
Saat ini aku baru kembali menghadiri acara kajian Malam di mesjid Sentul, aku sudah ijin pada istriku dan sudah memberikan kabar akan pulang jam 11 malam. setelah melepaskan baju Koko ku, aku naik pelahan ke tempat tidur.
" Ya Allah...ini cobaan atau ujian?" tanya ku sambil tertawa dalam hati, aku satu tempat tidur lagi dengan istri ku. Dia menggunakan baju tidurnya satin nya, kulit mulus nya Memanggil nama ku, apalagi saat ini istriku tidur dengan posisi miring nya, Payuda** nya yang semakin besar karna kehamilan, terlihat jelas oleh mata ku.
" Cha...Cha..." aku tertawa lagi, mungkin tawa ku sedikit kencang saat ini, dia menggerakkan tubuhnya.
" Mas?"
" Iya Cha!"
" Jam berapa yah?"
" Jam 11 lebih 20!" jawab ku, " Kamu mau apa Cha?"
" Haus !"
" Bentar aku ambil!" aku bergerak dan mengambil gelas di samping tempat tidur dan segera memberikan kepada nya.
" Laper ih Mas, makan yuks!" ucap nya setelah meminum satu gelas air putih.
aku tersenyum dan menemani nya turun dari tempat tidur, sambil membantu nya berjalan, aku berpikir.....aku sangat bersyukur istri ku kembali, di tengah kehamilan yang semakin besar, apa jadinya apabila dia tidak di rumah, bagaimana dia mengurus dirinya sendiri di tengah malam saat dia merasa lapar dan haus. pasti rasa bersalah ku semakin besar saja.
Dan mulai saat ini, aku berjanji dalam hati, akan aku layani istri ku seperti dia melayani aku selama ini.
" Kamu mau makan apa Cha?"
" Ada apa yah?" tanya nya balik pada ku, sambil membuka kulkas.
" Ga ada yang menarik ih, jalan yuk Mas, cape ga?"
" Ayo sayang, aku belum cape dan belom ngantuk juga nih!"
akhirnya aku mengeluarkan mobil, membawa istri ku untuk melihat dan memilih makanan apa yang membuat nya selera untuk di santap nya saat ini.
" Sate yuk Mas!"
" Boleh!"
" Ayam apa kambing?" tanya ku
" campur deh, aku ga boleh makan kambing banyak banyak tapi aku pengen icip icip banget!" Jawab Istriku. Banget berarti dia sangat ingin sekali.
aku memesan 10 tusuk sate ayam dan 10 tusuk sate kambing dengan satu tambahan lontong sesuai permintaan istri ku, kami makan di mobil, karna istri ku malas mengganti pakaiannya tadi, dia hanya menambah jaket ku saja untuk menutup baju tidurnya.
Aku perhatikan dia begitu menikmati nya, 10 tusuk sate ayam habis + 2 sate kambing.
" Tolong abisin Mas, sayang tau!"
aku tertawa dan istri ku membulatkan matanya.
" Bersih Mas, emang sekarang udah ga mau sharing makan Ama aku?" tanya nya dengan sedikit emosi
aku tertawa lagi.
" Kambing Cha?"
" Kenapa emang!"
aku menarik nafas ku dan tersenyum
" Iya....iya... aku makan sayang, ga boleh cemberut!" jawab ku dan mengambil piring dari tangan nya.
" Ini hukuman Ya Allah!" ucap ku dalam hati.
" Kenapa sih Mas? kaya ga ikhlas gitu ngelakuin nya!"
" ikhlas kok sayang, nih abis!" jawab ku dan segera ku rapihkan piring itu, aku segera keluar dari mobil dan mengembalikan pada kang sate, sambil berjalan tawa ku masih bisa ku dengar sendiri.
" Ga makan kambing aja gw tadi dah kebelet, apalagi ntar malem setelah makan nih kambing!" ucap ku sendiri.
" Ocha Ocha " aku tertawa
Benar saja, malam ini aku mulai gelisah, celana ku terasa penuh dan sesak, Istriku meminta aku mengusap punggung nya yang terasa pegal.
" Usapin yang bener!" ucap nya ketus
" Jangan punggung ya Cha, perut aja boleh ga?" tawar ku pada nya.
" Punggung yang lagi pegel Mas, padahal nyetir ke hotel Boy doang!" ucap Istriku.
" Besok lagi biar aku anter aja yah, atau sopir kantor aku panggil lagi yah!"
" Aku ga nyaman Ama sopir dari dulu, males kalo orang Laen dengerin omongan kita!"
__ADS_1
" iya iya...ga ada sopir, tapi aku yang anter yah!"
" Ya... punggungnya nya Mas, bukan pinggang!" protes nya lagi.
" Aku sakit perut dulu ya Cha, kebelet nih!" aku bergegas turun, something wrong with nya Junior, aku harus mandi, agar dia tertidur. aku terus berdiri di bawah guyuran air shower, lama dan lebih lama, aku tidak akan melakukan nya sendiri, dan aku tidak ingin memaksakan hasrat ku pada istri ku.
" Kok mandi malem malem, ga bilang aku lagi, aku belom siapin aernya ih!" ucap nya yang sudah duduk di sofa, mungkin dia mendengar suara air yang mengalir cukup kencang
aku tertawa lalu duduk di dekatnya.
" Balur Cha, dah lama ga di balur!"
dan Istriku melakukan nya dengan baik, sentuhan tangannya begitu lembut, dan itu membuat nya terbangun lagi.
" Udah deh Cha!"
" belom semuanya!"
" Ga usah, brabe!"
" Brabe apa nya?"
aku tertawa dan mencium keningnya
" Aku horny, udah yah Cha, ini berat!"
dan dia tertawa.
" Tidur gih Cha, dah makin malem, aku mau sholat aja, biar ga ngelantur!" ucap ku lalu mengusap kepalanya.
" Nanti bangunin aku jam 3 ya Mas!" pinta nya dengan berjalan pelan menuju tempat tidur.
Dalam keadaan kamar yang redup, aku duduk di atas sajadah setelah selesai sholat sunah ku, aku berdoa untuk kesehatan istri dan anak ku.
Jam 3 pagi aku mulai membangunkan istri ku, ku usap pucuk kepalanya yang sedang beristirahat malam ini.
" Cha, jam 3 pagi, jadi mau bangun nya?"
Istri ku membuka matanya pelan.
" Heemmhhh, iya, aku bangun Mas!" Jawab nya.
Ada rasa iba, di tengah lelah nya, istriku masih memaksakan diri nya untuk bangun, dia berusaha untuk benar benar bisa lebih baik, lagi lagi aku harus mengucapkan rasa syukur ku.
Aku pergi ke dapur, membuat kopi dan susu hangat untuk nya, semoga saja bisa membantu lebih bertenaga saat ini.
aku duduk di sofa, membuka Handpone dan mulai mengaji dari aplikasi Al Qur'an yang ada di Handpone, ku pelan kan suara ku, sangat pelan, sehingga hanya aku saja yang bisa mendengar nya, aku tidak ingin menganggu istri ku yang berdoa dalam sholat nya saat ini.
Hampir satu jam, susu hangat pun sudah tidak hangat lagi rupanya. Dan Istriku lebih memilih kopi dari pada susu nya.
" Hari ini aku ke dokter, Mas!"
" Iya sayang, aku ikut yah!"
" Hemmmhh!" jawaban istriku sungguh singkat.
" Ngantuk ga?" tanya ku
" Lumayan, tapi Nanggung deh nunggu subuh dulu!"
Aku meraih bahu nya, " Sini rebahan Cha, aku bangunin pas adzan subuh!" Alhamdulillah dia mau merebahkan kepalanya di pahaku yang ku alasi dengan bantal sofa.
" Aku nih galau tau Mas!"
" kenapa Cha?"
" Aku tuh sayang Ama kamu Mas, tapi aku kok ga bisa lupain soal kamu itu yah!"
aku mengusap perutnya.
" pertama aku minta maaf Cha, aku menyesal dan sangat menyesal, kedua...saran ku, jangan terlalu pikirin soal aku nya, kamu udah cukup stress dengan kesalahan aku, mending kamu pikirin nya, mulai siapin keperluan baby kita, kita belom belanja kebutuhan nya Cha, kamu belom siapin kamarnya!"
dan dia tersenyum
" Besok pulang kontrol kita jalan ya Mas!"
" Ga gratis loh Cha!" aku coba menggoda nya, semoga candaan lama ini masih berlaku.
" Basi ah!"
aku tertawa dan mengelus pipi nya.
" Kamu benci banget ya Ama aku?"
__ADS_1
" Bukan Ama orang nya, Ama kelakuannya, menjijikkan banget!" jawab nya jujur, dan aku terima semua ucapan nya.
" Tapi kok tadi kamu bilang masih sayang aku?"
" Ga tau deh, mungkin aku habit ma kamu, aku cuma 2 kali pacaran, 3 kali kencan dan paling lama, nerhubungan itu ya Ama kamu!"
" Kamu kencan ama siapa Cha, setau aku kamu pacaran Ama Arga doang!"
" Isssshhh merendahkan aku, aku nih dulu banyak yang ngejar ngejar tau Mas, cuma aku nya ogah aja!"
dan aku tertawa.
" Ya ya aku percaya, aku adalah laki laki beruntung yang bisa nikah dengan kamu!"
" Tapi kamu tidak bersyukur!"
Mati lah aku...kata kata yang keluar dari hati yang amat dalam.
" Iya itu kebodohan ku!"
" Kebodohan yang akhirnya bikin aku sangat galau, antara cinta dan benci!"
" Kaya lagu ya Cha!" aku menggodanya lagi
" Iya kali!"
Sudah semakin dekat dengan waktu subuh,
" Aku ke mesjid ya Cha!"
" Heemmhhh!"
aku mencuri kesempatan dengan mencium kening nya.
ROSSA STORIES
Jam 8 pagi, setelah sarapan aku dan Mas Aryo mulai bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, Arga sudah mengingatkan aku jadwal kontrol ku dari tadi subuh.
Seperti biasa, Aku menemui Arga dulu, baru menemui Mama Dewi.
" Yeeeee akhirnya datang juga anak Mama!" ucap Mama sambil memeluk aku.
" bawa bodyguard nya tuh Mah!" ucap Arga
" oh iya...ga di kenalin Ama Mama cha? bodyguard model gini, dapet dari outsourc mana Cha?" ucap Mama dan aku tertawa.
" Mas, ini Mama Dewi, Mama nya aku!" ucap ku sambil merangkul bahu mama
dan mereka pun bersalaman.
" Ocha udah di rumah kan Yo?" tanya Mama
" sudah Bu, Alhamdulillah!"
" Ocha marah nya ngeri ya Yo, horor loh!" ucap Mama dan kami tertawa.
Setelah itu kami berempat masuk ke ruangan praktek dr. Rahma, seperti biasa, tidak ada antrian dan service terbaik selalu aku terima.
" Nunggu 6,7 Minggu ya, Bu Dokter!" ucap Dokter Rahma pada Mama ketika aku sudah berbaring dan memeriksa perutku saat USG.
" Bayi nya udah 2950 gram Cha, makan nya jangan banyak banyak deh!" pesan Mama yang memeriksa print USG ku.
" Kenapa Emang Bu dokter?" tanya Mas Aryo
" Takut ke gedean di dalem, kasian nanti lahiran takut susah, ini anak pertama, Ocha nya belom pengalaman!"
" Puasa loe Cha!" seru Arga sambil tertawa
" Tapi bisa normal kan Dokt?" tanya ku
" Sampai saat ini masih bisa normal, semua masih aman!"
" Rah, suruh anak ku kontrol nya mulai 2 Minggu sekali deh, ngeri aku!" perintah Mama pada Dokter Rahma.
" Iya bener banget itu Mbak, pokok nya 2 Minggu lagi harus kontrol dan kalo ada keluhan, langsung masuk ke UGD!" ucap Dokter Rahma.
" Bayi saya laki laki kan dokter!" Tanya Mas Aryo
" iya laki laki Pak!" Jawab Dokter Rahma dan aku tersenyum, tebakan Mas Aryo waktu itu benar, baby ku berjenis kelamin laki laki.
" Dah mau Belanja loe yah?" tanya Arga
" Iya...ikut yuks!" ajak ku, sambil bangun dari rebahan ku dan di bantu oleh Mas Aryo untuk aku bisa bangun dan duduk kembali.
__ADS_1
" Banyak kerjaan gw!" Jawab Arga.