
Perlahan senja mulai menghampiri pedesaan dekat perkebunan teh.Mata mereka berbinar melihat matahari terbenam dibukit.Namun sebelumnya mereka singgah di rumah mendiang Mommy Asih.
Beberapa saat kemudian mereka sampai.Mobil berbelok kebangynan tua namun terlihat bagus dan terawat.Mereka keluar dari mobil dan mengitari halaman rumah. Terdapat banyak bunga disana.
"Ini siapa yang menempati dad? " Tanya Davira.
"Orang pokoknya" Jawab Pak Didik.
"Keren sekali ini dad, boleh kita masuk dad? " Tanya Heri dan Putra bersamaan.
"Idih samaan, nitip napa bicaranya. " Kata Heri.
"Mana ada weh nitip." Kata Putra tak kalah sewot.
"Berantem aja terus. " Kata Sasa.
Mereka asik berkeliling. Dari kejauhan seorang bapak paruh baya menggenjot sepeda tuanya dengan santai.
Bapak itu tidak tau jika tuan yang punya rumah datang.
"Wah wah ada tamu rupanya." Kata bapak paruh baya.
Seketika Davira and the gank menoleh asal suara itu.
Mereka berjalan kearah bapak paruh baya itu. Mereka menyapa bersalaman mencium tangan bapak itu.
"Kenalkan pak mereka ini anak-anaknya sahabat saya yang pernah saya ceritakan itu." Kata pak Didik.
"Wah cantik dan ganteng sekali kalian." Kata pak Slamet.
"Terimakasih pak atas pujiannya."Jawab Davira ank the gank.
__ADS_1
Pak Slamet lalu membuka pintu rumah itu.Davira and the gank dibuat tercengang.Nampak dari depan itu sebuah rumah tua, namun setelah mereka masuk, disana banyak bingkai foto berukuran besar hingga ukuran kecil.Foto dimana orang tua mereka masih muda seusia mereka. Terdapat alat musik juga disana.
Mereka berkeliling mengamati satu persatu foto disana.Disudut ruangan terdapat foto mommy asih sebelum kejadian naas itu.
Mereka bertanya ini dan itu kenapa tempat ini dijadikan galeri persahabatan menua bersama.
Papan di atas pintu depan.
"Anak-anak yuk ke teras kita nikmati senja sambil bernostalgia untuk daddy." Ajak pak Didik.
"Siap dad. " Jawab Davira and the gank.
Davira membawa gitar tua namun masih berfungsi dengan baik.Mereka bersenandung.
"Ada yang tak tenggelam ketika senja datang, yakni rasa. Rasa dimana kita membagi kasih dan sayang.
Senja mengajarkan kita bahwa apa pun yang terjadi hari ini pasti akan berakhir indah.
Senja selalu seperti ini. Perlahan datang, lalu tiba-tiba hilang. Tergantikan keremangan malam, menyisakan kehampaan."Kata pak Didik.
Dimana matahari tenggelam itu seperti masa kecil, dipandang dengan heran bukan hanya karena indah tapi karena ia datang sebentar.Karena senja tak pernah memintamu menunggu. Dan senja tak pernah salah. Hanya kenanganlah yang kadang membuatnya basah. Dan pada senja, akhirnya kita mengaku kalah. "Kata Davira.
" Namun Sekalipun hanya sejenak, namun senja pergi meninggalkan rasa hidup ini amat teramat singkat. Titipkanlah asa disana. "Kata Sasa.
"Malam membuatku ingin menulis rindu, bukan untuk kau baca. Karena rindu yang sesungguhnya telah kau tinggal di tepian senja. Maaf Kisah kita, sekarang sudah berbeda. Jadi jangan samakan dengan keadaan kita yang sekarang." Kata Heri.
"Dan ingat,Setia itu memang sulit.Akan tetapi lihatlah jingga. Selalu menggenapkan warna nya, demi senja di setiap harinya."Kata Putra.
Mereka terhanyut dalam pikiran mereka. Ada rasa rindu yang menggebu. Rindu ingin berjumpa orang terkasih namun beda dunia. Hanya lantunan doa dan memandang foto sebagai pelipur lara. Dan benar adanya, Cinta tidak harus saling memiliki.
Disenja yang indah itu mereka tersenyum bahagia.
__ADS_1
👻👻👻👻👻
Ketika senja itu berganti gelap nya malam. Tiba-tiba Aciel muncul bersama Davina dan Mommy Asih.
"Aku harus pergi dek, jaga bunda dan ayah.Sudah waktunya kakak pergi. kamu sudah ikhlas dek, terimakasih. Dan untuk kalian sahabat ku, terimakasih banyak.Tolong jaga adik ku. " Kata Davina kembaran Davira.
Tak bisa berkata apa-apa Davira and the gank. Hanya air mata yang terjatuh begitu saja. Anggukan kecil dari Davira and the gank.
Bergegas pak Didik memegang pundak Davira. Pak Didik bisa melihat Mendiang Asih, Davina dan Aciel.
Pak Didik hanya tersenyum dan melambaikan tangan dan berkata.
"Semoga kita berjodoh disana."
Belahan mereka menghilang. Kini tinggal Aciel yang sedang menopang dagu sambil manyun.
Dan berkata.
"Senja yang indah,seindah dan secantik ibu kunti disana."
Seketika Davira and the gank dan pak Didik menoleh ke belakang dan benar disana ada ibu kunti yang tertawa dan terbang dan duduk di pohon kemuning.
Davira hanya menyapa saja, tetapi tidak dengan pak Didik. Pak Didik menelan ludah dengan susah. Seakan ada sumbatan di tenggorokannya.
"Vira,,,! jangan main bawa pulang. " Kata pak Didik dengan suara sedikit dutekan.
Yang dilarang hanya memanyunkan bibirnya beberapa centimeter. Sambil menggerutu.
"Daddy gak asik. " Kata Davira.
"Saya dengar Davira Nur Azizah." Kata Pak Didik.
__ADS_1
😇😇😇😇😇😇
Hay hay selamat membaca ya. Jangan lupa tinggalkan jejak. Papayo 👋👋👋👋