KENAPA HARUS AKU

KENAPA HARUS AKU
ROSSA 171


__ADS_3

Pagi ini Jam 7, Mama ku sudah datang bersama Papa,


" Gimana kondisi Aryo, Mbak?" tanya Papa ku


" kemaren malem sempet drop lagi Pah!"


Papa ku menarik nafas nya dengan berat.


" Mbak, mau bertahan sampe kapan?"


" Ga tau Pah !"


" Ikhlasin aja ya Cha, kasian Aryo nya, dia makin kurus, dia pasti sakit banget Cha, Mama ikhlas Cha!"


Aku tak ingin berdebat dengan Mama ku. aku hanya tersenyum


" Papa juga udah ikhlas, Mbak!"


" Iya... iya.. nanti Ocha pikirin lagi Pah!"


" Mbak, papa....!"


" Iya Pah, Papa dan Mama pulang aja, Ocha bisa jaga Mas Aryo kok, Toh Mas Aryo cuma tidur, ga harus Ocha layanin!"


" Kamu ga marah Ama Mama Cha?"


" Ga Mah, Malah Ocha sedikit lega, kalo Mama dan Papa ga ada disini, Papa itu sakit Jantung, sama Kaya ibu, jadi kondisi ini ga baik buat kesehatan Papa!"


Akhirnya...Mama dan Papa ku, menyerah, Kembali pulang ke Yogya pagi ini. Aku tidak marah, aku tidak kecewa, sekali lagi aku tanamkan dalam pikiran ku, Papa ku menderita penyakit Jantung, Sama seperti Ibu mertuaku, kondisi mereka tidak bisa menerima Hal Hal buruk, Karna akan sangat mempengaruhi kesehatan nya, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka. mereka adalah orang-orang yang sangat aku sayangi.


Aku sendiri, aku tanpa keluarga, aku hanya menunggu siapa saja orang orang setia ku. siapa siapa saja yang berada disaat aku bener benar sedang goyah.


Pagi ini setelah Papa dan Mama ku berpamitan, Mama dan Papa Arga datang ke ruangan ku lengkap dengan pengantin baru, kami banyak bicara mengenai kondisi suami ku dan rencana pengobatan ke Melbourne.


" Mama yang larang Papa buat ngelakuin operasi lagi, Cha!" ucap Mama Arga


" kalo operasi itu tidak berhasil, Pasti Mama beranggapan Papa lah yang mengakhiri Hidup suami mu!" ucap Mama Arga lagi


" Kalo saja Pasien nya bukan suami kamu, Papa ga ada beban, tapi Aryo itu suami mu, Beban Papa berat, apalagi kamu sedang hamil besar!" Ucap Papa Arga.


" Iya Pah, Mah, Ocha paham, semua karna Papa dan Mama sayang Ama Ocha!" Jawab ku dengan senyum


" Apa saja yang diminta oleh rumah Sakit disana?" Tanya Papa


" ada di email Pah, dan banyak!"


" Forward ke gw, Cha! gw kerjain Sekarang!" Ucap Arga dan aku segera mengambil handphone ku, ku forward semua pada Arga, Mama dan Papa sudah pergi meninggalkan aku, Puput dan Arga.


" Semangat Yo.....Gw dah married sekarang, gw ga bisa jaga Ocha kaya dulu, gw punya tanggung jawab sendiri, dan loe tega apa....liat Ocha berjuang sendiri!" ucap Arga dengan memegang tangan suami ku.


" Semangat Yo....anak loe mau lahir, Jangan sampe bibit unggul loe gw ambil secara paksa, loe ga mau itu terjadi kan! ayyyooo semangat!" ucap Arga dan dia menangis saat ini.


Aku memeluk bahu Arga....


" loe harus berjuang ya Cha, loe harus kuat, gw, Puput pasti ada di belakang loe!"


" Iya....dulu cuma loe yah Arg yang tameng gw! sekarang ada Puput, Garda pertahanan gw semakin kuat!"


" Ya udah, gw kerjain email loe dulu!" Ucap Arga


" aku di sini Mbak Ocha, Mbak mau ke Bank Kan?" ucap Puput


" Iya Put, gw ga lama!"


Aku sudah bersiap, hanya tinggal menunggu Arif saja, dan tepat jam 8 Arif sudah menunjukan wajah nya. " gw aja yang Bank, loe tanda tangan disini, Kasian Aryo loe tinggal!"


Dan aku tersenyum, " Dimudahkan urusan ku, Alhamdulillah!"


" gw langsung ke notaris, jadi gw Dateng siang ya Cha!"


" sip...thanks Rif!"


" Ga gratis!" Ucap Arif dia tersenyum pada ku


" Pamrih Bener!" aku menggeleng kan Kepala ku.


" Makan ini, dari Vero!" ucap Arif dengan membuka kotak Tupperware berisi kentang goreng dan sosis.


" Ok...gw makan!" aku tersenyum dan mulai makan, agar Arif tenang dengan pesanan dari Vero.


Arif pergi dan aku bersama Puput. Tidak lama kemudian Arga datang kembali.

__ADS_1


" Udeh gw print, lagi diisi Ama dokter Santoso!"


" Thanks Arg.."


" Cha....loe mau jalan Ama siapa?" tanya Arga


" Sendiri, semua orang kan punya kesibukan masing masing Arg!" Jawab ku


" Aku cuti 7 hari Mbak Ocha, aku seneng deh bisa nemenin Mbak Ocha!"


" gaaaaakkkk loe pengantin baru, loe harus Ama Arga!" Jawab ku dengan tegas


" Aku lagi dapet Mens Mbak, ku utang lah malem pengantin nya nanti nanti!" Jawab Puput dengan wajah merah nya, aku tertawa dan Arga mengkerucutkan bibir nya


" Loe bayangin Cha, malem pengantin nya ga ngapa-ngapain, gw pikir gw bakal kaya cerita nya Mitha, making love semaleman!" Jawab Arga dan aku tersenyum.


" Aku tuh baru dapet nya pas abis sholat Magrib tau Mbak!" cerita Puput dengan polos nya.


" Jadi loe ngapain Arg, malem kemaren, ngobrol Ama mertua doang?!"


" Kagak lah, Papa nya Puput kan killer, gw ngumpet di kamar aja maen Game di Hape!" Jawab Arga


dan aku tersenyum menahan tawa ku.


Jam 10 Boy datang bersama Sandri,


" Gw dah hubungin Om Deddy, loe ga usah urus visa, dia kasih recommend loe Ama Aryo, tapi gw minta rekam medis Aryo ya Cha!"


" gw siapin Boy!" ucap Arga


" Jangan lupa Paspor loe Ama Aryo!"


" Di rumah Boy!"


" Loe mau balik dulu, sekalian siap siap baju gitu?" tanya Sandri.


" Pengen, tapi gw ga mau ninggalin Laki gw Sand, gw mau quality time Ama laki gw!"


" liat nanti deh!" Jawab ku lagi.


Setelah sholat Dzuhur, semua perlengkapan suami ku sudah siap, melalui email aku kirim semua persyaratan yang rumah sakit Royal Melbourne perlukan.


Kami menunggu jawaban dari data medis Mas Aryo, dan sekitar jam 3 sore aku mendapatkan panggilan telepon dari rumah sakit Royal Melbourne,


" Berapa banyak yang di butuhkan?" tanya ku


" Bawa lah sebanyak banyak nya, kita tidak akan tau apa yang terjadi di meja operasi, jarak Jakarta Melbourne jauh, dan kita harus meminimalisir keadaan!"


" Ok "


" Kapan akan datang?"


" Kami menunggu kabar dari mu!"


" Berangkat lah sekarang, aku akan menyiapkan tim ku di sini!" dan Sambungan telphone berakhir.


" Ada apa Cha?" tanya Boy


" Gw perlu jalan sekarang, gw di minta bawa banyak darah juga!"


" Ok...gw panggil anak anak hotel kemari, mereka dah siap!"


Jawab Boy dan langsung menghubungi hotel nya.


" Gw belom dapet tiket!" Ucap ku


Dan kami panik saat ini, kami betul betul tidak siap dengan tiket pesawat. dan tidak mungkin membawa suami ku dalam kondisi ini dengan penerbangan komersil, itu tidak terpikirkan oleh ku dan semua sahabat ku.


Dan kami semua diam, aku mendekati Suamiku.


" Dokter disana udah siap loh,Mas! tapi aku lupa kesana nya mau pake apaan!" ucap ku sambil mencium pipi suami ku.


Jam 5 sore, darah yang di perlukan sudah siap, rumah sakit sudah menyimpan nya dengan aman, Boy dan Mitha sedang mencari alternatif perusahaan yang bisa menyewakan pesawat untuk kami gunakan.


Hampir Adzan Magrib, kami masih belum ada hasil, dan aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa. aku hampir putus asa, karna dokter Webber sudah menghubungi aku kembali.


" Apa ini tanda agar suami ku tidak pergi?"


" ya mungkin ini yang di mau Suamiku, tetap di sini!" ucap ku dalam hati.


Dalam kondisi seperti ini, aku masih saja harus menerima tamu tamu yang menjenguk suami ku, sebenernya aku lelah, aku sedang banyak yang di pikirkan, tapi kedatangan mereka itu untuk mendukung suami ku, dan aku pasang wajah senyum ku untuk semua tamu tamu yang hadir.

__ADS_1


Handphone ku berbunyi, panggilan masuk dari Febby, dia menanyakan bagaimana mengenai keputusan ku untuk pengobatan Mas Aryo.


" gw tinggal nyari pesawat, Feb. Maskapai Domestik ga mau bawa pasien sakit, resiko buat pencitraan mereka, kalo terjadi sesuatu di jalan!"


" Kenapa ga telphone gw sih Mbak!"


" gw sibuk!"


" Kapan mau jalan?"


" lagi nyari penyewaan pesawat dulu!"


" Mbak Ocha kapan mau jalan? gw siapin sekarang!"


" Serius Feb?"


" Keluarga gw ada 2 pesawat di Halim, keluarga gw Keluarga Haryanto!" Jawab Febby, dan aku tersenyum " orang kaya, pesawat nya 2!" ucap ku dalam hati.


" Ya udah aku ke rumah sakit deh, susah ngomong di telphone!" ucap Febby dengan gemas dan aku tersenyum.


" Ada apa Cha?" tanya Arga dan Boy


" Febby punya 2 pesawat keluarga, kaya bener tuh anak?" ucap ku dan kami tertawa kecil


" ya udah, loe balik sana, kita jagain Aryo, loe siap siap deh!" Seru Arga.


Aku bergegas pulang, Boy yang mengantar aku pulang ke rumah, Bik Sum Dan Bi surti langsung menyambut ku, banyak doa untuk suami ku dari orang orang yang bekerja di rumah ku, " Maafin Mas Aryo ya Bi, pasti selama ini ada sikap nya yang melukai hati bibi!" ucap ku dan ke dua ART ini memeluk ku,


" Saya berangkat, siapin rumah, kabar duka bisa datang kapan aja, ini rumah Mas Aryo, jadi saya bawa Mas Aryo ke sini!" ucap ku lalu pergi masuk ke dalam kamar. aku mengambil pasport dan beberapa baju salin untuk ku dan suami ku disana, tidak banyak, karna harapan kesembuhan ini sangat tipis.


Sampai ke rumah sakit lagi, sudah semakin banyak orang yang berkumpul, aku sendiri panik, aku pikir telah terjadi sesuatu pada suami ku pada saat aku pulang ke rumah, ternyata mereka dari Jamaah Kajian Jumat Malam yang biasa Mas Aryo hadiri.


Febby sudah tiba,


" Pesawat dah ready Mbak!"


aku menepuk pipinya...


" Thanks Febbbb, loe juara!"


Ok, saat ini di hadapan lebih dari 20 orang, aku mengucapkan kata kata Permohonan maaf atas nama suami ku, aku meminta semua orang untuk menghubungi Mas Didit, apabila ada hutang suami ku yang belum terbayar.


" Siap Cha?" tanya Arga


" siap Arg!"


Aku memberikan kesempatan orang orang untuk melihat suami ku terakhir kali nya saat ini. tangis Mbak Laras begitu keras dan hampir membuat aku down di saat ini.


" Aryo pake ambulance, loe di mobil gw ya Cha!" ucap Mas Didit. Dan saat ini kami sudah di parkiran, Bang Andi memeluk aku.


" Semangat Cha, Jalan dah gw kondisiin clear sampe loe ke Halim!" ucap Bang Andi dan aku menangis saat ini.


" Thanks Bang, Doain gw Ya Bang!"


" Doa terbaik buat loe dan Aryo, keep contact!"


Mas Aryo sudah masuk ke ambulance, aku mengusap kaki nya. " Kita berangkat ya Mas!".


" Cha......" Aku membalikan tubuh ku.


" Papa ikut, sampai papa ketemu dengan dokter di sana!" Ucap Papa Arga yang memang ikut mengoperasi suami ku saat itu.


" Alhamdulillah Pah, Ocha jadi lebih tenang!"


" Papa bawa perawat, kita antisipasi hal hal terburuk selama di pesawat!" ucap Papa


dan aku tersenyum, semua orang begitu peduli pada ku. Dan akhirnya aku sudah di mobil saat ini, bersama Arga dan Puput, dan Mas Didit. Boy dan Sahabatku yang lain di mobil mereka masing masing, dan suara sirene motor dan mobil pengawalan dari Tim nya Bang Andi sudah terdengar, ditambah sirine ambulance membuat perjalanan dari rumah sakit menuju Halim bebas tanpa hambatan.


Febby bener benar sudah menyiapkan pesawat pribadinya, perawat yang mengantarkan Suami ku langsung mendorong cepat tempat tidur suami ku. semua sudah siap dan waktu nya berpamitan dengan Sahabat ku.


" Kabarin gw!" ucap Boy


" Gw tunggu kabar baik!" ucap Mitha


" Jangan lupa loe lagi Hamil, makan yang banyak!" ucap Angel


" Berdoa dan berdoa!" ucap Arga


" Semangat Cha!" Bunda Desi mengusap kepala ku.


Kami berpelukan, dan

__ADS_1


" Besok pagi aku nyusul Mbak, pesawat nya ga muat!" ucap Febby dan aku memeluknya. mengucapkan terimakasih dan meminta maaf lagi dari nya.


Dan Saat ini kami sudah di pesawat, aku, Papa nya Arga, perawat laki laki dan juga Puput. sepanjang perjalanan aku terus memegang tangan suami ku, ini adalah waktu terakhir ku bersama suami ku.


__ADS_2