
Sore hari Davira dan Sasa sudah selesai mandi dan akan bersiap pulang kerumah.
Mereka memilih naik bus, sambil menikmati pemandangan sore hari.
"Aku antar saja gimana sih Ra?" tanya Heri.
"Gak usah Her, kau beres-beresa saja itu kamarmu." kata Davira.
"Kalian yakin naik bus?" tanya Putra.
"Sangat yakin Putra." jawab Sasa.
"Ya udah,tapi hati-hati sampai rumah kasih kabar, mau berangkat juga kasih kabar." Pintar Putra dan Heri bersamaan.
Davira dan Sasa kini berada di halte bus menuju halte yang terdekat dari rumah. Selebihnya mereka akan dijemput oleh daddy. Karena daddy ada keperluan dengan orang tua Davira.
"Tau begitu tadi daddy jemput sekalian, biar gak habisin uang saku kalian." kata daddy Didik.
"Lagi pingin naik angkutan umum dad, sambil menikmati senja ketika pulang nanti. " jawab Sasa.
"Yaudah naik, tar keburu senja hilang. " kata daddy.
Mereka akhirnya melajukan kuda besi beroda emat itu ke kediaman Davira. Hanya ada canda dan tawa yang menemani mereka dalam perjalanan .
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai, Orang tua Sasa pun berada di kediaman Davira dan sudah mempersiapkan yang akan diambil Sasa.
Begitupun Davira, mereka tinggal membawanya saja. Namun mereka beristirahat sejenak melepas rindu setelah beberapa minggu tidak bertemu.
Aciel yang notabennya sering bolak balik rumah dan kontrakan pun ikut senang.
"Mau berangkat jam berapa nak kalian? Jangan malam-malam." Kata Ayah Sasa.
"Sebentar lagi yah, takut juga nanti kemalaman. " jawab Davira.
"Yaudah hati-hati ya nanti, ini ayah ada acara juga sama daddy. " kata ayah Sasa.
Tak berapa lama mereka tiba di halte bus dan selang lima menit bus datang. Mereka naik dan duduk di sebelah pintu. Penumpang tidak begitu penuh, hanya ada sekitar enam orang.
__ADS_1
Di halte berikutnya lima orang itu berhenti, tinggal satu orang di kursi belakang, Davira, Sasa,pramugari bus dan supir.
Suasana mendadak hening, setiap kali berhenti di halte tidak ada yang naik atau pun turun.
"Gedung tua transit 3B." Kata pramugari bus.
Namun tidak ada yang turun. Sasa sudah asyik dengan benda pipih ditangannya. Sedangkan Davira asyik membaca novel.
Tiba-tiba bus berhenti dan membuat Davira berhenti membaca.
"Ada apa mbak? " tanya Davira kepada pramugari tersebut.
"Itu dek ada yang mau naik, padahal tadi gak ada siapa-siapa.
"Ohh kirain ada apa mbak." kata Davira.
Setelah orang itu naik, bus kembali melaju membelah jalannan malam.
Davira tengah mengobrol dengan Sasa dan mbak Atun pramugari bus itu.
"Iya aku juga mau bilang begitu. Mana ini udah jam delapan." kata Davira.
"Sebentar mbak tanya pak Edi dulu."kata mbak Atun.
Terjadi percakapan yang sedikit lama antara mbak atun dan Pak Edi. Entah apa yang mereka bicarakan.
Tiba-tiba Davira menoleh kebelakang dan berteriak.
" Astagfirullah."ucap Davira.
Sontak membuat mbak Atun mendekat dan bertanya.
Begitupun dengan Sasa.
"Ada apa? " tanya mereka.
"itu lho Sa mbak, tadi kan ada penumpang di beloang satu dan naik lagi satu. Kenpa sekarang tidak ada. Perasaan dari tadi tidak ada yang turun. " Kata Davira.
__ADS_1
"Astaghfirullah ya Allah iya ya. " Kata mbak Atun.
"Dan dari tadi kita hanya muter-muter saja di trayek ini? " kata pak Edi.
"Ya terus tadi hantu gitu yang naik? " kata Sasa.
"Huss jangan begitu. " kata Davira.
Setelah beberpa saat bus berhenti di halte bus gedung tua tadi.
Suasana mencekam, mereka berharap -harap cemas.
Dan ternyata benar, dua penumpang tadi duduk di halte bus gedung tua.
"Mbak mau naik? " tanya mbak Atun.
Hanya anggukan dari mereka.
Sesaat mereka naik. Tercium bunga melati menusuk hidung.
"Museum." kata dua penumpang tadi.
🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️🧚♀️
Selamat membaca
jangan lupa
LIKE
COMEN
KLIK TANDA LOVE🤍❤
VOTE
DAN DUKUNGANNYA 🙏🙏🙏
__ADS_1