
"Sa,nanti sehabis dari lap biologi kita langsung ke OSIS ya. " Kata Davira.
"Siap Vir, emang ada yang ketinggalan ya? "Tanya Sasa.
" Gak Sa, hanya saja pingin rebahan bentar, kayak capek ini badan. "Jawab Davira.
" Hadeh,mulai ini anak. "Kata Putra.
Tiba saatnya jam pertama dan kedua memasuki lap biologi. Siswa siswi antusias ada juga yang malas mengikuti pelajaran ini.
Hal pertama yang gua dan Heri lakukan adalah menyalakan lampu, yang saklarnya berada gak jauh dari pintu masuk. Setelah lampu menyala, barulah ruangan menjadi terang, tapi tetap masih seperti malam karena di luar cukup gelap akibat mendung tadi.
Berjalan ke sudut ruangan untuk menaruh tas, pada akhirnya gua dan Heri harus lewat depan pintu ruang kecil, saat itu gak terjadi apa-apa. Tapi ketika tas sudah berada di atas meja, dan posisi gua membelakangi pintu ruang kecil, gua dan Heri mendengar sesuatu.
"Vir, lu denger sesuatu gak? "Tanya Heri.
"Denger Her, Kira-kira apa ya? "Balik tanya Davira.
" Yeee, gua tanya lu kali Vir,palah balik tanya. "Kata Heri
"Dah diem,gua mau tidur bentar, mumpung belum pada kumpul semua."Kata Davira.
"Hemmm."Jawab Heri singkat jelas dan padat.
Pelajaran sudah akan dimulai Pukul Setengah delapanSasa dan Putra pun memasuki lap biologi terakhir. Jam pertama telah usai. Siswa-siswi di suruh untuk menyalin.
" Vir, bentar lagi ya belum selesai nih gua nyalin nya. "Kata Heri.
"Iya gua tunggu."Balas Davira.
😱😱😱😱
Trak, trak, trak, trak, trak..” Kira-kira seperti itu bunyinya.
Gua dan Heri langsung balik badan dan memperhatikan pintunya.
“Suara apa barusan?” Pertanyaan itu yang ada di dalam benak kita.
Kemudian hening, gak terdengar apa-apa lagi, namun gua terus memperhatikan pintu ruang kecil.
Beberapa saat lamanya gua masih duduk diam, sampai akhirnya bunyi itu muncul lagi..
“Trak, trak, trak, trak, trak..”
Seketika itu pula gua dan Heri merinding, perasaan tiba-tiba jadi gak enak. Langsung ambil langkah cepat ke luar ruangan, gak mau menuruti penasaran, rasa takutlah yang menang kali ini.
"Apa ya kira-kira itu Vir. Tanya Heri.
" Entahlah Her, gua juga gak tau. Yang jelas gua merinding.
“Trak, trak, trak, trak, trak..”
Di tengah-tengah pelajaran, suara itu muncul lagi. Awalnya kembali mengarahkan pandangan ke pintu gudang, tapi setelah keberapa kali bunyi itu terdengar, gua dan Heri memutuskan untuk mengabaikannya.“Trak, trak, trak, trak, trak..”
Entah untuk yang keberapa kali suara itu muncul lagi, gw yang awalnya cuek jadi terkesiap ketika melihat Heri yang duduk persis di sebelah, seperti mendengar juga suara itu, dia lengsung memperhatikan pintu gudang juga.
“Lo denger Her?” Tanya Davira pelan.
__ADS_1
“Iya Vir.” Jawab Heri.
“Suara apa ya itu?”Tanya Heri lagi.
“Gak tau, udahlah cuekin aja.” Begitu jawab Davira.
Kegiatan belajar lalu berlanjut, sesekali suara itu muncul lagi dan lagi, sampai pelajaran selesai.
"Vir, Her kita duluan ya. Cacing diperutku sudah pada demo. " Kata Putra.
"Iya, gua, masih nunggu Heri. " Jawab Davira.
Setelah selesai Davira dan Heri mereka langsung menuju kantin. Disana sudah ada makanan yang siap untuk dimakan.
"Makasih ya. " Ucap Davira dan Heri.
Pelajaran sudah akan dimulai lagi, kali ini mereka ke kelas. Pelajaran berjalan lancar. Davira dan Heri pulang bareng, karena ingin membeli buku. Sedangkan Sasa dan Putra sudah pulang terlebih dahulu untuk menyiapkan tugas kelompok biologi.
Sampai di parkiran Heri kebingungan mencari kunci motor.
Davira pun ikut mencari di kelas, namun tidak ada hasilnya.
Davira dan Heri saling pandang dan mengangguk seakan mengerti.
Mereka Menyusuri lorong panjang, melewati ruangan kelas satu persatu, beberapa siswa masih terlihat berada di lingkungan sekolah, tapi gak banyak, karena sebagian besar sudah pulang.
Siang itu cerah, terik matahari masih cukup panas menerpa bumi.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di lab biologi.
Gak buang waktu lagi, langsung menuju meja tempat Heri belajar tadi.Kunci masih ada di loker bawah meja, langsung maraihnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Pada saat itulah mereka mendengar suara itu lagi..
"Trak, trak, trak, trak, trak. "
"Duh, knapa ada bunyi itu lagi sih. Kali ini suaranya terdengar cukup keras, agak mengagetkan."Grutu Heri dan Davira bersamaan.
Reflek mereka langsung melihat ke pintu, lalu terdiam sambil terus menatap, ada yang aneh, ada yang beda dari biasanya..
Ternyata pintu gudang sedikit terbuka, ada celah kecil, tapi mereka tetap gak bisa melihat ke dalamnya.
Penasaran, cemas, takut, bercampur jadi satu ketika perlahan mereka melangkah mendekati pintu gudang.
Gak ada yang aneh, hanya gudang yang berisi barang-barang tidak terpakai. Di titik itu mereka mulai sedikit lega, karena gak menemukan hal yang menyeramkan. Tapi kelegaan hanya sebentar, karena akhirnya mereka mendengar dan melihat sesuatu.
"Astaga Her, itu apa?" Tanya Davira
"Mana gua tau Vir,kita lihat saja bagaimana? " Tanya Heri.
"Kok mencekam sekali sih ini, baru kali ini serem amat ya." Kata Davira.
"Trak, trak, trak, trak, trak. "
Suara itu semakin terdengar nyaring di telinga mereka. Tangan mereka saling bertaut, menggenggam semakin erat. Seakan sama-sama menyalurkan ketenangan. Namun tidak dengan mata dan pikiran mereka. Rasa takut, penasaran jadi satu. Dan ketika mereka semakin mendekat ke arah sumber suara.Tiba-tiba pintu almari terbuka sendiri.Dan kerangka manusia yang sering untuk praktek itu bergerak-gersk. Rahang nya naik turun seakan ingin bicara. Tangan berkerak melambai dan ingin meraih tubuh Davira dan Heri.
"Aaaaaaa, kerangkanya hidup. kabur Her, kabur ayo lari. " Suara gemetar Davira.
Kaki Davira dan Heri seakan tidak bisa digerakkan.Sedangkan kerangka manusia buatan itu semakin mendekat dan mendekat. Heri berhasil melarikan diri. Sedangkan Davira masih difalam. Untung saat Heri berlari bertemu dengan Davan, dan menceritakan semuanya dan memberi tahu Davira masih di dalam
__ADS_1
Davan langsung berlari ke arah lap biologi itu.
Dengan sekali tarikan Davira berhasil dibawa keluar oleh Davan.
"Dek, jangan ngelamun. Dek dengarkan abang dek. " Suara teriakan Davan tak mampu membuat Davira sadar dari lunan dan gemetar itu.
"Plak."
Suara tamparan beras di pipi Davira. Seketika Davira dadar dan luruh ke lantai. Untung Davan dengan sigap menopang tubuh Davira dan menariknya kedalam pelukannya.
"Maaf dek maaf, mana yang sakit, kita ke UKS ya. " Kata Davan.
"Bang aku takut bang,aku takut. " Kata Davira dengan suara gemetar.
Heri yang langsung menghpiri Davira kaget. Tidak biasanya Davira serakut ini. Tiba-tiba Davira pingsan. Dengan sigap Davan menggendong Davira. Dan menyuruh Heri untuk mencari ojek online. Untung saja di depan sekolah sering ada yang menunggu pesanan. Dengan cepat Davan dan Heri membawa Davira ke klinik terdekat Tak lupa Heri memberi kabar ke pada Sasa dan Putra. Mereka bergegas ke klinik.
Davira yang semakin pucat dan suhu tubuhnya sangat panas.
Panik itu yang dirasakan Davan dan Heri. Mau menghubungi orang tua Davira namun orang tua Davira sedang berada di luar kota.
"Kak Vina, aku takut kak aku takut. " Davira mengigsu mrmanggil saudara kembarnya yang sudah tiada.
"Davira, Hey tenang dek tenang ya, ada Abang disini. " Kata Davan sembari mengelus kepala Davira.
"Her, apa ini sering terjadi kepada Vira? " Tanya Davan.
"Kalau melihat makhluk tak kasat mata sudah sering bang, tapi tidak dengan syok seperti ini. Dulu pernah merasa syok dan sampai menggigil namun badannya panas. " Kata Heri.
"Tunggu sudah yang kedua kslinya? " Tanya Davan lagi untuk memastikan.
30 menit kemudian Sasa dan Putra datang. Mereka langsung memeluk Davira dengan eratnya.
"Dek, maafkan gua dek maaf. Seharusnya gua ada disana tadi. " Guman Putra lirih, namun masih terdengar oleh Davan, Sasa, Heri.
"Bang, makasih ya sudah menolong Davira. " Ucap Putra.
"Sama-sama Put. " Kata Davan.
Beberapa saat kemudian Davira terbangun, dan bertanya dimana dia saat ini.Davira mengingat kejadian di lap biologi.Rasa takut dan gemetar itu muncul lagi.
"Bang,Vira, mau pulang, Vira takut, Vira gak mau kesana lagu, Vira takut, Vira takut. "
"Iya dek, kita pulang ya, tapi setelah dokter memeriksa lagu ya. " Kata Davan.
Setelah menunggu sampai sore Davira diijinkan untuk pulang.Tenrynya Putra sudah menghubungi mamanya untuk kerumah Davira. Ketika sampai dirumah, Davira langsung dipeluk Mama Putra.
"Kamu tidak apa-apa nak? Jangan takut ya nak, mama disini. Mama akan jaga Vira sebelum bunda dan ayah pulang.
" Makasih mah, Vira tidak apa-apa. "Jawab Davira.
Putra, Sasa,Heri memutuskan untuk menginap. Sedangkan Davan pamit pulang dan berjanji esok hari akan datang.
Merka nampak berpikir ada apa di dalam gudang lap biologi itu. Dan membiarkan misteri itu. Dan lebih mementingkan Kondisi Davira.
Biarkan misteri didalam lap itu. Setiap sekolah pasti ada beberapa tempat yang akan mereka tinggali. Mereka makhluk yang tak kasat mata.
Papayo👋👋👋👋👋
__ADS_1