
"Awalnya aku pikir separuh diriku menghilang seperti siang yang berubah menjadi malam. Nyatanya bukan, dua sisi tersebut cuma pergantian posisi matahari dan bulan.Cahaya mempunyai caranya tersendiri untuk menghibur malam dari sepi.Hidup belum tentu indah, langit belum tentu cerah, dan malam belum tentu banyak bintang.Malam memang kian sunyi, tapi yang bermalam di kepalaku kian bising.Bermimpilah di malam hari, dan mewujudkan mimpi di siang hari.Tuhan menciptakan malam agar kita belajar, bahwa setelah gelap terbitlah terang.Bukan suatu masalah meskipun halangan besar siap menghadang semua mimpi-mimpi indahku.Bintang selalu hadir untuk selalu menghibur jiwa yang lelah.Kegelapan pasti akan selalu hadir setiap harinya, begitu pun dengan kehidupan, tidak ada kehidupan tanpa dihantam suatu masalah.Ketika kamu tidak bisa tidur di malam hari, itu karena kamu bangun di mimpi seseorang.Beberapa dari mereka yang biasa tidur lelap mengeluh bahwa malam terlalu singkat. Namun bagiku yang insomnia, begadang semalaman menjadikan malam terasa seumur hidup.Kamu tak selalu harus ada untuk orang lain, sesekali kamu perlu hadir untuk dirimu sendiri. Hidup ini sulit, jangan buat semakin sulit. Percaya, bahwa setiap gelap malam selalu diiringi terangnya pagi.Ada perasaan rindu di separuh malam yang sepi, saat semua orang sedang asyik terlelap.Di sini disuatu malam, langit menangis, seakan menemani sekeping hatiku yang sunyi. Dan tangisan itu menghidupkan semula setiap rasa yang telah mati bersama Asih. Kalau malam ini terlalu sepi, kau boleh meminjam riuh ingatanku, akan kuceritakan kalau jatuh cinta diam-diam lebih sakit dari patah hati.Malam menyampaikan apa yang tak terpisahkan terang, sunyi memiliki gaduhnya sendiri, dan kosong tak selalu dapat disinggahi."Kata pak Didik saat duduk diruang musik.
Terdengar isakan tangis, Ayah Heri mendekat dan menepuk bahu pak Didik sebagai penguat.
"Asih ku mohon hadirlah, jika Tuhan tak ijinkan kau menemui aku disini temui aku dialam mimpi." Kata pak Didik.
Kursi piano bergeser secara perlahan. Jendela yang semula tertutup, terbuka dengan sendirinya. Menjadikan yang ada didalam ruangan semakin dingin dan mencekam. Hanya cahaya lampu lima watt sebagai penerang, itupun letaknya didepan. Posisi mereka berada ditengah ruangan.
Berlahan dentingan piano terdengar lirih merdu. Memainkan tangga nada melodi yang sangat sedih.
"Vir,,,! Itu kan tante Asih kenapa kaki dan tangan sebelah kiri tidak ada.Dan muka sebelah tidak terlihat penuh dengan darah. " Ucap Heri.
"Iya gua juga lihat. " Kata Davira.
"Sa lu kenapa nangis?" Tanya Putra berbisik.
"Lagunya nyesek Put." Jawab Sasa.
Terdengar melodi lagu Tanpa Kekasihku.
πΉπΌπΌπΉπΉπΉ
Langit begitu gelap
Hujan tak juga reda
'Ku harus menyaksikan
Cintaku terenggut
Tak terselamatkan
Ingin kuulang hari
Ingin kuperbaiki
Kau sangat kubutuhkan
Beraninya kau pergi
Dan tak kembali
Di mana letak surga itu
Biar kugantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar kutemukan untuk bersamamu
Kubiarkan senyumku
Menari di udara
Biar semua tahu
Kematian tak mengakhiri
Cinta
Di mana letak surga itu
Biar kugantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar kutemukan untuk bersamamu
Di mana letak surga itu
Biar kugantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar kutemukan untuk bersamamu
__ADS_1
Apalah artinya hidup
Tanpa kekasihku
Percuma 'ku ada
Di sini
Kekasihku
Bersamamu
Kekasihku
(Biar kugantikan tempatmu)
Bersamamu
Kekasihku
Bersamamu
Kekasihku
Bersamamu
Kekasihku
Bersamamu
Kekasihku
Apalah arti hidup
Tanpa kekasihku
π»π»π»π»π»π»π»
"Asih apakah itu kau sayang? Tapi kenapa aku tidak bisa melihat."Tanya Pak Didik.
" Apa bapak sudah siap, apa bapak yakin? "Tanya Davira memastikan.
" Iya nak bapak yakin. "Jawab pak Didik.
" Maaf Pak sebelumnya bapak tolong pejamkan mata bapak dan pegang pundak Vira, setelah beberapa saat bapak buka mata namun tangan jangan terlepas dari pundak Vira."Pinta Davira.
Hanya anggukan yang pak Didik lakukan.
Saat memegang pundak Davira. Pak Didik lalu membuka mata. Berlahan namun pasti pak Didik melihat Asih sang kekasih tersenyum manis masih seperti dulu. Baju yang dan jaket yang ia kenapa masih sama seperti saat kejadian itu. Terlihat jelas pak Didik ingin menggapai dan merenghuh sosok Asih sangat kekasih yang telah tiada.
Berlahan Davira mengajak pak Didik untuk mendekat ke sisi piano.
Badan Asih pun memutar mengikuti pergerakan Pak Didik dan Davira.
"Apakah bapak bisa bicara dengan Asih nak? " Tanya pak Didik.
"Bicaralah pak." Jawab Davira.
Sedangkan Putra, Sasa, dan Heri pun ikut mendekat.
Ayah Heri yang penasaran pun ikut memegang pundak Davira agar bisa melihat Asih sahabatnya itu.
π»π»π»π»π»
"Maaf kan Asih kak, Asih meninggalkan kakak sendiri disini." Kata Asih.
"Asih aku rindu,Aku ingin bersamamu Asih. Bawa aku ikut denganmu." Pinta pak Didik.
"Tidak Kak, Asih selama ini hanya bisa melihat kakak dari jauh tidak bisa memegang kakak. Dan beberapa hari lalu anak-anak ini menemukan foto yang kita simpan di gitar tua itu. Dan ternyata mereka bisa melihat aku. Aku memberi petujuk ke mereka agar bisa memecahkan ini semua dan membawamu kesini. "Kata Asih.
" Mereka adalah anak dari sahabat-sahabat kita. Dan kau tau anak tengil,badung dan bar bar di depanmu ini adalah anak Dara."Kata Pak Didik.
Davira hanya bisa menggerutu dalam hati pada pak Didik. Bisa-bisanya mengenalkan pada sosok Asih sebagai anak yang tengil.
Putra, Sasa, Heri dan ayah Heri hanya bisa tertawa sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
"Ya kali pak Vira dikenalin ke tante sebagai anak tengil bar-bar pula." Dengus Davira.
"Benarkah kau anak dari Dara nak?Cantik sekali kau nak. Dan mereka juga anak dari sahabat ku juga? " Tanya Asih.
"Iya.Dan jika kau masih ada pasti Putra atau putri kita seusia mereka.Dan akan bersama juga. " Kata pak Didik terisak.
"Kak, ikhlaskan aku pergi, aku belum bisa pergi dengan tenang.Dunia kita sudah berbeda." Kata Asih.
"Tapi aku tidak bisa Asih, aku akan menyusulmu saja." Kata pak Didik.
"Jangan konyol kak, dunia kita berbeda, dan aku tidak bisa pergi dengan tenang karena kau belum ikhlaskan aku kak. " Kata Asih.
"Lanjutkan hidupmu kak, ada murud-murud dan sahabat kita yang peduli denganmu kak. Dan lihat betapa beraninya anak dari sahabat kita mempertemukan kita. Lanjutkan hidupmu kak ikhlaskan aku, agar aku bisa pergi dengan ringan tampa beban. " Pinta Asih.
Pak Didik menunduk dan terjatuh lunglai ke lantai. Tangisan pecah diruangan itu.
"Aku ikhlas Asih aku ikhlas. Maafkan aku Asih sudah menahanmu terlalu lama aku egois Asih aku minta maaf." Kata pak Didik penuh penyesalan.
Seketika terlihat cahaya putih, dan Aciel pun ikut datang.
Buru-buru Davira menyuruh pak Didik memegang pundaknya lagi.
"Pak pengan pundak Vira." Pinta Davira.
Bergegas pak Didik memegang pundak Davira lagi.
"Kak Didik, terimakasih kau sudah melepasmku kak, aku pergi ya. Kakak lanjutkan hidup kakak. Jika rindu datanglah ke makamku kak. Dan untuk kalian anak-anakku, terimakasih ya kalian sudah bantu mommy dan Dady kalian. Dan sesuai dengan ucapan kita waktu itu. Panggilah Kak Didik Dady." Kata Asih.
"Berarti Aciel panggil kalian kakek dan nenek donk. " Celetuk Aciel.
"Aciel diem! " Kata Davira and the gank.
Dan baru pertama kali ini ayah Heri dan pak Didik melihat Aciel yang begitu imut tampan dan menggemaskan.
"Ahh cucu engkong sini nak peluk engkong." Kata ayah Heri.
"Gak mau, engkong kalau diajak ngobrol Aciel gak tau, ya Aciel ganggu aja itu burung beo engkong. " Celetuk Aciel tanpa sadar membuka kejailannya pada engkong.
Semua yang ada disana tertawa.
Cahaya putih semakin terang dan silau, berlahan Asih berubah menjadi cantik dengan badan yang utuh dan senyum mengembang. Melambaikan tangan dan hilang hilang hilang tak terlihat bersama cahaya putih itu.
"Kau sudah lega kakek tua? " Tanya ayah Heri.
"Ya aku sudah ikhlas dan lega, terimakasih anak-anak dady. Sini peluk dady. " Kata pak Didik.
Tanpa rasa Canggu Davira and the gank berhambur memeluk dady.
Mereka kekuar dengan wajah yang ceria. Pak Didik juga demikian. Mereka bergegas pulang ke rumah pak Didik.
"Kalian tidak bermalam di rumah dady? " Tanya pak Didik.
"No Dad, lain kali saja kita kesini menghabiskan makanan dady." Kata Sasa.
"Hais kau ini, kau pasti anak Burhan kan?" Tanya pak Didik.
"Yess, dady benar aku anak papa burhan.'Jawab Sasa.
" Sudah malam ayo pulang. Aciel mana?"Tanya ayah Heri.
"Noh nemplok punggung ayah, kata Davira.
" Apa nemplok kayak cicak dong. "Kata ayah Heri.
"Hem." Jawab Davira and the gang.
ππππππ
Mereka berpamitan pulang. Hanya keheningan yang tercipta didalam mobil. Senyum mengembang terukir jelas.
Misi selesai, petualangan belum berakhir. Itu yang ada dalam benak Davira and the gank.
π»π»π»π»π»π»π»
Done ya gais cerita kisah hantu Asih di ruang musik.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya. Kalau nanti malam bisa up tak up lagi. Papayo semuaππππ