
Satu minggu kemudian. Siswa siswi dari kelas satu sampai tiga ikut andil dalam acara pensi. Mulai dari menyusun acara, penataan ruangan dihias sedemikian rupa.
Menyiapkan snack dan pesta kecil ala caffe.
Waktu terus berputar, rangkain acara berjalan semestinya, namun ketika dipuncak acara, kejadian diluar nalar terjadi.
Lampu yang berkedip, gelas sendok garpu bergetar sendiri diatas meja.Guru, karyawan dan seluruh siswa hanya menganggap itu akibat dari getaran bass yang terlalu kencang dan lampu yang akan mati.
Acara puncak telah usai, siswa siswi sebagian besar ada yang sudah pulang.Tinggal panitia dan OSIS dan beberapa guru saja.
Mereka mengobrol kesana kemari tepat di meja tengah.
Tiba-tiba Rani menjerit histeris.
"Aaaaaaaaaaa,,,, pergi sana pergi, apa salah kami? " tanya Rani.
Sontak membuat semua orang yang masih ada disana berlari menghampiri Rani. Posisi Rani berada di pojok aula.
"Ran ada apa? Apa yang terjadi Ran?" tanya Davira.
"Ra,,, aku takut Ra aku takut. " kata Rani berbicara sambil duduk memeluk lututnya.
"Iya takut apa Ran? " tanya Sasa.
Rani berjalan menuju pohon besar di belakang sekolah. Rani tidak berani mengambil ujnjuk kearah pohon itu.
Ternyata disalah satu dahannya ditancap paku dan dahan sebelahnya ditebang entah oleh siapa.
Davira dan Sasa bukannya sok pemberani, mereka juga gemetar saat ingin mendekat dan mengamati dari jarak dekat. Namun sebelum jauh melangkah semua lampu padam dan pecah secara bersamaan. Dengan sigap siswa-siswi yang ada disana menyalakan senter di ponselnya.
Samar-samar terdengar nyananyian dari atas pohon.
Dan tiba-tiba Rani terbatuk-batuk dan memgaduh pusing.
Davira terus berbicara kepada Rani agar pikiran tidak kosong, namun sia-sia Rani tergeletak dan langsung berlari memanjat pohon.
Guru pun panik dan memanjat memegangi kaki Rani agar tidak jauh naik ke atas pohon.
__ADS_1
"Ini rumahku, kenapa kalian rusak kalian tebang? Bagaimana jika rumah kalian dirusak oleh orang lain? apakah kalian juga akan marah sepertiku? " Suara itu muncul dari mulut Rani.
"Maafkan kami maafkan beberapa murid ku yang telah lancang merusak rumahmu. " kata kepala sekolah.
Suasana semakin mencekam ketika Rani tiba-tiba lompat turun dan berjalan mendekat kesalah satu siswa kelas satu. Rani tiba-tiba murka dan ingin mencekik siswa itu. Guru yang melihat itu segera berlari dan melepaskan cengkraman itu.
Davira berjalan dan mendekap tubuh Rani.
"Ran balik ya, ini bukan kamu Ran. Dan tolong siapapun yang sedang ada ditubuh Rani keluar, kasihan tubuh Rani." isak Davira.
Teman-teman pun melakukan hal yang sama.
Rani semakin memberontak dan membalikkan semua meja yang ada disana. Guru dan siswa siswi yang ada disana melantunkan doa sesuai keyakinan mereka masing-masing.Mereka membuat lingkaran di halaman belakang, ditengah mereka ada Rani yang sedang berputar-putar seakan gerah kepanasan.
👻👻👻👻👻👻👻👻
Mereka terus membacanya keras, seakan ingin membelah langit hitam diatas jika bisa, merontokkan milyaran bintang disana. Namun, hanya separuh yang menjiwai lantunan doa yang terucap, sisanya bergelut dengan pikiran dan takut dalam benak. Diluar lingkaran, mereka mendengar dan tertawa terbahak.Sosok itu ternyata tidak hanya satu, melainkan banyak.
Angin malam bertiup kencang sekali malam itu, membawa hawa dingin menusuk tulang sampai ke kalbu. Meremangkan sempurna bulu kuduk mereka. Melarutkan asa dan takut jadi satu. Tiada tanda semua cepat berlalu, tidak ada tanda mereka ingin cepat pergi.Ada beberapa siswa yang tergeletak lemas. Davira and the gank, pak Didik dan hanya tersisa beberapa siswa dan guru.Seakan mereka tak gentar membaca dengan keras dan bermandikan keringat.
Setalah kata itu terucap dan terdenagar jelas, Rani tumbang begitu saja seperti tidak ada tulang.
Davira dan Sasa lalu berlari dan mengangkat tubuh Rani untuk diduduklan dan dipeluk.
"Ran hey bangun. " kata Davira.
"Tolong ambilkan minyak angin dan air minum. " teriak Sasa.
Salah satu siswa berlari ke meja dan mengambil air minum. Berlahan Rani membuka matanya dan menangis.
"Hey are you oke? " tanya Davira.
"Ra kasihan rumah mereka, rumah mereka jika hujan bocor dan ketika panas kepanasan dan salah satu dindingnya berlubang cukup besar Ra. " kata Rani.
"It 's oke Ran, besok kita perbaiki ya. " kata Davira memenangkan Rani.
"Sekarang kita pulang ya? malam ini kamu bermalam dirumahku. " kata Davira.
__ADS_1
Hanya anggukan yang Rani bisa jawab.
Siswa yang telah menebang pohon itu menggigil kedinginan namun suhu badannya panas.
"Ini pelajaran bagi kita semua, tidak boleh merusak lingkungan sekitar sekecil apapun. " kata kepala sekolah.
"Kekacauan malam ini, kita bereskan besok,ini sudah larut malam. " kata pak Didik.
Semua siswa termasuk Davira and the gang pulang.
Rani masih syok apa yang telah terjadi.
Mereka telah sampai dirumah. Siangnya mereka akan kembali ke sekolah.
Pagi hatinya Davira and the gank dan Rani menuju sekolah. Mereka mampir terlebih dahulu ke toko tanaman hias. Mereka memilih berbagai macam pohon kecil dan beberapa tanaman bunga gantung.
Tibanya di sekolah mereka langsung membawa semua barang belanjaan mereka. Siswa siswi yang lain memberikan meja dan kursi. Sedangkan Putra dan Heri seakan berbicara terhadap pohon itu.
Putra dan Heri menggantungkan beberapa tanaman bunga. Bekas potongan dahan itu ditutup dengan serabut kelapa dan ditali.
"Selesai juga, semoga kalian suka. Terimakasih sudah mengingatkan kami, maaf jika kita semua sudah lancang merusah rumah kalian." kata Davira.
"Antara ada dan tiada.Kita berdampingan nyata." kata Sasa.
"Kami pamit ya kakek, semoga kita bisa bertemu di lain waktu dengan cara yang berbeda. " kata Heri.
"Kami pamit. " Kata Putra.
Davira and the gank akhirnya pulang dengan hari yang tenang, begitupun Rani.
Semoga tidak ada kejadian yang serupa ditempat yang baru.
Assalamu'alaikum.
Maaf baru bisa up lagi.
Semoga masih betah ya.
__ADS_1