Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Penawaran Fatta


__ADS_3

Uzan dan para rekannya sampai pada pintu gerbang utama Desa Sakanan. Di sana, Fatta yang sedang menjelma menjadi Imnas sang kepala desa juga sudah menunggu.


Ketika sudah mendekati Fatta. Arika membatalkan sihirnya sehingga ia dan lainnya kembali berpijak di atas tanah.


“Sial!” Edgar berseru. “Di mana Sara?”


“Aku sudah tahu bahwa kalian akhirnya akan ke sini,” Imnas bersedekap. “Gadis Klerik temanmu itu sedang ada bersama Fured di Pabrik Emas yang sudah hancur tersebut. 


“Sial,” kata Edgar. “Sia – sia saja kita di sini. Kita akan—


“Apakah kau tahu di mana lokasi Pabrik emas itu, Edgar?” tanya Uzan.


“Itu benar,” kata Dubal. “Hanya aku dan Pangeran Uzan saja yang sudah tahu mengenai lokasi pabrik itu.”


Edgar menoleh ke Uzan dan Dubal. “Sambil berjalan ke sana,  kalian berdua bisa mengarahkan—”


“Walaupun begitu,” ujar Fatta, “aku juga tidak akan membiarkan kalian untuk kabur begitu saja.” 


Beberapa saat kemudian, di belakang Uzan dan lainnya, ratusan Gulda merangkak keluar dari tanah, menghalangi Uzan dan lainnya untuk berbalik arah, apa lagi menuju ke Pabrik Emas.


-


-


-


Uzan dan para rekannya melihat ke belakang dan menyaksikan ratusan Gulda. Masing – masing memiliki dua tanduk, ukuran mereka dua kali lebih kecil dari manusia, mereka mereka semua hanya mengenakan celana pendek hitam, tapi mereka semua membawa senjata tajam.


 


Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh Gulda, Uzan menoleh ke arah Fatta  yang sedang menjelma menjadi Tuan Imnas. 


“Apa maumu?” tanya sang pangeran. 


Fatta bersedekap. “Aku tidak ingin melakukan apa – apa. Faktanya, jika aku ingin bertarung, kita akan bertarung, namun mungkin hasilnya sudah akan diketahui.”


“Kita sudah bersiap – siap,” Edgar mengacungkan ujung tongkatnya ke Fatta. “Jika kau ingin bertarung maka kita—”


“Jangan, Edgar!” sergah Uzan. “Kita harus menghindari pertarungan yang tidak perlu.”


“Apalagi, Uzan?” geram Edgar. “Apakah kau masih beranggapan bahwa ia telah melukai Sara tadi?”


“Kau harus sabar sebentar, Edgar,” kata Dubal. “Sepertinya Fatta ingin berbicara mengenai sesuatu.”


“Selain itu,” kata Arika, “jika kita memaksakan untuk bertarung sekarang dengan mereka, kita mungkin tidak akan punya tenaga untuk menyelamatkan Sara jikalau harus bertarung ketika bertemu dengan Tuan Fured.” 


“Baiklah,” Edgar menurunkan tombaknya dengan geram. “Kita akan lakukan apa mau sialan ini.”

__ADS_1


“Bijak sekali,” Fatta menghela, lalu ia berujar, “Pertama, aku akan menjelaskan hubunganku dengan Fured kepada kalian.” 


Uzan dan para rekannya mendengarkan Fatta di depan mereka dengan siap siaga. Para Gulda di belakang mereka sedang bersiap siaga untuk menyerang, namun mereka hanya berdiri seolah menuruti apa yang sedang akan dibicarakan oleh Fatta yang sedang menjelma menjadi Imnas. 


“Sebenarnya, aku tidak ingin bekerja sama dengan Galar sama sekali,” kata Fatta. “Aku bekerja sama dengan Fured dan membiarkan petugas itu membangun ulang pabrik emas Desa Sakanan dengan bantuan sihir klerik dari gadis kawan kalian. Hal ini guna melestarikan pabrik tersebut walaupun, seperti yang dua diantara kalian ketahui, pabrik tersebut sudah hancur.  


“Sejujurnya, aku juga sudah tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan Fured dan apakah ia akan membebaskan Klerik itu ataupun langsung mencabut nyawanya. Itu bukan masalahku. Sekarang aku hanya ingin menawarkan tentang permohonan bantuan kepada kalian untuk menghentikan Galar.


“Jelaskan!” kata Uzan.


Fatta memasukkan kedua tangannya ke saku. “Perjanjian ini bukanlah semacam perjanjian yang harus kalian lakukan sekarang. Ini adalah penawaran bebas. Artinya, kalau kalian bisa menolak atau menyetujuinya kapan saja.” Fatta berjalan ke samping sambil mengedarkan pandangan ke arah Uzan dan para rekannya yang sedang siap siaga. Di belakang mereka, para Gulda juga sedang bersiap siaga untuk menyerang. “Kalaupun kalian menyatakan penolakan kalian terhadap tawaran ini, seiring berjalannya waktu, kemungkinan pikiran kalian bisa berubah.”


Dubal menggeram. “Kau bisa langsung ke inti pembicaraan, Fatta.”


“Baiklah,” kata Fatta. “Begini, aku ingin membunuh Galar dan mencegahnya menjadi makhluk magis. Jika salah satu dari kalian bisa menunaikan permintaanku ini, aku akan bergabung pada jiwa salah satu dari kalian. Bukankah itu menarik?”


Uzan berujar, “Maksudmu?”


“Satu jasad, dua jiwa. Separuh – separuh.”


“Siapa pula yang sudi berbagi jasad dengan Makhluk Magis!” seru Edgar.


Fatta menggeleng. “Kalian harus tahu bahwa hal ini adalah pengorbanan yang akan aku lakukan demi menyelamatkan bangsaku di Bukit Giraf dari kehancuran yang kucurigai disebabkan oleh Galar. Selain itu, aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan bangsaku.”


“Itu mungkin menarik,” Dubal menatap Fatta dengan rasa penasaran. “Apa untungnya jika kami melaksanakan tawaranmu?”


Dubal menggeleng. “Aku hanya ingin menanyakan tentang untung ruginya, Arika. Selain itu, jika hanya separuh saja, aku tidak akan mau karena seperti yang kutahu, aku sudah berkali-kali ke bukit Giraf dan belum pernah sekalipun menerima tawaran seperti ini.”


“Menarik sekali,” Fatta tersenyum. “Kau akan mendapatkan separuh kekuatan makhluk magis yang kumiliki. Di samping itu, aku tidak punya hak untuk memaksamu dan mengambil alih kesadaranmu secara sengaja. Selain itu, Tuan Dubal, kau bilang bahwa kau sudah berkali – kali ke ke bukit Giraf untuk bertemu dengan Rota Sang Silvar. Bukankah begitu?”


Dubal megnangguk. “Itu benar.”


Fatta melanjutkan. “Jika salah satu dari kalian bisa membunuh Galar, kau bisa menggunakan berbagai kekuatan yang di miliki Girafan jenis Gulda yang belum bisa kau saksikan sebelumnya seperti perubahanku menjadi Tuan Imnas yang sedang aku lakukan ini.” 


“Tapi kau mengorbankan Tuan Imnas asli,” seru Edgar.


“Aku merasa terpaksa karena janji Galar, dasar pandir!” rutuk Fatta, ia menghela sejenak. “Pada dasarnya, ada beberapa lagi kekuatanku yang masih belum kalian ketahui. Apa kalian tertarik?”


Keheningan beredar di antara mereka. 


Uzan berujar, “Sebenarnya kami tidak ingin menunjukkan ketertarikan kami terhadap tawaranmu, Fatta. Maksudnya, kami juga sedang menjalani misi karena kami diutus dari kerajaan kami.”


“Aku mengerti tentang itu,” kata Fatta. “Ini hanya tawaran bebas. Aku bisa memaklumi jika kalian punya permasalahan sendiri. Di samping itu, jika separuh dari jiwaku bergabung dengan tubuh manusia kalian, kalian bisa menggunakan untuk hal yang bermanfaat. Bukankah begitu?”


“Aku tidak menyangka bahwa kau juga ingin memudahkan kami, Fatta.” Kata Dubal.


“Aku tidak berjanji bahwa hasilnya akan memudahkan kalian. Aku hanya ingin membunuh Galar. Itu saja.” Fatta mendecih.  “Janji ini akan kuberikan kepada Pangeran Uzan, Edgar, dan Dubal. Kurasa penyihir dan Klerik tidak begitu memerlukan kekuatan ini.”

__ADS_1


Arika hanya menatap Fatta dengan tatapan datar sambil memegang topi penyihirnya.


“Baiklah,” kata Uzan. “Kami akan mempertimbangkannya.”


“Apakah kau sudah selesai dengan ceramahmu itu?” kata Edgar.


“Kalian sudah sabar untuk menyelamatkan kawan kalian dari Fured, ya?” kata Fatta. “Baiklah, untuk yang terakhir kali, kau akan kuberikan…” 


Fatta mengambil gelang Azure dari sakunya, lalu melemparkannya ke Uzan. Sang pangeran menangkapnya.   


“Aku mendapatkannya ketika memeriksa kereta kuda kalian. Sekarang kuda kalian berikut kereta kencananya sedang ada bersama Fured. Aku menghapus jejaknya ketika memisahkan diri dan akhirnya menggiring kalian ke sini.”


“Sekarang, tarik semua kawan – kawanmu itu!” kata Edgar. 


Fatta menjentikkan jemarinya dua kali. Setelah itu, para Gulda yang mengelilingi Uzan dan para rekannya menghilang satu persatu. 


“Fatta, Jika kau sedang menjadi Tuan Imnas, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Uzan.


“Setelah kalian meninggalkan desa ini, aku akan menyerahkan jabatanku kepada calon kepala desa selanjutnya,” kata Fatta. “Itupun jika kalian berhasil mengurus Fured, namun urusan Fured yang akan kalian tangani setelah ini bukanlah permasalahanku, bahkan jika kalian semua mati karena berhadapan dengannya.” 


Setelah itu, Fatta merentangkan tangan kanannya ke depan, lalu menembakkan cahaya emas kepada Uzan, Dubal, dan Edgar. 


Ketiga pria itu tersentak. Kuku jari telunjuk mereka bertiga bercahanya keemasan. Beberapa saat kemudian, cahaya tersebut meredup.


“Aku akan kembali ke Bukit Giraf untuk menunggu tangan terakhir yang mencabut nyawa prajurit sialan itu. Tidak ada manusia selain kalian bertiga yang mendapatkan perlakuan khusus dan tawaran khusus tentang ini. Jadi, sesuaikan diri kalian. 


Arika berujar, “Apakah kau tidak memperdulikan petugasmu sendiri, Fatta?”


“Sudah berkali – kali kubilang, penyihir tuli,” Fatta menggeleng. “Aku tidak mempunyai hubungan apa – apa dengan Fured. Aku bahkan tidak perduli jika ia berhasil membangkitkan pabrik emas tersebut. Setelah ini kalian juga akan menemui Fured dan akan memperkirakan adanya pertarungan, bukankah begitu? Jika memang terjadi pertarungan dan kalian berempat mati, itu juga bukanlah urusanku. Ini karena ketika salah satu dari tiga dari kalian…” Fatta menunjuk Uzan, Edgar, dan Dubal, “…mati, aku akan bisa merasakannya dan mungkin mencari pengganti lain.”  


“Beraninya kau berbuat semena – mena!” seru Edgar.


“Edgar, sudahlah!” kata Uzan. “Setelah ini, kita harus mengutamakan penyelamatan Sara.”


“Itu benar,” kata Dubal.


“Selamat tinggal!” kata Fatta. Setelah itu, Fatta yang menjelma menjadi Imnas menjentikkan jarinya dua kali, lalu berubah menjadi ratusan debu cahaya emas dan menghilang.


Uzan menoleh ke arah Arika yang sedang termangu. “Arika, mari kita langsung ke arah pabrik tersebut.”


Arika mengangguk. “Apa kau bisa menunjukkan arahnya, Pangeran Uzan?”


“Aku bisa menunjukkan arahnya, Arika,” kata Uzan. 


“Baiklah,” gadis penyihir itu menyalakan cahaya putih di telapak tangannya, lalu ia dan para rekannya dikelilingi angin berkerlap – kerlip kehijauan.


Setelah itu, Uzan dan para rekannya berbalik dan segera melayang rendah menuju Pabrik Emas untuk menyelamatkan Sara.

__ADS_1


__ADS_2