KENAPA HARUS AKU

KENAPA HARUS AKU
ROSSA 170


__ADS_3

Dokter baru keluar setelah hampir 30 menit.


" Kondisinya tidak baik Bu! kami hanya menunggu ibu!"


Dan aku masih menangis, lalu dokter meninggalkan aku dengan semua Sahabat Sahabat ku. kami masuk kembali ke dalam ruangan.


" Keluarga nya Aryo gimana Cha?" tanya Angel


" Mereka menyerah, tapi gw belom mau!" jawab ku


" Jadi loe ditinggal sendiri?!" tanya Juan


" please...mereka ga seburuk yang loe kira, mereka malah sayang, saking sayangnya mereka ga mau liat laki gw kaya gini!" Jawab ku dengan Isak tangis


aku mencium pipi suami ku.


" Kamu itu bikin aku takut terus! aku bisa jantungan Mas, ga keren kan, masa aku sakit jantung, mirip ibu Ama Papa aja!" ucap ku dan terus ku cium pipi nya


" Bertahan ya Mas....jangan hari ini, besok aku Konsul ke dokter, aku bakal sesar aja lah, biar anak ku bisa cium kamu, biar anak ku ada satu photo Ama kamu, biar anakku punya kenangan Mas!" ucap ku terus menerus


Boy meraih Bahu ku,


" Udah Cha, kita ngobrol dulu yah!"


" minum dulu!" Arif memberikan botol air pada ku, dan aku meminumnya.


" Loe mau coba bawa Aryo pengobatan ke luar negeri?" tanya Mitha


" gw ga tau, gw ga tau apa apa soal pengobatan di luar negeri!" jawab ku jujur,


" Tapi loe mau coba ga?" tanya Sandri


Aku berpikir dan terus berpikir


" Gw takut operasi di luar juga gagal, gw cuma pengen Anak gw cium bapak nya, itu aja, apa permintaan gw terlalu berlebihan?" tanya ku dengan menangis


" Cha, kita berharap Aryo bisa dapet pengobatan di luar negeri, supaya bisa tindakan, ga gini terus, gw panik liat kejadian kita tadi!" Ucap Arif


" kita bisa coba Australia atau ke California!" Ucap Boy


" gw belom pernah ke sana Sidney Ama California sama sekali!"


" Kita bukan mau bahas wisata loe, kita mau bahas Aryo, buat coba pengobatan nya!" Seru Vero dengan suara kesal pada ku.


" Coba ya Cha...!" ucap Bunda Desi, dia membujuk aku


" Ok, gw coba, Tapi gw lagi ga bisa mikir, tolong siapin beberapa rumah sakit yang recommended buat laki gw!" ucap ku. dan berarti aku harus semakin sadar, kemungkinan anak ku untuk bisa bertemu dengan papa nya semakin kecil, waktu yang aku miliki untuk bersama suami ku semakin sedikit dan aku menangis lagi.


Semua sahabat ku sedang berbicara serius saat ini, aku duduk dengan wajah yang aku dekatkan dengan suamiku.


" Mas Aryo mau berobat ke luar negeri?"


" Kasih aku petunjuk Mas!"


" Please.....!" ucap ku


" Gerakin tangan mu Mas! kasih aku satu code bahwa kamu setuju dengan ini!"


aku menunggu dan Suamiku tetap pada kondisi nya. aku sadar kondisi nya memang buruk, hanya aku saja yang egois, aku saja yang memaksakan ego ku.


" Cha...!" Boy memanggil ku


" Hehmmmmhh!"


" Kita coba di Sidney ya Cha, pertimbangan kita, Visa, jarak lokasi, resiko di jalan dan transportasi menuju ke sana!"

__ADS_1


" ok...rumah sakit apa?"


" The Royal Melbourne!" Jawab Febby


" ok!" jawab ku


" ok, aku telphone dulu di luar, aku kembali secepatnya!" jawab Febby.


Febby kembali,


" Gw dah dapet nomor telepon dokter disana! siapa yang mau ngehubungi?" tanya nya


" Loe mau gw yang telphone?" tanya Mitha


" Ga usah Gw aja!" Jawab ku.


Aku mulai menghubungi dokter Webber, dengan kemampuan bahasa Inggris aku yang baik, pernah tinggal di Singapore dan bekerja untuk Bos ku yang bule, aku tidak kesulitan untuk berkomunikasi dengan dokter Webber.


Dan ternyata tidak semudah yang Sahabat ku kira, banyak persyaratan yang harus aku penuhi, dan yang paling awal adalah data kesehatan suamiku secara rinci dan kemampuan financial.


" Gimana Cha?" tanya Bunda Desi setelah sambungan telphone ku berakhir


" Ribet Bund!"


" Apa yang bisa kita kerjain?" tanya Mitha


" Besok gw harus ketemu Ama Papa nya Arga, konsultasi dulu soal pengobatan ini!"


" Setelah itu?" tanya Sandri


" Data Bank gw, mereka ada standar yang bakal di kirim via email"


" Kapan mau di kirim nya?" tanya Boy


" 10 menit katanya!" dan sekarang kami tinggal menunggu email masuk ke handphone ku.


" Apa aja Cha?" Tanya Arif


" Data Bank gw, 6 bulan terakhir, ga kurang dari $ 80 ribu!"


" Aman kan Cha?" tanya Angel, aku segera mengecek transaksi Mbanking ku.


" Ga...6 bulan ini gw banyak ambil uang, gw kan ada masalah!"


" Masalah apa?" tanya Vero


" Forget it...dah lewat!" ucap ku


" tapi ada solusi kan! kita bisa jamin loe, dengan data Bank kita!" Ucap Boy


" 80 x 14 rebu, 1 milliar, aman lah data gw!" Ucap Angel


" Pake data gw juga bisa kok Cha, gw bisa siapin Cha!" ucap Mitha


" ok...gw coba tanya mereka dulu!"


aku segera mengirim pesan melalui email. dan email ku segera terbalas, sistem kerja yang cepat dan akurat memang jadi etos kerja orang orang di luar sana.


" mereka ga mau, harus data Bank gw! tapi gw di minta buat kirim transaksi bank gw dulu, gw aman di 2 bulan ini, 4 bulan nya yang ga aman!"


" Ok kita tunggu dulu!"


" Pake data kantor Mas Aryo, Mbak Ocha!" saran Febby dan aku tersenyum.


" Dia kolaps Feb!"

__ADS_1


" Seriussss, loe ga cerita ma gw Cha?" Boy sangat gemas pada ku.


" Itu dah lewat.... sekarang dah pulih, malah lebih baik!"


" Yakin loe!" tanya Vero


" iya...!" jawab ku.


Email ku terbalas lagi. aku hanya perlu data keuangan perusahaan Mas Aryo saja.


" jadi aman kan Cha?" tanya Mitha


" Notaris!" ucap ku


" siapin rekening koran nya, notaris gw yang urus, kapan loe urus!" tanya Boy


" Senin pagi, besok kan bank tutup!"


" Bc* di Sudirman itu buka Cha, ga usah di tunda lah!"


Emmhhh sungguh beruntung memiliki sahabat sahabat seperti mereka.


" Besok pagi gw ke Sudirman, trus nemuin Papa Ama Mama nya Arga!" ucap ku


" Besok gw yang jemput, Jam 8 loe siap yah!" Ucap Arif


" Ok...!"


ini cukup membuat tenang untuk malam ini. setelah itu mereka pulang, seperti biasa, aku mengambil air wudhu, sholat wajib dan sholat hajat.


Aku berdoa, untuk di mudahkan segala urusan ku saat ini.


Ku bisikan kalimat kalimat dzikir di telinga suami ku, terus ku bisikan sampai pada akhirnya aku pun lelah dan tertidur.


" Kamu masih semangat kerja Cha?" tanya Mas Aryo


" Aku semangat lah!" aku sudah siap dengan pakaian kerja ku.


" Tapi aku cape!"


" Aku gak, ayo bangun Mas, jangan rebahan aja!" ucap ku sambil menarik selimut nya.


" Aku sakit kayanya!"


" Ga panas kok, bilang aja males!" jawab ku dengan menempelkan tangan ku di dahi nya


" Iya...aku males, aku mau tidur aja!" dia tersenyum


" Gak boleh males Mas!" dan aku terus membujuk nya.


Sampai akhirnya aku terbangun, karna perawat hendak mengganti infus suami ku.


" Maaf jadi keganggu ya Bu!"


aku tersenyum dan ini hanya bunga tidur, aku begitu rindu padanya, rindu berbicara dengan nya, tapi aku teringat mimpi ku, " Cape...pengen di rumah!"


dan aku menangis lagi.


" Kamu udah cape ya Mas?"


" Kamu menyerah sayang?!"


" Kamu ga mau pergi ke Melbourne?"


Huhuhuhuhu apa ini pertanda?

__ADS_1


Aku mengambil air wudhu lagi, aku sholat untuk menenangkan perasaan takut ku. dan sungguh lama menunggu pagi datang.


Lama lama suara adzan subuh mulai terdengar, aku sholat dan terus berdoa. terlalu banyak yang aku pikirkan, aku terlalu takut dengan mimpi itu, tapi terlalu bodoh untuk tidak melakukan langkah besar untuk kesembuhan suami ku.


__ADS_2