga?"
Mendengar hal itu, membuat Zong Xian dan Zong Dian menoleh kearah Liu Chen. Mata pemuda itu memang masih terpejam, ia terlihat seperti tidak sadarkan diri. "Apa yang terjadi dengannya?" ucap Zong Xian.
Zong Dian mulai duduk, dibantu oleh Zong Xian. Mereka langsung duduk di dekat Liu Chen.
"Apa yang terjadi dengan kak Chen?" ucap Zong Dian.
Han Liangyi menggelengkan kepala, "Aku tidak tau" ucapnya dengan cemas. Ia memeriksa nadi dan detak jantung Liu Chen, semuanya normal. Hanya saja, tubuhnya agak dingin. Ini 'lah yang membuat Han Liangyi khawatir.
"Kalau begitu, kita bawa Chen ke tempatku" ucap Zong Xian.
Han Liangyi menatap Zong Xian sejenak, iapun mengangguk. Mereka pergi ke markas kelompok bandit kalajengking yang kini sudah Zong Xian taklukan.
Setelah sampai di salah satu kamar yang ada disana, mereka membaringkan Liu Chen diatas kasur.
Han Liangyi menyodorkan sesuatu pada Zong Xian, "Chen memberikan ini padaku sebelum dia mulai melakukan cara untuk membantu adikmu kembali membuka matanya. Telanlah, agar lukamu cepat sembuh"
Zong Xian menerima pil yang diberikan Han Liangyi. Iapun duduk bersila dan menelan pil itu. Dia menyerap khasiatnya dan tak butuh waktu lama, ia sudah menjadi lebih baik. Tapi perutnya tetap saja masih terasa sakit.
"Kau istirahat saja, aku akan menjaga Chen disini" ucap Han Liangyi.
"Tapi.."
"Sudahlah, dia juga pasti akan menyuruhmu seperti itu bila dirinya sudah sadar saat ini"
Akhirnya Zong Xian mengangguk, ia menatap kearah Zong Dian. "Dian'er, kau ikut kakak. Kita harus istirahat untuk memulihkan diri sepenuhnya"
"Ada pria itu disini yang akan menjaga Chen sementara waktu. Dia juga pasti akan mengatakan hal yang sama seperti ku bila dirinya sadar sekarang"
Zong Dian mengangguk dengan pasrah. Ia pun pamit dan mengatakan terimakasih pada Han Liangyi. Ia juga ingin mengatakan terimakasih pada Liu Chen, namun pemuda itu sedang tidak sadarkan diri saat ini. Jadi dia akan mengatakannya nanti.
"Terimakasih sudah menjaga Dian'er dan mempertemukanku dengannya" ucap Zong Xian.
"Itu karna Chen. Bukan aku, jadi berterimakasih 'lah pada Chen nanti" ucap Han Liangyi.
"Aku tau, tapi tetap saja kau juga sudah membantuku, terimakasih"
"Ah, yasudah"
Zong Xian pamit keluar. Ia dan Zong Dian langsung keluar dari kamar Liu Chen.
Han Liangyi menatap Liu Chen dengan cemas. Yang ia cemaskan sebenarnya bukanlah Liu Chen, namun dirinya sendiri. Ia takut bila nanti bertemu ras iblis yang mengenalinya dan dia belum mempertemukan mereka dengan Liu Chen, maka tamatlah dia. Dia akan terkena masalah.
Ras iblis juga dikenal karna kekejamannya dalam memberi hukuman pada seseorang yang berbuat kesalahan. Tentunya tidak semua iblis seperti itu. Namun kebanyakan, iblis memang kejam.
Han Liangyi memegang tangan Liu Chen. Ia saat ini ingin memastikan apakah Liu Chen memang reinkarnasi dari pangeran iblis ataukah bukan. Jadi dia mencari tau dengan melihat masa lalu dari Liu Chen. Bila Liu Chen memang reinkarnasi dari pangeran iblis, seharusnya Han Liangyi bisa melihat masa lalu pangeran iblis.
Han Liangyi terus melihat masa lalu Liu Chen hingga berjam jam. Bahkan keningnya nampak berkeringat karna untuk melihat masa lalu orang lain, dibutuhkan Qi yang besar dan juga kefokusan tinggi.
Setelah sekitar 3 jam, akhirnya Han Liangyi melepaskan pegangan tangannya dari Liu Chen. Nafasnya tidak beraturan karna lelah dan Qi nya yang terkuras banyak. Biasanya tidak sampai seperti ini, namun entah kenapa bila melihat masa lalu Liu Chen, membutuhkan Qi yang lebih besar lagi.
"Chen.. Bukan reinkarnasi pangeran iblis.."
"..tapi dia adalah keduanya. Jiwa nya bersatu dengan jiwa milik pangeran iblis sejak dia lahir. Jadi bisa dikatakan, dia juga reinkarnasi pangeran iblis. Lalu, dantiannya merupakan dantian kembar api dan es.
Api merupakan dantian khusus yang memang dimiliki Chen, sementara elemen es nya berasal dari dantian khusus milik pangeran iblis. Dantian mereka bersatu, menyebabkan dantian Chen seperti dantian cacat. Padahal itu adalah proses penggabungan dua dantian berlawanan sifat" gumam Han Liangyi.
Han Liangyi mengangguk angguk faham, "Jadi itu sebabnya dia tak bisa mengendalikan elemen es sepenuhnya. Itu dikarenakan ingatan milik pangeran iblis belum bersatu sepenuhnya dengan Chen. Bahkan bisa dikatakan, Chen tidak memiliki ingatakan apapun tentang pangeran iblis"
Berbagai kemungkinan itu dirinya pikirkan setelah melihat masa lalu dari Liu Chen.
__ADS_1
"Bagaimana aku mengembalikan ingatannya?", Han Liangyi berpikir sejenak, "Aku biarkan saja waktu yang menjawabnya. Dia juga mungkin akan mengingatnya sendiri"
Han Liangyi terus memperhatikan Liu Chen untuk memastikan pemuda itu baik baik saja.
Waktu terus berjalan, jam berganti, hari berganti lalu akhirnya bulan pun terus berganti. Sudah sekitar 3 bulan Liu Chen tidak sadarkan diri. Hal ini bukan hanya membuat cemas Han Liangyi. Namun juga Zong Xian dan Zong Dian.
Zong Dian merasa bersalah karna untuk menyelamatkannya, Liu Chen jadi seperti ini. Sementara Zong Xian merasa bersalah karna memaksa Liu Chen menyembuhkan adiknya. Lalu dirinya sendiri hanya diam saja, tak melakukan apapun untuk menolong adiknya saat itu.
Mereka berada di dalam kamar yang diperuntukkan untuk Liu Chen. Semua pandangan hanya tertuju pada satu arah yaitu Liu Chen. Semua terus menunggu pemuda itu sadar.
Suhu ruangan ini agak dingin semenjak 1 bulan yang lalu. Begitu pula suhu tubuh Liu Chen. Namun suhu tubuhnya agak dingin sudah sejak dirinya pingsan hingga sekarang.
Sementara itu, di dunia iblis.
Para iblis merayakan kedatangan Kaisar mereka. Ini adalah hari kedua dirayakannya pesta. Karna kemarin Kaisar iblis baru saja datang ke dunia iblis. Karna sudah bebas dari sebuah segel yang menyegel dirinya. Padahal seharusnya Kaisar iblis bisa bebas setelah 2 bulan kedepan. Namun nyatanya dia sudah bebas saat ini.
Pesta akhirnya berakhir saat hari sudah malam. Karna mereka sudah merayakan pesta selama dua hari.
Di taman kerajaan, nampak seorang iblis pria yang sedang memegangi sebuah batu berwarna merah yang menyala. Ia tersenyum senang, "Kau kembali"
Ia menghilang dari sana dan muncul di dekat gerbang istana. Seketika, semua iblis yang ada disana memberikan hormat, "Hormat kami pada Yang Mulia Kaisar!" ucap mereka serempak.
Pria iblis itu mengangguk, "Berdirilah"
Semua iblis langsung berdiri dengan hormat menghadap kearah pria itu, yang mana dia adalah Kaisar iblis.
"Dimana Jenderal Ding?" ucap Kaisar.
"Menjawab, Jenderal Ding berada di tempat latihan Yang Mulia" ucap salah satu prajurit.
Kaisar mengangguk, "Baiklah". Ia kembali menghilang dan muncul di sebuah lapangan luas.
Ia dapat melihat cukup banyak iblis yang sedang berbaris rapi. Juga ada satu orang iblis yang ada di depan memimpin mereka.
Semuanya langsung memberikan hormat pada Kaisar. Begitupun orang yang memimpin barisan itu, "Hormat kami pada Yang Mulia Kaisar!"
"Berdiri" ucap Kaisar.
Seketika semuanya langsung berdiri.
"Apa anda membutuhkan sesuatu, Yang Mulia?" ucap iblis yang menjadi pemimpin barisan. Dia adalah Ding Bang, Jenderal besar dan merupakan tangan kanan Kaisar.
"Jenderal Ding, aku ingin kau mengurusi kekaisaran. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk mencari putraku" ucap Kaisar.
Semua iblis terkejut mendengar itu.
"Apa maksud Yang Mulia?" ucap Jenderal Ding Bang.
Kaisar langsung memperlihatkan batu giok berwarna merah yang kini menyala pada Jenderal Ding Bang. "Bila batu giok ini bercahaya, berarti dia hidup. Saat itu, batu ini tidak memperlihatkan sinar sama sekali yang berarti putraku telah tiada. Namun sekarang, batu giok ini bersinar lagi yang berarti putraku terlahir kembali"
Semuanya menjadi sangat senang mendengar hal itu.
"Kau jaga kekaisaran ini selama aku pergi, Jenderal Ding"
"Baik Yang Mulia, akan saya laksanakan".
Kaisar langsung menghilang begitu saja. Sementara para iblis nampak senang mendengar berita bahwa pangeran terlahir kembali, yang berarti pangeran bereinkarnasi.
Kaisar muncul di depan sebuah rumah tua yang sudah tak terawat. Ia mengalirkan Qi miliknya pada batu giok yang berwarna merah di tangannya. Seketika, muncul gambaran seseorang yang nampak menutup matanya.
"Apa yang terjadi dengannya?", Kaisar terkejut ketika melihat orang itu yang tidak membuka mata sama sekali. Ia kira, orang itu terluka. Jadi ia menjadi khawatir, karna gambaran yang ada pada giok itu merupakan gambaran anaknya.
Tak lama, gambar yang ada di batu giok berubah menjadi gambar sebuah rumah besar dengan dikelilingi pepohonan.
"Rumah di dalam hutan? Aku tidak pernah melihat rumah seperti itu ada di dalam hutan. Mungkin karna ini sudah 1.000 tahun semenjak perang itu, kondisi dunia manusia menjadi berbeda" gumam Kaisar.
Sekarang tampilannya berubah. Awalnya terdapat dua tanduk di kepalanya, namun sekarang itu menghilang. Kaisar langsung berjalan ke dalam bangunan tua dihadapannya dan masuk kedalam.
Terimakasih pada para pembaca setiap 'Kelompok topeng bayangan' dan terimakasih untuk semua dukungan yang kalian berikan 🤗🙏
__ADS_1