Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
34 -Kota Bulan Merah II


__ADS_3

Disebuah halaman yang luas, memiliki suasana yang sepi. Nampak seorang pria paruh baya. Dihadapannya, terlihat seorang pria yang berlutut padanya.


"Hormat saya pangeran pertama" ucap pria yang berlutut tersebut.


"Hm..apa kau sudah menemukannya?"


"Saya belum menemukannya pangeran, kami sudah mencari diseluruh benua kecuali benua timur. Sementara kami tidak pergi ke benua selatan, sebab kami tak bisa memasukinya. Pangeran pertama pasti tau alasannya"


"Hm..kalau begitu, cepat temukan dia secepatnya! Aku ingin segera bertemu dengannya"


"Laksanakan pangeran", pria yang berlutut itupun memberikan hormat dan langsung pergi.


"Aku akan menemukanmu adik Li, dimanapun kau berada. Aku akan mencarimu sampai menemukanmu. Aku takkan melepaskanmu begitu saja, seharusnya akulah yang ditunjuk menjadi kaisar selanjutnya. Tapi kenapa kau yang ditunjuk! Aku akan merebut posisi itu darimu secepatnya!" gumam pria paruh baya. Tangannya pun terkepal erat.


Di sebuah restoran, Liu Chen dan teman temannya nampak berada disana. Di dalam restoranpun, tidak banyak pengunjung yang datang.


"Malam akan segera tiba, kau harus menutup pintu dan jendela" ucap seorang wanita paruh baya pada seorang wanita muda.


Wanita muda itu mengangguk, "Kali ini, siapa yang akan menjadi korban?", tatapan matanya terlihat sendu dan seakan pasrah.


Wanita paruh baya didepannya berkata, "Kapan bencana ini akan berakhir? Aku sudah tidak kuat lagi menjalani kehidupan seperti ini"


Pikiran semua penduduk kota bulan merah hanyalah satu 'Siapa lagi yang akan mati kali ini?'


Semua penduduk merasakan teror yang amat sangat. Mereka selalu dihantui oleh ketakutan yang amat besar ketika malam tiba. Lalu saat paginya, yang mereka cium bukanlah wangi dari pagi hari. Namun yang mereka cium adalah bau anyir darah dari penduduk yang menjadi korban dari suara seruling pada malam hari.


"Tenang saja nona, kami pasti bisa mengatasi hal ini. Lalu jika kami berhasil, maka anda harus menikah denganku" ucap seorang pria kekar yang duduk disebuah meja yang terisi beberapa orang.


Pria itupun mendekat kearah nona muda sambil tersenyum.


"Tu-tuan, bila anda bisa menyelesaikan bencana yang dialami penduduk kota bulan merah,ma-maka saya akan menuruti apa yang tuan minta" ucap wanita muda dengan pasrah.


Ia tidak tau lagi harus mengatakan apa. Namun dia sudah lelah dengan keadaan yang terjadi dikotanya. Jika saja ada orang yang berhasil mengatasi masalah ini, maka dia akan memberikan apapun pada orang itu. Bahkan termasuk bila itu adalah dirinya.


"Hahaha, aku pasti bisa mengatasi masalah seperti ini"


Semua orang yang ada direstoran itu adalah orang orang yang disewa oleh Wali Kota untuk membantu mengatasi masalah ini. Sebenarnya, sudah beberapa kali dia meminta bantuan. Namun semua orang yang akan membantu selalu tewas.


Kebanyakan orang orang itu adalah orang yang menganggap enteng masalah ini. Jadi kebanyakan, tidak banyak orang yang mempersiapkan diri dengan baik. Namun walaupun orang itu mempersiapkan diri dengan baik, itu juga tidak pasti dapat mengalahkan orang yang menyebarkan ketakutan dikota Bulan Merah ini.


" Yu'er, sekarang tutup jendela dan pintu. Kita juga harus segera bergegas mengikat diri kita" ucap wanita paruh baya.


Wanita muda yang dipanggil itupun langsung mengangguk dan melakukan apa yang wanita paruh baya tersebut katakan.


"Sepertinya apa yang penjaga gerbang tadi katakan benar" ucap Wu Anming.


Wu Xianlun mengangguk, "Iya, melihat dari ekspresi dan perbuatan mereka sepertinya memang benar apa yang penjaga gerbang katakan. Lalu apa yang harus kita lakukan kak?"


"Tenang saja, aku akan melindungimu Xian'er", Wu Anming tersenyum kearah adiknya untuk menenangkan gadis itu.


Wu Xianlun mengangguk, "Aku percaya pada kakak"


Sementara itu, Song Quon nampak masih tak peduli. Ia tetap makan tanpa mempedulikan apa yang adik dan kakak itu katakan. Bahkan ia tak mempedulikan wanita muda dan wanita paruh baya yang nampak panik.


"Tuan tuan dan nona nona, maaf mengganggu. Tapi sebaiknya kalian segera pergi dari sini atau kalian juga bisa tetap disini. Kami memiliki beberapa kamar di lantai atas, kalian bisa menggunakannya tanpa membayar. Asalkan kalian jangan keluar dan ikatlah tubuh kalian agar kalian bisa selamat" ucap wanita paruh baya.


"Heh, aku akan tetap disini. Lagi pula, aku kemari memang untuk tugas ini" ucap seorang pria.


"Aku juga akan tetap disini"


"Aku memiliki tugas untuk menyelesaikan masalah kota Bulan Merah ini"


Beberapa suara langsung terdengar. Mendengar semua suara itu, wanita paruh baya berkata. "Kalau begitu, semoga kalian bisa kembali dengan selamat. Kami akan sangat berterimakasih bila kalian dapat menyelesaikan masalah dikota kami"


Wanita paruh baya dan wanita muda itupun naik ke lantai dua dan mulai mengikat diri mereka sebelum malam datang.


"Heh, memangnya sehebat apa suara seruling itu? Pasti akan mudah mengatasinya" ucap seorang pria paruh baya dengan nada meremehkan.


"Benar, benar apa yang kau katakan. Kita pasti bisa menyelesaikannya dengan mudah sebelum oranglain", seorang pria paruh baya lainnya mengangguk mendengar ucapan pria paruh baya yang duduk didepannya.


"Sepertinya mereka terlalu meremehkan masalah kota ini" gumam Liu Chen sambil menatap sekeliling.

__ADS_1


"Ah, lihatlah! Dia sangat tampan, aku baru memperhatikannya!" ucap seorang wanita cantik. Ia menatap kearah Liu Chen.


"Pemuda disampingnya juga tak kalah tampan, lihatlah pakaian berwarna biru yang sangat serasi dengannya!", wanita lain menatap kearah Song Quon.


"Nona itu juga terlihat cantik" ucap seorang pria kurus. Ia memperhatikan Wu Xianlun.


"Haha, yang wanita wanita itu maksud pasti aku" batin Wu Anming sambil tersenyum senyum sendiri.


Diluar, angin berhembus membawa ketidak nyamanan. Suasana diluar menjadi mencekam ketika malam mulai tiba. Tidak ada seorangpun yang berani keluar dari rumah mereka.


Dilangit, nampak bulan yang berwarna merah. Tanpa adanya awan maupun bintang dan hanya ada bulan merah.


"Hari akan segera malam. Suara seruling akan segera terdengar" gumam Liu Chen.


Benar saja, setelah Liu Chen berucap, suara seruling mulai terdengar. Nada dari seruling terdengar lembut dan menenangkan. Hingga bisa membawa orang terhanyut dalam ketenangan.


"Sudah dimulai. Ayo teman teman, kita pergi" ucap seorang pria pada temannya.


"Kita juga harus pergi"


"Baik!"


Satu persatu orang orang mulai keluar dari restoran dan kini hanya menyisakan kelompok Liu Chen.


"Aku juga ingin keluar, ayo kakak" ucap Wu Xianlun.


"Xian'er, kita tunggu keputusan saudara Chen" ucap Wu Anming. Iapun mengarahkan tatapannya pada Liu Chen.


Liu Chen mengangguk dan memasang sikap serius, "Kita tidak tau apa yang akan terjadi, namun sebaiknya kita berhati hati. Nada dari seruling ini terdengar menenangkan, namun penjaga gerbang berkata bahwa ketika suara seruling mulai dimainkan maka penduduk akan mulai menggila. Jadi kita harus waspada"


Song Quon, Wu Anming dan Wu Xianlun mengangguk. Mereka bersama Liu Chen pun akhirnya keluar untuk melihat keadaan.


Mereka dapat melihat banyak orang orang yang disewa menikmati alunan nada yang terdengar. Mereka seakan terhanyut oleh nada nada yang terdengar dan melupakan tujuan mereka datang kemari.


Orang orang ini adalah orang yang berasal dari sekte dan aliran yang berbeda, namun mereka tidak saling menyerang. Karna memiliki tugas yang sama, jadi untuk apa saling bertengkar? Itu hanya akan memperlemah kekuatan.


Wu Anming dan Wu Xianlun nampak ikut menikmati alunan nada yang terdengar. Mereka bahkan menutup mata untuk mendengarkan musik seruling ini.


Hingga Liu Chen menyadari, bahwa bulan yang ada dilangit berwarna merah. "Kenapa bulan disini berwarna merah? Ini aneh sekali" gumamnya.


"Apa kau juga memperhatikan bulan dilangit? Itu tampak aneh" ucap Song Quon sambil menatap kearah langit.


Liu Chen mengangguk, "Memang tampak aneh"


Beberapa detik kemudian, suara seruling yang lembut nan menenangkan itu digantikan dengan suara yang tidak nyaman. Semua orang langsung menutup telinga mereka.


"Aaarrkk!"


Liu Chen pun ikut menutup telinganya dan menggertakkan gigi agar tak berteriak.


"Kakak..!!" teriak Wu Xianlun sambil menutup terlinga dengan kuat.


"Ggrrhh", Wu Anming juga nampak menutup telinga dengan rapat rapat bahkan ia menggunakan Qi miliknya. Namun tetap saja, suara seruling itu dapat ia dengar. Sekeras apapun berusaha menutup telinga, ia tetap mendengar suara seruling itu.


Wu Xianlun berteriak kesakitan. Ia merasa telinganya sakit. Seluruh tubuhnya juga terasa sakit.


Beberapa orang langsung berguling guling ditanah. Sementara beberapa orang lainnya langsung mencari asal suara, walaupun keadaan mereka tak cukup baik.


"Apa yang terjadi?" batin Song Quon. Ia sama sekali tak terlihat kesakitan mendengar suara seruling itu. Namun semua teman temannya nampak sangat kesakitan. Bukan mereka saja, bahkan semua orang yang disewa untuk menyelesaikan masalah dikota bulan ini dan para penduduk yang berada dirumah.


Disebuah rumah, nampak seorang wanita yang diikat dikasur. Tangan dan kakinya diikat kencang. Wanita itu memberontak untuk lepas. Hingga akhirnya salah satu tali yang mengikat tanggannya terlepas.


Setelah tangannya lepas, iapun langsung menggaruk garuk telinganya dengan keras untuk meredam rasa sakit ketika mendengar suara seruling. Hingga membuat telinganya nampak berdarah. Tapi tetap saja, sekeras apapun ia mencoba menutupi telinganya agar suara seruling tak terdengar, tetap saja ia dapat mendengarnya.


Suara seruling membuat orang orang melukai dirinya sendiri sebab lagu yang didengar membuat mereka kesakitan.


Liu Chen menggertakkan giginya sambil menutup telinga dengan tangan maupun menggunakan Qi miliknya. Ketika mendengar lagu ini, membuatnya merasa sangat kesakitan. "Si-sial, siapa yang memainkan seruling ini?!" gumamnya.


"Hentikan suara ini!"


"Siapapun itu, keluarlah! Hadapi kami, hentikan suara seruling ini!"

__ADS_1


Walaupun semua orang yang mengambil tugas untuk menyelesaikan masalah kota Bulan Merah ini berteriak, tetap saja suara seruling tidak berhenti sama sekali. Bahkan suaranya semakin terdengar keras.


Song Quon berpura pura ikut merasa kesakitan. Ia menutupi telinganya dengan tangan. "Sebenarnya siapa orang yang berada dibalik semua ini?"


"Aku harus segera mencarinya, dimana asal suara itu?", Song Quon melihat kesekitar sambil sesekali berteriak agar tidak ada yang curiga bahwa dia tidak terpengaruh oleh suara seruling ini.


Disebuah atap rumah, nampak seseorang berdiri diatasnya. Dia memainkan sebuah seruling berwarna hitam. Setengah wajahnya ditutupi oleh poni. Hingga menutupi matanya.


Song Quon langsung menatap kearah dimana wanita pemain seruling itu. Iapun langsung berlari kearah nya dengan masih menutup telinga.


"Quon! Kau mau kemana?!" teriak Liu Chen sambil menutupi telinganya. Telinganya nampak mengeluarkan darah.


Bukan Liu Chen saja, namun semua orang juga mengalami hal yang sama. Orang orang yang menerima misi dikota Bulan Merah ini bahkan, ada yang tewas karna memenggal dirinya sendiri. Ada juga yang memiliki luka cakaran ditubuhnya karna diri sendiri.


Wu Xianlun terus berteriak, begitupun Wu Anming. Mereka bahkan menggaruk telinga mereka hingga berdarah.


Liu Chen mengikuti Song Quon dengan kesulitan."Sepertinya suara seruling ini berasal dari tempat yang Quon tuju, ggrrh", ia menggertakkan giginya dengan keras.


"Quon, apakah..suara seruling ini..berasal dari sana?" ucap Liu Chen dengan kesulitan.


"Ya", Song Quon mengangguk. Ia tetap berlari kearah dimana wanita pemain seruling berada. Ia yakin, ini bukanlah perbuatan dari wanita pemain seruling bernama Xin Qian itu. Karna nada yang didengarnya berbeda.


Song Quon langsung melemparkan sebuah belati yang tersarung dipinggangnya kearah sebuah atap rumah.


Wanita yang berada diatap rumah itu langsung menghindarinya dengan mudah. Bahkan ia masih memainkan seruling miliknya.


Song Quon pun melompat naik keatap rumah tersebut. "Jadi kau pelaku dari masalah ini?"


Wanita itu berhenti bermain seruling. Iapun menatap kearah Song Quon. Angin berhembus hingga membuat rambut wanita itu berkibar dan memperlihatkan matanya yang berwarna hijau. "Ternyata kau tidak terpengaruh, ya?", setelah mengatakan hal itu,Iapun kembali memainkan serulingnya.


Semua orang yang awalnya merasa lega karna suara seruling tak terdengar, kini suara seruling kembali terdengar. Semua orang kembali berteriak.


Tak lama, Liu Chen melompat keatap rumah dan berdiri disamping Song Quon. "Hei, hentikan suara serulingmu itu. Kau membuat semua orang menderita!"


Wanita tersebut tidak mempedulikan ucapan Liu Chen sama sekali. Ia terus memainkan serulingnya tanpa henti.


Song Quon segera maju dan mengambil pedang yang berada dipunggungnya. Iapun langsung menyerang wanita itu. Namun semua serangan yang dilakukan Song Quon, tidak dapat melukai wanita itu.


Karna wanita itu langsung menghindarinya tanpa masalah. Disaat bertarungpun dia masih bisa bermain seruling tanpa kesalahan dalam nadanya.


"Kau hebat juga dalam menghindar" ucap Song Quon. Ia kembali menyerang, namun kali ini serangannya lebih cepat.


Wanita itu terpaksa berhenti memainkan seruling dan menggunakan serulingnya sebagai benda untuk menahan serangan. Walaupun serulingnya digunakan untuk menahan serangan, namun serulingnya tidak rusak sama sekali.


"Seruling yang bagus, bukankah itu adalah seruling tingkat langit? Bernama seruling kematian" ucap Song Quon sambil menyerang.


"Oh, kau mengetahuinya?" ucap wanita dengan tidak peduli.


Wanita itu langsung melompat turun dari atap dan bertarung dengan Song Quon dipermukaan tanah.


Liu Chen tak membiarkan temannya bertarung sendirian, dia langsung membantu Song Quon dengan memakai pedang tingkat tingginya.


"Bukankah ini tidak adil? Dua lawan satu" ucap wanita sambil tersenyum mengejek.


"Dalam pertarungan, apapun adil karna kau mempertaruhkan nyawamu" ucap Song Quon.


Iapun langsung menyerang wanita itu lagi. Begitupun dengan Liu Chen. Mereka terlihat hebat dalam bekerjasama. Namun wanita itu masih saja bisa menghindar dan menahan serangan.


Song Quon tak bisa menggunakan semua kekuatannya, karna ada temannya disini. "Tck wanita ini kuat juga, dia sudah berada ditingkat kaisar bintang 9. Lebih tinggi satu bintang dari Chen"


Liu Chen menatap kepada Song Quon, seakan memberitaukan rencana nya. Namun entah bagaimana, Song Quon seperti mengerti apa yang Liu Chen rencanakan.


Liu Chen mengalihkan perhatian wanita itu dengan melemparkan beberapa macam bola api dari belakang. Sementara Song Quon menyerang dengan ayunan pedang yang dialiri Qi dari arah depan.


Wanita itu langsung menghindri semuanya dengan melompat, maupun melangkah kesamping. "Kalian fikir bisa mengalahkanku dengan teknik mudah seperti itu?" ejek wanita tersebut.


Wanita itu langsung memainkan serulingnya. Seketika, didepan dan sekitar wanita itu keluar bayangan hitam dari tanah. Itu terlihat seperti roh.


Mereka menyerang Liu Chen maupun Song Quon. Walaupun kedua pemuda itu sudah memberikan serangan pada roh roh ini, namun roh roh ini tidak mendapat luka sama sekali. Bahkan semakin banyak roh yang keluar dari bawah tanah menyerang mereka berdua.


Ketika mereka mendapat serangan dari roh roh ini, maka serngan itu dapat melukai mereka. Sementara saat giliran mereka menyerng, roh roh ini tak terluka sama sekali. Ini adalah kondisi yang tak menguntungkan.

__ADS_1


"Cih, makhluk makhluk ini mengganggu saja!", kesal Liu Chen. Ia saat ini hanya bisa menghindar dan tak bisa melawan. Karna percuma saja bila melawan, roh roh itu takkan terluka.


__ADS_2