Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
58 -Zong Dian


__ADS_3

Saat tiba didalam kamar penginapannya, Liu Chen langsung meletakkan anak kecil yang ia tolong ke kasur. Liu Chen memunculkan api pada salah satu tangannya dan langsung mengambil beberapa tanaman obat yang masih ada dari dalam cincin ruangnya.


Liu Chen mencampurkan tanaman obat kedalam api miliknya. Liu Chen juga mengatur suhu dari api tersebut. Perlahan, api di tangannya mengecil dan setelah hilang, nampaklah sebuah pil berwarna putih susu.


Liu Chen langsung memasukkan pil itu kedalam mulut anak kecil yang masih pingsan dan ia juga membantu anak kecil itu menyerap khasiat pil miliknya. Pil buatannya kali ini adalah pil yang dapat digunakan oleh manusia biasa maupun kultivator. Manfaatnya juga sama saja.


Tidak pernah ada pil seperti itu selama ini. Mungkin hanya Liu Chen 'lah yang dapat membuatnya.


Setelah membantu anak kecil itu dengan pil buatannya, Liu Chen duduk di kursi yang tak jauh dari jendela dan menunggu anak kecil tersebut untuk bangun.


Setelah menunggu sekitar 1 jam, akhirnya anak kecil itu mulai menunjukkan tanda tanda akan bangun. Melihat hal itu, Liu Chen segera berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri anak kecil.


Perlahan kedua mata anak kecil itu terbuka. Awalnya penglihatan dirinya agak buram, namun itu tak lama hingga khirnya penglihatannya kembali jelas. "Dimana.. Ini?" gumam nya.


"Kau akhirnya sadar juga"


Anak kecil itu mengarahkan tatapannya pada asal suara. Iapun terkejut melihat seorang pemuda yang berdiri di samping dirinya terbaring. "Si-siapa.. Kakak?", dia ingin duduk. Namun dirinya segera ditahan oleh Liu Chen.


"Kau jangan bangun terlebih dahulu. Diam saja"


Akhirnya anak kecil itu menurut, "Ini.. Dimana?"


"Ini di penginapan. Aku tadi melihatmu ada di sebuah gang sempit dan melihatmu dipukul oleh 2 orang pria dewasa. Aku pun membantumu dan membawamu kemari" ucap Liu Chen.


Anak kecil itu seketika teringat dengan kejadian saat dirinya dipukuli.


"Sebenarnya kenapa mereka memukulmu?", Liu Chen menatap anak kecil yang terbaring itu dengan penasaran.


"Mereka ingin mengambil uangku. Tapi aku mencegahnya. Akhirnya aku dipukuli. Tapi kenapa sekarang aku tidak merasa sakit lagi?" ucap anak kecil tersebut dengan heran.


Liu Chen tersenyum, "Luka mu sudah sembuh. Hanya saja kau masih perlu istirahat. Diamlah dan tinggalah disini lebih dulu"


"Saya berterimakasih pada kakak karna mau menolongku. Tapi aku tidak bisa diam disini. Aku harus mencari seseorang", ia kembali berniat duduk dari posisi berbaringnya.


"Huft.. Sudah kukatakan untuk jangan bangun terlebih dahulu", Liu Chen langsung mencegahnya kembali. Namun tangannya langsung ditahan anak kecil tersebut.


"Aku ingin mencari seseorang. Aku tidak bisa diam saja disini", anak kecil itu pun kini mengambil posisi duduk sambil bersandar.


Liu Chen tidak mencegah anak kecil itu yang duduk. Dia menaikkan salah satu alisnya, "Siapa orang yang kau cari?"


Anak itu bungkam. Dia tidak mau mengatakan apapun pada kakak didepannya. Walaupun pemuda itu sudah menolongnya.


Liu Chen menghela nafas, "Baiklah siapa namamu?"


Anak itu masih saja diam.


Liu Chen tersenyum, "Jika kau tidak ingin mengatakannya tidak masalah. Itu juga adalah hak mu. Kalau begitu, aku akan pergi dulu untuk membelikanmu makanan", Liu Chen langsung pergi keluar dari dalam kamar meninggalkan anak kecil itu sendirian.


Setelah beberapa menit, akhirnya Liu Chen kembali dengan membawa bubur hangat di tangannya. Dia langsung menyeret kursi yang dekat dengan jendela ke dekat kasur. Iapun langsung duduk.


Liu Chen memberikan bubur itu pada anak kecil yang ditongnya. Namun anak kecil itu tidak menerima bubur yang diberikannya. Anak itu masih saja diam.


Liu Chen menyendok bubur yang ada di dalam mangkuk dan mengarahkannya pada mulut anak kecil, "Makanlah walaupun sedikit. Aku tau kau pasti lapar sekarang. Jadi buka mulutmu" ucapnya dengan lembut disertai senyuman.


Anak itu langsung membuka mulutnya dan memakan bubur yang disendokkan oleh Liu Chen. Matanya berbinar ketika menyantapnya. "Enak"


Liu Chen tersenyum, "Kalau begitu makanlah yang banyak", ia kembali menyendokkan bubur dan mengarahkannya pada mulut anak kecil di depannya. Kali ini, anak itu langsung menyantapnya, tidak seperti saat pertama kali.


Muncul senyuman senang pada bibir anak itu. Sudah lama ia tidak merasakan makanan seenak bubur yang dimakannya ini.


Hanya dalam 1 menit, bubur sudah habis dimakan. Liu Chen berniat berdiri dan pergi untuk mengembalikan mangkuk itu. Namun tangannya langsung ditahan.


"Tuan, terimakasih karna sudah menolongku"


Liu Chen menggelengkan kepala sambil menatap anak itu. "Tidak masalah, katakan saja bila kau membutuhkan sesuatu"


"Aku akan memberitau apa yang Tuan tanyakan tadi"


Liu Chen kembali duduk dengan baik dan menyimpan mangkuk kosong diatas meja dekat kasur. Ia pun menatap anak itu dengan senyuman. "Lalu siapa namamu?"


"Namaku Zong Dian dan aku sedang mencari kakakku"


Liu Chen terdiam membeku mendengar nama 'Zong' dari anak kecil yang ditolongnya itu. "Coba kau katakan sekali lagi" ucap Liu Chen yang mencoba memastikan.


"Namaku Zong Dian dan aku mencari kakakku"


Zong Dian adalah seorang anak laki laki yang berumur sekitar 14 tahun. Dia hanya berbeda 1 tahun lebih dari Yang Jia Li.


"Apa kakak yng kau cari bernama Zong Xian?" ucap Liu Chen.

__ADS_1


Zong Dian terkejut. Bagaimana pemuda di hadapannya mengetahui nama orang yang dicarinya?


Zong Dian tau, ada banyak poster di kota yang memperlihatkan gambar dari Zong Xian. Namun disana tidak terdapat nama dari pemuda itu. Lalu dari mana orang di hadapannya mengetahui nama kakaknya?


Zong Dian juga mulai mencari kakaknya setelah melihat adanya poster Zong Xian di kota. Ia awalnya berfikir bahwa kakaknya sudah tiada saat itu. Namun ternyata kakaknya masih hidup. Walaupun sudah 6 tahun lebih tidak bertemu, namun ia masih bisa mengenali orang yang berada di poster pengumuman.


Zong Dian mengangguk karna apa yang ditanyakan Liu Chen benar. "Ya, dari mana Tuan mengetahuinya?"


"Jangan memanggilku Tuan, panggil saja kakak Chen. Aku juga sedang mencari Xian, aku temannya" ucap Liu Chen.


Zong Dian nampak senang bahwa orang dihadapannya adalah teman dari Zong Xian. Kemungkinan pemuda itu mengetahui petunjuk tentang keberadaan kakaknya.


"Um.. Kalau tidak keberatan, apa kau mau menceritakan bagaimana dirimu dan kakakmu terpisah, Dian'er?"


"Apa kak Chen mau membantuku mencari kakakku?"


Liu Chen mengangguk dan tersenyum.


Zong Dian mulai bercerita. Sebenarnya dia juga memiliki kakak lain, kakaknya itu beberapa tahun lebih tua dari Zong Xian. Kakaknya adalah perempuan.


Mereka bertiga suka bermain bersama sama. Namun suatu hari, terjadi pembantaian di desanya yang menyebabkan warga desa mati. Pembantaian dilakukan oleh kelompok bandit bernama bandit serigala hitam.


Bahkan ibu dan ayahnya tewas karna pembantaian itu begitupun kakak perempuannya. Lalu saat itu tinggal Zong Dian dan Zong Xian.


Disaat Zong Xian akan ditusuk oleh seorang bandit, Zong Dian langsung menghalangi serangan itu dan membuat dirinya sendiri tertusuk. Dia mengatakan agar Zong Xian lari menjauh. Awalnya Zong Xian tidak mau, namun Zong Dian terus memaksa dan mengatakan bahwa ia ingin kakaknya terus hidup.


Akhirnya Zong Xian menuruti ucapan Zong Dian. Ia pergi sejauh jauhnya dari kelompok bandit meninggalkan Zong Dian yang tak sadarkan diri karna kehilangan banyak darah.


Kelompok bandit tidak berniat mengejar Zong Xian sama sekali. Karna mereka yakin bahwa anak itu akan mati cepat atau lambat karna tak bisa bertahan hidup di luar sana. Namun nyatanya salah, Zong Xian dapat bertahan hidup karna permintaan Zong Dian.


Zong Xian mengira bahwa Zong Dian sudah tewas karna tertusuk pedang untuk menyelamatkannya. Namun yang tidak dirinya tau adalah Zong Dian masih hidup karna ditolong oleh seseorang.


"Walaupun Xian'er Gege merupakan saudara angkat, namun aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku" ucap Zong Dian mengakhiri ceritanya.


"Tu- tunggu! Saudara angkat? Maksudmu?" ucap Liu Chen sambil mengerutkan keningnya.


"Xian'er Gege sebenarnya bukan kakak kandungku. Dia adalah orang yang dirawat oleh ibu dan ayah. Namun sebelum dirawat oleh ibu dan ayah pun, kami memang sudah saling mengenal dan sudah dekat"


"Jadi begitu. Lalu dimana orangtua kandung Xian?", Liu Chen menatap Zong Dian dengan penasaran.


"Aku tidak mengetahui tentang kedua orangtuanya kak Chen, ibu dan ayah tidak pernah menceritakan hal itu padaku" ucap Zong Dian.


"Apa kak Chen memang benar benar akan membantuku?" ucap Zong Dian dengan antusias.


Liu Chen tersenyum dan mengangguk. "Jadi jangan pergi kemana pun tanpa memberituku. Kau mengerti?"


Zong Dian mengangguk dan tersenyum, "Terimakasih kak Chen"


Liu Chen mengangguk. Mereka pun mulai mengobrol beberapa hal. Liu Chen juga bertanya kenapa Zong Dian tidak bersama orang yang menolong dirinya saat pembantaian itu.


Zong Dian menjawab bahwa orang itu sudah meninggal karna penyakit setelah 2 tahun bersama dengannya. Zong Dian juga mengatakan bahwa orang itu membawanya ke ibukota. Jadi sampai sekarang dia tinggal di ibukota.


Zong Dian mengalami hari hari yang sulit ketika di ibukota. Apalagi saat dirinya hanya tinggal sendiri. Ia terkadang mencuri uang maupun makanan dari orang lain karna ia membutuhkan makanan dan lain sebagainya untuk tetap hidup.


Tak jarang ketika dirinya ketahuan mencuri, orang orang memukulnya hingga menyebabkan dirinya mengalami luka luka.


Mendengar cerita Zong Dian, membuat Liu Chen prihatin dengan keadaan anak di hadapannya.


"Tapi sekarang kau tidak perlu mencuri lagi. Karna kak Chen akan memberikanmu makanan setiap hari. Aku juga akan membelikan pakaian untukmu. Kau tidak akan kesepian lagi karna aku akan ada untukmu", Liu Chen tersenyum.


Zong Dian tersenyum senang, "Terimakasih kak Chen"


"Sudah, sekarang kau istirahat saja. Aku akan pergi sebentar" ucap Liu Chen sambil tersenyum.


Zong Dian mengangguk. Dia pun berbaring di kasurnya.


Sementara Liu Chen langsung keluar kamar sambil membawa mangkuk yang sudah kosong. Ia berencana bila telah mengembalikan mangkuk itu, ia ingin pergi ke toko pakaian untuk membelikan pakaian bagi Zong Dian.


Sementara itu, Han Liangyi terus berkeliling ibukota untuk mencari Liu Chen. "Sebenarnya dia kemana?! Sudah 1 jam lebih aku mencarinya. Tapi tidak juga menemukannya" gumam Han Liangyi.


Ia melihat kearah kiri dan kanan, namun tidak juga menemukan sosok yang dicarinya.


Han Liangyi menghembuskan nafas kasar, ia sangat kesal saat ini. "Kenapa dia selalu saja menghilang?!" teriaknya.


Teriakan Han Liangyi sangat keras hingga membuat banyak orang menghentikan aktifitasnya dan menoleh kearah seorang pemuda yang nampak kesal.


Mendapatkan banyak tatapan seperti itu, membuat Han Lingyi malu, "Gara gara dia, aku menjadi pusat perhatian banyak orang ", dia menutup wajahnya dengan satu tangan dan berjalan cepat meninggalkan kerumunan itu.


Setelah kepergian Han Liangyi, semua warga kembali pada aktifitas nya masing masing. Seakan tidak terjadi apapun.

__ADS_1


Han Liangyi pergi ke tempat Liu Chen menginap. Ia tidak masuk lewat pintu depan. Tetapi lewat jendela yang terbuka. "Mungkin dia sudah pulang" gumam nya.


Han Liangyi melompat tinggi masuk ke dalam kamar Liu Chen lewat jendela. Tidak ada orang yang memperhatikannya saat dia melompat masuk. Karna Han Liangyi sudah menghentikan waktu sekitar. Setelah dia masuk kedalam, waktu kembali normal.


Han Liangyi terkejut dengan sosok yang kini tengah tertidur diatas kasur. Namun tak lama matanya terbuka kala Han Liangyi masuk ke dalam kamar.


Zong Dian terkejut ketika melihat orang lain ada didalam kamar. Ia langsung berdiri diatas kasur dan menatap orang asing itu. "Siapa kau?"


"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau ada disini? Ini tempat temanku" ucap Han Liangyi.


"Kak Chen tidak mengatakan apapun tentangmu. Jadi siapa kau sebenarnya? Apa sebenarnya kau ini penyusup? Pembunuh? Penjual buah? Penagih hutang?"


"Aku ini bukan orang orang yang kau katakan itu. Jangan sembarangan bicara padaku" ucap Han Liangyi dengan kesal.


"Sepertinya kakak bukan orang baik. Kalau begitu..."


"Kak Chen!!", Zong Dian mulai berteriak keras.


Han Liangyi terkejut melihat apa yang dilakukan bocah di depannya. Ia langsung naik ke atas kasur dan membekap mulut Zong Dian.


"Hmph!", Zong Dian memegang tangan Han Liangyi dan berusah lepas dari tangan pemuda itu.


"Kau jangan berteriak seperti itu. Nanti akan terjadi kegaduhan" ucap Han Liangyi dengan berbisik.


Hal ini, menambah kecurigaan Zong Dian bahwa Han Liangyi tidak memiliki maksud baik pada kak Chen nya. Zong Dian berusaha lepas dari bekapan Han Liangyi, namun hasilnya nihil. Ia tidak bisa melepaskan bekapan Han Liangyi.


"Ssstt sudah kukatakan untuk tidak berisik. Jadi diamlah" ucap Han Liangyi.


Zong Dian langsung menggigit lengan Han Liangyi dan membuat dirinya dapat lepas dari pemuda itu. Ia melompat turun dari kasur dan berniat membuka pintu untuk mencari Liu Chen.


Namun Han Liangyi langsung memukul tengkuk Zong Dian sebelum anak itu membuka pintu. Han Liangyi menangkap tubuh Zong Dian yang pingsan.


"Huft.. Aku terpaksa melakukan ini. Bila tidak, mungkin kau akan mengatakan hal yang tidak tidak pada orang lain" ucap Han Liangyi. Ia langsung membaringkan tubuh Zong Dian di kasur.


"Apa jangan jangan ini bukan kamar Chen, ya?" gumam Han Liangyi. Iapun menggelengkan kepala, "Tidak mungkin aku salah kamar. Jadi lebih baik kutunggu Chen sebentar disini"


Han Liangyi langsung duduk di kursi yang dekat dengan kasur sambil memperhatikan Zong Dian, takut bila tiba tiba anak itu bangun dan langsung berteriak.


Setelah menunggu beberapa menit, pintu terbuka. Han Liangyi melihat kearah pintu dan mendapati Liu Chen yang berjalan masuk. "Chen! Akhirnya kau pulang juga!"


Liu Chsn yang baru saja menutup pintu, terkejut dengan kehadiran Han Liangyi. "Bagaimana kau bisa ada didalam sini?"


"Huh, aku masuk melalui jendela. Aku terpaksa melakukannya karna pintu kamar dikunci olehmu" ucap Han Liangyi dengan kesal.


Liu Chen menatap kearah Zong Dian, "Apa dia tertidur?"


Han Liangyi menatap kearah Zong Dian, "Kau mengenalnya?"


Liu Chen mengangguk sambil menatap Han Liangyi, "Dia adik dari temanku. Kebetulan aku bertemu dengannya"


Han Liangyi tertawa canggung, "Kukira dia siapa. Jadi kubuat pingsan tadi karna dia ingin berteriak yang tidak tidak tentangku"


"Jangan melakukan itu lagi. Dia itu adik dari temanku" , Liu Chen langsung mendekat dan duduk di tepi kasur. Dia sedikit menatap Han Liangyi. Namun dengan tatapan kesal.


Han Liangyi hanya bisa tertawa canggung, "Aku akan meminta maaf padanya nanti bila sudah bangun"


"Memang seharusnya seperti itu" ucap Liu Chen. Iapun menatap Han Liangyi, "Sebaiknya kau keluar dari sini. Pesan kamarmu sendiri"


"Kau jahat sekali. Biarkan aku tinggal di kamarmu" ucap Han Lingyi dengan memohon.


Liu Chen menggelengkan kepala, "Tidak! Kau pesan kamarmu sendiri. Disini sudah ditinggali 2 orang. Jadi kau tidak bisa tinggal di dalam kamar ini"


Han Liangyi cemberut. Namun kemudian ia teringat sesuatu, iapun menatap Liu Chen. "Ngomong ngomong dari mana dan dari siapa kau mempelajari jurus tulip api?"


Liu Chen menatap Han Liangyi dengan heran, "Heh, memangnya ada apa? Kau ingin mempelajarinya? Tidak akan. Aku tidak akan memberitaumu"


Han Liangyi menggelengkan kepala, "Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Namun jawab pertanyaanku. Dimana kau mendapatkan jurus tulis api dan katakanlah padaku dengan jujur. Aku tidak menyukai kebohongan" ucap Han Liangyi dengan serius.


"Memangnya apa hubungannya denganmu? Bila aku memberitaumu pun, kau tidak akan percaya" ucap Liu Chen dengan cuek.


"Katakan saja. Aku akan mempercayainya"


Liu Chen menghembuskan nafas dan menatap Han Liangyi dengan serius agar pemuda itu tau bahwa dia tidak berbohong. "Guruku yang mengajarkamnya, dia bernama Zhao Feng"


Han Liangyi menatap Liu Chen dengan datar, "Sejak kapan dia menjadi gurumu dan mengajarmu?"


Liu Chen menjadi aneh dengan ucapan Han Liangyi. Namun dia segera menjawab, "Saat aku berumur 11 tahun. Aku bertemu dengan guru dan belajar banyak darinya"


Han Liangyi mengangguk dan menatap kearah Liu Chen sejenak. Iapun menatap kearah lain, "Ternyata dia adalah muridmu, junior Feng "

__ADS_1


__ADS_2