
" Mau mandi sekarang Cha?" tanya Mas Aryo ketika kami masih berpelukan di tempat tidur kami, aku mengambil Handphone dan melihat waktu masih jam 11 malam.
" Sekarang aja lah!" Jawab ku
" Ya udah, tunggu dulu aku siapin Aer nya buat kamu!" Ucap Mas Aryo
" aku aja, aku bisa!"
" Please.....tunggu dan minum ini, kamu pasti cape!" Dia memberikan aku gelas berisi air putih, yang memang selalu aku siapkan selalu ada di meja samping tempat tidur kami.
Aku meminum nya, dan menyisakan setengah untuk nya, dan dia menghabiskan nya, lalu Mas Aryo menyiapkan air mandi ku, dan aku mulai memakai pakaian ku.
Aku melihat tubuh nya lagi yang hanya berbalut handuk di pinggang dengan dada yang polos, Hanya dia satu satu nya yang tubuh polosnya pernah aku nikmati, hanya dia laki laki yang tidur dengan ku, dan aku memang sudah gila tentang semua hal tentang dirinya, dari dulu, aku terus memandangi tubuhnya,
" Nikmat mana kah yang kau dustakan!", aku tertawa sendiri, " Memang sungguh nikmat bercinta dengan nya dan aku masih sangat mencintainya!"
Mas Aryo membantu aku membersihkan tubuh ku, dia melayani aku rupanya. dan tentu saja aku merasa tidak enak hati.
" Aku yang layani kamu, bukan kamu layani aku!" ucap ku menolak nya lagi, ketika Mas Aryo sudah menyiapkan baju salin untuk ku.
" I love you, sayang! aku bakal ngelakuin ini mulai saat ini!" Ucap nya dengan memakai kan aku baju.
" Ya ya terserah kamu, Ayo sana Mandi, makin dingin nanti aernya!"
Aku menunggunya di sofa, dengan pakaian bersih nya. dan seperti biasa nya aku melayani suami ku. lalu kami tidur dan rasanya tidur ku sangat nyaman sekali. Hampir saja kami melewatkan sholat malam kami, " Dapet kenikmatan hampir lupa Ama kewajiban" Ucap ku dalam hati.
" Mas, subuh ke Mesjid?" tanya ku ketika sudah memakai mukena ku.
" Iya, ga apa apa kan aku tinggalin?"
" Ya, aku nanya aja Mas!"
Aku langsung melaksanakan sholat malam ku, dan pada saat duduk di atas sajadah ku, aku berpikir. Aku meminta di mudahkan segala urusan Dunia dan akhirat ku, dan bercinta dengan nya tadi, begitu mudah, aku bahkan melupakan semua yang telah terjadi antara aku dan suami ku. Dan Akhirat ku, semoga saja ini menjadi salah satu ladang ibadah ku, aku sudah melaksanakan kewajiban ku lagi sebagai seorang Istri.
Adzan Subuh dari notifikasi di Handpone sudah berbunyi, aku bangun lagi dari dudukku dan melaksanakan sholat subuh ku, selesai itu aku keluar kamar, Ada Bapak, ibu dan Mbak Laras yang sudah terlebih dahulu berkumpul di sekitar dapur.
" Ibu ngapain sih?" tanya ku, aku berjalan lebih cepat, ibu sedang sibuk dengan wajan nya.
" Bikin sarapan buat kamu, mantu ibu yang lagi hamil!"
" Buuu...ga usah, itu ada Bik Sum, ada Bin Surti juga, ayo ibu duduk aja, biar Ocha bikin Teh buat ibu dan bapak!"
" Tanggung Cha, udah kamu aja Duduk Ama bapak sana!" perintah ibu yang tidak bisa aku tolak.
" Aku bikin teh aja buat ibu deh, Bapak Mau kopi?" Tanya ku pada Bapak
" Boleh Cha, ga terlalu manis!" Jawab Bapak yang sedang menonton televisi
__ADS_1
" Gw juga Cha!" teriak Mbak Laras dengan tawa nya.
aku mengkerucutan bibir ku, tawa nya pasti berhubungan dengan Tomi, Pasti Mas Aryo sudah bicara dengan nya soal ijin nya itu.
2 kopi, 1 teh manis sudah aku buat. aku menantu dan adik ipar yang baik bukan?" hehehehe aku tertawa sendiri.
" Kapan lahiran Cha?" Tanya Bapak dengan cangkir di tangan nya.
" Sekitar 7 Minggu lagi pak!"
" semoga di lancarkan ya Cha, mulai banyak banyak jalan kaki Cha " Pesan bapak mertua ku
" Iya pak...!"
" Ngepel lantai Cha, pake tangan!" ucap Mbak Laras
" Apaan sih Loe, saran loe ga mutu!" protes Mas Aryo yang tiba tiba datang, aku pikir dia belum kembali dari Mesjid.
" Gw tuh dulu ngepel tau, tuh ibu yang suruh!" jawab Mbak Laras.
" Iya orang Jawa dulu harus ngepel Cha, biar lahiran gampang!" Jawab ibu, aku tersenyum, ini mirip yang Mama ku bilang kemarin.
" Ga Bu....kasian istri Aryo lah! masa iya ngepel lantai!" Jawab Mas Aryo dan aku masih tersenyum, Tersenyum untuk satu hal yang pelajaran orang tua dulu, yang aku belum tau letak baik nya dimana.
Dua hari sudah bapak, ibu dan Mbak Laras menginap di rumah ini, dan Ibu berjanji akan menemani lahiran ku nanti, sama seperti Mama ku, mereka begitu antusias dengan kehamilan ku saat ini.
ARYO STORIES.
Tomi, Manager General Affair di kantor milik ku, dia memang banyak membantu pekerjaan ku, dia pekerja yang baik, jujur dan juga loyalitas nya tinggi, tapi dia itu..." Ya dia Staff ku, Mbak Laras Kakak ku, apa jadinya bila mereka serius berhubungan, aku jadi adik ipar nya Staff ku dong!" itu lah yang pertama terlintas di benak ku.
Tapi tau kah kamu, istri ku ini seorang perajuk yang ulung, dengan satu setuhan di dadaku, hal awal soal Tomi berubah. aku setuju...dan istri ku memberikan bonus ciuman di bibir sebagai tanda terimakasih nya.
Kami berciuman dan akhir nya kami bercinta, setelah 5 bulan tidak bercinta, ini terasa nikmat dan luar biasa, aku melakukan nya dengan lembut, mengingat kondisi tubuh istri ku yang sedang hamil besar, aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman pada saat kami bercinta.
Pada saat sholat malam, setelah kami bercinta, aku mengerjakan sholat malam ku, aku bahkan melakukan sujud syukur atas nikmat yang aku terima, aku bercinta lagi dengan istri ku, dan aku berjanji aku tidak akan mengecewakan nya lagi.
Pagi ini di pondok pesantren, aku mendapat Complaint dari Ustadz Zakie.
" Santri akhwat mengeluh soal Mas Aryo!"
" Ada apa dengan saya Tad?"
" Mereka bilang kenapa hanya santri Ikhwan yang di ajarkan Komputer, santri Ikhwan punya banyak kegiatan dengan Mas Aryo, dan Santri akhwat tidak sama sekali".
aku tertawa mendengar keluhan ustadz Zakie.
" Haadduuhhh Tad....saya tidak mau berinteraksi dengan santri akhwat!"
__ADS_1
" Kenapa Mas? ada yang mengganggu rupanya?" tanya nya serius kali ini.
" Saya pernah melakukan kesalahan besar Tad, saya terlena dengan yang nama nya Harta, Tahta, dan wanita itu kelemahan saya!" Jawab ku dengan jujur, dan Ustadz Zakie yang sekarang tertawa.
" Jadi ga siap Nih!"
" Saya sangat tidak siap berinteraksi dengan santri akhwat, dan tolong jangan libatkan saya disana!" ucap ku, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dan aku harus menjaga diriku sendiri dengan baik.
Siang ini di pondok pesantren pada saat jam ku, aku mulai mengajar kan santri santri laki laki untuk dasar dasar Corel draw, dan selesai dalam 90 menit. selesai itu aku kembali ke rumah, dan istri ku minta di temani untuk menemui Sahabat Sahabatnya, Jujur aku bilang pada nya, aku takut, aku malu dan Istri ku tertawa.
" Mereka itu sahabat aku, aku yang kenal mereka dengan baik!"
Dan akhirnya aku menemani nya bertemu Boy, Angel dan Vero. benar ucap istri ku, mereka kembali seperti dulu, mereka ramah lagi, mereka "bersahabat" dan aku merasa Bahagia.
Mereka mengobrol semua hal tentang mereka dan aku yang duduk di samping istriku hanya mengusap punggung istri ku saja.
" kaki loe ga bengkak Cha?" tanya Angel
" Ga sih, cuma gw pegel banget di pinggang!" Jawab Istriku
" Loe biasa kurus soal nya Cha, pinggang loe pegel karna nahan beban perut!" Jawab Boy
" Tapi dia gede banget ya Boy, si bunda yang hamil kembar dulu Segede gini, inget ga loe!" tanya Vero pada istri ku
" Inget lah, gw sekretaris nya, gw 9 jam Ama dia!" Jawab istri ku dengan Tersenyum, mungkin dia mengingat masa masa itu.
" Mau lahiran di tempat Arga Cha?" tanya Angel
" Iya, dokter nya cewe, ada Arga Ama Mama nya di sana, Jadi itungan nya gw aman di sana!"
" Gw dulu kontrol dimana, lahiran dimana, ga jelas banget laki gw!" cerita Angel dan mereka tertawa.
" Panik laki loe!" ucap Boy sambil tertawa
" Iya dia panikan, loe jangan gitu ya Yo, santai aja, kaya si Boy!" pesan Angel pada ku......yeeaaahhh mereka menganggap aku lagi.......
Malam ini kami aku menemani nya tidur, pinggang nya terus terasa pegal, dan aku terus mengusap pinggang nya.
" Dia gerak nya sering banget sekarang, kadang aku geli kalo dia lagi gerak!" ucap istri ku, aku langsung memegang perutnya.
" Iya berasa banget Cha, kangen Ama papa nya, papa nya juga kangen loh Cha!" ucap ku menggoda nya
" Maksud nya apa nih?" dia paham sekali kata kata terselubung itu, dan aku tertawa
" Aku kangen Cha, pengen ketemuan dong Cha Ama Baby boy ku!"
" Usaha terus, usap dulu sampe pegel nya ilang, baru nanti boleh!" Jawab Istriku dan dengan semangat nya, aku mengusap punggung dan pinggang nya, sesekali melenceng ke tempat lain dan dia tertawa.
__ADS_1
Aku mengusap paha nya, dengan alasan takut pegal nya turun ke paha dan istri ku tertawa. Ya aku bersyukur tidak ada penolakan dari nya.
Aku mencintai nya, sangat mencintainya, dan akan selalu mencintai nya.