
Setelah beberapa saat, Uzan, Edgar, dan Sara. Singgah di sebuah pemukiman berplakat kayu yang bertuliskan ‘Desa Wulfric’.
Desa tersebut tampak sederhana dengan perumahan – perumahan yang sederhana pula. Para pedagang keliling, pengrajin, dan petani pun sedang melakukan pekerjaannya. Beberapa bangunan di desa tersebut rusak, namun kerusakannya tidak seberapa jika dibandingkan keadaan yang terjadi di Kastala.
Di sana, Uzan dan lainnya berjalan – jalan sembari melihat – lihat area sekitar, mencari keberadaan rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, mereka menemukan rumah sakit sederhana.
“Itu Dia! Ayo kita kesana” kata Edgar.
“Baiklah” Uzan dan Sara menyahut bersamaan.
Setelah sampai di sana, mereka bertiga singgah dan langsung melapor. Kebetulan suasana ruang tunggu di sana hanya ditempati beberapa orang.
“Selamat siang!” kata Uzan. “Ada temanku disini yang sedang sakit.”
“Tentu saja!” seorang wanita menghampiri Sara. “Silahkan masuk. Kalian berdua pengantar silahkan tunggu di sini!”
“Baiklah,” Jawab Uzan.
“Ayo nona!” Wanita itu menggiring Sara ke ruang perawatan untuk diperiksa.
Pemeriksaan Sara berlangsung sedikit lama. Tabib wanita itu memperhatikan Sara yang terlihat kehabisan tenaga. Pakaian yang dikenakannya terasa familiar. Ia memandang gadis itu dengan rasa penasaran.
Setelah beberapa saat, Tabib itu mengambil kesimpulan. “Kau Klerik ya?”
“Iya,” kata Sara.
“Apa yang kau lakukan sehingga sakit begini?”
Sara menceritakan tentang serangan bandit yang dihadapinya.
Setelah itu, Tabib itu mengambil sebuah pita biru di lemarinya. Kemudian, ia melingkarkan pita tersebut ke pergelangan tangan Sara.
Perlahan - lahan, pita itu memendarkan cahaya biru hangat. Sara merasa kekuatannya memulih.
“Syukurlah kau tidak sakit parah” kata si tabib. “Memang walaupun kau seorang Klerik, seorang klerik pun juga bisa sakit karena kehabisan tenaga. Karena setahuku, Klerik pun tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Walaupun begitu, kau telah berjasa membantu kedua teman – temanmu.”
Sara mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, Nyonya. Klerik memang tidak bisa memulihkan dirinya sendiri. Sebagai seorang tabib, anda telah membantu saya pulih.”
“Tidak masalah,” kata Tabib itu.
Sara merasa penasaran tentang keadaan warga yang tinggal jauh di luar pemukiman Istana Kastala. Jadi, ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan “um…nyonya tabib-”
“Panggil aku Natalia.” Tabib itu menambahkan.
“Nyonya Natalia” kata Sara “Pedesaan ini tidak terpengaruh oleh gempa yang terjadi akhir - akhir ini, kan?
__ADS_1
“Pedesaan ini, walaupun jauh dari istana, sedikit banyak juga terpengaruh oleh gempa yang terjadi di pemukiman Istana.”
Sara terkejut.” Bagaimana kau tahu bahwa gempa ini bersumber dari Pemukiman Istana?”
“Ketika pertama kali melihat kalian bertiga, yang pertama kuperhatikan adalah pangeran Uzan” Tabib itu menjawab dengan tenang. “Apakah kalian melakukan perjalanan dari Istana?”
Sara menyadari bahwa mungkin sudah banyak yang mengenal Pangeran Uzan. Ia menjawab, “Pangeran Uzan, Edgar, dan saya sedang melakukan perjalanan untuk menghentikan gempa ini.”
“Oh ya? Itu bagus. Kami sebagai warga Kastala hanya bisa berharap supaya gempa ini bisa dihentikan.
“Beberapa tabib di sini juga mengetahui bahwa banyak orang – orang sakit karena gempa harian di kerajaan Kastala yang juga dialami oleh pemukiman di luar kerajaan. Penyakit bukan hanya karena luka tertimpa reruntuhan bangunan. Namun berbagai macam penyakit tubuh seperti demam dan lainnya.
Sara menghela “Kurasa hal ini karena tidak adanya situs khusus pengungsian yang diatur oleh pusat kerajaan.”
“Memang,” Natalia menyetujui. “Tapi kurasa, Klerik jauh lebih dibutuhkan di sini karena mereka bisa menyembuhkan orang lain dengan lebih cepat, walaupun mereka kurang bisa menyembuhkan diri mereka sendiri.”
“Iya,” kata Sara “Saya harap juga begitu. Sayang sekali, jumlah Klerik hanya sedikit. Semoga para tabib berhasil menyembuhkan mereka.
Natalia tersenyum. “Kami memang cuma seorang tabib, namun kami memiliki kemampuan untuk memeriksa dengan cara lama. Aku menyarankan menggunakan obat ini supaya kau lekas sembuh.”
Setelah itu, tabib itu membuatkan obat berupa bubuk yang dicampurkan ke segelas air. Setelah diaduk, air itu berubah menjadi kebiruan. Kemudian, tabib itu menyodorkan gelas itu ke Sara.
Dengan senang, Sara meminum obat hangat tersebut. Perlahan, tubuhnya terasa hangat kembali.
Sang tabib menyebutkan biayanya, dan Sara langsung membayar
“Terima Kasih, Nyonya.”
Sara kembali ke Uzan dan Edgar yang tampaknya sedang berbincang - bincang.
-
-
“Kau sudah selesai, Sara?” tanya Uzan.
“Sudah, pangeran.”
“Hey, Sara” kata Edgar. “Kami berdua saja berbicara tentang bagaimana kalau kita mampir di sini dulu untuk minum – minum. Hitung – hitung istirahat sejenak.”
“Tidak apa – apa!” kata Sara “kurasa kita juga perlu beristirahat”
“Baiklah” kata Uzan.
Uzan, Edgar, dan Sara berjalan menelusuri desa tersebut sambil mencari kedai agar mereka bisa beristirahat sambil minum teh.
Sara mengutarakan perbincangan dengan Natalia kepada Uzan dan Edgar.
“Memang kebijakan setiap pemukiman di luar istana berbeda – beda, Sara” Uzan berkomentar. “Lagi pula, dengan keadaan pemukiman yang jauh lebih sederhana seperti ini, tidak heran jika pimpinannya berkeputusan untuk bersiaga bersama warganya.”
__ADS_1
“Itu benar” Edgar menambahkan. “Gempa di sini juga mungkin tidak lebih parah dari pada yang ada di Istana, termasuk pelabuhan utama.”
Sara tampak muram. “Sangat disayangkan bahwa di desa ini tidak ada Klerik.”
“Tenang saja, Sara!” kata Edgar. “Paling tidak ada banyak tabib di sini.”
“Itu benar!” Uzan menambahkan “Kalau seorang tabib bisa menyembuhkan ekuatan Magis sorang Klerik seperimu, semestinya para tabib di sini memiliki wawasan luas tentang bidangnya.”
Setelah berjalan beberapa saat, mereka bertiga akhirnya menemukan sebuah kedai dan memilih di meja yang disediakan di luar kedai sehingga tidak perlu masuk ke dalam.
Mereka duduk di tempat duduk yang disediakan. Uzan duduk satu bangku dengan Edgar. sedangkan Sara berseberangan bangku dengan Uzan.
Setelah itu, seorang pelayan wanita datang. “Silahkan, mau pesan apa?”
Edgar menunjukkan jemarinya. “Kami ingin pesan tiga teh.”
“Hanya itu?” sang pelayan menanyakan. “Tidak memesan makanan?”
“Tidak,” kata Uzan. “Kami yakin makanan di kedai ini enak. Namun, kami hanya memesan tiga gelas teh.”
“Terima kasih, silahkan tunggu!” kata pelayan itu sembari melangkah masuk ke dalam kedai.
“Bagaimana keadaanmu, Sara?” tanya Edgar. “Tidak apa – apa kan?”
“Tidak apa – apa, Edgar” kata Sara.
“Terima kasih, Sara kau telah menyembuhkanku saat pertarungan tadi.”
Sara tersenyum terang. “Sama - sama, Edgar. Itu sudah menjadi kewajibanku.”
“Coba saja kalau saja, kau tidak menyembuhkanku. Aku pasti akan tetap menang haha!”
Senyum Sara meredup.
“Aku ingin lebih mengetahui tentang keadaan di sekitar sini,” kata Uzan.
“Pangeran Uzan” kata Sara. “Seperti kataku tadi, tabib itu berkata bahwa pemukiman ini juga terpengaruh oleh hal itu.”
“Aku tahu itu” kata Uzan. “Aku ingin bertanya kepada warga tentang bagaimana cara menelusuri bukit Kagigar.”
Edgar bertopang dagu. “Sara bilang bahwa bukit itu Magis. Apa kau tahu apa bagaimana caranya, Uzan?”
“Aku tahu kemana arahnya” kata Uzan. “Kupikir kita akan mencari maklumat lebih untuk menyusuri rintangan tersebut selagi menghadapinya sambil memikirkan caranya.”
Tiba – tiba, semua penduduk pemukiman merunduk. Tanah perlahan bergetar. Lampu – lampu bergoyang. Getaran – getaran itu semakin keras sampai ember – ember penuh bertumpah ruah sampai terdengar suara pecahan gelas - gelas yang terjatuh dari meja kedai.
Setelah beberapa saat, getaran perlahan berhenti.
“Semoga para warga desa ini tidak mengalami hal buruk karena gempa ini” kata Sara.
__ADS_1
Edgar mendengus kesal. "Kemungkinan, bangunan - bangunan di pemukiman di sekitar Istana mengalami guncangan yang lebih parah dari pada getaran barusan.”
“Getarannya memang tidak terlalu mengguncang” kata Uzan. “Kurasa kita memang sudah jauh meninggalkan istana.”