
Fured berujar, “Kami akan mengembalikan kuda dan kereta kencana kalian setelah dilakukan pemeriksaan.”
Edgar menghela. “Aku kira bahwa ruangan Kereta kencana dan istal kuda tempat kendaraan para tamu hanya ditempatkan di sana saja.”
“Ada petugas yang bertanggung jawab untuk memeriksa,” kata Fured. “Nama kalian sudah di tandai, atas nama Pangeran Uzan. Bukankah begitu?”
Uzan mengangguk. “Kalau begitu, terima kasih.”
Matahari sudah hampir tenggelam, Uzan dan kawan – kawannya berjalan bersama Fured menyusuri Desa Sakanan.
Desa tersebut sedikit ramai karena warga mereka sedang pulang dari pekerjaan mereka. Di samping itu, ketika Uzan mengedarkan pandangan, ia melihat banyak orang yang membawa ikan yang mereka tempatkan di ember, jaring, atau wadah lain. Beberapa orang lain juga membawa kuda mereka untuk transportasi.
Edgar menghela sambil sedikit berjalan tertatih. “Kau bilang bahwa kendaraan apa pun tidak diperbolehkan masuk. Bukankah begitu?”
“Sekali lagi, kendaraan – kendaraan tamu dari luar desa. Beberapa dari mereka dititipkan, beberapa dari mereka diperiksa lalu bisa dikembalikan,” kata Fured. “Hal ini karena ada pemberontakan perambah yang terjadi dua hari kemarin.”
“Perambah, ya?” kata Edgar. “Itu sebabnya semua kendaraan harus diperiksa?”
“Itu benar,” Fured menjelaskan. “Karena sebelumnya, mereka datang ke desa ini satu per satu menggunakan kendaraan mereka. Setelah beberapa hari, mereka berkumpul di satu sempat datang menghancurkan pabrik emas yang ada di desa ini. Di sana, kendaraan mereka berupa kuda dan kereta kencana ajaib.”
“Jadi, pimpinan desa ini merasa bahwa para pengunjung selanjutnya akan melakukan hal yang sama, ya?” kata Dubal.
“Demi keamanan Desa Sakanan, pimpinan kami melakukan pengamanan terbaik.”
Uzan mengangguk. “Itu bagus.”
“Karena saya sedang mengawal Pangeran Uzan yang sedang melakukan perjalanan, saya ingin memberikan maklumat tambahan,” Fured berujar, “Pimpinan rombongan berkuda itu bernama Galar.”
Sambil berjalan, Uzan, Edgar, dan Sara tertegun. Dubal terbelalak. “Galar?”
“Apakah kau mengenalnya, Tuan?”
“Iya, aku mengenal Galar,” kata Dubal. “Apa perlunya datang kemari?”
“Sudah saya duga bahwa pangeran atau setidaknya rekan pangeran mengetahui,” kata Fured. “Sebelumnya, Galar datang ke desa ini dengan kudanya. Ia berkata bahwa ia ingin memberikan hadiah kepada kami.
“Selanjutnya, ia bilang bahwa akan ada beberapa rombongan prajurit berkuda yang akan datang, rombongan tersebut datang berangsur selama kira - kira dua belas hari. Kami mempersilahkan mereka untuk menginap di salah satu penginapan besar di desa ini.
“Tanpa disangka, beberapa hari kemudian, mereka memporak – porandakan pabrik emas yang ada di desa ini.”
“Aneh,” kata Edgar. “Kenapa Galar melakukan hal itu selama berhari – hari?”
“Tidak, Edgar,” kata Dubal. “Yang pantas di pertanyakan adalah siapa yang dia ajak ke sini. Jika dimasukkan ke akal, lebih baik datang ke desa ini secara bersamaan. Pasti orang – orang yang datang ke sini bukanlah orang biasa.”
__ADS_1
“Tuan Dubal,” kata Arika. “Siapa Galar?”
Dubal menceritakan kembali tentang Galar seperti yang diceritakan kepada Uzan, Edgar, dan Sara setelah memperoleh Kain Kagigar Perak, namun dalam bentuk yang lebih singkat.
Sambil berjalan, Fured juga menyimak tentang hal yang diceritakan oleh Dubal.
Arika mengangguk. “Aku mengerti sekarang, ini ada hubungannya dengan Silvar dan Girafan.”
“Terima kasih atas keterangannya, Tuan Dubal,” kata Fured. “Setelah Galar memporak – porandakan pabrik emas yang ada di desa ini, saya sempat mendengar bahwa emas yang mereka curi bukanlah untuk kekayaan, namun untuk persembahan.”
Dubal menggeram. “Persembahan apa lagi?”
“Saya tidak mengetahuinya, Tuan Dubal,” kata Fured. “Apa pun itu, pastilah hal buruk.”
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di sebuah penginapan. Penginapan itu terlihat cukup besar. Dengan pintu ganda yang ada di depannya. Di sampingnya, ada sebuah istal kuda yang juga bisa dimasuki kereta kencana.
“Baiklah,” kata Edgar sambil terengah. “Kita akan bicara lebih tentang Galar di dalam.” Edgar terhuyung. Raut mukanya pucat. Jika tidak dipegang oleh Uzan, dia pasti sudah terjerembab ke tanah.
“Heh!” Edgar berkata pelan. “Jujur saja aku sudah memaksakan untuk berjalan dengan kalian dari tadi.”
“Edgar,” Sara berseru pelan. Klerik itu menghampiri Edgar dan menyalakan cahaya di telapak tangannya untuk menyembuhkan, namun kedua telapak tangan Sara tidak mengeluarkan cahaya. “Sihir penyembuhku...”
“Sara,” kata Arika. “Kau tidak apa – apa?”
Dubal berujar, “apakah kau bisa melakukan sihir, Arika?”
Sara menghela, lalu berkata, “Ini adalah pengaruh dari Green Lance Wind Burst.”
Uzan mengerutkan alis. “Bagaimana dengan barang – barang yang ada di topimu, Arika?”
Arika menggeleng. “Topiku tidak memiliki kaitan dengan sihir penggunanya dan tidak akan terpengaruh. Barang – barang yang ada di topiku masih ada di dalam, tapi aku tidak akan bisa mengeluarkannya.”
Dubal menghela lega. “Untung saja sebelum berangkat kita sudah mengeluarkan barang – barang penting dan menaruhnya di kereta kencana.”
“Kita sudah sampai di penginapan,” kata Uzan. “Kita bisa beristirahat sepenuhnya di sini.”
Setelah beberapa saat melihat teman – teman Uzan yang sakit, Fured berujar, “Di awal kalian sudah mengatakan bahwa kalian sedang mengumpulkan Material Magis untuk memulihkan gempa di Pulau Kastala.
“Betapa mengagumkan, pangeran. Kami menghargai kerja keras kalian. Ini adalah penginapan pribadi yang setimpal dengan bayaran yang Pangeran Uzan berikan.”
Fured mengambil kunci di sakunya dan membuka pintu ganda penginapan.
Setelah masuk ke penginapan, mereka mendapati sofa merah mewah dan meja – meja yang tertata rapi bagaikan ruang diskusi kecil yang ada di ruang tengah. Selain itu, di sampingnya ada dua ruangan.
__ADS_1
Fured berujar, “Kalian bisa membagi dua ruangan tersebut sekehendak kalian, mana tempat bagi pria, mana bagi wanita.”
“Terima kasih, Fured,” kata Uzan. Sang pangeran masih mengangkat Edgar.
Dubal melihat Sara dan Arika yang hanya terdiam. “Kalian berdua tidak apa – apa?”
Kedua gadis itu hanya termangu. Kemudian, Sara berkata pelan, “Sebaiknya kita berkumpul di sini dahulu untuk menyantap makan malam.”
“Itu benar,” Arika juga melirihkan suaranya. “Jika kita langsung masuk ke kamar masing – masing, yang aku takutkan adalah kita akan langsung ketiduran.”
“Itu masuk akal,” Edgar terengah. “Aku ingin sekali membaringkan diri di aur, namun aku tidak ingin melewatkan makan malam.”
“Baiklah,” kata Uzan. “Aku akan membeli makanan di luar dahulu dan memberikan makanan tersebut kepada mereka.”
“Kau tidak perlu melakukan itu, pangeran” kata Fured, “Saya akan membelikan makanan khusus untuk kalian karena keadaan kalian yang sudah sangat kelelahan.”
Dubal memilin jenggotnya, “Terima kasih, Fured.”
Fured langsung keluar untuk membeli makanan dan meninggalkan Uzan dan para rekannya yang masih terduduk di Sofa.
Edgar terlihat terengah. Sara dan Arika hanya terdiam dan termangu. Uzan dan Dubal hanya melihat kelelahan yang dirasakan oleh teman – teman mereka dengan rasa perhatian.
Setelah itu, Fured datang membawa makanan yang cukup menggugah selera. Namun, tidak ada percakapan yang terlontar di antara mereka ketika mereka menyantap makanan mereka.
Edgar hampir terantuk ketika sedang makan. Arika dan Sara tidak mengucapkan sepatah kata pun dan terlihat tidak menikmati makanan mereka.
Setelah makanan mereka tandas, mereka langsung istirahat. Satu ruangan diperuntukkan untuk Uzan, Edgar, dan Dubal. Satunya lagi untuk Sara dan Arika.
Uzan, Fured, dan Dubal terlihat sedang duduk – duduk di ruangan tengah. Sang pangeran berkata pelan, “Dubal, Aku masih ingin melanjutkan perbincangan tentang Galar dan lainnya. Karena ini, mungkin sebaiknya kita istirahat di sini terlebih dahulu.”
“Iya,” Dubal mengangguk. “Kita tangguhkan dahulu bahan pembicaraan itu sampai mereka bertiga pulih.”
“Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, pangeran,” tanya Fured.
“Kami kira sudah cukup, Fured,” kata Uzan.
“Baiklah,” Fured mengangguk. “Saya permisi untuk mengambil kendaraan dan membawanya kemari.”
Fured berbalik ke luar dari penginapan dalam waktu cukup lama.
Setelah itu, petugas itu mendapati Uzan yang sedang bersandar. Ia mengeluarkan kunci dari sakunya. “Pangeran Uzan, ini kunci penginapanmu.”
Uzan terduduk dan menerima kunci dari Fured. “Terima kasih, Fured,”
__ADS_1
“Kuda kalian berikut kereta kencananya sudah ada di istal khusus di penginapan ini.” Fured tersenyum. “Semoga kalian menikmati istirahat di sini.”
“Terima kasih, Fured,” Uzan membalas senyum petugas itu. “Semoga dalam tiga hari ini, kami bisa nyaman tinggal di sini.”