
Davira yang penasaran mencari asal suara tersebut.
Davira semakin masuk kedalam semak-semak.
Tak ada orang disana.Davira cari kesana kemari tidak ada. Sampai akhirnya ada tepukan dibahu Davira.
Davira terkejut dan ternyata adalah Fauzan.
"Astaghfirullah kak, ngagetin aja."
"Sedang apa dek disini? "
Davira tidak menjawab, justru semakin masuk kedalam dan diikuti Fauzan dibelakang.
"Ini anak lihat apa sih, ditanya palah nyelonong begitu saja."
Davira clingukan kesana kemari mencari sumber suara.
Ketika Davira menoleh ke kiri ternyata ada sosok hitam sedang menangis minta tolong. Sosok itu terus berteriak.
"Kak jika kakak takut kakak pergi saja, itu hantu kayaknya minta bantuan deh kak. Vira mau kesana dulu mau tolongin dia."
Ya kali Fauzan takut hantu, kalah dong sama Davira.
Sebenarnya Fauzan dikit-dikit bisa merasakan kehadiran mereka.
"Kamu ini gak ada takutnya sih dek, main nyelonong aja masuk mini hutan ini. Jika ada ular matuk dan ada semut gigit bahkan dikroyok nyamuk gimana? Bentol bentol semua kan?"
__ADS_1
Davira tak menggubris omongan Fauzan,dan semakin dekat dan dekat. Sesampai dipohon besar terdapat anak wowo yang terikat. Terlihat anak wowo itu kesakitan.
Fauzan hanya bisa beristiqhfar banyak-banyak sambil clingak clinguk kanan kiri belakang. Sedangkan Aciel sudah di garda terdepan untuk introgasi anak wowo tersebut.
"Ini anak om wowo kenapa keiket begini? Kau bikin salah kah pada manusia? Jangan deh om kecil. Manusia kalau sudah khilaf bakalan hukum kamu om kecil. Tau gak om kecil aku ditolong lho sama kakak itu? Kamu mau ditolong juga? Tapi jangan susahi kakak aku ya. Ingat itu. " Kata Aciel.
Davira berusaha membuka tali yang mengikat anak om wowo.
Terlihat anak om wowo kesakitan dan terus memandang Davira. Tak tega juga Fauzan melihat itu, Fauzan mendekat dan membantu Davira.
Setelah sekian menit akhirnya anak om wowo berhasil bebas, dengan satu syarat yang diajukan Fauzan dan Davira. Anak wowo itu mengangguk dan pergi begitu saja. Davira terlihat lelah dan letih. Fauzan menawarkan diri untuk mengantar pulang. Davira mengiyakan saja. Sedangkan kendaraan Fauzan akan dibawa oleh Fauzi sedari tadi sudah menunggu di pinggir jalan.
Davira dan Fauzan akan makan malam dulu. Namun perut dan mata Davira tidak bisa diajak kompromi. Perut merasa lapar dan mata sudah lelah. Mereka duduk didalam mobil milik Davira. Davira berdandar kursi penumpang sebelah pengemudi. Sedangkan Fauzan bersandar di sebelah Davira.
Fauzan menoleh kearah Davira, ternyata sudah tertidur pulas dan meringkuk seperti bayi. Tak tega dengan posisi Davira, Fauzan mekuruskan kursi dan menyelimuti Davira, kebetulan Fauzan melihat selimut di kursi belakang. Kaki Davira diluruskan oleh Fauzan. Tak lama berselang pesanan sudah datang. Fauzan meminta untuk dibungkus saja dan meminta maaf kepada abang penjualnya. Setelah selesai menunggu makanan yang sudah dibungkus Fauzan bergegas masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.AC telah Fauzan kecilkan dan sedikit membuka kaca jendela belakang.
Setelah tiga puluh menit berselang akhirnya sampai di rumah Davira. Fauzan tidak tega membangunkan Davira. Sedangkan rumah terlihat sepi. Fauzan menghubungi Heri dan Putra. Menjelaskan semua kejadian dan meminta solusi. Akhirnya Heri dan Putra datang membukakan pintu gerbang dan memberi tahu Fauzan jika orang tua Davira sedang pergi keluar kota.
Dengan hati-hati Fauzan membawa Davira masuk ke kamarnya.
"Maaf bang sudah ngrepotin begini.Memang ini anak satu jika sudah tidur kayak orang mati. Oh ya ini bang baju gantinya abang bisa istirahat di kamar tamu bersama kita nanti. Biar Sasa yang temani Vira."kata Heri.
" Terimakasih ya Her. "kata Fauzan.
Mereka pun bergegas keluar kamar Davira menuju kamar tamu.Cukup besar kamar tamu itu. Terdapat empat tempat tidur terpisah.Fauzan bersih-bersih terlebih dahulu. Sedangkan Putra dan Heri sudah tertidur. Fauzan pun merebahkan diri dan tertidur.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul tiga pagi hari. Davira terbangun dan bingung kenapa bisa ada dikamar. Buru-buru Davira berjalan tergesa ke kamar tamu. Dan benar disana terlujat tiga pria tampan yang berbeda usia. Salah satunya yang membuat jantung Davira berdegub kencang. Tak ingin menggangu mereka Davira pergi kedapur dan memasak.
__ADS_1
Davira dibantu oleh Sasa yang sudah bangun juga.
Pukul setengah lima Davira dan Sasa sudah selesai masak dan buru-buru membangunkan tiga pria itu dan bergegas mandi.
Sedari tadi Fauzan sudah bangun karena mencium bau enak dari arah dapur. Fauzan tersenyum tipis melihat Davira cekatan dalam memasak.
Selang setengah satu jam mereka sudah siap di meja makan. Mereka sarapan dengan tenang, setelah itu mereka berbincang sebentar.
"Udah bareng Vira aja kak, kita searah. " kata Davira.
"Baiklah." kata Fauzan.
Mereka berangkat berpisah. Beda halnya dengan Davira dan Fauzan mereka satu mobil dan bercanda di sepanjang jalan menuju kantor Davira.
Pada akhirnya mobil Davira dibawa Fauzan ke pondok.
Mereka berpisah didepan gerbang kantor Davira.
"Bye kak, makasih sudah antar sampai sini. Nanti Vira pulang bareng Sasa. Kakak nanti sore saja pulangin mobilnya. Sekali lagi makasih kak. Vira kerja dulu. " kata Davira.
Berapa senangnya hati Fauzan pagi ini, bisa merasakan masakan Davira dan bisa mengantar juga. Ia membayangkan jikalau berkeluarga dengan Davira.
🥰🥰🥰🥰🥰
Sore gaes mohon ijin up telat lagi besok.
Jangan pergi ya, tetap bersamaku disini.
__ADS_1
Jangan lupa like, comen, gift ya.
Bye👋👋👋👋👋👋