
Uzan dan kawan – kawannya sudah selesai beristirahat. Arika memasukkan seluruh barang – barang yang sudah dipakai melalui topinya. Setelah memakai topinya kembali, gadis penyihir itu berujar, “Mari kita melanjutkan perjalanan!”
Uzan mengedarkan pandangan ke seluruh anggota kelompoknya. Mereka terlihat senang dan siap sedia untuk melakukan perjalanan. “Mari!”
Dubal berkata, “Setelah ini kita akan berjalan kaki dan berharap bahwa ada seseorang atau sesuatu yang bisa kita manfaatkan untuk melanjutkan perjalanan.”
“Sangat disayangkan bahwa sihir angin Arika tidak bisa digunakan agar kita bisa melayang saja,” kata Edgar.
“Kau tidak bisa begitu, Edgar,” kata Arika dengan nada kesal. “Sihir itu membutuhkan tenaga besar dan akan banyak mengambil energi penggunanya. Kalaupun bisa, aku tidak mungkin bisa bertahan lama karena masih terpengaruh oleh Green Lance Wind Burst.”
Dengan santai, Edgar berujar, “Aku cuma ingin tahu.”
“Walaupun kita sudah makan, kau masih terlihat lelah, Edgar,” kata Dubal.
“Itu benar,” kata Edgar, “Sara, apa kau ingin menaiki Trez?”
Sara menggeleng. “Mungkin aku akan jalan saja bersama lainnya.”
“Terima kasih, Sara,” Edgar tersenyum. “Kau memang perhatian.”
“Sama – sama,” kata Sara. “Menurutku, kau lebih membutuhkan kuda itu karena tenagamulah yang akan lebih cepat berkurang, Edgar.”
Edgar menaiki Trez. “Sebenarnya, aku ingin juga menuntun Trez dan berjalan kaki bersama kalian, tapi apa boleh buat. Karena walaupun sudah lapar, aku tidak tahu bahwa tenagaku juga terasa berkurang.”
“Itu tidak masalah,” kata Uzan. “Ayo!”
Keempat rekan sang pangeran menyetujui. Kemudian, mereka segera berjalan bersama.
Sang pangeran dan kawan - kawannya hanya berjalan kaki sebentar, namun tiba – tiba di depan mereka terdapat akar – akar besar yang menjulur dan menggeliat bagaikan deburan ombak di atas tanah.
Uzan dan keempat rekannya menjadi semakin waspada dan bersiap siaga.
Setelah beberapa saat, akar – akar itu menjadi Unliv, manusia pohon. Ia berdiri di depan mereka sambil mengedarkan pandangan ke arah satu persatu dari anggota kelompok sang pangeran.
“Kalian sudah akan melanjutkan perjalanan, ya?” kata Unliv.
__ADS_1
Uzan menatap Unliv sambil menyiapkan pedangnya. “Apa yang kau inginkan?”
“Tenanglah!” Unliv menggeleng sambil berdecak gemas. “Aku tidak ingin bertarung. Aku hanya ingin bertanya kepada kalian tentang tujuan kalian.”
“Tujuan kami bukanlah urusanmu,” seru Edgar. “Di samping itu, pasti kau ingin menghambat kami.”
Unliv berjalan ke sana kemari sembari menatap Uzan dan keempat kawannya. “Para manusia pohon sudah mengetahui bahwa kalian berhasil mengalahkan Sentafal. Kuakui bahwa Sentafal sangatlah kuat. Kalian berhasil mengalahkannya. Dan—”
Dubal menghentakkan kapaknya. “Kami ingin mengumpulkan material magis untuk meredakan gempa ini.”
Edgar tertegun. “Dubal! Apa yang—”
“Aku sudah muak berbasa – basi!” Dubal menggenggam kapaknya erat – erat. “Ayo kita langsung bertarung. Aku sudah kenyang dan siap menebas pohon ini.”
“Dubal benar,” Uzan menyetujui. Ia mengangkat pedangnya. “Setelah ini, kau pasti hanya akan menyebarkan informasi ini kepada Sentafal lain, memburu kami, dan mencelakakan kami.”
Unliv menatap Dubal dan Uzan tajam. Ia merasa panik dan mundur satu langkah. “Aku tidak sangka bahwa sang pangeran bisa terpicu kemarahannya, tapi aku paham bahwa karena pertarungan kalian dengan kami dan Sentafal, kalian merasa lelah fisik dan mental.”
Edgar terheran. Awalnya, ia hanya menggertak Unliv agar ia tidak menghalangi perjalanan dan Uzan pasti akan menerima penjelasan makhluk itu dengan tenang, namun Uzan dan Dubal memiliki pikiran sama dengannya dan siap sedia untuk bertarung.
Edgar memandang Uzan dan Dubal dari atas Trez si kuda. Dubal terlihat geram dan, walaupun sedang terpicu emosi, Edgar mengakui bahwa perangai sang pangeran tetap terlihat tenang dan waspada.
Edgar segera berkata kepada Unliv, “Kau sudah mendapatkan maklumat tentang tujuan kami.”
Unliv merentangkan kedua tangan akarnya. “Jika kalian bertujuan untuk menghentikan gempa ini, itu adalah tugas yang sangat mulia. Aku ingin menghadiahi kalian sebuah kereta kencana yang terbuat dari kayu jati. Dengan ini, kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian.”
Unliv menghujamkan kedua tangan akarnya ke tanah. Setelah beberapa saat, sebuah kereta kencana kayu timbul dari tanah di depan manusia pohon itu. Uzan dan kawan – kawannya mundur beberapa langkah.
Sang pangeran dan para rekannya memperhatikan kereta kencana tersebut dengan lebih jelas. Kereta tersebut mirip dengan kereta kencana sebelumnya yang sudah hancur.
Unliv mencabut kedua tangan akarnya kembali. “Ini adalah kereta kencana untuk mempercepat perjalanan kalian.”
“Unliv,” akhirnya Arika membuka suara. “Apakah kereta kencana itu punya kekuatan magis?”
Unliv menggeleng. “Ini hanyalah kereta kayu biasa. Di dalamnya bisa menampung paling banyak enam orang. Kalian bisa lihat bahwa kereta ini mirip seperti kereta kalian sebelumnya.
__ADS_1
Sara berujar, “Terima kasih um...Tuan Unliv.”
“Satu lagi,” kata Unliv. “Di sepanjang perjalanan tidak akan banyak hamparan pepohonan yang akan menghalangi kalian. Di samping itu—”
“Jangan bilang bahwa kau juga ingin ikut dengan kami,” kata Uzan dengan tenang.
“Aku tidak akan ikut dengan kalian,” Unliv menghela. “Jika kalian berjalan terus, kalian akan menemukan sebuah pemukiman bernama Desa Sakanan. Di sana, kalian bisa memperpanjang masa istirahat kalian dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan kalian selanjutnya.”
“Baiklah,” kata Uzan. “Apa itu saja yang ingin kau sampaikan?”
“Kami harap kalian menerima permintaan maaf kami karena mengira bahwa kalian hanya perambah,” kata Unliv. “Kami juga sangat berharap bahwa kalian akan menghentikan gempa yang terjadi di Pulau Kastala. Terima kasih atas perhatiannya.”
Setelah itu, Unliv menenggelamkan diri ke tanah dan lenyap dari pandangan.
Edgar turun dari Trez, lalu segera menghampiri Uzan. “Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kau katakan pada makhluk pohon itu, Uzan.”
Uzan menghela. Setelah menenangkan diri, ia berkata, “Aku hanya ingin meningkatkan kewaspadaan karena mungkin mereka akan menyerang kita setelah kita sudah selesai dengan Sentafal.”
Sara menghampiri memegang lengan kedua sang pangeran. “Seharusnya kau harus sabar, Uzan. Mungkin dia sebenarnya ingin menawarkan bantuan lebih dari yang dia berikan.”
Uzan berkata sambil termangu, “Aku khawatir bahwa dia akan menganggap remeh kita. Apalagi aku juga tidak tega dengan keadaan kalian yang lelah, terluka, dan kehabisan tenaga karena Sentafal.”
Sara menghela. “Kau tidak perlu khawatir, pangeran.”
“Sesekali curiga itu perlu, Nona Sara,”Dubal mengangkat kapaaknya, “Apalagi oleh makhluk yang sudah menghancurkan kereta kencana kita. Di samping itu, aku tidak bisa berprasangka bahwa Pangeran Uzan berperilaku acuh tak acuh dan tidak bersyukur karena sudah dapat bantuan. Aku memahami bahwa ini juga demi keselamatan kita.”
“Yah...” Edgar berdecak, “paling tidak kita diberi yang baru.”
“Baiklah,” kata Uzan. “Aku akan mengendarai Trez. Kalian semua bisa beristirahat di kereta kencana.”
Keempat kawan sang pangeran menyetujui. Tali kuda Trez dipasang di kereta kencana tersebut. Arika mengeluarkan dua kain hitam dari topi penyihirnya untuk menutupi pintu kereta kencana tersebut walaupun sudah berpintu kayu.
Setelah persiapan selesai, sang pangeran mengendarai Trez. Selanjutnya, ia segera memacu kuda tersebut, membawa keempat rekannya yang berada di dalam kereta kencana.
Memang benar kata Unliv. Hamparan pepohonan yang ada di sekitarnya ketika ia menyusuri hutan Roderi tidak sebanyak yang sebelumnya.
__ADS_1
Uzan merasa sedikit menyesal karena lebih dahulu menghakimi Unliv atas perbuatannya. Akan tetapi, ia segera menghapus penyesalan itu karena itu adalah bentuk kewaspadaan dan untuk melindungi teman – temannya.
Sang pangeran terus memacu kudanya. Pemberhentian selanjutnya adalah Desa Sakanan. Sedikitnya rintangan yang dilalui ketika menyusuri jalanan membuatnya yakin bahwa ia akan berhasil menuntaskan tugas yang diberikan oleh istana.