KENAPA HARUS AKU

KENAPA HARUS AKU
ROSSA 169


__ADS_3

Acara akad pernikahan Arga Dan Puput, aku duduk bersama Mitha, di pojokan dekat pintu keluar samping, Banyak dokter dan perawat yang menghadiri acara Akad ini, Umi Dan Abah juga hadir, raut wajah semua orang bahagia. semua orang bahagia. wanita mana yang tidak bahagia di nikahi laki laki Seperti Arga, keluarga mana yang tidak bangga memiliki besan seperti keluarga besar Arga. Dan Arga adalah laki laki yang beruntung, Puput adalah wanita yang sangat baik, pintar dan penurut.


" Terharu!" ucap Mitha


" Bahagia!" ucap ku


" Udah yuks, gw ga mau lama lama ninggalin Mas Aryo, gw takut!" jawab ku.


Aku dan Mitha kembali ke ruangan suami ku, Mitha hanya mengantar aku, dia harus pergi karna suami nya akan segera pulang siang ini.


Hampir setiap Jam, aku menandatangani kiriman paket berisi bunga dan greeting card Get Well soon dari kolega kolega nya Mas Aryo.


Sekitar jam 2 siang, Abah dan Umi datang ke ruangan ku, melihat kondisi suami ku. Abah terlihat sedih dan umi menangis, meminta aku untuk terus bersabar dan bersabar dalam menjalani ujian kehidupan ini.


" Neng..." Abah memanggil ku


" Iya Bah!"


" Coba periksa neng, apakah suamimu memiliki hutang?" tanya Abah, dan aku berpikir.


" Kalo buat keperluan rumah tangga, kami tidak ada hutang Bah!"


" Mobil mungkin?" tanya Abah


" Mobil kami di beli cash bah, mungkin Ocha nanti tanya ke orang kantor!"


" Semua hutang ya neng!"


" Iya Bah, tapi kenapa ya Bah?!"


" Hutang itu berat, hutang uang berat, hutang janji lebih berat!" Jawab Abah. dan aku mencerna ucapan Abah.


Saat Abah masih di ruangan ini, ada beberapa tamu yang datang, mereka adalah ustadz, Jamaah dan bapak Kyai yang sudah sepuh, dari pengajian di daerah Parung. Mereka melakukan doa bersama dan berbicara mengenai pengobatan dan kondisi suami ku, dan mulai saat ini di depan Abah, pada saat mereka hendak pamit aku berkata...


" Saya mohon, apabila ada yang mengetahui bahwa suami saya berhutang, tolong beritahu saya, InsyaAllah saya akan segera melunasi nya!" ucap ku dengan suara bergetar, Mama memeluk bahu ku. Sebagian orang diam, tapi seorang mulai menunjukan bahasa tubuh nya.


" Tidak ada maksud saya untuk membuat ibu bersedih, tapi Pak Aryo pernah berjanji akan membawakan banyak buku bacaan untuk anak anak di TPA dekat rumah saya!"


dan aku menangis.


" Kalo ibu merasa berat tidak usah, saya hanya menyampaikan, dan saya paham kondisi ibu saat ini!"


" Ga pak, bukan itu maksud saya, InsyaAllah saya akan segera menyiapkan dan di antar ke TPA nya!" Jawab ku lalu meminta nomor handphone bapak itu untuk aku hubungi Segera.


Abah mulai berbicara saat ini.


" Saya sebagai orang tua Aryo, bersyukur bapak bapak bisa datang dan mendoakan anak saya, dan mengenai hutang, pasti bapak berat mengatakan nya, apalagi saat melihat kondisi Aryo sekarang, tapi itu meringankan untuk kami, sebagai keluarga Aryo, Kami ingin Aryo lebih ringan dan mudah untuk semua urusan nya, saya percaya bapak bapak dan Pak Kyai juga paham mengenai itu, saya berterima kasih"


Semua orang tersenyum, dan Bapak kyai berkata " Hitungan hutang itu berat, dan ahli waris di anjurkan untuk segera melunasinya, apabila Mampu!"


" Mampu neng?" tanya Abah


" InsyaAllah Bah, setelah ini Ocha kerjain!" Jawab ku.


Setelah itu mereka pamit, Abah menepuk bahu ku.


" beruntung lah kita sebagai Keluarga nya, terus di cari kemana saja hutang hutang nya dan jumlah nya!" Aku tersenyum. tidak lama Abah dan ummi juga pamit, untuk orang sesepuh Abah, berlama lama dari rumah itu sangat membuat nya lelah.


" Berdoa nya Minta yang terbaik ya Neng, jangan egois!" ucap Ummi dan aku memeluk ummi. " Minta Yang terbaik dan tidak egois!" aku mengulang kata kata itu dalam hati ku.


Mbak Ayu dan Mas Haris memanggil aku, aku dibawa ke ruangan perawatan ibu, hari ini ibu sudah dapat ijin pulang, dan sepertinya mereka akan kembali ke Yogya saat ini.


" Cha..!"


" Iya Pak!"


" Kondisi ibu masih harus di kontrol dokter, ibu ga bisa di sini, ibu sedih liat kondisi Aryo sekarang!

__ADS_1


( aku sudah ingin menangis )


" Kamu masih dengan keputusan kamu kemarin Cha?" tanya Mbak Ayu


" Masih Mbak, Ocha bakal tetep berjuang, kalo pun Mas Aryo harus sampai meninggal, itu bukan karna Ocha yang sudah menyerah, tapi karna Sudah waktu nya" Jawab ku dan menangis.


Ibu meminta aku mendekati nya. ibu memeluk ku.


" Ibu ga kuat Cha, ibu ga tega liat Aryo menderita begitu, ibu sudah ikhlas Cha, maaf ibu menyerah, tapi ibu hormati keputusan mu, kamu istri nya, kalo kamu ikhlas ngerawatin Aryo, ibu berterima kasih!" dan tangis ku semakin menjadi.


" Ocha masih pengen di temenin Mas Aryo Bu, minimal anak ini bisa cium Papa nya dulu!" jawab ku, dan semua menangis saat ini.


Setelah kondisi tenang, bapak ibu, Mbak Ayu dan Mas Haris mengantar aku kembali ke ruangan, mereka berpamitan pada Mama dan Papa ku, dan tentu saja pada suami ku. Ibu terus menangis dan ini memang tidak baik untuk kesehatan ibu mertuaku.


" Apa yang bisa aku bantu Cha, gimana keuangan mu?" tanya Mas Haris dengan suara pelan.


" Saat ini belum Mas, aku masih dalam kondisi sangat aman mengenai keuangan!"


" Aku tau Cha, tapi begitu aku sampai Yogya aku akan kirim uang dari kantor, aku harap kamu paham, jangan berpikir yang tidak tidak soal uang itu, dan keputusan yang keluarga Aryo yang sudah di ambil"


aku tersenyum dan mengangguk.


" Ocha paham Mas Haris, mungkin kalo Ocha jadi ibu, Ocha akan ngelakuin hal yang sama, ga ada seorang ibu yang kuat liat anak nya kesakitan, tapi saat ini Ocha belum jadi seorang ibu, Ocha hanya seorang istri, dan ego Ocha sedang berperan saat ini!"


30 menit sudah mereka pergi dengan air mata dan puas memeluk aku. lalu aku duduk bersama mama di sofa.


" Keluarga Aryo menyerah Cha!"


" Ocha ga Mah, Mama menyerah?"


Mama ku diam. dan aku sudah tau jawabannya apa, sampai akhirnya Mama ku diam. aku juga tidak ingin membahasnya, dan aku menghubungi David, aku meminta dia pergi ke toko buku dan membeli banyak buku bacaan, hutang janji Mas Aryo akan aku lunasi segera. aku mentransfer uang pada David dan David akan segera menuju Parung, tempat TPA itu Sore ini, aku tidak ingin menunda nya.


Sore jam 5, ada banyak karyawan karyawan kantor Mas Aryo datang, seperti biasa, semua orang bersedih dan aku menanyakan soal hutang pada semua orang yang datang. tidak ada hutang sama sekali jawab mereka dan aku sangat bersyukur tentu nya.


Mama ku pulang ke rumah di Sentul setelah sholat magrib dan saat ini aku berdua dengan suami ku. aku cium pipi suamiku yang semakin tirus, kurus karna tidak ada makanan yang masuk selain cairan infus dari tangan nya.


" Maafin aku yang belum menyerah ya Mas, aku egois, aku begitu tega melihat kondisi kamu seperti ini, tapi tolong bertahan, buat aku... buat anak kita Mas, aku ga mau anak ini jadi yatim sebelum dia lahir, dia pasti sedih banget Mas, dan buat semua itu, aku yang egois ini, aku yang selalu berdebat dengan mu, saat ini aku memohon, tolong bertahan sampai anak ini lahir, dan setelah itu....aku tidak akan memaksa mu untuk berjuang dan bertahan!"


Tangis ku harus terhenti, Febby datang dan langsung memeluk aku.


" Maafin Mas Aryo Ya Feb, dia banyak kecewain loe!"


" No...gw yang minta maaf, gw boleh peluk Mas Aryo Mbak?" tanya Febby yang sudah menangis saat ini.


" Boleh...jangan pake nafsu tapi!" ucap ku dan ku pukul kepalanya, Febby Tersenyum kecut pada ku dan saat ini dia memeluk tubuh suami ku. tangis nya bersuara dan itu tangis kesedihan lengkap dengan tangis kekecewaan.


" Sorry gw baru Dateng Mbak, Abang gw nyuruh gw ke Korea, ini baru sampe!"


" Ga apa apa Feb, makasih udah Dateng, makasih buat perhatian loe!"


" Apa yang bisa gw bantu Mbak!" tanya Febby dan dia mengusap matanya yang basah


" Bantu doa Febb, yang lainnya pasti gw hubungi kalo gw butuh!"


Febby duduk bersama ku di sofa, 2 wanita yang pernah mengisi hari hari nya suami ku. tak lama kemudian pintu ruangan ku di ketuk, Febby bangun dan membukakan pintu.


" Cha...!"


" Mell....!" Aku Berdiri dan Melly berjalan cepat memeluk ku.


" Ini serius Mas Aryo kecelakaan?" tanya nya


" Iya... kondisi nya seperti ini!" Jawab ku, Melly langsung berdiri di samping tempat tidur, dan memegang tangan suami ku.


" Aku Melly, Mas! Bangun! kamu janji Ama aku, ga akan ninggalin Ocha, ayo bangun Mas!" ucap Melly. suara tangis Melly yang awal nya pelan, sekarang menjadi lebih keras, dan aku meraih bahu nya.


" Duduk yuk!"

__ADS_1


" Ini Febby!"..


" Feb, ini Melly, Istri pertamanya Mas Aryo!" dan mereka sama sama tersenyum. entah kenapa mereka tidak bersalaman.


" Febby ini Ade gw, Mel, loe sendiri? Abi mana? dia ga pengen ketemu papa nya?"


" Gw baru Dateng Cha! Abi kan tinggal Ama Omah nya di Solo!"


" oh yah...Asyyiikk dong, free time mlulu!" aku sedikit tertawa menggodanya.


" Asyik pala loe!" Jawab Melly dan kami tertawa kecil.


Aku mengambil 3 botol Pocar* dan ku berikan 2 pada tamu ku. kami duduk di sofa bertiga, Febby, aku dan Melly, dengan mata berfokus pada Mas Aryo.


" Mbak Melly kok ke Mas Aryo, aku kamu, ke Mbak Ocha loe gw?" tanya Febby dan aku tersenyum.


" Ocha tuh adek tingkat gw dulu, dan gw tuh biasa banget loe gw Ama semua orang, kecuali satu orang itu, dia marah kalo gw bilang, gw gw gw!"


" Dan marah nya dia itu diem!" Jawab Melly.


" Kok Ama gw kalo marah dia ga diem Mel? dia ngomel!" ucap ku.


" Berarti dia udah mati gaya ngadepin gw Cha, makanya dia diem!" aku menahan tawa ku, dan Melly mengusap perut ku.


#Ini Mamih nya Mas Abi Dek#


" Ama loe gimana Feb?" aku kamu apa loe gw?"


" Aku kamu!" jawab Febby, Melly membulatkan mata nya pada ku dan aku tersenyum.


Lalu kamu diam beberapa menit, dengan pikiran kami masing masing.


3 wanita yang sedang menatap laki laki yang pernah hadir di hari hari kami, dengan versi nya masing masing. Saat ini sudah tidak ada rasa cemburu ku, pada orang orang di samping ku, mereka hanya bagian dari potongan puzzle hidup ku, mereka adalah saudara ku saat ini.


" Handphone ga aktif Ih!" suara David memotong lamunanku, dia datang dengan tergesa gesa.


" Heehhh sorry!" ucap David


" Vid?" Seru Melly


" Mbak Mel?" David terlihat kaget saat ini.


dan mereka berpelukan, David adalah sepupu nya Mas Aryo, jadi David mengenal Melly juga pastinya.


" ada loe juga Feb!" ucap David sambil tertawa


" loe bertiga pada mau nonton piala dunia? ada Drama Korea?" tanya David


" nonton sinetron Jeritan Suara hati Istri!" jawab ku dan mereka tertawa kecil.


" Gw mau ke parung! loe mau ikut ga Mbak?" tanya David pada ku


" Kagak lah Vid, loe aja yah, jangan lupa beli paket ayam buat besok pagi, loe pesen nya setelah loe tau berapa jumlah anak yang belajar disana!"


" ok...siap Mbak!"


" Eh...bentar gw mau photo loe loe pada!" ucap David dan aku tersenyum.


" Nanti gw share ke handphone kalian masing masing, lengkap Ama nomor rekening gw!"


" Maksud nya?" tanya Febby


" Moment langka, cuma ada di kisah Abang gw!" Jawab David, dia tersenyum dan mendekati Suami ku.


" Semangat Mas, jangan pernah menyerah!" ucap David dan aku tersenyum.


David dan Melly pergi bersamaan, Febby masih disini, Sahabat ku Boy, Mitha, Loiuse suaminya, dan yang lainnya akan datang, dan mereka akhirnya datang. Bunda Desi selalu menangis saat memeluk ku. Baru sekitar 15 menit, suara monitor berbunyi lebih cepat, ini artinya suami ku sedang dalam kondisi drop, perawat yang datang, langsung memanggil Dokter ruangan dan aku sudah menangis. seperti biasa kami diminta untuk keluar, karna dokter akan melakukan tindakan.

__ADS_1


Tangis ku, panik ku, rasa was was ku, rasa takut ku sudah pada level atas, begitu gelisah menunggu kabar dari dokter dan perawat.


__ADS_2