
Jam 4 Pagi, aku sudah memaksa perawat, Arga dan Puput untuk melepaskan infusan yang menggangu aktifitas ku saat ini.
" Gw harus liat Mas Aryo Arg, please....gw bisa!" ucap ku memohon, aku ingin berada di samping suami ku saat ini. dan dengan berat hati Dokter di UGD melepaskan infusan ini.
Aku di bantu Arga berjalan menuju ruang ICU, Mbak Laras dan Mas Didit masih berada disana.
" Belum ada kabar terbaru Cha!" Ucap Mbak Laras dengan menepuk pipi ku. Mbak Laras paham, aku sangat rapuh saat ini.
" Gw pengen ke dalem!" pinta ku pada Arga
" Biar gw ijin dulu!" ucap Arga
5 menit kemudian,
" Ayo Masuk Cha, di kasih waktu 10 menit!"
dan aku Berjalan bersama Arga, masuk ke dalam ruangan ICU
Tangisan ku pecah lagi saat ini, aku mencium tangan, Pipi dan kening nya.
" Ini aku Mas, ini aku, please wake up, aku sayang kamu, kamu harus tau....aku butuh kamu, anak ini butuh kamu!" ucap ku dengan menangis, Suamiku hanya diam, dia terlihat lelah, sangat lelah, alat alat kedokteran terpasang di dadanya, alat bantu pernapasan menganggu aku untuk mencium semua wajah nya.
Arga meraih bahu ku.
" Ga boleh nangis, nanti Aryo Sedih liat loe nangis terus!" ucap Arga dan hendak merebahkan kepalaku di bahu nya. aku menolaknya, aku mencium pipi suami ku lagi. bahkan air mata ini membasahi pipi nya yang sedang tertidur.
" Cha..." Arga meraih bahu ku lagi
dan aku mulai mengangkat tubuh ku dari pelukan ku pada suami ku.
" Arg...loe tau....gw ga bisa liat ini semua nya, gw rapuh, gw sakit dan gw sangat menderita"
" perasaan ini lebih buruk, gw pilih liat dia selingkuh dari pada liat dia terbaring ga berdaya!" ucap ku sambil terus menangis.
" Bukan saat tepat ngomong itu!" protes Arga.
Waktu ku habis, Dokter jaga meminta kami keluar dari ruangan ini lagi. aku harus menunggu di luar ruangan lagi. dan itu sangat menyakitkan.
Aku, Arga, Mas Didit dan Arga duduk di kursi, hanya bisa menunggu petunjuk dan instruksi dari dokter. 20 menit kemudian aku melihat kedatangan dokter dokter, mereka masuk ke ruangan ICU, dan kami hanya bisa menunggu. 10 menit kemudian mereka menemui kami.
" Keluarga pasien Bagus Aryo!" seru dokter termuda
" Iya dokt!" kami bangun dari duduk kami.
" Ada yang ingin kami bicarakan, mengenai pasien!" ucap nya.
" Trauma di kepala!" Dokter mengatakan itu pada kami
" Kami akan segera melakukan operasi di kepala pasien"
" Segala kemungkinan akan terjadi, untuk keluarga bersiap lah untuk hal terburuk!" Ucap Dokter dengan melihat melihat file medis suami ku. Mbak Laras merangkul bahu ku. dan aku menangis saat ini.
" Berapa lama operasi nya dok?" tanya Mas Didit
" Perlu 4- 5 jam, tergantung kondisi tubuh pasien!" Jawab Dokter
__ADS_1
" Jam berapa operasi nya Dokt? kami masih menunggu keluarga dari Yogya" tanya Mbak laras
" Secepatnya, tidak bisa menunggu, pasien sudah tidak sadarkan diri lebih dari 5 jam saat ini, operasi ini pun amat sangat berisiko"
" Siapa yang akan tanda tangan formulir pernyataan operasi pasien?" tanya Dokter yang saat ini berjumlah 4 orang, salah satu di antara nya adalah Papa nya Arga.
" Cha..." mereka memanggil nama ku
" Saya Dokt, saya istri nya!" ucap ku dengan suara yang bergetar.
" Masuk ke ruangan ICU Cha, tanda tangan formulir nya!" Ucap Papa Arga dia mendekat pada ku dan memelukku dengan sangat erat.
" Tolong sembuhin Mas Aryo ya Pah, Ocha mohon!" ucap ku tanpa rasa ragu dan malu.
" Kita akan berusaha Cha, kita akan lakukan yang terbaik!" Jawab Papa denga mengelus kepala ku.
" Ayo sana masuk!" seru Papa Arga, dia menepuk bahu ku kali ini.
aku dan dan Mbak Laras masuk ke ruangan ICU, aku baca semua pernyataan yang akan aku tanda tangani, dengan tangan yang sangat lemah aku tanda tangani surat itu. surat dimana kami setuju dengan semua hal yang akan terjadi pada suami ku. dan waktunya untuk menyiapkan diri dan hati untuk hal terburuk.
aku ijin masuk ke dalam ruangan ICU lagi, aku dekati suami ku lagi. aku cium dan ke peluk tubuh nya.
" Aku udah tanda tangan, Mas! hal terburuk mungkin terjadi, tapi aku tidak pernah mengharapkan itu terjadi"
" Aku disini Mas, aku tunggu kamu selesai operasi!"
" Maafin aku...aku bukan istri yang baik untuk mu, tapi kamu harus tau, aku sangat mencintaimu, aku sayang kamu mas!"
" Dan aku janji, selesai kamu operasi, kita akan mulai semua nya dari awal, aku yang baru, dan kamu yang lebih dari kemarin, aku yang akan berusaha untuk hidup lebih dengan mu, seperti yang sudah kamu tunjukkan pada ku akhir akhir ini!"
Aku melihat Mbak Laras, Mas didit dan Arga menangis saat ini. dan waktu kami selesai. suami ku akan di bawa ke ruangan operasi dan aku mencium keningnya untuk terakhir lagi.
" Aku coba ikhlas Mas, tapi kamu harus coba bertahan dulu, coba buat bertahan untuk aku dan anak kita!"
" Sudah Bu, dokter sudah siap!" perawat memotong adegan ku kali ini. perawat sudah mulai mendorong tempat tidur suami ku, beberapa alat yang menempel pada tubuh suami ku ikut di bawa nya, dan aku mengantar nya sampai pintu ruangan operasi.
Aku lihat kedatangan Mama Dewi,
" Sabar sayang, kamu harus kuat!" Ucap nya dengan mengelus rambut ku. dan aku menangis
" Kamu harus kuat Cha! dokter bakal banyak minta persetujuan dari kamu!" ucap Mama lagi.
" Iya Mah!" jawab ku
" Mama mau liat Aryo dulu!" dan Mama Dewi pun pergi masuk ke ruangan operasi.
" Ibu bapak udah di kabarin lagi Mbak?" tanya ku pada Mbak Laras
" Udah Cha, mereka otw!"
" Maaf, Ocha ga bisa hubungi ibu Mbak, Ocha ga kuat ngomong nya!"
" Ibu paham kok Cha, oh iya, sarapan ya Cha, kamu ga boleh sakit!" ucap Mbak Laras.
" Ga Laper Mbak!"
__ADS_1
" Tapi harus makan Cha, kasian baby nya!" Mbak Laras mengusap perut ku.
" Gw aja yang beli lah!" Mas Didit bangun dari duduk nya dan pergi membeli sarapan untuk kami. dia kembali dengan cepat, sarapan hanya sarapan, aku hampir saja tidak bisa menelan bubur yang masuk ke mulutku, semua tentang suami ku begitu sangat menganggu pikiran ku.
Tomi, laki laki yang mengajak menjalin hubungan dengan Mbak Laras datang, bersama David.
" Sabar ya Bu Rossa!" ucap nya dengan memanggil aku ibu.
aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
" Heeeyyy Jagoannn masa nangis....sini peluk gw!" David sedang menghibur ku saat ini. aku memeluk David dan memukuli kepalanya, dia tidak sopan mengejek aku dalam kondisi aku sedang sedih.
" Detektif swasta, bagian intelegen" ucap David dengan terus memeluk aku.
" Kasus apa Vid?" Tanya Arga
" Loe kan joki nya Arg, masa ga apal!" jawab David dan aku dorong tubuh David saat ini.
" Dia cuma khilaf Vid, dia menyesal, dan dia udah berubah!" Jawab ku lalu duduk kembali.
" Gw canda Mbak Ocha, Mas Aryo sekarang dah lurus kok, lebih agamais dan loe jadi semangat buat dia berubah!" ucap David yang berjongkok di bawah aku.
" Iya dia lebih agamais sekarang, semoga ada kesempatan buat gw dan dia hidup lebih baik lagi" jawab ku dengan memukul kening nya.
Kami masih menunggu disini, Handpone ku berdering, Mama Menghubungi ku, dan mengatakan sudah tiba di Jakarta, bersama papa, Rissa, ibu dan bapak mertua ku.
waktu terasa sangat lama, aku melihat jam tangan ku, ini baru berjalan 30 menit dan masih tersisa 4 jam ke depan untuk mengetahui kondisi suami ku.
Aku memutuskan untuk pergi ke mushola di sebelah ruangan operasi, aku mengambil air wudhu dan melakukan sholat sunat ku, banyak doa doa aku pinta untuk keberhasilan operasi suami ku.
setelah satu jam, aku kembali ke tempat awal, di luar ruangan operasi. menunggu suami ku lagi, bersama dengan Mbak Laras, Mas Didit pergi untuk mengurus administrasi di rumah sakit leuwiliang bersama dengan Arga, dan memenuhi panggilan dari Polsek untuk mengurus laporan berita acara, aku menandatangani surat kuasa pelimpahan kuasa untuk masalah kecelakaan ini pada Mas Didit.
"Assalamualaikum Bu!" sapa nya orang orang yang baru saja datang.
" Waalaikumsalam!" jawab ku lemah hampir bersamaan dengan Mbak Laras, kami berdiri saat ini.
" Kami turut berduka Bu, kami dari pondok pasantren, tempat Mas Aryo mengajar kami!" ucap salah seorang dari Mereka dan aku tersenyum.
" Bagaimana kondisinya sekarang Bu?" tanya salah satu orang lagi
" Terima kasih pak, atas perhatian nya, Mas Aryo ada di dalam, sedang di lakukan operasi!" jawab ku
" Kami ada di mesjid rumah sakit Bu, InsyaAllah kami akan bantu dengan doa"
" Terima kasih!" ucap ku dan Mbak laras
" Para santri di pondok sudah mulai sholat hajat dan berdoa bersama dari tadi malam, begitu kami mendengar berita ini!"
dan aku menangis lagi saat ini, Mbak laras merangkul lagi bahu ku. dan mengajak aku untuk duduk.
" Banyak yang doain Aryo, Cha, yakin ya cha!" ucap Mbak Laras dengan memeluk bahu ku erat.
Tidak banyak yang kami bicarakan dengan para tamu tamu yang datang saat ini, mereka pamit dan menunggu kabar di mesjid dekat parkiran.
Cape ueyyy ngetik na, mangkaning bari ceurik huhuhuhu.
__ADS_1
Ok yang suka boleh coment dan vote, yang ga suka ga apa apaš¤