
Ketika mereka berdua bersiap untuk menyerang, Dubal berujar, “pangeran, tunggu!”
Uzan menoleh. “Ada apa?”
Taktik kita adalah memotong kedua lengan Sentafal, kan?”
“Itu benar.”
“Prajurit temanmu itu sepertinya tidak menurut.”
“Tidak, Dubal. Dia hanyalah pengalih perhatian. Yang kita butuhkan adalah bagaimana kita menebas kedua langannya dengan cepat. Di samping itu, kau bisa memotong lengannya sekali tebas dengan kapakmu. Dengan pedangku, aku tidak yakin harus kutebaskan beberapa kali.”
“Kau bilang, kita harus menghabiskan tenaganya dulu, kan?”
“Itu benar,” Uzan mengangguk.
Uzan dan Dubal berlari bersama untuk dan menyerang Sentafal.
Setelah meninju Edgar sampai terpental, Sentafal menoleh dan mengetahui kedatangan Uzan dan Dubal. Uzan melompat tinggi dan mencoba menusukkan pedangnya ke Sentafal. Dubal mengangkat kapaknya dan bersiap untuk menebas tubuh banteng Sentafal.
Setelah Sentafal menyadari dua serangan tersebut, ia berlari mundur dan berhasil menghindari serangan mereka berdua. Kemudian, ia membalik tubuhnya dan menendang Uzan dengan kedua kaki belakangnya sampai sang pangeran terpental. Setelah itu, ia menghadap Dubal dan dengan cepat mengarahkan ujung tombaknya ke prajurit itu. Karena terlambat menghindar, lengan Dubal tertusuk tombak dan mengucurkan darah.
Sentafal menyeringai sembari langsung mencabut tombak itu. Ia melihat Dubal yang sedang terengah dan memegang lengannya sambil mengerang kesakitan. Setelah itu, ia meninju dada prajurit itu sampai ia terpental.
Sentafal menoleh ke arah Uzan, Edgar, dan Trez yang masih belum memulai serangan. Karena itu, makhluk itu segera berlari menghampiri Dubal yang masih belum terbangun. Luka yang ada di lengannya perlahan menutup.
Sentafal menyeringai. “Penyembuhan Max Purify memang cepat, namun kalau kau mati sebelum kau benar – benar sembuh, maka penyembuhan itu tidak akan ada pengaruhnya.”
Mata Sentafal mengeluarkan cahaya perunggu, bola kayu menggumpal terbentuk di depannya. Sihir tersebut terlihat lebih besar dari sebelumnya. Dubal masih tidak bisa bergerak karena belum sembuh. Kapaknya juga baru saja terpisah darinya.
Sentafal berbisik, “Matilah!”
Bola kayu tersebut sirna karena makhluk itu dihempas oleh tembakan angin gemerlap hijau. Sentafal menoleh ke arah datangnya tembakan angin tersebut. Sara dan Arika berdiri bersebelahan di kejauhan. Arika sedang mengarahkan tongkat sihirnya ke Sentafal.
Melihat Sentafal yang sedang termangu, Uzan berlari ke arah Sentafal dan bersiap untuk menebas tubuh bantengnya. Untungnya, Sentafal menyadari itu dan meninju Uzan sampai ia terlempar. Ia berlari menuju ke arah Uzan yang belum terbangun. Namun, tubuhnya tersentak oleh tendangan Trez. Sentafal masih meneguhkan pijakannya dan berhasil menghindari hujaman tombak Edgar. Selain itu, ia juga sempat meninju Edgar dan menendang Trez dengan kedua kaki belakangnya.
Ketika Sentafal menoleh ke arah Uzan dan bersiap untuk menginjaknya, ia tidak mendapati sang paangeran, namun ia terkejut ketika Uzan sudah mengujamkan ujung pedangnya ke tubuh banteng Sentafal. Uzan melompat mundur untuk menghindari serangan sapuan tombak Sentafal.
Sentafal mengerang kesakitan. Ia mencabut pedang tersebut dan melemparkannya ke Uzan. Pedang itu jatuh berdenting di depannya. Sang pangeran mengambilnya kembali.
“Sudah kuduga,” kata Sentafal sambil menoleh ke arah Sara dan Arika. “Penyihir dan Klerik itu harus aku bereskan dahulu.”
Dubal dan Edgar sudah bersiap untuk menyerang Sentafal. Sang pangeran juga ingin menyerang Sentafal. Sentafal menghadap ke Edgar yang menaiki Trez dan bersiap dengan tombaknya.
Arika memperhatikan Sentafal yang sedang mengarahkan bola sihirnya ke Edgar dan Trez, namun gadis penyihir itu yakin bahwa Edgar dan Trez bisa menghindarinya. Gadis penyihir itu masih mengarahkan tongkat sihirnya ke depan, namun tidak bergerak. Di sampingnya, Sara juga masih memperhatikan pertarungan Sentafal dan lainnya.
Edgar memacu Trez untuk berlari ke arah Sentafal yang sedang akan menembakkan bola sihir yang akan dihadapinya. Uzan dan Dubal juga berlari dan bersiap untuk menyerang dengan senjata mereka.
__ADS_1
Tidak disangka, Sentafal menoleh ke arah Sara dan Arika dan meluncurkan bola sihirnya ke arah kedua gadis tersebut.
Bola sihir tersebut sangat cepat sehingga Arika tidak sempat menggunakan sihirnya. Sara juga terlambat menghindar.
Sebuah ledakan besar terjadi di dekat dinding dimana Sara dan Arika berpijak.
Arika terpental ke samping. Sara terlempar dan menghantam dinding. Ia terkena telak.
Sentafal menyeringai. “Klerik dan penyihir itu sudah beres. Tinggal yang lainnya.”
Serangan sihir Sentafal berhasil, namun ia meraung kesakitan karena Edgar menghujam dadanya, Uzan menusuk tubuh bantengnya dengan pedang, dan Dubal memotong satu kaki belakangnya.
Makhluk itu tersentak dan terjatuh.
“Sial!” rutuk Dubal.
Edgar berseru, “Kurang ajar kau!” tombak prajurit itu masih menancap di dada Sentafal. Edgar mengetuk tali kekang Trez dan menyuruhnya berbalik dan menendang Sentafal.
Karena serangan Trez, Sentafal tersentak kembali, namun ia meluncurkan tinju ke arah Edgar sehingga prajurit itu terpental berikut dengan Trez. Ketika Uzan bersiap menebas leher Sentafal dengan pedangnya, Sentafal menyapukan tombaknya ke arah Uzan. Lengan Uzan tersayat ujung tombak tersebut.
Sentafal akan menghujam sang pangeran dengan ujung tombaknya, namun ia meraung karena, sekali lagi, Dubal menebaskan kapaknya ke satu kaki belakangnya sampai terputus.
Karena amarahnya terpicu, Sentafal mengeluarkan bola sihir dari mulutnya dan meluncurkannya ke Uzan sampai ia terpental. Ia berada tepat di sebelah Edgar yang sedang terengah.
Setelah berdiri, Sang pangeran berujar, “Kau tidak apa – apa, Edgar?”
“Kurang ajar,” Edgar merutuk. Ia tidak memperdulikan pertanyaan Uzan. “Berani – beraninya dia menyakiti Sara.”
Uzan dan Edgar memperhatikan Sentafal terjatuh dan sudah hampir tidak bisa bertarung lagi.
Dari belakang, Dubal sudah bersiap mengarahkan kapaknya untuk memotong kepala makhluk itu, ia sudah mengarahkan kapaknya ke tengkuk Sentafal, namun ketika ia mengayunkan kapaknya, prajurit itu terpental.
Cahaya putih mengelilingi Sentafal. Perlahan, cahaya tersebut semakin terang. Uzan, Edgar, dan Dubal hanya terdiam di tempat. Mereka bertiga mengetahui bahwa ketika lingkaran cahaya tersebut berada di sekeliling Sentafal, ia tidak akan bisa disentuh dan mulai melakukan penyembuhan diri.
Sentafal memegangi hidungnya dengan kedua telapak tangannya. Tombaknya melayang di sampingnya. Perlahan, ia mulai berdiri karena kedua kaki belakangnya muncul satu per satu.
“Sial!” Edgar merutuk. “Dia melakukan penyembuhan lagi. Ini sangatlah merepotkan, kalau begini terus, kita harus memulai serangan kita dari awal.”
“Itu mungkin benar, Edgar,” Uzan menghela. “Tapi jangan lupa bahwa dia juga memandang kita sebagai musuh yang merepotkan karena kita mengandalkan Sara yang bisa melakukan Max Puruify sehingga kita bisa melawan makhluk itu tanpa henti.”
Sentafal masih memegang hidungnya dengan kedua telapak tangannya. Tenaganya lambat laun kembali. Kemunculan kedua kaki belakangnya semakin lama semakin terlihat dan ia mulai berdiri dengan tegap. namun, cahaya putih tersebut masih bersinar dan ritual penyembuhan yang dilakukan Smakhluk itu belum selesai.
Beberapa saat kemudian, Dubal menghampiri Uzan dan Edgar sambil berlari kecil. “Pangeran,” panggil Dubal. “Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
Uzan memperhatikan dari kejauhan. Arika dan Sara baru saja terkena tembakan Sentafal. Mereka berdua terlihat terengah - engah dan memulihkan diri. Ia ingin menghampiri Sara tapi…
__ADS_1
Edgar sudah bersiap dengan tombaknya. Dengan erat, ia memegang tali kekang Trez dan sedang dalam posisi akan menyerang.
Uzan kembali memperhatikan Sentafal yang sedang melakukan ritual pemulihan. Jika mereka bertiga kembali ke Sara dan Arika, maka tidak akan ada yang mencegah Sentafal untuk menyerang dikala dia sudah selesai dari penyembuhan.
“Edgar,” panggil Uzan.
Edgar menoleh ke arah sang pangeran. “Ya?”
“Kau kembali ke Sara dan Arika!” kata Uzan. “Pastikan bahwa mereka berdua aman.”
Edgar menggeram. “Tapi aku ingin sekali mengalahkan binatang ini, Uzan.”
Dubal menghentakkan kapaknya. “Aku meragukannya. Di samping tombakmu yang tidak akan bisa digunakan untuk memotong anggota tubuh makhluk ini, tanpa Max Purify, kita juga akan kerepotan.”
“Dubal benar,” kata Uzan. “Serahkan dia kepada kami berdua dahulu!”
Setelah beberapa saat, Edgar reda dari kegeramannya dan akhirnya menyetujui. “Baiklah,” prajurit itu mengetuk kekang kuda Trez dan menyuruhnya berbalik arah. “kalian berdua berhati - hatilah!”
“Itu pasti!” Dubal mengangguk.
Edgar mengetuk tali kekang Trez dan memacu kuda tersebut untuk membawanya ke arah Sara dan Arika yang sedang berada di kejauhan.
Cahaya putih yang ada di sekitar Sentafal mulai mereda. Tubuhnya kembali seperti semula, begitu juga dengan tenaganya. Ia menatap Uzan dan Dubal yang sedang berdiri di depannya.
Uzan dan Dubal bersiap dengan senjata mereka masing - masing dan bersiap menghadapi Sentafal.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, pangeran Uzan,” Dubal mengangkat kapaknya dan memasang kuda - kuda. “Kau mengirimkan Edgar ke Nona Sara dan Arika sambil berharap agar mereka bertiga menggunakan sihir hijau itu, kan?”
“Itu benar,” Uzan mengangguk. Ia mengarahkan pedangnya ke arah Sentafal.
“Itu bijak,” kata Dubal.
Sentafal meraung keras dan menggenggam tombaknya kembali. “Dengan keberadaan Klerik yang menjamin keselamatan kalian, aku yakin bahwa ajal kalian sudah sangat dekat.” Ia menyeringai dan mengedepankan tombaknya.
Uzan dan Dubal tidak memperdulikan perkataan Sentafal. Mereka berdua berlari ke arah Sentafal dan bersiap menerjang.
__ADS_1