
Jam 9 pagi, Sahabat ku datang, full team, dan mereka semua memeluk aku. bahkan aku menangis lagi di pelukan Sahabat sahabat ku saat ini.
Mereka menyemangati aku dan Mbak Laras, kami keluarga harus kuat, kuat dan siap dengan berita hasil operasi nya Mas Aryo.
Seorang perawat datang menghampiri kami.
" Tolong siapin donor darah lagi"
" Lagi?" tanya Angel
" Iya, tadi gw donor, Aryo butuh banyak darah!" Jawab Mbak Laras yang memang satu golongan darah dengan Mas Aryo
" Golongan darah nya apa Cha?" tanya Mitha
" B" jawab ku lemah, aku semakin takut saat ini. aku takut sangat takut, tak bisa kubayangkan bagaimana suamiku saat ini.
" Gw B" Jawab Boy Dan Sandri
" ikut saya!" ajak perawat itu. Boy dan Sandri pergi mengikuti perawat, Bunda Desi memeluk bahu ku.
¹
" nyemil ya Cha, loe kan biasa nyemil?" ucap nya pelan pada ku
" gw bawa croissant, loe kan doyan, makan yah!" ucap Mitha
aku hanya diam, dan Menggelengkan kepala ku
" Coklat yah, buat tambah energi loe!" Saran Arif dan aku tetap menggeleng kan kepala ku. aku hanya nyaman menyenderkan kepala ku yang terasa sangat berat dan sakit saat ini.
Tidak lama kemudian, Keluarga aku dan keluarga Mas Aryo datang. mereka memeluk aku, bahkan aku mengulang lagi, menangis lagi dan lagi. apalagi pada saat Ibu mertua ku memeluk ku.
" Maafin anak ibu ya Cha, Aryo sering bikin kamu kecewa, marah dan menangis!"
" Gak Bu...Ocha ga mau denger itu!" jawab ku dengan Isak tangis.
Kami semua berkumpul disini, menunggu kabar terbaru dari ruangan operasi suami ku, Mama terus memeluk aku, dan rasa nya, tanpa kehadiran mereka aku tidak akan pernah sanggup menghadapi situasi seperti ini.
Jam 10 lewat, aku melihat jam tangan ku, harus nya sudah ada kabar dari ruang operasi, bahkan belum ada kabar sama sekali, aku semakin gelisah, perut ku sakit, aku berdiri dan mengusap perut ku
" kenapa Cha?" tanya semua orang
" perut sakit!" Jawab Ku
Rissa langsung berdiri dan menemani aku berjalan, semua mata tertuju pada ku. aku tau, mereka semua iba akan kondisi ku, dan memang lemah, aku tidak bisa menutup rasa sedih dan duka ku.
aku melirik jam tangan ku lagi. sudah jam 11, semua sahabat ku sudah pamit untuk melakukan aktifitas nya, tapi satu hal yang aku paham, mereka memberikan aku waktu untuk lebih intens dengan keluarga ku.
Jam 11.15.
Seorang perawat datang.
" Keluarga Pasien Bapak Bagus Aryo"
dan jantung ku berdetak kencang.
" Ya sust!" jawab kami hampir bersamaan.
" istri nya saja dan perwakilan kalo begitu!" Ucap nya mengingat banyak orang diantara kami saat ini.
Bapak mendekati ku.
" Ayo Cha, bapak temani kamu!" dengan langkah kaki yang berat aku berjalan, memasuki ruang operasi dan dokter sudah menunggu kami saat ini.
" Operasi nya sudah selesai Bu, Pak, kami berhasil mengangkat darah yang tersumbat di kepalanya!"
aku bernafas lega dan mengucapkan Alhamdulillah
" Tapi " ucap dokter
__ADS_1
dan lutut ku terasa tak bertulang saat ini.
" tapi apa Dokt?" tanya Bapak dengan suara nya yang parau.
" Ada satu titik yang kami tidak mampu tembus, kami terpaksa menghentikan operasi, karna kami para dokter belum siap untuk kondisi ini, di tambah kondisi pasien yang terus menurun kami memutuskan untuk melakukan operasi lagi setelah kondisi pasien lebih stabil"
dan bapak menahan bahu ku.
" Bisa saya menemui anak saya Dokt!" tanya bapak
" Bisa pak, tapi Kami akan pindahkan pasien ke ruangan ICU dulu saat ini, dokter akan memantau kondisi pasien 24 jam"
Aku dan bapak diam, lalu dokter pamit dan meninggalkan kami yang masih mematung.
" Cha...!" Mama Arga memanggil nama ku.
" Mah..!" dan Mama Dewi mendekati kami
" Ini, Bapak nya Mas Aryo, Mah!"
" Oh iya iya!"
" Ini Mama nya Arga, Pak! sahabat nya Mas Aryo di Kampus U*!"
aku coba mengenalkan mereka berdua, dan mereka pun berjabatan tangan, Mama merangkul bahu ku, kami berjalan menemui orang orang yang sudah menunggu kabar dari kami. benar saja, begitu kami keluar, semua orang sudah berdiri, tidak sabar dengan kabar yang mereka tunggu.
" Gimana Cha"
" Gimana Pak?"
" Apa kata dokter Mbak?"
Ya semua orang menunggu kabar, kabar yang menggantung, tidak jelas dan menambah rasa was was saja.
" Mas Aryo operasi nya udah selesai!" ucap ku
" Alhamdulillah!" mereka berucap serentak
" Ya Allah" ucap mereka seakan tidak percaya dengan yang baru aku ucap kan.
dan Ibu mertua ku pingsan saat ini, Mbak Laras menjerit, bapak mertua panik, Mamah ku sudah menangis, dan Papa ku sedang memegangi dada nya.
Ibu mertua ku langsung di bawa ku UGD, Papa ku sedang di pandu bernafas oleh Rizal adik ipar ku, dan Rissa sedang memenangkan Mama yang sedang menangis.
Aku di rangkul Mama Dewi, kami berjalan menuju ruangannya.
" Aryo Masih harus di ruang observasi satu jam ini, kamu istirahat dulu di kantor Mama!" ucap Mama sambil terus menuntun langkah kaki ku.
" Mama liat operasi nya Mas Aryo?" tanya ku ketika aku sudah duduk di sofa ruang kerja Mama Dewi
" Ya, Mama ada disitu, Mama cukup dekat berada di dekat Aryo saat operasi tadi!"
" Makasih Mah!"
" apa operasi ini bisa di bilang berhasil Mah?"
" bisa di bilang berhasil, gumpalan darah bisa di angkat, dan itu harus di bilang berhasil!" Jawab Mama dengan memberikan susu kotak susu UHT untuk ku.
" Kenapa harus operasi lagi Mah?"
Mama menarik nafas nya berat. " Minum dulu susu nya!" perintah Mama pada ku, dan aku terpaksa menyedot susu dingin yang sebenarnya aku tidak ingin minum.
" Trauma di kepala Aryo, terlalu lama gak di obatin Cha, harus nya begitu kecelakaan langsung di operasi, jadi darah itu ga beku, dan menggumpal!"
" Jadi sekarang kondisi Mas Aryo?"
" Adik mu dokter, pinta pendapat nya sebagai second opinion, kalian akan lebih leluasa bicara nya!"
" Kemungkinan Mas Aryo kembali seperti dulu mah?"
__ADS_1
Mamah memegang tangan ku.
" prediksi kami tadi di ruang operasi hanya 3-5%" Jawab Mama dan aku menunduk kan kepala ku.
" masih ada 3-5% itu, kita lihat kondisi Aryo sore ini, baru kita bahas langkah selanjutnya!"
" Kita cuma dokter Cha, cuma bisa prediksi, semua nya kembali ke Nya, percaya kekuatan Doa Cha, Yakin itu terus, jangan pernah goyah!" ucap Mama.
Jangan pernah goyah, ya aku sedang goyah saat ini, aku sedang terpuruk, dan aku harus kuatkan iman ku, aku tak ingin berburuk sangka, aku tidak ingin menerka nerka yang menjadi ketentuan Nya, dan aku tidak boleh Berandai-andai, karna kata andai itu meragukan ketentuan Nya. Aku akan belajar ikhlas, menerima hasil operasi ini, dan menunggu perkembangan suami ku pasca operasi pertama nya.
Arga masuk ke ruangan Mamah, dia duduk di samping ku.
" gw dah denger berita Aryo, ayo mau ketemu Aryo gak! dia lagi masuk ICU loh!"
" Mau Arg!" jawab ku
Mama tersenyum, " kasih Aryo semangat Cha, kamu jangan lupa makan!" pesan Mama dan aku tersenyum.
" Urusan di Bogor beres Arg?
" beres, rumah sakit beres, polisi juga beres!" jawab Arga
" Loe belum tidur ya Arg!"
Dia tertawa
" Gw tidur di mobil Cha, Didit yang bawa mobil!"
Aku tersenyum dan memeluk bahu nya, aku rebahkan kepalaku sambil berjalan, andai tidak ada Arga, pasti sulit semua urusan ku ini.
Saat ini kami bergantian melihat kondisinya Mas Aryo, semua orang yang keluar setelah melihat kondisi nya bisa di pastikan sudah meneteskan air mata nya. Aku harus berbagi waktu dengan orang orang yang akan menjenguk nya.
Aku juga melihat kondisi ibu mertua ku, ibu terbaring di Ruang perawatan, karna dokter harus terus memeriksa jantung nya.
" Ibu pengen liat Aryo, Cha!" pinta nya dengan memegang tangan ku.
" Ibu nya harus sehat dulu, nanti Ocha Anter ibu!"
" kapan operasi lagi, Cha?"
" Dokter tunggu perkembangan 6 jam dulu Bu, baru nanti kita ngobrol lagi!" jawab ku
" Aryo tuh dari kecil sering sakit Cha, sering batuk, sering pilek, sampe bosen ibu ke dokter terus!" cerita ibu membuat aku sedikit tertawa.
" Iya Bu, Ocha pasti Balur pake kayu putih, setiap Mas Aryo selesai mandi, takut Mas Aryo sering masuk angin!" aku menceritakan kisahnya
" Yang ikhlas ya Cha rawatin anak ibu!"
dan aku menangis mendengar kata kata itu.
" Ocha ikhlas Bu, Mas Aryo itu suami Ocha!"
dan kami menangis bersama saat ini. ibu mengusap kepala ku.
Selesai melihat kondisi ibu mertuaku, aku kembali ke ruang ICU. hanya satu orang yang bisa menemani suami ku. Dan Saat ini Papa ku yang sedang berada di dalam ruangan ICU menenami suami ku.
" Mama istirahat deh, pulang ke rumah, Ada sopir kantor yang siap anter jemput Mah!"
" kamu aja Cha, kamu belum istirahat!"
" Mama aja lah, bawain Ocha baju salin Mah!"
Dan akhirnya Mama ku setuju, Mama, Papa Rissa adik ku dan suami nya pulang untuk beristirahat di rumah.
" Mbak, aku titip Mas Aryo dulu, Yah!"
" kamu mau kemana Cha?" tanya Mbak Laras.
" Urus administrasi nya Mas Aryo Mbak, Ocha belum sama sekali ngurus ini itu nya!"
__ADS_1
Aku berjalan pelan menuju ke bagian pendaftaran pasien dan kasir di sekitar lobby, untuk mengurus biaya perawatan suami ku. aku gesek kartu ATM ku untuk mengcover biaya yang sudah muncul di billing pasien, aku juga menambahkan deposit agar semua obat dan perawatan di rumah sakit bisa lebih cepat proses nya.