
Siang hari, disebuah lapangan luas yang terletak di kedalaman hutan. Nampak ratusan orang tengah berlari mengelilingi lapangan yang luas. Sementara ada satu orang pemuda yang hanya duduk diam di atas pohon memperhatikan apa yang ratusan orang itu lakukan.
"Bagaimana bisa mereka menjadi kelompok bandit yang ditakuti setelah kelompok bandit Serigala hitam? Padahal kulihat anggota yang berada disini hanya berada di tingkat master sampai grandmaster. Sementara pemimpin mereka hanya berada di tingkat jenderal bintang 3" gumam pemuda tersebut sambil terus memperhatikan ratusan orang itu.
Pemuda itu adalah Zong Xian. Dialah orang yang menyuruh semua bandit itu untuk lari keliling lapangan sampai 500 putaran. Padahal, lapangan disana sangat luas. Dia juga menyuruh mereka agar tidak menggunakan Qi nya saat berlari. Hal ini mempersulitkan semua bandit.
Nampak banyak bandit yang kelelahan. Mereka berhenti berjalan untuk menarik nafas sejenak. Sungguh, baru pertama kalinya mereka berlari seperti ini. Namun jika mereka tidak melaksanakan perintah, maka 'hadiah' menanti mereka. Jadi mau tak mau, mereka melakukan apa yang diperintahkan.
Zong Xian menyuruh mereka untuk lari agar tubuh para bandit itu menjadi lebih kuat. Mereka memang memiliki tingkat kultivasi dari master sampai grandmaster. Namun tubuh mereka agak lemah. Jadi Zong Xian melatih mereka.
Zong Xian terlihat asik meminum teh di atas pohon dan seperti tidak peduli dengan penderitaan para bandit. Lagi pula, dia adalah pemimpinnya sekarang. Jadi semuanya harus mengikuti apa katanya.
Melihat bahwa ada beberapa bandit yang berhenti berlari, Zong Xian segera berteriak. "Bila satu orang saja dari kalian tidak melakukan seperti apa yang ku perintahkan saat ini, maka bukan hanya orang itu saja yang terkena imbasnya. Tapi semua orang juga akan terkena imbas dari perbuatanya!"
Mendengar itu, semua bandit yang tadi berhenti berlari langsung kembali berlari. Mereka tidak mau, bila nanti disalahkan oleh semua orang jika saja yang lain ikut terkena imbasnya.
Zong Xian tersenyum tipis. Iapun menyeruput teh yang dipegangnya. "Dengan begini, maka mereka bisa merasakan susah dan senang bersama. Hal ini dapat memperkuat ikatan mereka. Bila ikatan mereka sudah kuat, maka mereka juga akan lebih mudah bila bekerja sama"
"Ah, lelah" keluh seorang bandit.
"Kau jangan berhenti hah.. hah.. bila tidak, kita semua akan terkena imbasnya" ucap bandit di samping pria yang mengeluh itu.
"Kita baru berkeliling sampai 200 putaran saja sudah lelah, hah.. hah.. bagaimana menyelesaikan... 300 putaran lagi?"
"Aku.. juga.. hah.. lelah, tapi kita harus bisa... jika tidak, maka kita akan terkena masalah, hah.. hah.. bukan hanya dari pemimpin. Tapi juga semua teman kita"
Bandit di sampingnya mengangguk dengan lelah.
Mereka yang terlihat menakutkan bagi warga, kini terlihat seperti kucing yang patuh dihadapan seorang pemuda yang umurnya akan menginjak 18 tahun itu.
Zong Xian kembali menyeruput teh nya, "Tindakan apa yang akan kau lakukan bila kau tau, aku membunuh permaisuri, Chen?" batinnya sambil menatap keatas langit.
Sementara itu, Liu Chen saat ini berubah menjadi bayangan. Ia kini bisa bergerak lebih cepat. Ia terus pergi menuju ibukota. Saat hari sudah sore, Liu Chen kembali pada bentuk tubuhnya. Ia berada di dekat sebuah hutan saat ini.
"Jika aku terus berubah menjadi bayangan untuk ke ibukota kekaisaran, maka hanya butuh waktu sekitar 3 hari untuk sampai disana. Tapi bila aku hnya bisa berubah menjadi bayangan ketika siang saja, maka akan membutuhkan waktu 5 hari", Liu Chen menghela nafas.
Iapun melihat kearah langit yang kini sudah sore. Iapun segera teringat akan sesuatu. "Jika aku menggunakan jurus langkah bayangan tahap 3, maka aku bisa berpindah tempat melalui bayangan. Sekarang juga sudah sore. Jadi jurus tahap 3 bisa dipakai. Tapi aku tidak terlalu menguasai tahap 3" gumam nya.
"Tidak mungkin aku menggunakan tahap 3, karna belum sepenuhnya menguasai tahap itu. Tapi...", Liu Chen menghela nafas. Iapun menatap lurus ke depan, "Aku harus melakukannya agar bisa secepatnya bertemu dengan Xian"
"Jurus langkah bayangan:tahap 3", Liu Chen langsung menghilang dari sana.
Lalu, kembali muncul beberapa puluh meter dari tempatnya berada tadi. "Aku harus cepat"
Liu Chen kembali menghilang dan muncul pada bayangan pohon atau bayangan lainnya. Kejadian itu terus terjadi berulang kali.
Kini berita kematian permaisuri sudah tersebar hampir ke seluruh kekaisaran Yang. Bahkan saat ini ada pengumuman bahwa, siapapun yang dapat membawa pelaku pembunuh permaisuri, maka ia akan mendapatkan hadiah dari Kaisar. Bukan hanya pengumuman saja yang tercantum disana. Namun foto dari pelaku juga ada pada kertas pengumuman.
Banyak warga yang tertarik dengan hadiah yang akan diberikan Kaisar. Jadi, banyak warga yang ikut mencari Zong Xian. Para prajurit juga dikerahkan hampir semuanya untuk mencari Zong Xian.
Keesokan harinya pada siang hari, sebuah bayangan berubah menjadi sesosok manusia. Kejadian terjadi di dekat ibukota.
Ketika sore, Liu Chen berpindah melalui bayangan. Saat malam, ia berlari menggunakan jurus langkah bayangan. Lalu pagi, ia kembali berpindah melalui bayangan dan siang, ia berubah menjadi bayangan.
Liu Chen terengah engah. Ia sangat kelelahan karna terus menerus menggunakan Qi miliknya hingga terkuras habis hanya untuk sampai di ibukota kekaisaran. Perjalanannya untuk sampai di ibukota kekaisaran memakan waktu sehari lebih. Itu pun menguras semua tenaga dan pikirannya.
Liu Chen langsung mengambil pil penambah Qi dan langsung menelannya. Seketika, semua Qi nya kembali terisi penuh. Ia menatap kearah ibukota kekaisaran. Di depan gerbang, nampak banyak orang mengantri untuk masuk ke dalam. Penjagaan di gerbang juga nampak lebih ketat dari biasanya.
"Kali ini aku tidak bisa berubah menjadi bayangan. Jika aku berubah menjadi bayangan, maka aku akan terinjak injak oleh mereka" gumam Liu Chen. Ia pun berjalan dan mulai mengantri.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kini giliran Liu Chen tiba.
"Berhenti, kau harus melepaskan topengmu" ucap seorang penjaga menghentikan Liu Chen.
Penjaga menghentikan Liu Chen karna merasa bahwa Liu Chen mencurigakan dengan memakai topeng rubah berwarna putih dan jubahnya yang berwarna putih. Mereka kali ini tidak bisa membiarkan orang yang berpenampilan mencurigakan untuk masuk. Karna kondisi saat ini di kekaisaran tidak cukup baik setelah kematian permaisuri.
"Merepotkan, sebaiknya kalian segera mengizinkanku masuk ke dalam" ucap Liu Chen. Ia kali ini sedang terburu buru.
"Tidak bisa, kau tidak bisa masuk!" ucap penjaga dengan tegas.
"Mungkin dia memakai topeng untuk menutupi wajahnya yang buruk rupa" bisik salah satu orang yang mengantri.
"Kau benar, mungkin karna itu dia tidak mau melepaskan topengnya. Mungkin dia malu" ucap yang lainnya.
Bisik bisik pun terdengar. Bisikan dari suara suara yang merendahkan Liu Chen.
"Jika ingin masuk ke dalam ibukota, kau harus melepaskan topengmu" ucap penjaga.
Liu Chen dengan kesal, akhirnya membuka topengnya dan hanya memperlihatkannya pada penjaga saja. Tidak dengan orang orang yang ada di belakangnya.
Seketika penjaga terdiam membeku. Wajah dibalik topeng itu sangatlah tampan. Mereka seakan bertemu dengan malaikat.
Liu Chen menatap mereka dengan dingin, "Bisakah aku masuk sekarang?", ia kembali memakai topeng miliknya.
__ADS_1
"Y-ya silahkan" ucap penjaga yang langsung memperbolehkan Liu Chen masuk.
Liu Chen mengangguk dan langsung masuk ke dalam ibukota. Sementara warga yang mengantri nampak heran melihat reaksi prajurit prajurit yang menjaga gerbang ini.
Liu Chen langsung mencari penginapan untuk dia tinggal sementara waktu di ibukota. Namun tatapannya pun langsung terarah pada poster yang tertempel di dekat sebuah restoran. Liu Chen segera mendekat dan melihat poster itu.
(Gambar Zong Xian)
"Siapapun yang berhasil mendapatkannya, hidup atau mati. Maka dia akan diberikan hadiah khusus oleh Kaisar sendiri"
Liu Chen yang melihat adanya poto Zong Xian pada poster itupun, langsung melepaskan poster dari tembok. Ia langsung memasukkan poster ke dalam cincin ruang miliknya.
"Aku harus menemui Jia Li terlebih dahulu untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi disini" gumam Liu Chen. Iapun tidak jadi mencari penginapan. Ia pergi menuju istana untuk menemui Jia Li.
Namun sebelum itu, ia pergi ke tempat yang sepi dan langsung melepaskan jubah maupun topengnya agar saat berada di depan gerbang istana tidak membuat dia dicurigai. Hingga membuatnya harus menunggu lama.
Setelah selesai, Liu Chen segera pergi ke istana dengan langkah cepat. Ketika ia sedang berjalan, ia tak sengaja menabrak seseorang. Hingga membuat orang itu hampir terjatuh.
"Ah, maaf aku tak senga-", ucapan Liu Chen terhenti ketika melihat siapa yang ditabraknya. Dia langsung menatap orang dihadapannya dari bawah sampai atas.
Orang yang ditabraknya adalah seorang pemuda dengan pakaian berwarna biru. Pemuda itu adalah orang yang Liu Chen kenal.
"Liangyi" ucap Liu Chen.
Ya, orang yang ditabraknya adalah Han Liangyi. Pemuda yang ia kira selama ini pergi meninggalkannya dan Song Quon saat di istana iblis.
Han Liangyi menatap Liu Chen dengan marah. Hal itu, membuat Liu Chen heran. Apa Han Liangyi akhir akhir ini memiliki banyak pikiran hingga membuatnya mudah marah?
Padahal dirinya hanya menabrak Han Liangyi. Seharusnya pemuda itu tidak semarah yang dirinya lihat saat ini. Karna ia cukup mengenal sifat Han Liangyi dan dirinya juga tidak pernah melihat pemuda itu marah. Apalagi hanya karna hal sepele.
"Kau kemana saja selama ini?!" ucap Han Liangyi dengan kesal.
Liu Chen heran dengan ucapan Han Liangyi yang terdengar aneh, "Bukannya seharusnya aku yang menanyakan hal itu? Kemana saja kau selama ini. Kau meninggalkanku dan Quon begitu saja di istana iblis"
"Aku tidak meninggalkanmu sama sekali. Aku terjebak di dunia iblis dan kukira kau juga ada disana karna aku mendengar berita bahwa ada dua manusia selain diriku yang masuk ke dunia mereka" ucap Han Liangyi yang masih dengan nada marahnya.
"Benarkah? Berarti aku dan Quon yang meninggalkanmu?", Liu Chen memiringkan kepalanya.
"Ya, kalian yang meninggalkanku. Gara gara kau, aku mendapat masalah disana"
Liu Chen menunjuk dirinya sendiri, "Aku?"
"Siapa lagi bila bukan dirimu!", kesal Han Liangyi. Rasanya ingin sekali mengurung Liu Chen di dalam kamar dan merantai pemuda itu agar tidak pergi kemana mana.
"Karna kau-"
"Sudahlah, aku tak ada urusan denganmu. Aku masih memiliki urusan lain yang lebih penting", Liu Chen berlalu meninggalkan Han Liangyi begitu saja.
"Hei, tunggu! Dengarkan ucapanku", Han Liangyi langsung menyusul Liu Chen.
"Aku tidak ada waktu mendengarkan ocehanmu yang membingungkan. Aku memiliki urusan yang lebih penting sekarang. Jadi jangan menggangguku" ucap Liu Chen yang terus saja berjalan tanpa menghiraukan ocehan Han Liangyi.
Mendengar suara serius dari Liu Chen, Han Liangyi terdiam. Ia pun berkata, "Memangnya ada urusan apa hingga sangat penting bagimu?"
"Aku harus bertemu seseorang sekarang juga. Sebaiknya kau jangan mengikutiku" ucap Liu Chen dengan ketus.
"Aku akan mengikutimu. Aku tidak mau kehilangan kau lagi. Agar saat aku bertemu mereka, aku bisa membuktikan ucapanku"
"Mereka siapa yang kau maksud?"
"Tentu ra..."
Ucapan Han Liangyi terhenti kala Liu Chen malah meninggalkannya. "Hei, tunggu aku!"
Liu Chen langsung menahan kepalan tangan seseorang yang ingin memukul seorang wanita paruh baya. Ia menatap tajam kearah tangan orang yang dicengkramnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" ucap Liu Chen.
Seorang pria yang tadi ingin menukul wanita paruh baya, langsung melompat mundur dan melepaskan pegangan tangan Liu Chen darinya. "Heh, jangan ikut campur dengan urusanku bila kau masih ingin hidup!"
Liu Chen tak menghiraukan pria itu. Ia langsung membantu wanita paruh baya yang masih terduduk di tanah. "Bibi, berdirilah. Jangan takut, aku akan melindungi bibi dari pria itu", Liu Chen tersenyum.
Bibi itupun langsung menerima uluran tangan Liu Chen dan berdiri. "Terimakasih, nak. Tapi sebaiknya kau pergi sekarang. Bibi tidak mau kamu terlibat masalahku"
"Ada masalah apa bibi dengan pria itu?", Liu Chen menunjuk pria yang ingin menukul bibi tadi.
"Saya memiliki hutang padanya. Sekarang saya harus membayar hutang saya. Namun saya tidak memiliki uang" ucap wanita paruh baya tersebut.
Liu Chen menatap iba wanita paruh baya tersebut.
"Sudah kubilang, jangan mencampuri urusanku!" ucap kesal pria paruh baya yang tadi akan memukul bibi. Dia kesal karna Liu Chen mengacuhkannya.
Liu Chen langsung menatap kearah pria itu. "Berapa hutang ibu ini?"
__ADS_1
"Haha, memangnya ada apa bocah? Kau ingin membayarkannya?", pria itu tersenyum mengejek.
"Jangan nak, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu" ucap wanita paruh baya sambil menatap Liu Chen.
Liu Chen hanya tersenyum kearah wanita itu dan berkata, "Tidak apa bibi. Aku akan membantu", iapun kembali menatap pria di hadapannya. "Jadi berapa hutang ibu ini?"
"Haha, memangnya kau memiliki uang untuk membayarnya? Atau jangan bilang bahwa kau akan mencuri uang orang lain untuk membantu dia membayar hutang?", pria itu masih saja menatap Liu Chen dengan tatapan remeh.
"Cepatlah katakan saja, aku tak punya waktu meladenimu!", bentak Liu Chen.
Bentakan Liu Chen membuat pria itu terkejut. Bahkan Han Liangyi pun sama terkejutnya dengan pria itu. Baru pertama kali Liu Chen mengatakan sesuatu dengan bentakan.
"Heh, hutangnya 5 koin emas. Sekarang bayar, bila kau tidak membayarnya maka aku tidak akan melepaskanmu ", pria itu menatap Liu Chen dengan tatapan tajam.
Liu Chen segera mengambil kantung kecil di dalam cincin ruangnya dan langsung melemparkan kantung itu pada pria di hadapannya. "Itu 10 koin emas. Sekarang pergi dari sini dan jangan mengganggu ibu ini lagi"
Pria itu menangkap kantung yang Liu Chen lempar. Ia pun mendapati jumlah koin emas sesuai dengan apa yang dikatakan Liu Chen. "Heh, aku memang ingin segera pergi dari sini setelah menagih hutang dia", pria itu langsung pergi berlalu begitu saja. Seakan tidak pernah terjadi apapun.
"Nak, terimakasih-terimakasih", wanita paruh baya itu ingin bersujud pada Liu Chen. Namun pemuda itu segera mencegahnya. "Apa yang bibi lakukan? Jangan bersujud seperti itu. Aku lebih muda dari pada bibi"
Liu Chen segera membantu wanita paruh baya berdiri dengan tegak. "Ngomong ngomong, kenapa bibi meminjam uang dari pria tadi?"
"Ibu membutuhkannya untuk menghidupi kebutuhan sehari hari bibi" ucap wanita tersebut.
Liu Chen kembali mengambil kantung dari cincin ruangnya dan memberikan itu pada wanita paruh baya yang ditolongnya. "Ini untuk bibi, ambil saja. Bibi mungkin akan membutuhkannya"
Wanita itu ragu untuk mengambil uang Liu Chen. Namun Liu Chen segera berkata, "Jika bibi tidak mengambilnya, aku akan sedih"
Wanita itu langsung mengambil kantung yang ada pada Liu Chen, "Bibi sudah mengambilnya. Jadi jangan sedih"
Liu Chen tersenyum, "Kalau begitu aku harus pergi sekarang. Berhati hatilah bibi", iapun pamit pada bibi itu dan pergi.
"Terimakasih" ucap bibi sambil tersenyum senang.
Han Liangyi mengikuti Liu Chen dan berjalan di sampingnya. "Kenapa aku merasa aneh dengan kedua orang itu? Apalagi, orang lain seperti tidak menolong bibi itu sama sekali saat dia akan dipukuli. Apa itu karna mereka tak peduli dengan bibi itu? Atau karna hal lainnya?" ucap Han Liangyi.
"Tidak aneh bila terkadang orang lain tak peduli dengan orang di sekitarnya. Namun aku juga memang merasa aneh dengan kedua orang itu. Mereka terlihat seperti berakting saja. Tapi mereka akan segera mendapatkan hadiah", Liu Chen tersenyum dengan misterius.
Han Liangyi mengerutkan keningnya karna tak mengerti. Namun ia tak bertanya lebih.
Sementara itu, pria yang tadi menagih hutang pada bibi berjalan kearah tempat yang sepi. Ia tertawa bahagia sambil menenteng kantung uangnya.
Ia seperti menunggu seseorang. Hingga akhirnya bibi yang tadi Liu Chen tolong pun datang menghampiri pria itu. "Haha, dia sangat bodoh. Mudah sekali ditipu" ucap bibi sambil tertawa.
"Haha kau benar, dia mudah sekali ditipu. Aku mendapatkan 10 koin emas darinya" ucap pria.
"Aku juga mendapatkan uang darinya. Tapi aku tidak tau jumlahnya karna belum melihat isi dari kantung ini" ucap bibi.
"Kalau begitu cepat buka. Kita akan menghitung berapa jumlah uang yang kita dapatkan hari ini" ucap pria. Iapun mendekat pada bibi.
Bibi segera mengangguk dan mulai membuka kantung yang di pegangnya.
Booomm
Tak lama, suara ledakan yang cukup besar terdengar. Ledakan itu cukup membuat heboh masyarakat yang kebetulan ada di dekat tempat terjadinya ledakan. Banyak warga bahkan prajurit yang berkeliling langsung pergi ke tempat ledakan berasal.
Di sekitar tempat ledakan, sebagian bangunan yang berada di tempat ledakan hancur berantakan. Bila disana ada manusia biasa, maka sudah dipastikan bahwa manusia itu tewas karna ledakan.
"Hahaha, mereka mencoba menipuku. Tapi ternyata mereka yang tertipu olehku" ucap Liu Chen sambil tertawa.
Han Liangyi menoleh ke asal suara ledakan. Di bagian sekitar ledakan terjadi adalah tempat dimana dirinya dan Liu Chen bertemu pria paruh baya dan wanita paruh baya.
Han Liangyi menoleh kearah Liu Chen. Mereka masih saja berjalan santai disaat banyak orang yang panik. "Apa ini karna mu?"
Liu Chen tersenyum kearah Han Lianyi. Ini membuktikan bahwa apa yang Han Liangyi katakan memang benar. "Bagaimana kau melakukannya?"
"Kau ingat tadi aku memberikan kantung pada bibi itu?", Liu Chen berkata dengan masih memperlihatkan senyumannya.
Han Liangyi mengangguk, "Lalu?"
"Di dalam kantung yang bibi itu pegang bukanlah berisi koin emas ataupun perak. Tapi di dalam sana terdapat tulip api. Itu merupakan salah satu jurus yang kupelajari.
Lalu aku mengendalikan waktu ledakan tulip api itu dari sini. Bukankah tadi aku menjentikkan jariku beberapa saat sebelum ledakan terjadi? Itu menandakan bahwa tulip api akan segera meledak", Liu Chen terkekeh.
Kedua orang tadi berniat menipunya. Tapi justru, mereka yang tertipu olehnya. Mereka mengira kantung yang dipegang bibi adalah koin emas.
"Haha, lalu bagaimana kau bisa mengetahui bahwa mereka menipumu?" ucap Han Liangyi sambil menahan tawa.
"Saat aku mulai melemparkan kantung kearah penagih hutang, disana aku dapat melihat tatapan mata serakah dari bibi yang ku tolong. Saat aku memberikannya kantung pun dia menatap kantung itu dengan serakah.
Bila itu adalah orang lain yang benar benar membutuhkan uang, seharusnya mereka tidak memandang kantung yang aku berikan dengan tatapan serakah. Namun penuh syukur", Liu Chen tersenyum.
Liu Chen pun menghela nafas, "Padahal aku sudah mengatakan pada bibi itu untuk berhati hati. Tapi sepertinya dia tidak mendengarkan apa yang kukatakan. Maka sekarang, mereka sudah menjadi mayat", seringaian jahat muncul di wajah Liu Chen yang tampan. "Bila saja aku sedang tidak terburu buru saat ini, aku akan bermain sebentar dengan mereka"
__ADS_1
Han Liangyi menelan ludahnya melihat seringaian Liu Chen. Entah kenapa, namun dia merasa bahwa dibalik seringaian itu, ada banyak pikiran jahat dari pemuda disampingnya.