KENAPA HARUS AKU

KENAPA HARUS AKU
Astaga Kenapa Jadi Begini.


__ADS_3

"Aww,,,! "pekik Davira.


Dari arah belakang preman ada cahaya dari sepeda motor.


Sepeda motor itu berhenti dan berteriak.


" Vir lari,,,! "teriak Devan.


" Kak Devan? "tanya Davira sambil berlari mendekat Devan.


" Lari kesana Vira, bukan kesini, astaga dudul kau gak ilang-ilang. "pekik Devan.


Dan yang di suruh berlari justru meringis memamerkan giginya.


" Kasihan kak Devan, ayo kita lawan rame-rame."kata Devan.


"Kita berdua Vir bukan rame-rame,mereka berlima. Dan kita yang ada dikroyok mereka. " kata Devan.


"Lha tadi kenapa kaka nyuruh Vira kabur, kan kaka jadi sendiri. " sanggah Davira.


Davira dan Devan justru bikin pusing para preman. Karena adu mulut antara Davira dan Devan tidak berhenti.


"Stop! "kata preman botak.


" Kalian itu sedang kita todong, jangan pada ribut dan diskusi. Bikin kita pusing saja. "kata preman bertubuh gembul.


" Ehh paman gembul, maaf ya paman kita gak bermaksut bikin paman-paman ini pusing. "coetuk Davira.


" Ya Allah Vira,,, kenapa kau minta maaf ke mereka yang berbuat jahat ke kamu."geram Devan.

__ADS_1


"Ya kan kata guru kita dulu jika ada orang yang berbuat salah kita harus meminta maaf dulu biar dia ngerti arti kata maaf, tolong dan terimakasih." kata Davira.


"Hais,,, sudah-sudah kalian bikin pusing kepala ku saja." kata preman bertubuh gembul.


Terjadilah baku hantam, dan pada akhirnya Davira terkena pisau lagi. Darah bercucuran menetes ke tanah.


Davira dengan sisa tenaganya mengambil benda tipis berbentuk persegi itu dan menekan layar sibuk mencari kontak teman-temannya.


"Tut,,, tut,,, tut,,,"


Sambungan Video call pun terhubung.


"Bantuin gua curut, cepetan gua di jalan Salak gang Durian." teriak Davira.


Sedangkan tiga orang di sambungan video call nampak panik dan tanpa pikir panjang lagi langsung berlari menuju lokasi yang diberi tahu Davira.


Mereka bertiga juga sedang mencari Davira, mereka berada tidak jauh dari lokasi Davira.


"Ehh Sa, lu saja kali bukan kita. Noh lihat badannya penuh tato,tuh pipi ada codetnya. " bisik Putra.


Akhirnya Putra punya akal. Putra mencari di mbah google suara mobil polisi. Dan yess berhasil nemu. Sontak preman itu lari terbirit-birit. Mereka sangka itu polisi yang datang.


"Astaga Vira, kau kemana saja hah?" bentak Putra.


"Gua rencana mau ke taman baru itu sendiri. Ehh itu preman kayak hantu aja nongol gak jelas. " kata Davira.


"Lalu? " tanya Heri.


"Ya udah baku hantam, dan kak Devan datang bantuin. " jelas Davira.

__ADS_1


"Ya udah kita ke warung lesehan itu. Biar aku beli Obat luka dan perban dulu. " kata Heri.


Devan dipapah oleh Putra.Sedangkan Davira dipapah oleh Sasa.


Putra sudah memesan makanan, tak lupa ia, meminta ijin lebih lama disitu kepada pemilik warung lesehan.


Heri sudah datang dengan membawa obat oles dan perban.


"Sekarang kau bisa cerita Vir,yang sedetail mungkin." tegas Heri.


Hanya helaian napas dari Davira. Perlahan namun pasti Davira menceritakan kejadian itu. Dengan menahan perih ketika Heri membersihkan luka goresan yang hampir mengering.


"Ya ampun Vira, kau ini masih bisa ngelawak saat kau terkena goresan pisau itu? " bentak Sasa.


"Ya mau gimana lagi Sa, toh aku nangis sekalipun mereka justru senang bukan? " kata Davira.


"Untung ada kak Devan yang lewat, kalau enggak kau jadi santapan itu para preman Vir. " geram Sasa.


"Sudah jangan dimarahi Daviranya.Tadi aja sempat beradu argumen dulu saat menyerang mereka. " kata Devan.


"Ya ampun Vir, heran aku sama kau ini. " kata Heri.


"Kenapa kau jadi begini sih Vir, sempoakmu kumat lagi. " kata Putra.


Gelak tawa terjadi setelah penjelasan dari Davira dan Devan. Mereka lanjut makan dan bergegas pulang mengantar Devan dan Davira.


Motor Devan dibawa Putra.


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat membaca semuanya.Jangan lupa like komen dan giftnya.


__ADS_2