Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Sergahan Para Bandit


__ADS_3

Tak lama kemudian, puluhan orang asing melompat dari semak – semak dan menghadang Uzan dan kedua kawannya. Mereka berwajah garang dan membawa berbagai macam senjata tajam.


“Bandit!” bisik Uzan.


“Oh,” kata salah seorang bandit yang tubuhnya paling besar diantara yang lainnya, “aku kira kami akan menjarah pengelana biasa.”


“Kita Beruntung, Marko!” kata temannya yang berambut keriting, “Kita mendapati seorang pangeran.”


Marko menyeringai “Kalau kita bisa menghabisi pangeran ini, bayangkan berapa banyak harta yang akan kita dapatkan.”


Uzan, Sara, dan Edgar berhenti dan menghadapi mereka dengan siap siaga. Uzan menghunus pedangnya. Edgar segera menaiki kudanya. Dan Sara langsung mundur beberapa langkah di belakang Uzan.


Marko tersenyum. “Aku bisa membayangkan raja Endan menangis terguling – guling ketika putranya kehilangan nyawa. Ya kan, Norman?”


“Di sampingnya ada gadis Klerik ya?” Norman menyeringai “Hmmm…”


“Selera yang bagus, Norman” Marko terkekeh.


“Aku tahu kau masih lajang, tapi gadis bukan hanya milikmu. Ia adalah milik kita bersama. Ya kan, Dori?” kata Norman menyikut teman di sampingnya. “Maksudku, berapa harga yang akan ditawarkan pasar untuk seorang gadis Klerik jika kita menjualnya? Hahaha!”


“Itu Benar,” sambil menghunus pedangnya, Dori mengangguk, “Kebetulan sekali, kita mendapat keuntungan yang besar haha!


Dengan gesit Edgar langsung naik dan memacu kudanya sembari menerjang ke sekawanan bandit tersebut.


Bandit – bandit yang mulai berpencar. Salah satu bandit yang terlambat menghindar tertancap tombak sampai tombak itu menembus dadanya.


Bandit itu meraung kesakitan sambil menggenggam tombak yang menancap di dadanya. Lalu berapa saat kemudian ia tidak bergerak. Nyawanya telah melayang.


Para bandit lainnya merasa tercengang dan sedikit melangkah mundur setelah menyaksikan kematian temannya dalam satu serangan. Beberapa dari mereka bersikap waspada.


“Satu orang sudah jatuh,” kata Edgar sambil tersenyum puas. Ia menarik tombaknya kembali “Tiga orang yang menggertak tadi,” Sang prajurit menunjuk kepada Marko, Norman, dan Dori dengan tombaknya “Apakah kalian hanya menggertak saja?”


Emosi ketiga pimpinan itu terpancing sehingga mereka langsung mengeluarkan amarah.


“Tidak usah besar mulut!” teriak Marko “Semuanya! serang prajurit tidak tahu diri itu!”


“Ayolah, kuda!” Edgar berbisik kepada Kuda yang ditungganginya sambil menatap sekeliling para Bandit “Kita segera bereskan mereka.”


Edgar berlari cepat menerjang sekeliling ke arah para bandit sambil memutar – mutar tombaknya agar mengenai para bandit yang menyerangnya dengan membabi buta. Beberapa bandit langsung terpental dan tidak bisa bergerak, beberapa terpelanting karena tendangan kuda Edgar, dan beberapa langsung memutuskan untuk melarikan diri.


Uzan bersiap – siap dengan pedangnya. Sara merasa sedikit panik. Namun gadis Klerik itu mengamati jalannya pertarungan. Ia membuka kedua telapak tangannya. Setelah beberapa saat, kedua telapak tangannya memancarkan sinar putih.

__ADS_1


Sara merentangkan tangan kanannya ke arah Edgar sambil mengkonsentrasikan pikirannya kepadanya.


Edgar terus menyerang bandit – bandit yang menyerangnya. Beberapa bandit tewas, namun tidak sedikit yang melarikan diri setelah terkena serangan. Bandit – bandit lainnya bersama – sama menyerang Edgar dengan membabi buta”


Salah satu bandit menusukkan pisau ke lengan pria itu. Tapi Edgar tidak merasakan apa – apa. Seseorang menebaskan kapak di kaki pria itu. Sampai darah mengalir dari kakinya. Namun Edgar terus bergerak seakan tidak terpengaruh apapun. Luka di kakinya lekas sembuh dan menutup kembali. Kuda Edgar pun begitu. Sudah banyak tusukan – tusukan pisau dan kapak – kapak yang menebas kuda tersebut. Namun, kuda Edgar bergerak seolah mengikuti irama gerakan penunggangnya.


“Sial!” kata salah satu bandit tersebut “Pria ini tidak terkalahkan!”


“Tidak!” sahut bandit lainnya “Klerik itu!”


Salah satu bandit menoleh kearah Sara yang dijaga oleh Uzan.


“Ini salahmu, Marko!” kata Norman “Seharusnya kita langsung menyerang pangeran itu dan membawa gadis Klerik itu!”


“Tak kusangka Pangeran itu tidak menyerang sama sekali” kata Dori


Marko terkekeh. “Pasti nyalinya ciut karena tidak bisa menghadapi beberapa orang sekaligus”


“Pasti dia pengecut,” kata Dori. “Ayo Kita bunuh pangeran itu!”


“Ayo!” kata Norman dan Marko secara bersamaan.


Dori, Norman, dan Marko, langsung memandang ke arah Uzan dan Sara. Setelah itu, mereka bertiga langsung berlari ke arah mereka.


Dori menebaskan pedangnya ke arah Uzan. Namun Uzan menangkisnya dan menendang dada Dori sampai ia terpental.


Norman yang langsung melewati Uzan berlari menjangkau Sara sambil menggapaikan tangannya ke arah Sara, Namun ia terjungkal karena Uzan, setelah menjatuhkan Dori, langsung melompat dan menendang punggungnya dengan keras.


Marko menebaskan pedangnya ke arah Uzan namun ia bisa menghindar dan menebas pedang bandit itu dengan keras sehingga pedang bandit itu terlempar dari tangannya. Lalu ia menghantamkan gagang pedangnya ke kening sang bandit sampai ia terlempar.


Setelah itu, Uzan langsung menghampiri Sara dan memutar arah, menghadap ketiga bandit tersebut.


“Kau tidak apa – apa, Sara?”


Gadis Klerik itu mundur sejenak. “Tidak apa – apa, Pangeran.”


Ketiga bandit itu terbangun kembali. Marko berjalan tertatih – tatih untuk mengambil pedangnya.


“Tidak kami Sangka!” kata Norman “Kau bisa meladeni tiga orang sekaligus.”


“Begitulah,” Uzan mengacungkan pedangnya kearah mereka bertiga. “Sebaiknya kalian menyingkir jika kalian tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kalian bertiga.”

__ADS_1


“Kau!” Dori itu bersiap untuk berlari ke arah Uzan. Namun langkahnya tidak berlanjut karena ia langsung terjungkal ketika Edgar menghantamkan kudanya ke punggungnya sampai kepalanya membentur pohon. Ia tewas seketika.”


Edgar dan kudanya memposisikan diri di samping Uzan. Menghadap Norman dan Marko yang tidak berkutik.


Melihat tubuh Dori yang tidak bernyawa, Norman dan Marko langsung terperanjat. Mereka berdua menghadap ke belakang, mendapati kawan – kawan mereka telah tewas dihabisi oleh Edgar.


“Kalah jumlah katamu?” Edgar menggertak, “Coba katakan itu lagi!”


Norman dan Marko memundurkan langkah mereka perlahan, lalu berbalik arah sambil berlari terbirit – birit.


Edgar bersiap memacu kudanya “Jangan lari ka—”


“Edgar, Cukup!”


Mendengar sergahan Uzan, Edgar menghela dan membatalkan niatnya, “Baiklah.” Ia menenangkan kudanya. Lalu langsung turun dan menghampiri Uzan dan Sara.


“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Uzan datar. Sang Pangeran masih memandangi dua bandit yang berlari tunggang langgang dan perlahan lenyap dari pandangan.


“Sergahan bandit memang berbahaya” kata Uzan “Biasanya mereka melaksanakan tugasnya secara berkelompok dalam jumlah tidak sedikit”


“Aku tahu mereka kesusahan. Tapi itu bukanlah alasan untuk menyusahkan orang lain,” kata Edgar. Ia merasa sedikit kesal. “Setidaknya aku bisa menghabisi mereka tanpa terluka sedikitpun.”


“Mungkin kau harus memeriksa keadaanmu lagi, Edgar” kata Sara, telapak tangannya masih bercahaya.


“Oh ya, aku lupa.”  kata Edgar. Ia mencabut pisau yang masih tertancap di lengannya. Setelah ia membuang pisau itu, lukanya  kembali sembuh seperti sedia kala.


Setelah itu, Sara meredupkan cahaya di telapak tangannya. Ia sedikit tertatih dan hampir tersungkur. Namun Uzan menahan tubuhnya.


“Kau tidak apa – apa, Sara?” tanya Uzan.


“Tidak apa – apa pangeran” Sara berusaha untuk berdiri kembali sambil menahan tubuhnya yang melemah “Penyembuhan jarak jauh menguras banyak tenaga.”


Edgar menghampiri Sara “Hei Sara, aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu.”


Sara terengah – engah. Ia tidak menjawab.


“Tidak masalah, Edgar” kata Uzan “Kita kalah jumlah. Tiga belas banding tiga. Lagipula, Sara memerlukan waktu untuk beristirahat sejenak. Mari kita lanjutkan perjalanan.”


“Oh, iya” Edgar menggaruk kepalanya “Ketika aku menghajar bandit - bandit tadi, aku melihat ada pemukiman tidak jauh dari sini. Ayo kita kesana!”


“Baiklah” kata Uzan.

__ADS_1


Setelah itu, Sang Pangeran dan kedua temannya melanjutkan perjalanan mereka.


__ADS_2