
Setelah lelah rutinitas bekerja Davira memutuskan untuk pulang lebih awal. Begitupun Sasa, raut wajah masam terlihat jelas. Grutuan demi grutuan keluar dari mulut Sasa.
Sedangkan Davira memilih terdiam dan pulang begitu saja. Tidak punya rencana untuk pergi ataupun singgah dulu ke kedai atau ke swalayan.
"Menepilah bila lelah, jangan terus dilanjutkan. Istirahatlah sejenak, mungkin kamu akan menemukan tujuan baru hari esok. Tetap semangat untuk diri sendiri dan semoga lelahku jadi lilah."
Davira memesan taxi online, ingin rasanya segera mandi dan rebahan. Namun apalah daya kendaraan padat merayap. Helaian napas keluar dari mulut Davira.
"Masih panjang pak macetnya?Saya turun disini saja pak ini ongkosnya terimakasih. "
Belum sempat menjawab Davira sudah keluar dan menyeberangi jalan mencari ojoke motor agar cepat sampai.
"Terimakasih orang baik, semoga menjadi ladang pahala untukmu kelak nak, terimakasih sekali lagi."
Davira berjalan gontai sambil menjinjing sepatunya tanpa rasa malu. Paparan sinar matahari sore menerpa
wajah Davira.
Dari kejauhan terlihat seorang pemuda memakai motor sport.
"Bukannya itu Vira? Kenapa jalan kaki? Bukannya mobil sudah ku kembalikan? Apakah mogok atau hal lainnya?"
Berbagai bertanya dibenak seseorang itu. Ia melakukan motornya dengang gesit. Dan benar saja tepat di samping Davira motor itu berhenti dan memanggil nama Davira.
"Lho dek kenapa jalan kaki, ayo mas antar."
Tanpa memberi jawaban Davira tersenyum dan langsung naik ke motor sport milik Fauzan. Ya ia adalah Fauzan.
Sedangkan Fauzan diam diam menyunggingkan senyum kebahagiaan.
Tanpa pikir panjang Fauzan turun dan memakaikan helm untuk Davira.Sedangkan Davira terkesima melihat ketampanan Fauzan.
"Lats go kita jalan."
Davira hanya mengangguk, Fauzan memberi kode untuk pegangan. Namun Davira menolak dengan menggelengkan kepala.Fauzan tak kurang akal, Ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan menabras kendaraan yang lain. Mau tak mau Davira berpegangan, tidak hanya berpegangan bahkan sekarang ia memeluk erat Fauzan dan bersandar dipunggung Fauzan. Jangan tanyakan ya bagaimana jantung mereka. Jantung mereka seakan menabuh genderang. Detak jantung Davira terasa sampai punggung Fauzan.
"Ya Tuhan apakah aku terkena serangan jantung mendadak. Kenapa berdetak semakin kencang. " Pikiran konyol Davira.
__ADS_1
"Ya Tuhan rasa apa ini, ada apa dengan jantungku? " Batin Fauzan.
Mereka melintasi rest area dimana mereka telah menolong anak wowo.
Tidak lama motor Fauzan berhenti di depan gerbang rumah Davira.
"Dek sudah sampai, mas langsung pulang ya masih ada kegiatan." kata Davira.
Tak lupa Davira mengucapkan terimakasih dan menawarkan untuk singgah barang sebentar saja. Namun dengan tak enak hati Fauzan menolak karena benar benar masih ada kegiatan sehabis magrib banyak yang ia persiapkan.
Fauzan berpamitan, sedangkan Davira masih mengamati punggung Fauzan sampai tidak terlihat lagi.
Tanpa Davira sadari ada sosok yang melintas begitu cepat mendahului Davira.
Davira pikir Aciel sedang bermain sama temannya. Namun salah sosok itu bukan Aciel. Davira tak menghirauian sosok itu, terus berjalan dan merebahkan diri tempat tidur. Bergegas Davira masuk kamar mandi bersih bersih. Setelah tiga puluh menit Davira selesai berendam dan mandi Davira mengambil air wudhu untuk menjalankan ibadah sholat magrib.
Setelah itu Davira berniat membuat cemilan dari bahan sosis dan bakso. Ditemani teh manis dan buah-buahan.
Setelah membuat cemilan Davira membawanya ke halaman depan, tepatnya digazebo.
Sedangkan om wowo hanya terdiam dengan sorot mata tajam melihat ke arah gerbang.
Davira pun bertanya ada apa dan kenapa. Namun tidak ada jawaban dari om wowo.
Davira lalu mengikuti arah pandang Om wowo.
Berlahan Davira mendekat dan alangkah terkejutnya Davira.
Ia melihat sisok hitam besar namun tidak terlalu besar.
Ia lalu menelisik setiap inci tubuh sosok itu.
"Kamu siapa? kenapa ada disini? kamu mencari siapa?"tanya Davira.
Namun tak ada jawaban dari sosok itu. Akan tetapi sosok itu menangis sambil tangan terleangkup didada. Entah apa yang ia katakan Davira tidak tau.
Davira lalu mengingat ingat sosok itu karena merasa pernah melihat tapi dimana. Lama Davira mengingat akhirnya Davira tau siapa sosok itu.
__ADS_1
"Kamu anak wowo yang aku tolong itu? Lalu ada apa kamu kemari? Aku buat salah denganmu? "Tanya Davira.
Anak wowo itu terus menangis bahkan sekarang berjongkok di kaki Davira.
" Ehh jangan begitu aku bukan Tuhanmu. Jangan bersujud di kaki ku. "kata Davira.
Anak wowo itu berdiri dan tetap tangan masih tertelangkup di dada.
Aciel yang paham berbisik kepada Davira jika anak wowo itu berterimakasih para Davira karena telah menolongnya. Ia ingin balas budi kepada Davira. Anak wowo pikir Davira adalah orang yang sama seperti orang yang telah mengurungnya. Davira hanya menggelengkan kepala saja.
"Jadi kamu pikir aku adalah orang yang sama seperti yang mengikat kamu itu? Dan aku akan memanfaatkan kamu begitu? Lalu apa gunanya aku membebaskan kamu dari ikatan itu? "
Terlihat Davira lelah dan frustasi. Ia lalu menjelaskan kepada anak wowo tersebut. Karena sama sama ciptaan Tuhan hanya saja beda dunia. Selagi tidak menggangu ya ia tolong.
Anak wowo berterima kasih kepada Davira. Dan meminta untuk tinggal dan menjaga Davira karena ingin membalas budi baik Davira.
"Terserah kau sajalah wo, noh sana kenalan sama engkong kau dulu. " kata Davira.
Yang dimaksud engkong adalah om wowo. Sedangkan Aciel sangat senang karena ada yang baru dan bisa bermain. Sedangkan Davira menggerutu karena semakin ke sini semakin banyak yang ikut.
"Ada ada aja itu makhluk astral, dia kira penampungan hantu kali ya."
Davira lalu melanjutkan makan dan minum, setelah selesai Davira masuk dan langsung merebahkan diri sampai tertidur.
😅😅😅😅😅😅
Selamat malam semuanya.
Kembali lagi nih.
Ayo siapa yang tanya anak wowo kemarin.
Ini dah terjawab ya.
Jangan lupa like komen gift dan vote ya.
Selamat membaca.
__ADS_1