KENAPA HARUS AKU

KENAPA HARUS AKU
ROSSA 158


__ADS_3

Setelah selesai kontrol, aku dan Mas Aryo berencana untuk membeli kebutuhan Baby kami, Dan Senay** jadi Mall pilihan aku.


" Bayi nya gede yah Mas!" ucap ku ketika sudah duduk nyaman di mobil Jaguar Hitam Kesayangannya Mas Aryo.


" Itu perkiraan Sayang, nanti lahirnya bisa lebih besar atau mungkin lebih kecil!"


" Ngeri ya Mas?"


" Ngeri sih ngebayangin nya, tapi aku yakin, kamu bisa Cha!" Jawab Mas Aryo dengan mengusap pipi ku dengan punggung tangannya, aku tersenyum dan setuju dengan ucapannya.


Mas Aryo menggandeng tangan ku saat kami berjalan menelusuri mall ini, dia mengimbangi langkah kaki ku. Kemudian masuk ke dalam outlet Baby shop, karna aku belum memiliki pengalaman, aku dibantu oleh seorang pelayan wanita yang pastinya sudah tau kebutuhan yang harus aku beli.


Aku memilih warna kuning, warna yang hampir mirip dengan warna favorit ku " Orange " agar terkesan ceria dan bersemangat.


Banyak yang kami beli, bahkan mungkin berlebihan, alasannya karna ini anak pertama kami, aku dan Mas Aryo setuju untuk memberikan yang terbaik untuk Anak kami, terlepas dari nanti hubungan ini akan di bawa kemana.


Selesai berbelanja, kami Segera pulang ke rumah. aku dan Mas Aryo menata kamar Bayi kami.


" Apa yang kurang ya Cha?" tanya Mas Aryo


" Nanti aku ajak Angel ke rumah deh, dia kan paham tuh!" Jawab ku dengan duduk di sofa kamar bayi kami yang memang berdekatan dengan kamar utama.


" Good Idea, lebih cepat lebih bagus Cha! Oh Yah Cha, besok aku minta di temenin ke Karawang bisa ga?


" Ada apa Mas?"


" Proyek rumah di Kawarang masuk ke tahap 2, aku harus pastiin material rumah contoh nya dulu!"


" Oh yah! aku pikir kamu lepas semua kerjaan mu, Mas?


" Kita ini masih hidup Cha, masih perlu uang, perlu banyak bekal buat anak ini nanti!" Jawab Mas Aryo yang duduk di samping ku.


" Gitu yah, aku malah takut loh Mas, kamu sibuk dan ITU terulang lagi!"


" itu juga yang paling aku takutin Cha, tapi aku berusaha bakal mencegah nya, so besok, i beg you, temani aku!"


" Heemmhhh ga gratis ya Mas!" Jawab ku menggoda nya kali ini.


" Kamu mau apa sayang?"


" aku pengen belanja baju, buat anak anak di rumah ummi!"


" Boleh, tapi belanjanya Ama aku, aku ga mau kamu bawa mobil sendiri!"


" Ga seerruuu!"


Dan Mas Aryo tertawa sambil merangkul bahu ku.


" Oh ya Cha, uang yang pake dari ATM mu, udah aku ganti, ATM nya ada di laci, dan makasih ya Cha, buat semua dukungan kamu"


aku tersenyum dan memegang tangan nya.


" Aku pasti dukung semua yang kamu kerjain Mas, BTW dapet uang dari Mas, tanah di Bandung jadi si jual?"


" Alhamdulillah, trading ku fokus Cha, aku duluin ganti full ke kamu, mungkin yang belom bisa aku bayar, pembayaran saham pabrik gula, tapi udah dana sih, di akun trading ku, aku minta waktu ya Cha!"


" Gak usah di pikirin lagi Mas, aku ga pernah ngerasa ngutangin Mas!"


" Ya tapi biar gimana juga, itu uang kamu Cha!"


" Simpen aja buat anak ku lah!" jawab ku sambil tertawa


" Anak ku Cha!" protes Mas Aryo dan kami tertawa berdua. Yah ini adalah kami, anak aku dan Mas Aryo.


Sore ini seperti biasanya, Mas Aryo pergi, dan akan kembali setelah jam 11 malam, sebelum berangkat aku sudah memasak untuk nya, dan Alhamdulillah dia lahap makannya, mungkin efek dari aku yang saat ini makan dalam porsi yang banyak.


Malam ini, seperti biasanya aku terus menjalankan sholat malam ku, belakang ini aku merubah kata kata dalam doa ku, aku meminta untuk di mudahkan dan di lancarkan untuk segala urusan Dunia dan akhirat ku, aku tidak meminta jodoh saat ini, waktu yang tidak tepat memikirkan laki laki lain, sementara aku masih sah menjadi istri dari Suamiku.


Pagi ini aku sudah siap menemani Mas Aryo untuk pergi ke Karawang, kami berempat, Ada Mas Didit dan Mbak Laras juga yang ikut kami saat ini.


Di dalam Mobil


" Di proyek jangan lama lama ya Yo!" pinta Mbak Laras


" Baru juga jalan, sampe juga belom, kaya bocah aja!" Jawab Mas Aryo dan aku tertawa


" Ibu mo Dateng ma bapak, takut minta di jemput!" Jawab Mbak Laras sambil memukul-mukul bahu adik nya.


" Udah Jalan Mbak?"


" Nanti siang sih, perkiraan sampe jam 5 lah!" Jawab Mbak Laras.


" Suruh Pak Wawan standby jemput ibu lah Mas!"


"lya iya sebentar aku telphone deh!" Jawab Mas Aryo dengan membalikan tubuhnya ke arahku ku dia langsung menghubungi sopir kantor.


" Ibu kan baru sembuh Mbak, kuat ga yah?" tanya ku pada Mbak Laras


" Kuat lah, ibu pengen ketemu kamu, Tau!" Jawab Mbak Laras,

__ADS_1


" Padahal tadi malem aku baru telphone ibu, aku bilang aku dah pulang ke rumah Mbak, dan ga bilang loh kalo mau jalan ke sini!"


" Kangen kali Ama mantu nya!" Seru Mas Didit dan aku tertawa


" Mantu ga ada akhlak ya Mas Dit!" ucap ku dan kami pun tertawa.


Perlu 3 Jam untuk sampai ke Proyek yang akan menjadi perumahan tahap 2, tanah yang masih merah, masih banyak rumput dan banyak pekerjaan bangunan yang sedang berkumpul, mereka sedang beristirahat rupa nya.


Aku hanya duduk di manis di mobil, Mas Aryo, Mas Didit dan Mbak Laras mulai memberikan instruksi pada mandor yang memegang proyek ini.


Dalam kesendirian ku, aku sempat berpikir, apa yang harus aku katakan pada ibu mertua ku, dengan semua kondisi yang ada saat ini. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya, dan semua ini tidak akan terjadi apabila aku dan Mas Aryo bisa menjaga ego kami masing masing.


" Andai dan andai"


" Semua hanya andai, dan sudah terjadi!"


Setelah sekitar 45 menit, Mbak Laras masuk ke dalam mobil, dan langsung di susul oleh Mas Didit dan Mas Aryo.


" Beres Mas?"


" Alhamdulillah, beres, Cha"


" Cari makan dulu Dit, sholat terus langsung balik deh, ibu mau langsung ke Sentul!" ucap Mas Aryo kemudian.


Kami tiba di Sentul sekitar jam 4 sore, Mbak Laras ikut aku ke rumah, menunggu ibu, aku meminta Bik Sum dan Bik Surti untuk merapikan kembali kamar tamu.


Sekitar jam 5 sore, Ibu dan Bapak tiba di rumah kami. aku memeluk ibu dan mencium punggung tangan bapak, Mereka baru pertama kali berkunjung ke rumah ini.


" Ibu ga bawa apa apa Cha, begitu kamu telphone kemaren malem, langsung ibu minta bapak buat ke Jakarta, jadi ga ada persiapan!"


" Ocha udah seneng banget ibu Dateng, harus nya Ocha yang ke Yogya!"


" Ndak apa apa, gimana kabar cucu ibu, Cha?" Tanya Ibu


" Makan mlulu Bu!" Jawab Mbak Laras dan aku tertawa, iya tadi aku makan banyak lagi, padahal Mama Dewi sudah mewanti wanti aku agar aku bisa meng kontrol berat badan ku.


" Ndak apa apa cha, jadi kelihatan sehat!" jawab Bapak dan aku masih tertawa.


" Ini gendut Pak, bukan sehat!" jawab ku dan Bapak pun tertawa.


" Gendut juga tetap cantik kok Cha!" puji Mas Aryo dan aku seperti nya malu saat ini.


Setelah makan malam, Mas Aryo tidak pergi kemanapun, Bapak banyak bicara dengan aku, dan terutama mengenai pabrik gula, Bapak hendak mengembalikan nya pada ku, tapi aku menolaknya lagi, itu adalah tanda cinta ku untuk keluarga, dan aku sangat bahagia bisa melakukan itu.


Selesai bicara dengan Bapak, kini giliran ibu, ibu sedang memeriksa kamar bayi kami dengan Mbak Laras.


" Kira kira apa yang kurang ya Mbak, aku baru siapin kemarin banget!" tanya ku pada Mbak laras


" Mau ada acara 7 bulanan ga Cha?" tanya ibu padaku, ibu sedang duduk sambil melihat baju baju bayi yang sudah di cuci ulang oleh Baik Sum.


" Kata Mas Aryo ga perlu, Bu!"


" kamu setuju Cha?"


" Ocha ikut ikut aja sih Bu!"


" Atau mau di rumah ibu aja Cha?"


" Gak usah Bu, nanti ibu cape, Ocha ga mau ah ibu cape cape, nanti siapa yang jagain cucu ibu ini!" Ibu mertua ku tersenyum dan mengusap perut buncit ku.


Mbak Laras dan ibu menginap di rumah ini, malam setelah ibu dan bapak beristirahat kami mengobrol bertiga di belakang rumah.


" Mumpung bapak di sini, besok gw mo ajak Tomi ke sini ya Yo!" Ucap Mbak Laras


Aku dan Mas Aryo cukup kaget.


" Ngapain Diajak kesini?!" Tanya Mas Aryo dan hanya bisa diam Tersenyum


" Tomi ngajak gw serius Yo!"


" What?" seru ku, hampir tidak percaya dengan ucapan kakak ipar ku saat ini.


" kok gitu sih Cha! Iam A women, i need somebody to care of me" Jawab Mbak Laras dan aku tersenyum. aku mengucapkan kata what karna selama ini aku pikir Mbak Laras mampu hidup sendiri, mandiri tanpa laki laki lagi.


" Too fast!" jawab Mas Aryo


" Almost two years!" protes Mbak Laras


" Gimana Cha?" tanya Mas Aryo padaku.


" Aku sih YES, Tomi baik kok, dia juga banyak bantu kamu dalam kerjaan kan, Mas?!"


" Gak akan konsen kerja loe Mbak, kalo loe ada hubungan Ama temen sekantor!"


" loe gitu banget ma gw Yo, loe pikir enak apa jadi Janda!" jawab Mbak Laras dengan ketus


" Nanti lah, gw pikir pikir dulu, yang pasti jangan besok lah, ibu datang buat gw!" Jawab Mas Aryo dan dia meninggalkan aku dan Mbak Laras berdua saat ini.


" Aryo gitu banget ma gw Cha!" ucap Mbak Laras dengan mata berkaca-kaca

__ADS_1


" Ish Masa gitu Mbak?" ucap ku dengan pelahan.


" BT gw ma Aryo!" dan sekarang aku melihat Mbak Laras menangis.


" Dia ga tau aja, gimana tetangga ngomongin gw! dia ga tau juga orang orang satu gedung itu gimana kalo ada gw! Ucap Mbak Laras


Emhhh aku menarik nafas ku berat kali ini. mungkin seperti itu nasib seorang janda, apakah aku bisa?


" Nanti Ocha ngomong pelan pelan Mas Aryo, Mbak " Ucap ku sambil merangkul bahu nya.


" Heemmhhh tau deh Cha, males gw!"


Aku tersenyum dan mengajak nya beristirahat. Di kamar Mas Aryo masih duduk di sofa dia menunggu aku rupanya.


" Jangan di kasih harepan Cha, kamu yes aku no, aku pengennya kamu bilang no tadi!" ucap Mas Aryo ketika aku duduk di samping nya.


" Apa yang bikin kamu nolak Tomi, Mas?"


" Ga sreg aja "


" Masa Jawabannya gitu?"


" Ya emang itu yang aku rasain!"


" Trus kami sreg nya Ama siapa Mas?


" Ama kamu!" Jawab Mas Aryo dan aku tertawa.


" Thanks buat tawa nya Cha!" ucap Mas Aryo dan mengusap pucuk kepala ku.


" Ga jelas ish, besok aku aja yang undang Tomi ke rumah!"


" terserah, kamu nyonya rumah nya, tapi bukan berarti aku Yes Ama Tomi ya Cha!"


" Mas Aryooo gitu.....!" aku memukul bahu nya lalu berjalan ke tempat tidur.


" chaa ih ninggalin aku!"


" Tau ah!" Jawab ku.


Aku kesulitan untuk tidur berbaring saat ini, dada ku terasa sesak, dan posisi miring adalah posisi yang paling nyaman.


" Ngadep sini Cha!"


" Ga mau!"


" Cha..."


" Heemmh"


" sini iihh!" ucap Mas Aryo meraih tubuh ku yang sedang memunggungi nya.


" Bilang dulu Yes!"


" No...buat saat ini!"


" Mbak Laras cuma pengen ngenalin Tomi ke ibu doang Mas" ucap ku dengan mengelus dada nya.


" kaya tadi lagi Cha, nanti aku yes deh!"


aku tertawa


" Jangan ih, nanti Mas Aryo ga kuat!"


" kuattt" Jawab nya dengan yakin.


" Yakin nih?" aku tersenyum dan ku kecup sudut bibir nya saat ini.


Mas Aryo menarik nafas nya berat, dia mengusap ngusap pipi ku, " Iya kamu bilang ke Mbak Laras besok boleh ajak Tomi ke sini!"


" Makasih ya Mas!" dan ku kecup bibirnya kali ini.


Emhhh sudah sekian lama aku tidak mencium bibir nya, entah karna rasa senang ku akan permintaan ku yang disetujui, atau karna rasa cinta ku masih seperti dulu, atau karna hormon kehamilan ku. Yang pasti kami berciuman saat ini.


ciuman yang akhirnya membangkitkan gairah nya suami ku, dan aku lah yang terkena imbas nya, Mas Aryo mencumbu leher ku dan tangan nya sudah mulai mengusap gunung kembar ku.


" Boleh Cha?" tanya nya dengan sedikit ragu.


" Heemmmhhh"


Dan ku bantu suami ku untuk melepaskan kaos yang dipakai nya. baju tidur ku sudah terlepas sempurna saat ini, i'm naked dan aku tertawa kecil.


" Perut ku buncit Mas!"


" Iya, aku bakal pelan pelan sayang!" jawab Mas Aryo dengan mengusap perut ku.


" Baca doa nya dulu!" perintah nya pada ku


" Aku belom tau, Mas!" Bodoh kan aku! ucap ku dalam hati

__ADS_1


" Ikuti aku"' dan aku mengikuti nya


emmhhh setelah hampir 5 bulan aku tidak bercinta, ini terasa sangat luar biasa, dengan perlahan dan lembut Mas Aryo melakukan nya. sampai akhirnya dia mencapai klimaksnya dan mengucapkan " I love you sayang, thanks you!"


__ADS_2