Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
38 -Kemampuan Unik


__ADS_3

Liu Chen yang berada di kamarnya, duduk disebuah kursi yang tak jauh dari kasur. Ia menopang kepalanya dengan tangan, "Sepertinya aku harus berterimakasih padanya sekarang" gumam Liu Chen.


Liu Chen pun langsung mengambil pedang phoenix api dari cincin ruang miliknya dan memasukkan kesadarannya pada pedang itu.


Kini dirinya berada disebuah tempat yang hanya memiliki satu warna, yaitu putih. Tidak ada langit, tanah, maupun barang lainnya.


"Hei, kau ada dimana?!" teriak Liu Chen.


"Heh, kau mencariku? Ada apa? Bukankah kau tidak ingin bertemu denganku lagi?" ucap sebuah suara dari belakang Liu Chen.


Liu Chen pun membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat seorang pemuda berpakaian merah berjalan menghampirinya.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu karna sudah memberitaukanku untuk memakan bola cahaya yang kutemukan di istana iblis saat itu" ucap Liu Chen.


"Memangnya apa kegunaan dari bola cahaya kecil itu?", pemuda dihadapan Liu Chen mengangkat sebelah alisnya.


"Dengan memakan bola cahaya itu, aku memiliki 3 kesempatan untuk hidup lagi. Sekarang aku tinggal memiliki 1 kesempatan lagi dan bila itu sudah digunakan, maka aku tidak akan bisa hidup lagi. Tapi itu sudah cukup bagiku"


"Heh, ternyata bola cahaya itu sangat berguna. Padahal aku mengatakan padanya untuk memakan itu, hanya karna ingin mengetahui apa kegunaannya. Aku hanya mengatakannya dengan asal saat itu bahwa bola cahaya itu dapat membuat seseorang memiliki 3 nyawa. Tak disangka itu memang benar" gumam pemuda berpakaian merah.


"Hah?! Apa yang kau katakan tadi?! Jadi kau ingin aku jadi bahan percobaan untuk menghilangkan rasa penasaranmu tentang bola itu?!" ucap Liu Chen. Walaupun pemuda dihadapannya hanya bergumam, namun dia dapat mendengarnya dengan jelas. Sebab, ditempat ini sangat sepi.


"Yang terpenting kau tidak mendapatkan resiko apapun, bukan? Dengan memakan bola itu" ucap pemuda berpakaian merah dengan tak peduli.


"Cih, lalu bagaimana jika aku memakan bola cahaya itu dan ternyata tidak memiliki manfaat seperti apa yang kau katakan saat itu?!", kesal Liu Chen.


"Mudah saja, mungkin kau akan mati. Tubuhmu tergeletak ditanah. Atau mungkin kau akan mengalami kecacatan. Bisa juga kau terbakar hidup hidup tanpa alasan yang jelas hingga membuat roh mu tidak tenang setelah kau mati dan kau pun bergentayangan" ucap pemuda berpakaian merah dengan cuek.


"Apa kau bilang?! Kau ingin aku mati, hah?! Seharusnya aku tak mendengarkan ucapanmu saat itu bila aku mengetahui yang sebenarnya", kesal Liu Chen.


"Hei, tidak perlu kesal padaku seperti itu. Bukankah setelah melakukan apa yang kukatakan, kau mendapatkan keberuntungan yang besar?"


"Itu memang benar, namun tetap saja. Kau hanya menggunakanku sebagai alat untuk menghilangkan rasa penasaranmu saja!"


"Yang terpenting tidak terjadi sesuatu yang buruk, bukan?" ucap pemuda berpakaian merah dengan datar.


"Cih, aku ambil kembali ucapan terimakasihku untukmu!"


"Memangnya kau kira ucapan itu barang? Bisa diambil kembali?"


"Terserah kau saja! Aku tak peduli"


"Pangeran setiap kau berbicara denganku, kenapa kau selalu saja marah marah padaku?"


"Cih, siapa yang kau panggil pangeran?"


"Tentu siapa lagi bila bukan kau. Hanya ada kau dan aku yang ada disini. Lalu siapa lagi yang kupanggil selain dirimu, hm?"


"Lebih baik berhenti bersikap kau adalah teman baikku. Karna aku sama sekali tak mengenalmu"


"Bukankah kita memang teman baik? Jadi tak apa bila aku bersikap seperti itu"


"Dia ini memiliki ekspresi yang sama seperti Jiangwu. Namun dia lebih banyak bicara dari pada pria itu" batin Liu Chen.


"Pertama kita bertemu, aku belum mengetahui namamu. Siapa namamu?" ucap Liu Chen.


"Bukankah seharusnya kau sudah tau siapa namaku? Lalu kenapa kau bertanya lagi seakan kau tidak pernah mengenalku dan baru kali ini kenal denganku" ucap pria berpakaian merah.


"Ya, ini memang bukan pertemuan pertama. Tapi ketiga kalinya"


"Bukan ketiga kalinya. Tapi sudah berapa ratus atau mungkin ribu kali kita bertemu dan kau sekarang melupakanku? Setiap kau bertemu denganku, aku merasa aneh karna kau selalu saja marah marah tak jelas dan sampai sekarang kau tak berubah sama sekali"


"Kau itu bertele tele. Bicara yang jelas, semua yang kau ucapkan tak aku mengerti sama sekali", kesal Liu Chen.


"Heh, sepertinya kau melupakanku atau mungkin kau memang tidak mengingat apapun. Aku malas menjelaskan. Namun dulu, ada seorang pria yang pernah bertemu denganku. Tapi dia bukanlah orang yang menjadi tuanku. Dia yang akan menceritakan semua kebenaran yang ada padamu"


"Siapa maksudmu?"


"Kau pernah bertemu dengannya dan kau juga sudah mengenalnya"


"Entahlah, aku tak peduli. Aku tak ingin percaya padamu, karna kau hanya menipuku. Sudahlah, sampai jumpa"

__ADS_1


Perlahan, Liu Chen berubah menjadi serpihan cahaya dan langsung menghilang.


"Cih, terserah" gumam pri berpakaian merah. Iapun jug perlahan berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang.


Liu Chen kini kembali pada kesadarannya. Iapun langsung memasukkan pedang phoenix api miliknya ke dalam cincin ruang. Iapun menggelengkan kepala, "Sepertinya dia banyak berkhayal hingga menyangka aku seorang pangeran. Lagi pula, aku tidak terlihat seperti itu sama sekali" gumamnya.


Liu Chen segera pergi keluar kamar. Ia beberapa kali menanyakan dimana letak kamar milik ketua ketua lainnya. Karna ia ingin menemui salah satu diantara mereka untuk menanyakan beberapa hal.


Liu Chen pergi menuju kamar Zong Xian. Ketika sampai, ia dapat melihat dua orang yang terlihat menjaga ruangan. Iapun menghampiri mereka.


"Aku ingin bertemu dengan ketua pertama" ucap Liu Chen.


Kedua penjaga itu memberikan hormat, "Silahkan ketua kedua"


Mereka langsung membukakan pintu dan memperbolehkan Liu Chen masuk.


Ketika masuk ke dalam ruangan itu, Liu Chen dapat melihat seorang pemuda yang berdiri didepan jendela. Liu Chen pun menghampiri Zong Xian.


"Haocun, apa kau tau siapa murid dari senior Zhao Yu? Karna senior Zhao Yu adalah adik dari guruku. Lalu guruku menitipkan sesuatu padaku dan ingin aku memberikannya pada murid dari senior Yu"


Zong Xian berbalik dan menatap Liu Chen, "Mungkin Guang (Zhang Jiangwu) adalah muridnya. Akupun tak tau. Namun guruku pernah berkata bahwa tiga temannya yang membantunya melawan raja iblis adalah dua pria dan satu wanita. Jadi kurasa, tidak mungkin bila putri kaisar itu yang menjadi murid dari adik gurumu. Jadi kemungkinan besar adalah Guang"


Liu Chen mengangguk, "Kalau begitu, terimakasih. Aku akan pergi sekarang, maaf mengganggumu"


Zong Xian menggelengkan kepala, "Kau tidak menggangguku sama sekali. Oh ya, sebaiknya kau selalu bersama dengan wakil mu itu"


Liu Chen menatap Zong Xian dengan aneh, "Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud? Apa Quon?"


"Ya, dia. Sering seringlah berada disampingnya. Ini bukan karna aku curiga dan ingin kau mengamatinya, hanya saja aku ingin memastikan bahwa dia takkan berkhianat. Karna aku tau, kau baru saja mengenalnya. Apalagi kau percayakan dia menjadi wakilmu"


"Aku percaya pada Quon. Jadi kau jangan mengatakan bahwa dia akan berkhianat pada kita"


"Yah..aku hanya memberikan saran. Kalau kau bilang kau percaya padanya, maka aku juga percaya saja padamu"


"Baiklah, urusanku sudah selesai denganmu. Aku akan pergi", Liu Chen mulai melangkah pergi keluar.


"Baiklah" ucap Zong Xian.


"Guang!"


Zhng Jiangwu menoleh kearah suara dan melihat Liu Chen berjalan kearahnya.


"Hm?"


Liu Chen langsung mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya pada Zhang Jiangwu. "Guruku memintaku memberikannya pada murid adiknya, Zhao Yu. Jadi apa kau murid senior Yu?"


"Mn..", Zhang Jiangwu mengangguk.


"Kalau begitu, itu untukmu"


"Mn..", Zhang Jiangwu kembali mengangguk.


"Pelajari apa yang ada di dalam buku itu dan sampai jumpa", Liu Chen langsung pergi meninggalkan Zhang Jiangwu. Zhang Jiangwu sendiri tidak mengatakan apapun dan langsung pergi setelah mendapat buku itu.


Di sebuah ruangan yang megah dan besar dengan adanya kursi singgasana dan adanya kursi dibagian kanan dan kiri dari singgasana. Terdapat beberapa orang disana. Ada juga yang duduk di kursi singgasana.


Nampak seorang pria berlutut di depan pria yang duduk diatas singgasana. "Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan keberadaan putriku?"


"Maaf Yang Mulia, kami belum menemukan tuan putri. Kami sudah mencarinya selama berhari hari, namun belum juga kami temukan. Juga, kami mendapat informasi bahwa putri pergi bersama temannya"


"Kerahkan lebih banyak pasukan untuk mencari putriku", tegas Kaisar.


"Baik"


"Sekarang kau boleh pergi. Beritau aku bila kau mendapat informasi tentang putriku"


"Baik Yang Mulia, saya pamit undur diri", pria yang berlutut itupun mulai pergi.


"Haish..dia itu sangat nakal. Kenapa pergi secara diam diam dari istana?! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya" ucap Kaisar dengan kesal sekaligus khawatir.


Salah satu orang yang duduk dibagian kanan singgasana membuka suara, "Yang Mulia, anda tenang saja. Tuan putri pasti akan baik baik saja. Pasukan yang bertugas mencari Tuan putri pasti bisa dengan cepat menemukannya"

__ADS_1


Kaisar menatap salah satu pejabat itu dan mengangguk, "Semoga saja begitu"


Di tempat Wu Anming saat ini, ia berada di dalam kamarnya. Ada juga 2 orang yang menjadi teman sekamarnya. Sementara seorang lagi masih kosong, belum ada.


"Ternyata aku sekamar dengan pria itu" batin Wu Anming. Yang dimaksudnya ialah, pria yang ditabraknya saat tadi di koridor luar.


Pria itu tetap saja memiliki ekspresi dingin. Berbeda dengan orang satunya yang memiliki ekspresi cukup energik. Hampir sama seperti Wu Anming.


"Halo, siapa namamu? Jika nama asliku adalah Xing Fu. Dimana kau berasal? Siapa yang mengajakmu bergabung? Apa kau memiliki kekasih? Apa makanan yang kau suka? Bila aku adalah ayam bakar. Apa makanan yang tidak kau sukai? Untuk makanan yang tidak kusukai adalah sup belut. Bagaimana denganmu?" ucap Xing Fu dengan semangat.


"Satu satu bila ingin bertanya. Kenapa kau begitu bersemangat sekali?" ucap Wu Anming.


"Tentu saja, karna aku akan memiliki teman baru! Tentu aku sangat senang dan bersemangat mengenalnya. Lalu siapa namamu?" ucap Xing Fu dengan semangat.


"Nama asliku Wu Anming. Jika ingin bertanya, lebih baik tanyakan satu persatu. Aku tidak terbiasa menjawab semua pertanyan beruntun sekaligus"


"Kalau begitu, maukah kau menjadi temanku?" ucap Xing Fu dengan hati hati.


"Y-ya, baiklah", Wu Anming menjadi canggung ketika melihat perubahan Xing Fu.


Mata Xing Fu melebar dan tersenyum lebih lebar, "Benarkah?! Kalau begitu, mulai sekarang mintalah bantuanku bila kau mendapat masalah! Jangan sungkan sungkan. Kau juga harus membantuku saat aku berada dalam masalah!"


Wu Anming hanya mengangguki ucapan Xing Fu. Lalu, pria itupun menggenggam tangannya dan membawanya pada pria dengan ekspresi dingin.


Wu Anming terkejut ketika kini berada dihadapan pria itu, "Apa yang kau lakukan? Kenapa menarikku seperti itu?"


Xing Fu tersenyum dan menatap Wu Anming, "Tentu untuk mengajakmu berkenalan dengan pria ini. Kita akan menjadi teman sekamar, jadi kau harus mengenalnya. Dia adalah temanku bernama Lao Tzu. Lalu Lao Tzu, perkenalkan dia adalah Wu Anming!"


Tidak ada tanggapan sama sekali dari Lao Tzu maupun Wu Anming. Mereka hanya saling menatap.


Melihat hal itu, Xing Fu langsung memegang kedua tangan pria itu dan membuat mereka bersalaman. "Nah, kalian sudah saling kenal sekarang. Kalian juga kini menjadi teman", Xing Fu tersenyum.


Lao Tzu langsung melepaskan jabatan tangannya dari Wu Anming dan langsung pergi keluar kamar begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.


Xing Fu menatap Wu Anming, "Maaf ya? Dia memang seperti itu. Jika kau sudah lama bersamanya, maka kau akan menjadi dekat dengannya. Awal aku bertemu dengan Tzu pun seperti itu. Dia mengacuhkanku, tapi aku tidak menyerah untuk berteman dengannya"


Wu Anming hanya mengangguk dan berkata, "Tidak apa, sepertinya dia itu bukan orang dengan tipe sosial. Sepertinya dia sulit berinteraksi dengan oranglain"


"Kau benar, dia memang seperti itu. Dia sulit berinteraksi dengan oranglain karna sifatnya yang dingin dan acuh. Tapi dia baik, hanya saja ekspresinya tidak terlihat seperti itu. Namun bila kau bersama Tzu cukup lama, mungkin kau akan tau. Haha, lalu saat kau melihatnya tersenyum, kau mungkin akan langsung suka padanya"


Wu Anming memandang Xing Fu dengan aneh, "Apa maksudmu?"


"Semua wanita akan mudah jatuh hati padanya saat melihat dia tersenyum. Aku bahkan hampir jatuh hati padanya saat melihat senyuman tipis darinya. Bagaimana bila senyumnya terlihat dengan jelas? Ahhh, sungguh tampan", Xing Fu seakan membayangkan saat Lao Tzu tersenyum. Ketika membayangkannya membuat dia tersenyum senyum sendiri.


Wu Anming langsung melepaskan tangannya dari Xing Fu dengan paksa. Diapun langsung merinding mendengar apa yang Xing Fu katakan, "Kau bercanda bukan?"


"Aku serius", Xing Fu menatap Wu Anming dengan serius.


Wu Anming langsung pergi keluar dengan cepat. Ia menjadi agak takut dekat dekat dengan Xing Fu.


"Astaga, apa dia percaya dengan apa yang kukatakan tadi? Aish..dia itu tidak bisa diajak bercanda. Sebaiknya aku segera menyusulnya dan mengatakan bahwa aku hanya bercanda tadi, sebelum dia salah paham", Xing Fu menggelengkan kepalanya dan langsung pergi keluar untuk menemui Wu Anming.


Lao Tzu pergi berkeliling markas. Ia ingin mengetahui ruangan ruangan apa saja yang ada di markas ini. Hingga iapun masuk ke dalam sebuah ruangan tanpa pintu. Di dalam sana, atapnya terlihat terbuat dari kaca, di dalam ruangan itupun banyak ditumbuhi oleh tanaman. Banyak bunga dan tanaman lainnya dimana mana.


Lao Tzu masuk ke dalamnya untuk melihat lihat. Udara disana terasa sejuk seperti dihutan. Namun ini terlihat seperti taman ruangan, yaitu taman yang berada di dalam ruangan.


Tatapannya langsung tertuju pada sebuah tanaman kecil yang tumbuh didekat sebuah pohon. Iapun menghampiri tanaman kecil itu.


Ia menatap tanaman itu dengan penuh kehati hatian dan nampak serius. Hingga iapun terkejut ketika memeriksa tanaman itu dengan hati hati.


"Mu.." gumam Lao Tzu. Iapun memegang dan mengelus daun dari tanaman tersebut.


Sebuah kejadian terbayang di dalam fikirannya. Bahkan ia mengingat sebuah suara yang selalu memanggilnya dengan penuh semangat, "Tzu! Ayo kita makan bersama. Kau jangan terus berlatih seperti itu dan tidak memikirkan kesehatanmu. Makan itu penting!"


"Untuk apa kita makan? Kita hanyalah budak dan makanan yang diberikan oleh mereka bisa dikatakan tidak layak. Lalu, kenapa kau selalu tersenyum seperti itu seakan kau selalu mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar, padahal kita selalu mendapat kesulitan. Kenapa Mu?"


"Karna kau masih ada disampingku. Selama kau selalu bersamaku, maka aku akan senang. Sesulit apapun hidup yang kita jalani, namun kesulitan itu tidak terlalu kurasakan karna aku merasa kau selalu ada untukku dan kau adalah temanku untuk selamanya!"


Suara itu dapat diingat oleh Lao Tzu. Ia terus memandang kearah tanaman didepannya dan mengelus daun dari tanaman. "Aku akan merawatmu dan aku takkan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, Mu" gummanya.


Lao Tzu dapat melihat bahwa tanaman dihadapannya ini memiliki jiwa seperti temannya. Ia memiliki kemampuan yang dapat mengetahui warna jiwa setiap orang. Setiap orang memiliki jiwa yang berbeda. Jadi ia dapat memastikan bahwa tanaman dihadapannya adalah reinkarnasi dari temannya. Walaupun temannya tidak lagi menjadi manusia, namun ia akan menjaga tanaman itu dengan baik. Karna ia percaya bahwa tanaman itu memiliki jiwa yang sama dengan temannya.

__ADS_1


Ia termasuk memiliki kemampuan yang unik karna dapat melihat jiwa seseorang. Hal itu tentunya sangat langka, bahkan mungkin hanya dirinyalah yang memiliki kemampuan seperti itu.


__ADS_2