
Dua lingkaran portal, satu hitam dan satu putih, melayang di atas ruangan gua.
Setelah itu, Uzan keluar dari portal hitam tersebut sambil sedikit terengah. Ia merasa sedikit heran karena kesadarannya heran dan merasa hening ketika ia terhisap kembali setelah mengalahkan Edgar dan Dubal. Namun tidak mengapa.
Sang pangeran melihat lingkaran portal putih yang masih melayang. Ia menduga bahwa Arika sedang bertarung dengan Rota dan Sara. Ia harap Arika bisa memenangkan pertarungan yang dijalaninnya.
Perkiraan Uzan salah. Beberapa saat kemudian, Arika keluar dari portal putih. Setelah berpijak ke tanah, ia terhuyung – huyung. Sebelum ia jatuh, Uzan menangkap tubuhnya.
“Arika!” seru Uzan.
Beberapa saat kemudian, tongkat dan topi sihir milik Arika terlempar dan tergeletak di dekat Uzan.
Uzan mengamati Arika yang sedang ada di peluknya. Ia tampak lemah dan penampilannya terbengkalai. “Tidak mungkin kalau kau kalah,” Uzan berujar pelan.
“Arika sudah kalah,” suara Rota menggema di seluruh ruangan. Kemudian, empat orang yang dilawan oleh Uzan dan Arika muncul dari ketiadaan. Mereka berempat berdiri sejajar.
“Arika kalah ketika melawanku dan Rota,” kata Sara sambil bersedekap.
“Aku yang mengalahkan selagi kau berdiam diri, Sara,” kata Rota.
“Terserah kau saja,” kata Sara.
Dubal berujar, “Pangeran Uzan akhirnya tega membunuhku dan Edgar.”
“Itu benar,” kata Edgar. “Akhirnya kami kalah.”
“Walaupun begitu,” kata Rota. “Tidak akan ada rasa benci dan dendam diantara kita karena pertarungan ini, seperti yang kau kira hanyalah permainan.”
“Kau masih menganggap pertarungan ini permainan walaupun sudah menginjak gadis penyihir itu, Rota?” kata Sara.
Rota mengangkat alis. “Aku tidak mau berkomentar tentang itu.”
“Sara dan Rota sudah menang,” kata Edgar. “Jadi, keputusan Uzan dan Arika menjadi menggantung.”
Sara menggeleng, “Sayang sekali.”
Uzan tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan kawan – kawan palsu yang ada di dekatnya. Bahkan, ia tidak perduli. Yang ia perdulikan adalah Arika yang sedang tergolek lemah di pangkuannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, gadis penyihir itu mulai bergerak.
“Tenang saja, Pangeran Uzan,” kata Rota dengan nada santai. “Gadis itu tidak mati.”
Arika membuka mata. Uzan mulai melepaskannya dan meletakkan tubuhnya di atas tanah.
Setelah itu, Arika mulai terbangun dengan susah payah dan terduduk. Ia mengalihkan pandangan ke Uzan, lalu ke Edgar dan lainnya. “Kurasa aku telah kalah dalam pertarungan melawan Sara dan Rota.”
“Kau tidak perlu memikirkannya, Arika,” kata Uzan. “Yang penting kau tidak apa – apa.”
Arika mengangguk pelan. Sambil sekali lagi memandang Uzan sejenak lalu Rota dan lainnya. Sebelumnya ia sudah diberi maklumat bahwa Uzan sudah menang melawan Edgar dan Dubal. Namun dirinya…
“Itu salah, pangeran,” Edgar mengetukkan tombaknya ke tanah. “Justru kalian berdua harus memikirkan konsekuensi dari ketimpangan yang baru saja terjadi. Seharusnya dua – duanya kalah atau dua – duanya menang.”
“Apakah kau sangat bernafsu untuk melenyapkan mereka, Edgar,” kata Dubal.
“Itu tidak mungkin,” Sara berdecak sembari menggeleng. “Bahkan kita hanyalah klon bayangan dengan kepribadian buatan. Keputusan selanjutnya ada di tangan Tuan Invel, kan?”
Edgar menghela kesal. “Sayangnya itu benar.”
Bersamaan dengan itu, Edgar, Dubal, Rota, dan Sara menghilang tanpa sisa.
Kemudian, cahaya hitam berpendar dari seluruh tubuh kelelawar tersebut dan membentuk sesosok manusia.
Uzan dan Arika memperhatikan sosok jelmaan kelelawar tersebut. Ia adalah manusia memiliki kulih putih pucat dan mempunyai dua taring yang keluar dari bibir atasnya. Ia mengenakan jubah hitam.
“Selamat, pangeran Uzan dan Arika,” kata sosok tersebut. “Namaku Invel.”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Uzan. Ia sudah tahu bahwa ia adalah pimpinan dari klon Edgar dan lainnya. Namun ia hanya ingin memastikan.
“Bukankah aku sudah memberitahu kalian bahwa kalian akan binasa di gua ini?”
“Kami masih tidak mengerti tentang itu,” kata Uzan. Ia mulai menatap Invel dengan tatapan tajam. “Di sini, kami bertujuan untuk memperoleh batu Akais.”
“Batu Akais ini dan itu,” Invel bersedekap sambil menggeleng. “Mari kita bicara tentang keputusan yang akan kuberikan kepada kalian karena ketimpangan hasil pertarungan yang baru saja kalian jalani.”
Uzan dan Arika menatap Invel yang sekarang berjalan ke sana kemari sembari mengetuk – ngetuk dagunya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Invel berkeputusan. “Kalian lulus ke ujian ketiga. Ujian akhir. Ujian meraih Batu Akais yang kalian inginkan. Jadi, aku hadir di sini, selain memberi keputusan, juga untuk memberi selamat kepada kalian.”
“Ini sangat tidak masuk akal,” kata Uzan. “Apakah kami berdua hanya dipermainkan di sini?”
Invel bersedekap. “Sebagai bangsa Drakula yang ada di Gua Akais ini, aku berhak melakukan apapun kepada para pengunjungku. Bahkan mungkin membinasakan kalian berdua secara langsung ketika kalian pertama kali menginjakkan kaki di sini. Tapi seperti yang sudah kubilang di ujian pertama, aku masih memperhatikan kalian.”
“Apakah,” Arika berkata pelan. “Kau juga masih menginginkan penyihir angin untuk persembahan?”
“Sebenarnya jika kau menang ketika melawan Rota dan Sara, kau akan aku jadikan persembahan, Arika,” kata Invel. “Tapi sayang sekali. Kau kalah dalam permainan ini. Bahkan Rota dan Sara tidak perlu berusaha untuk membunuh satu sama lain ketika berhadapan denganmu seperti ketika Pangeran Uzan bertarung melawan Edgar dan Dubal.”
Arika terlihat kesal.
“Aku bisa pastikan bahwa kata – kata yang kau lontarkan ketika kami menjalani ujian pertama hanya merupakan wacana belaka,” kata Uzan.
“Iya dan tidak,” kata Invel. “Pertama, penyihir yang kami hisap seluruh kekuatannya ratusan tahun yang lalu adalah penyihir tingkat tinggi yang bisa mengalahkan klon – klon kuat yang kami kerahkan untuk mengalahkannya. Kedua, jika Arika kalah dalam permainan ini, itu berarti ia tidak seperti penyihir tersebut.”
“Apa kau memiliki harapan bahwa Arika bisa seperti penyihir yang kau habiskan kekuatannya itu?” tanya Uzan.
Invel berujar, “Ketika Arika bekerja sama denganmu di dalam ujian pertama, aku kira aku menemukan calon persembahan yang layak. Namun ketika ia dihadapkan permainan yang tidak seberapa dan kalah, maka aku hapuskan harapanku.”
“Harapanmu tidak sesuai dengan realita, bukankah begitu?” ujar sang pangeran.
“Ini adalah realita terburuk yang pernah aku temui,” Invel mengangguk. “Kekecewaanku memuncak ketika kalian merasa iba kepada klon – klon yang hanya menyerupai kawan – kawan kalian. Kalian sudah tahu bahwa mereka hanyalah klon bayangan dan masih enggan mengerahkan seluruh kekuatan kalian untuk membunuh mereka. Betapa pendek akal!”
“Kau sudah memutuskan bahwa kami bisa lolos ke ujian akhir walaupun ada ketimpangan hasil dari pertarungan kami berdua,” kata Uzan. “Jadi, bahkan kami tidak merasa rugi sama sekali. Bahkan kau yang mungkin tidak bisa teratur dalam memutuskan sesuatu. Bahkan mungkin jika kami berdua kalah, maka kami juga akan diloloskan. Bukankah begitu?”
“Kau punya nyali untuk mengatakan itu, pangeran Uzan,” kata Invel dengan nada santai. Setelah itu, ia menggeleng. “Jika kalian berdua kalah, kalian akan langsung mati.”
Invel menjelma kembali menjadi kelelawar raksasa dan berujar, “Karena adanya ketimpangan hasil pertarungan, maka salah salah satu dari kalian berdua bisa menunggu untuk menghadapi ujian selanjutnya sambil…”
Arika tersungkur sembari mengerang dan memegang dadanya. Uzan mendekati Arika yang tampak kesakitan. “Arika!”
Gadis penyihir itu tampak memaksakan diri. Sang Pangeran berujar, “Sebaiknya kau berbaring di saja!”
Invel melanjutkan perkataannya, “Merawat rekanmu yang hampir mati.”
Sesaat kemudian, Invel dengan wujud kelelawar raksasanya mengepakkan sayapnya, lalu terbang tinggi menjauh dan hilang ditelan kegelapan.
__ADS_1