Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pemberitahuan Minor


__ADS_3

Uzan melesat cepat menuju arah kelelawar merah. Selain itu, ia juga bersiap – siap untuk menghantam kelelawar raksasa yang ada di dekatnya.


Ketika Uzan mencapai kelelawar merah tersebut, ternyata dugaannya benar. Kelelawar raksasa tersebut mengabaikannya.


Uzan tidak menyia - nyiakan kesempatan yang diberikan oleh kelelawar merah tersebut. Sang pangeran menebaskan kelelawar merah yang sedang terbang tersebut dengan pedangnya. Alhasil, kelelawar merah tersebut langsung sirna menjadi butiran cahaya merah.


Setelah itu, semua kelelawar hitam yang ada di sekitar Uzan dan Arika lenyap seketika.


Kelelawar Raksasa tersebut masih berdiri di sana. Ia tampak sedang menatap Arika yang baru saja memudarkan sihir kubah anginnya.


Setelah itu, Kelelawar Raksasa tersebut terbang ke arah Arika dan berengger di atas dinding beberapa langkah darinya. Makhluk itu hanya menatap Arika lekat – lekat. Mengetahui itu, Arika bersiap – siap dengan sihirnya.


Uzan segera berjalan cepat ke arah Arika dan segera berdiri di samping gadis penyihir itu, lalu menatap balik kelelawar raksasa tersebut.


Kelelawar besar tersebut berkata, “Aku tidak menyangka bahwa kau punya kekuatan unik seperti itu, penyihir.”


“Ini terlalu mudah,” Uzan menghela. “Seharusnya kau bisa menghantamku ketika aku mencapai kelelawar merah yang sedang melayang di sampingmu.”


“Sebenarnya aku bisa saja ikut andil lebih jauh dalam penyerangan yang kami lakukan baru saja,” kata kelelawar tersebut.


“Tapi mengapa kau tidak melanjutkan serangan, Tuan Kelelawar,” tanya Arika. Ia juga tidak yakin dengan panggilan ‘Tuan Kelelawar’ yang dilontarkannya.


“Setelah kau melakukan sihir, aku langsung takjub,” kata Kelelawar tersebut. “Tidak salah jika kau yang dipilih untuk mendampingi sang pangeran untuk memasuki gua ini.”


Arika tertegun. “Apa maksudmu?”


“Selain aku tidak ingin terganggu oleh kelelawar lain ketika melakukan serangan kalian, aku juga bertugas untuk mengamati tentang gerak – gerik kalian di gua ini.”


“Kami tidak mengerti,” kata Uzan.


“Jangan kira bahwa ketika kalian memutuskan untuk masuk ke dalam gua ini untuk mendapatkan batu Akais, maka keuntungannya hanyalah bagi kalian.”

__ADS_1


“Jangan berputar – putar,” kata Uzan. “Jelaskan!”


“Kami juga akan mendapatkan manfaat dari ini karena setelah ratusan tahun, akhirnya kami bisa membuat seorang penyihir elemen angin untuk masuk ke dalam gua kami.”


“Itu tidak masuk akal,” sang pangeran menghela. “Kau sudah berkata bahwa ratusan tahun lalu, manusia yang mendapatkan batu Akais juga merupakan seorang penyihir, bukan?”


“Itu memang benar,” kata kelelawar tersebut. “Ia juga merupakan penyihir elemen angin. Apakah kau mau tahu bagaimana nasibnya setelah ia mendapatkan Batu Akais?”


Arika berkata, “Beritahu kami.”


“Ia kehilangan sihirnya untuk selama – lamanya.”


“Tunggu!” kata Arika dengan nada khawatir. “Apakah kau memilihku karena aku adalah penyihir angin?”


“Tidak,” kata Kelelawar tersebut. “Kami memilihmu karena ada untungnya bagi kami, bahkan Gua Akais, ketika melakukan penyambutan di luar sana, juga memperhatikanmu. Walaupun belum mengetahui tentang sihir jenis apa yang kau gunakan. Setelah kau dan sang pangeran melakukan kerja sama ketika menghadapi kelelawar tersebut, maka kami memutuskan untuk tidak terlalu agresif dalam menyerang karena kami tahu bahwa kami harus meluangkan nyawamu.”


Arika tertegun. Uzan menghunuskan pedangnya ke arah kelelawar tersebut. “Apa yang akan kau lakukan pada Arika?”


“Kau harus tenang, pangeran.” Kelelawar itu terkekeh. “Dan harus bersukur karena ujian pertama ini tidak sesulit yang sebelumnya kalian bayangkan. Hal ini karena keberadaan gadis penyihir angin tersebut.


Arika menoleh ke arah Uzan, lalu menatap kelelawar itu kembali. “Berarti aku harus berusaha sekuat mungkin untuk melindungi pangeran Uzan dengan apapun caranya.”


“Kau memang diluangkan dalam ujian ini, penyihir,” kata Kelelawar tersebut. “Tapi kami menjelaskan maksud kami supaya kau siaga, atau, memicu rasa khawatir bagimu. Di samping itu, kata ‘meringankan’ yang aku maksudkan di sini adalah menjaga supaya kau tetap hidup, walaupun itu berarti ketika anggota tubuhmu terpisah –pisah.”


“Tutup mulutmu!” Uzan berseru. Setelah itu, sang pangeran berlari menerjang sang kelelawar dan menebas kelelawar tersebut dengan pedangnya.


Kelelawar tersebut tampak sengaja tidak menghindar. Karena tebasan pedang sang pangeran, kelelawar tersebut terpecah menjadi ratusan cahaya merah dan memudar.


Setelah melenyapkan kelelawr tersebut, Uzan memasukkan kembali pedangnya ke sarung pedangnya.


Beberapa saat kemudian, suara terdengar dari seluruh ruangan gua. “Terima kasih atas waktunya dalam ujian pertama kali ini, Pangeran Uzan dan Arika,” Suara tawa terdengar nyaring di seluruh gua tersebut. “Aku ucapkan selamat. Maksudku, selamat menunggu tanda ujian kedua, dan selamat menunggu kebinasaan kalian.”

__ADS_1


Uzan menghadap Arika. Gadis penyihir itu tampak khawatir. Tidak heran, setelah melihat Sara yang dilukai dan baru saja dipakai untuk objek pengorbanan, tentu saja Arika juga memikirkan tentang bagaimana kalau dirinya dilukai secara keji dan akhirnya dijadikan objek pengorbanan untuk membangkitkan musuh yang lebih besar.


Terlebih, sebagai seorang penyihir, Arika juga akan khawatir jika setelah mendapatkan batu Akais, sihirnya akan dihilangkan tanpa sisa.


Uzan berjalan menghampiri Arika memudarkan keberdaan tongkatnya. Setelah itu, gadis penyihir tersebut menghela sambil memegang topi penyihirnya.


“Pangeran Uzan,” kata Arika.


“Ada apa, Arika.”


“Aku mungkin akan merasa lega karena Kelelawar raksasan itu sudah menceritakan kepada kita tentang tujuannya,” kata gadis penyihir itu. “Bisa jadi bahwa ia melakukan hal buruk bagi gua ini karena ia sudah membongkar rahasia tentang tujuan yang akan ia capai dengan memanggil kita masuk ke dalam gua ini.”


“Ia belum membongkar semua tentang tujuannya, Arika,” kata Uzan. “Bahkan, ia belum


“Aku takut pangeran, bagaimana jika sebaiknya kita keluar saja dari sini?” kata Arika dengan nada gugup. “Seperti yang kelelawar tersebut tuturkan, kita hanya harus berkata ‘kembali’ secara bersamaan, kan? Mari kita praktekkan!”


Uzan melihat raut muka Arika yang tampak khawatir. Sepertinya Kelelawar tersebut benar. Ia mungkin sudah membongkar tujuan besarnya tentang mengapa ia memilih Arika untuk masuk ke gua ini bersamanya.


Sebelumnya, ia mungkin berfikir bahwa ia dan Arika akan lebih siap siaga dalam menghadapi hal ini. Tapi ternyata, pengaruhnya sudah mulai tampak. Hal itu menimbulkan ekspektasi buruk yang menimbulkan kekhawatiran bagi Arika.


“Arika,” kata Uzan. “kau harus merujuk kebali tentang mengapa kita memutuskan untuk mengumpulkan Material Magis ini.”


“Tapi ada beberapa asumsi buruk dan kecurigaan tentang tujuan pengumpulan Material Magis itu, kan?”


Uzan memperhatikan Arika. Gadis itu tidak yakin. “Kau harus menenangkan diri, Arika. Kita akan sebisa mungkin meggagalkan rencana Gua Akais untuk mengambil sihirmu dan mengeksploitasi dirimu seperti yang Fured lakukan kepada Sara.


Arika tertegun. Seakan – akan sang pangeran bisa membaca apa yang dipikirkannya. Tapi ia juga mengerti bahwa setelah melalui Fured, Pangeran Uzan atau teman – teman lainnya akan mempunyai asumsi besar bahwa ia akan merujuk pada peristiwa pembangkitan Ruhin dengan cara mempersembahkan tumbal untuk dikorbankan.


Arika menatap tanah, merenung sejenak sambil bergumam. “Baiklah pangeran, kita akan menunggu dan berusaha menggagalkan apapun yang diinginkan gua akais dari diriku.


“Kita akan melakukannya bersama,” kata Uzan. Sang pangeran merasa lega karena gadis penyihir itu menenangkan dirinya dengan cepat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Tanah yang dipijak Uzan dan Arika merekah dan membentuk sebuah lubang hitam berukuran besar. Kejadian itu begitu cepat sehingga bahkan Arika pun tidak bisa merespon dengan sihir anginnya.


Uzan dan Arika langsung berteriak ketika akhirnya mereka berdua langsung jatuh ke ke dalam lubang tersebut.


__ADS_2