
"Astagfirullah Cika." Ucap Davira dan Putra.
Davira dan Putra hanya saling mengangguk memberi kode kepada Sasa dan Heri. Mereka memegang pundak Cika dan membaca doa-doa sebisa mereka. Untungnya pendaki lain langsung menghampiri ketika terdengar teriakan Cika. Dan mereka membantu Bagas masuk ke tenda. Ada yang membantu Davira menenangkan Cika, membacakan doa-doa untuk Cika. Cukup lama mereka disistiasi itu. Dan Davira sudah kelelahan sampai terpental bersama Putra. Cika yang terus memberontak sambil berkata menggunakan bahasa yang sebagian rombongan pendaki tidak tau apa yang dibicarakan Cika, Karena Cika menggunakan bahasa Jawa. Hanya Davira, Putra, Sasa, dan Heru yang tau bahasa itu. Mereka menghelai nafas dan melihat kearah Bagas. Dan yang dilihat hanya duduk menunduk tidak bisa berbicara. Seolah-olah tau apa yang akan ditanyakan dari Putra. Beberapa kali rombongan yang menenangkan Cika terpental.
Istighfar doa tidak putus pada malam itu.
"Astagfirullah, Apa yang sebenarnya Cika lakukan dengan peninggalan sejarah itu? " Tanya Sasa.
"Entah lah Sa, Sakit banget ini badan. " Jawab Heri.
"Aku rasa ada yang mereka sembunyikan dari kita, tidak mungkin Cika bisa seperti ini jika mereka tidak melakukan apapun di pos tadi. " Davira.
Putra dan Heri bertanya lagi kepada Bagas. Banyak terkaan demi terkaan yang dilontarkan Pendaki lain yang ikut bertanya. Namun lagi dan lagi Bagas hanya membantah tidak melakukan apapun. Lalu Putra keluar dari tenda Bagas. Putra melihat monyet besar kira-kira berukuran 2-3 meter. Sontak Putra kaget dan berteriak.
"Astagfirullah." Kata Putra.
Davira pun tak kalah kagetnya. Monyet itu bersma beberapa orang yang berpakaian seperti prajurit kuno. Davira, Putra, Sasa dan Heri merasa gemetar dan takut sekaligus bingung. Kenapa ada Monyet dan para Prajurit di Gunung.
__ADS_1
Pada akhirnya Davira melihat cahaya lampu dari jalur pendakian dan ternyata itu adalah pak Sutomo yang datang. Pak Sutomo atau sering disebut eyang Tomo. Eyang Tomo adalah juru kunci di basecamp tempat kami mendaki. Eyang Tomo mengajak Davira, Putra, Sasa dan Heri untuk melanjutkan menenangkan Cika.
"Vira, Kemari nduk, bawa teman-teman mu ikut serta. " Eyang Tomo.
"Nggeh eyang. " Jawab Davira.
Davira mengkode Putra, Sasa dan Heri untuk mendekat. Terlihat eyang mulai membacakan doa untuk Cika. Bahkan pendaki lain ikut serta berdoa. Cika yang sedari tadi memberontak akhirnya terdiam dan pingsan. Ketika kondisi Cika sudah tidak pucat seperti tadi,namun masih pingsan.
Davira bertanya kepada eyang Tomo kenapa bisa berada di sini dan mengetahui kejadian tersebut.
"Iya Nduk. " Jawab Eyang Tomo.
"Darimana eyang tau kejadian ini? " Tanya Davira.
Eyang Tomo hanya tersenyum sambil mengelus kepala Davira.
"Kamu anak istimewa nduk, Sinyal kamu mengirimkan ke eyang.Kamu pasti meminta tolong eyang datang kan dalam doamu." Jawab eyang.
__ADS_1
"Iya eyang, Vira hanya berdoa ada eyang datang membantu kami yang sudah kuwalahan ini. " Kata Davira.
"Eyang tadi sore mendapat firasat nduk, Anjingnya yang berada di pos dua itu turun berlari sangat kencang dan menggonggong di pendopo bawah. Eyang lalu berfikir mesti ada sesuatu yang terjadi pada pendaki. " Kata Eyang Tomo.
Davira lalu menceritakan Cika yang baru pertama kali naik gunung dan tadi sehabis dari pos dua. Cika di ikuti sosok perempuan penari dengan tatapan kosong.
"Nyai Sloro. " Kata Eyang Tomo.
Kami terkejut sambil menatap arah pandang eyang Tomo. Pandangan eyang Tomo menatap keatas bukit. Disana terlihat seorang perempuan sedang menari tetapi tidak anya satu. Namun belasan ditambah dengan beberapa orang yang bentuknya tidak bisa dideskripsikan.
👻👻👻👻
Sekian dulu ya, ada, kelanjutannya nanti. Biar episode panjang.
selamat pagi dunia.
jangan lupa dukung karya author. Like komen vote dan gift ya.Sampai jumpa. Salam sayang dari author.
__ADS_1