Kelompok Topeng Bayangan

Kelompok Topeng Bayangan
60 -Zong Dian II


__ADS_3

Di dalam markas, semua anggota dibuat terkejut oleh kedatangan Zhang Jiangwu. Pasalnya, tidak ada penjaga yang menjaga pintu masuk tau akan kedatangan Zhang Jiangwu sama sekali. Padahal pintu masuk selalu dijaga oleh dua orang anggota secara bergantian.


Kini mereka semua ada di ruang latihan. Pandangan mereka terkadang tertuju pada Zhang Jiangwu. Mereka bertanya tanya, tentang kedatangan Zhang Jiangwu yang sangat tiba tiba. Namun mereka kembali fokus kearah depan.


Zhang Jiangwu agak aneh ketika melihat sikap para anggota. Karna saat ia memperhatikan mereka, mereka nampak saling bermusuhan. Dia masih belum mengetahui tentang kematian permaisuri yang disebabkan Zong Xian. Jadi wajar saja bila dia tidak mengetahui konflik yang ada di dalam.


Song Quon menghembuskan nafas pasrah, ia sudah mencoba beberapa cara untuk menyatukan kembali dua kubu yang saling bermusuhan itu. Namun usahanya nihil. Kedua kubu yang ada di dalam kelompok tetap saja masih ada.


"Hari ini, kalian akan bertarung dengan seekor demobic beast. Kalian harus bekerja sama untuk mengalahkannya. Apa kalian paham?" ucap tegas Song Quon.


"Ya!"


Mereka semua pun mulai keluar dari dalam markas dan pergi masuk kedalam hutan yang lebih dalam. Tidak ada pembicaraan diantara mereka semua. Keheningan pun terjadi. Biasanya, mereka akan nampak bersemangat, ketika sebelum kejadian dua kubu terjadi.


Tatapan mereka saat ini seperti persaingan. Tidak seperti saat itu.


"Mereka kenapa?" ucap Zhang Jiangwu dengan suara pelan kearah Lu Tuoli yang berjalan di sampingnya.


Zhang Jiangwu, Lu Tuoli, Song Quon, Yelu, Lao Tzu dan Feng Ying ada di barisan depan saat ini.


Lu Tuoli menghembuskan nafas kasar, "Ini terjadi setelah kematian permaisuri"


Zhang Jiangwu nampak belum mengerti apa yang Lu Tuoli katakan. Namun Lu Tuoli kembali menjelaskan, "Ketua Haocun (Zong Xian) membunuh permaisuri, yang mana permaisuri itu adalah ibu dari ketua Xinxin (Yang Jia Li). Lalu terjadilah pembagian dua kubu di dalam kelompok ini.


Salah satu kubu mendukung ketua Xinxin membunuh ketua Haocun. Sementara kubu yang satunya ingin melindungi ketua Haocun....", Lu Tuoli menjelaskan secara detail. Dia menjelaskan dengan suara pelan agar tak didengar yang lain. Namun tentunya Song Quon dapat mendengar pembicaraan mereka. Begitupun Yelu, Lao Tzu dan Feng Ying. Karna mereka berjalan di depan memimpin para anggota.


Suara angin yang cukup kencang terdengar dan menerbangkan dedaunan. Juga, suara kicauan burung membuat suara Lu Tuoli agak teredam agar tidak didengar anggota lain.


"Jadi begitu, ketua", Lu Tuoli mengakhiri ceritanya. Tak lupa helaan nafas pasrah juga terdengar dari mulutnya.


Zhang Jiangwu kini berpikir bahwa ini adalah masalah yang serius. Bila dua kubu ini masih tetap ada, maka kelompok yang dibuat olehnya dan tiga teman nya akan hancur, cepat atau lambat. Bila kedua kubu terus ada, maka mereka tidak akan pernah bisa bekerja sama dengan baik.


Zhang Jiangwu berpikir untuk mencoba menggunakan senjata tingkat langit, pena keajaiban cerita. Namun resikonya terlalu besar. Orang orang yang masuk dalam ceritanya, maka mereka 'lah yang harus menyelesaikan masalah masalah yang ada pada cerita. Zhang Jiangwu tidak akan bisa mengeluarkan mereka begitu saja, karna memang harus mereka sendiri 'lah yang melakukannya.


Sementara saat ini, anggota kelompoknya kacau. Mereka tidak akan melakukan kerja sama, walaupun mereka dalam keadaan darurat seperti apapun itu. Jika dilihat dari eskpresi wajah dan tatapan mereka. Masalah ini hanya bisa diselesaikan bila masalah utama sudah selesai.


Zhang Jiangwu hanya menghela nafas, ia tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Ia hanya bisa berharap agar masalah utama cepat selesai.


Sudah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan sebuah gua besar.


"Kalian semua masuklah kedalam" ucap Song Quon.


Mereka agak ragu ragu untuk masuk.


"Kenapa? Apa kalian takut? Cih, jika kalian takut untuk melawan demonic beast yang ada di dalam, bagaimana kalian dapat membantu melawan iblis nanti? Bahkan sebelum kalian menyerang, kalian sudah mati dalam perang karna kalian terlalu takut melawan" ucap Song Quon dengan nada yang agak tinggi dan meremehkan.


Mendengar ucapan remeh dari Song Quon tentu membuat semua pihak marah. Mereka langsung masuk kedalam gua dengan cepat dan dengan langkah penuh amarah.


Song Quon tersenyum tipis, "Sekarang kita tunggu saja disini"


"Tapi bagaimana bila didalam ada demonic beast yang sangat kuat hingga mereka tak bisa mengalahkannya?" ucap Lu Tuoli.


"Mereka mau tidak mau harus bekerja sama. Kita tidak akan menolong mereka sebelum keadaannya sangat darurat yang bisa menyebabkan semua anggota mati. Namun bila hanya satu atau dua yang mati, kita diam saja dulu. Ini akan membuat mereka berfikir, bahwa kita tidak akan membantu mereka. Jadi mereka harus melakukan cara apapun agar dapat terus bertahan hidup. Bukan begitu, ketua Guang (Zhang Jiangwu)?", Song Quon melirik Zhang Jiangwu.


Zhang Jiangwu agak ragu ragu berpikir. Namun apa yang dikatakan Song Quon pun ada benarnya. Kemungkinan dengan cara seperti ini, mereka dapat kembali bekerja sama seperti dulu. Jadi ia pun mengangguk mendengar ucapan Song Quon. Ia setuju dengan hal ini.


Lu Tuoli menghela nafas dan menggelengkan kepala, "Jika ketua Guang sudah setuju, yasudah. Aku juga setuju saja"


Sementara itu, di tempat Liu Chen berada.


Kini ia dan kedua temannya terus berjalan menjauhi ibukota. Di depan mereka saat ini ada sebuah hutan yang lebat. Ketika akan masuk kedalam hutan, Zong Dian memegang tangan Liu Chen dan membuat pemuda itu berhenti melangkah.


Liu Chen menatap kearah Zong Dian, "Ada apa, Dian'er?"


Zong Dian menggelengkan kepala, "Jangan masuk kedalam sana kak Chen. Dikatakan bahwa didalam hutan ada markas dari bandit kalajengking"


Liu Chen mengerutkan keningnya. "Memangnya ada apa bila di dalam ada markas bandit kalajengking?"


"Sepertinya kakak belum mengetahui tentang bandit itu", Zong Dian melepaskan pegangan tangannya dari Liu Chen.

__ADS_1


"Kelompok bandit kalajengking adalah bandit yang ditakuti oleh masyarakat. Mereka memiliki 5 markas dengan markas utama yang berada dekat ibukota ini", Zong Dian menatap kearah Liu Chen.


Liu Chen mengangguk, "Tapi kau jangan takut, ada aku dan Liangyi disini. Jadi tidak akan terjadi sesuatu padamu. Percaya saja pada kami"


Zong Dian mengangguk, "Baiklah"


Liu Chen melirik Han Liangyi, "Ayo cepat, kita masuk kedalam"


Liu Chen langsung berjalan masuk, diikuti Zong Dian di belakangnya. Lalu Han Liangyi yang juga ikut masuk.


"Entah kenapa aku merasa kau ada didekat sini, Xian " batin Liu Chen. Ia melirik ke kiri dan ke kanan seperti mencari seseorang.


Han Liangyi menutup matanya sejenak dan membukanya. "Time control:stop it", ia melakukan gerakan tangan dan terakhir menyatukan kedua telapak tangan.


Seketika, waktu disekitar berhenti. Begitupun Liu Chen dan Zong Dian ikut berhenti. Han Liangyi langsung berjalan ke sebuah pohon dan mendongakkan kepala keatas.


"Hei keluarlah. Aku tau kau ada di atas pohon ini" ucap Han Liangyi.


Namun tak ada jawaban sama sekali. Hal ini membuat Han Liangyi agak kesal. Dia mengambil pedang yang tersarung di pinggangnya dan langsung mengalirkan Qi pada pedang. Iapun langsung mengayunkan pedang kearah batang pohon.


Bruukk


Pohon pun tumbang karna pedang Han Liangyi. Bertepatan dengan itu, seseorang segera melompat keluar sebelum pohon tumbang sepenuhnya. Han Liangyi pun kembali menyarungkan pedang miliknya.


"Rupanya itu kau, buronan" ucap Han Liangyi.


Yang ada dihadapan Han Liangyi adalah Zong Xian. Zong Xian awalnya ingin berjalan jalan di hutan sebentar, namun tak sengaja melihat adanya Liu Chen bersama dua orang. Salah satu orang itu seperti ia kenali. Zong Xian pun mengikuti dan memperhatikan mereka sejak ketiga orang itu masuk kedalam hutan.


Zong Xian terkejut ketika tiba tiba saja Liu Chen maupun Zong Dian berhenti seperti tidak bisa bergerak. Sebenarnya, Zong Xian masih bisa bergerak itu pun karna keinginan Han Liangyi yang tak ingin Zong Xian terpengaruh oleh hentinya waktu.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Zong Xian sambil menatap Han Liangyi.


"Aku hanya menebang pohon tadi" ucap Han Liangyi dengan santai.


"Maksudku apa yang kau lakukan pada Chen?", Zong Xian menatap Han Liangyi dengan tajam.


"Apa tujuan kalian ke hutan ini?" ucap Zong Xian dengan datar.


"Kami mencarimu"


Zong Xian menaikan sebelah alisnya, "Aku?"


Han Liangyi memutar bola matanya dengan malas, "Tentu saja. Chen dan adikmu ingin menemuimu"


"Adik? Siapa?"


"Tentu saja Zong Dian. Dia adikmu. Dia ingin mencari dan bertemu denganmu"


"Zo-zong Dian?" ucap Zong Xian dengan terbata bata. Ada rasa ketidak percayaan ketika mendengar nama itu. "Apa kau tidak berbohong?"


"Memangnya ada apa dengan nama itu? Dan untuk apa aku berbohong? Lebih baik kau segera temui mereka agar urusan mereka selesai" ucap Han Liangyi. Ia pun menjentikkan jarinya. Seketika itu juga, waktu kembali berjalan.


Liu Chen dan Zong Dian kembali berjalan. Mereka belum menyadari apa yang baru saja terjadi. Mereka juga tidak menyadari bahwa orang yang mereka cari sudah ada di dekat mereka.


"Hei, kalian! Aku sudah menemukan orang yang kalian cari" teriak Han Liangyi.


Liu Chen dan Zong Dian menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara.


Liu Chen menyipitkan mata kala melihat orang yang berada di belakang Han Liangyi. Ia pun seketika tersentak, "Xian!", ia segera pergi menuju arah Zong Xian. Zong Dian menyusul Liu Chen.


Han Liangyi membalikkan tubuhnya hingga menghadap kearah Zong Xian. Iapun menunjuk pemuda itu, "Nah, orang yang kalian cari"


Zong Xian memandang kearah Zong Dian yang berjalan menyusul Liu Chen. Semakin ia perhatikan, semakin juga ia yakin bahwa Zong Dian adalah adiknya. Tapi bagaimana bisa? Bukankah adiknya sudah mati? Itulah yang dipikirkan Zong Xian saat ini.


"Akhirnya kita bertemu juga" ucap Liu Chen sambil tersenyum senang.


"Chen, siapa dia?", Zong Xian menunjuk Zong Dian yang berdiri di samping Liu Chen.


"Dia, Zong Dian"

__ADS_1


Zong Dian langsung memeluk Zong Xian kala melihat wajah pemuda itu. "Kakak!"


Zong Xian tersentak kala dipeluk secara tiba tiba. Namun dia tak menolak. Ia membalas pelukan itu, "Dian'er, apa itu kau?"


"Mn", Zong Dian menggumam sebagai jawaban 'Ya'.


Zong Xian tersenyum senang, "Aku merindukanmu. Kukira kau sudah mati, Dian'er"


"Aku juga merindukanmu, Xian'er gege" ucap Zong Dian sambil tersenyum senang.


Liu Chen menjadi senang ketika melihat temannya bahagia seperti itu. Dia jadi ingin bertemu dengan kakaknya.


"Uhuk..", Zong Xian tiba tiba terbatuk darah. Hal ini membuat Liu Chen maupun Han Liangyi terkejut.


Zong Dian langsung melompat mundur. Di tangannya nampak sebuah pisau dapur yang dilumuri oleh darah.


Zong Xian termundur beberapa langkah. Ia langsung memegangi perutnya yang nampak mengeluarkan darah. Ia pun berlutut di tanah. Liu Chen segera membantu Zong Xian berdiri. "Apa kau baik baik saja Xian?"


"Uhuk.. apa yang kau lakukan, Dian'er?", Zong Xian menatap Zong Dian dengan ketidak percayaan.


"Dengan membunuh Xian'er gege, aku bisa mendapatkan hadiah dari Kaisar. Kehidupanku akan jauh lebih baik setelah ini", Zong Dian tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali.


Liu Chen menatap Zong Dian dengan ketidak percayaan, "Apa maksudmu, Dian'er?"


Han Liangyi hanya menatap Zong Dian tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Kenapa kau melakukan ini, Dian'er?" ucap Zong Xian dengan lemas.


"Xian'er gege, kau tidak tau penderitaanku selama ini. Aku selalu menunggumu datang untuk menolongku dari kehidupan yang kejam ini. Aku selalu menantikanmu, aku selalu berharap kau datang padaku dan menolongku. Tapi kenyataannya, kau tidak pernah datang menolongku bahkan kau tidak mencariku sama sekali" ucap Zong Dian dengan tatapan sedih.


"Dian'er.." ucap Zong Xian dengan lirih.


"Kak Chen, apa kau tau? Kenapa orang yang menolongku meninggal?", Zong Dian tersenyum menatap Liu Chen.


Liu Chen hanya diam, tak menjawb apapun.


Zong Dian tersenyum menyeringai, "Aku membunuhnya. Aku 'lah pembunuh orang itu. Kau tau apa alasanku melakukannya?", ia masih saja menatap kearah Liu Chen.


"Dan apa kau tau apa alasanku memakai penutup mata ini, kak Chen?" ucap Zong Dian. Sebelah matanya memang tertutup oleh penutup berwarna hitam. Jadi dia melihat dengan matanya yang tidak ditutup.


Zong Dian pun menatap kearah Zong Xian, "Xian'er gege, kau tidak tau penderitaanku. Aku sangat menderita", ia membuka penutup mata yang menutupi satu matanya. Terlihatlah bahwa mata Zong Dian tertutup.


"Ini adalah salah satu penderitaan yang kualami. Mataku diambil oleh pak tua itu untuk menggantikan matanya yang tak sengaja tertusuk saat itu. Rasanya sangat menyakitkan ketika mataku diambil olehnya. Namun dia tidak mempedulikanku yang saat itu merasakan sakit.


Dan kau tau, Xian'er gege. Kehidupan yang kujalani dengan pak tua itu sangat buruk. Dia memperlakukanku seperti budak. Dia selalu menyiksaku untuk kesenangannya sendiri. Dia menolongku saat itu hanya karna ingin menyiksaku. Dia sangat menyukai kegiatan ketika menyiksa anak kecil", Zong Dian seperti meluapkan semua yang terpendam di dalam hatinya.


Zong Dian pun melihat kearah Liu Chen, "Kak Chen pasti saat itu melihat aku memiliki banyak luka di tubuhku. Kau mengira itu karna dua orang pria dewasa yang ingin mengambil uangku. Tapi sebenarnya bekas bekas luka di tubuhku bukan hanya karna mereka, tapi karna pak tua yang menolongku. Tepatnya pak tua yang suka menyiksaku selama 2 tahun itu.


Luka luka yang diberikannya memang membekas sangat lama di tubuhku. Namun semua itu hilang setelah aku disembuhkan olehmu, kak Chen"


Baik Liu Chen, Han Liangyi dan Zong Xian dapat melihat tatapan Zong Dian yang terlihat sangat menderita. Selama ini, Zong Dian memang selalu menderita.


"Kau hanyalah manusia biasa, kau dapat kami bunuh dengan mudah. Apa kau tak takut karna sudah menusuk kakakmu itu, lalu kamipun menyerangmu?" ucap Han Liangyi yang mencoba menakuti Zong Dian agar anak itu tidak berbuat lebih dari ini.


Zong Dian tersenyum miris, "Aku tidak memiliki alasan lagi untuk hidup. Aku masih hidup sampai saat ini karna ingin bertemu Xian'er gege dan membunuhnya atau melukainya untuk memberitaunya bahwa aku selama ini marah dengannya karna dia tidak juga menolongku. Padahal saat itu aku masih mengingat kata katanya padaku"


"Dian'er, aku akan selalu melindungimu. Tidak akan kubiarkan kau menderita. Aku berjanji padamu "


"Tapi nyatanya? Kau bahkan tidak mencariku, Xian'er gege" ucap Zong Dian sambil tersenyum. Namun tatapannya menggambarkan kesedihan.


"Dian'er..", Zong Xian tidak bisa berkata apapun. Dia memegangi perutnya yang masih saja mengeluarkan darah.


Liu Chen segera mengeluarkan pil berwarna merah, "Xian telanlah agar kau sembuh", ia menyodorkannya pada Zong Xian. Namun pemuda itu menggelengkan kepala. "Ada apa? Cepat telan. Kau bisa mati bila darahmu terus keluar seperti itu"


"Aku pantas mendapatkannya. Aku tidak menepati janjiku. Bukankah kau memang ingin melihatku terluka seperti ini, Dian'er? Dan bukankah kau ingin membunuhku? Kalau begitu lakukan saja" ucap Zong Xian dengan lemas namun ia tersenyum tulus. Ia sudah berlutut di tanah. Sementara Liu Chen ada di sampingnya.


Liu Chen terdiam mendengar ucapan Zong Xian, iapun menatap kearah Zong Dian. Ia ingin tau apa yang akan dilakukan anak itu.


Mata Zong Dian bergetar melihat Zong Xian seperti itu. Apalagi mendengar kata kata yang keluar dari pemuda itu. Ia mencengkram pisaunya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2