Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pencarian Solusi 3


__ADS_3

“Sudah kuduga bahwa kau tidak akan bisa melawanku tanpa bantuan gadis penyihir itu, pangeran Uzan,” kata Malvin sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke arah sang pangeran.


Uzan berusaha berdiri. Ia baru saja terkena hantaman tongkat milik Malvin. Lingkup angin di sekitarnya telah menghilang. Kemudian, ia mengedarkan pandangan sekeliling. Bara api putih kebiruan mengelilingi area sekitarnya. Arika masih berdiri di kejauhan. Akan tetapi, ia berada di sebuah lingkaran gundukan batu tajam.


“Apa yang terjadi kepada Arika?” tanya Uzan dengan nada marah.


“Itu adalah sihir tanah, pangeran,” kata Malvin. “Penyihir pembantumu itu tidak akan berdaya untuk ikut dalam pertarungan satu lawan satu di antara kita.”


Beberapa saat kemudian, Linda sang Pixi datang menghampiri Uzan.


“Aku akan membantumu kali ini, pangeran,” kata Linda.


“Linda...” Uzan berkata lirih.


“Tentu saja,” Malvin mendengus. “Tapi seekor Pixi tidak akan menggangguku sama sekali.”


“Mungkin aku akkan mengalihkan perhatiannya, pangeran,” Linda tidak yakin dengan perkataannya sendiri.


“Paling tidak kalian semua akan mati di sini dan tidak akan ada seorang pun yang tahu selain diriku,” Malvin menghela kesal. Kemudian, penyihir itu menggenggam kalung hijau yang dikenakannya sambil mengucapkan mantra.


Sesaat kemudian, terjadi getaran yang menerpa di area dimana Uzan dan lainnya berpijak, tapi sang pangeran tahu bahwa getaran tersebut hanya menimpa bagian kecil diii sekitarnya.


Setelah itu, tumbuhlah gundukan – gundukan tanah melingkar di sekitar Malvin, Uzan, dan lainnya, yang bahkan menutupi lingkaran api yang masih berkobar rendah.Perlahan – lahan, tanah tersebut menutupi seluruh area Malvin, Uzan, dan lainnya. Membentuk sebuah kubah besar.


Malvin telah menjebak musuhnya untuk tinggal di dalam kubah yang sedang dikelilingi api.


Uzan merasakan panasnya ruangan tertutup yang dikelilingi api ini, begitu pula dengan Linda. Arika juga tidak bisa berkutik ketika mendapati bahwa ia dan kawan – kawannya sedang dikunci dii dalam sebuah ruangan tertutup.


Beberapa bulir keringat turun dari kening Uzan. “Aku tidak akan menyerah!”


Linda mengangguk. Ia juga merasakan panasnya ruangan tersebut.


Malvin terkekeh sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke mereka berdua. “ Seharusnya kalian tahu kapan harus menyerah.”


-


-

__ADS_1


-


Golem Gorila Lava menghantamkan kedua kepalan tangannya ke tanah dengan membabi buta. Sudah berkali – kali ia terkena serangan Rota, Dubal dan Edgar namun seakan jasadnya tumbuh kembali. Ketika makhluk itu terkena serangan, ia merasa kesakitan.


Sudah berkali – kali makhluk itu meraung – raung. Sara sampai merasa tidak tega untuk mendengar suara kesakitan Golem itu. Akan tetapi, ia harus menahan rasa kasihannya karena jika tidak, bisa – bisa ia juga bisa binasa karena makhluk itu jika berhenti menyerangnya.


Sara masih melakukan Max Purify dengan kedua telapak tangannya.


Gadis Klerik itu memikirkan pesan Uzan yang dibawa oleh Linda sebelum perpisahan untuk bertarung dengan musuh masing – masing. Hal itu sangatlah mengkhawatirkan karena dia saja belum mengetahui tentang seberapa kuat Malvin itu. Apalagi ancamannya tentang penghancuran Uzan dengan golem ini.


Ia mengerti bahwa kesimpulan sementara yang ia sepakati bersama sudah terbukti. Faraq adalah pelakunya dan penugasan ini hanyalah rekaan. Tapi ia juga memikirkan tentang Material Magis yang sudah dikirim ke istana. Selain itu, pastinya mereka mempunyai manfaat masing – masing. Semoga saja ia bisa melalui pertarungan ini dan menang. Setelah kembali ke Istana, ia akan mencari tahu tentang kebenaran tentang penugasan misi ini karena, Malvin mengklaim bahwa Istana Kastala sudah diambil alih.


Sambil mengedarkan pandangannya, Klerik itu melihat sebuah kubah tanah besar dari kejauhan. Semoga Uzan dan lainnya baik – baik saja di sana. Meskipun ia sendiri juga tidak yakin akan keadaannya di sini.


Rota, Dubal, dan Edgar berlari menghampiri Sara setelah meninggalkan Golem yang sedang sedang kesakitan.


“Terima kasih, Sara, berkatmu, aku tidak merasakan luka sama sekal,padahal aku dihantam oleh benda besar itu beberapa kali,” kata Edgar.


“Ternyata Max Purify sangat bermanfaat,” kata Rota. “Aku juga tidak merasakan panas ketika memanjat tubuh Golem Lava itu. Sudah kutebas lehernya dengan pisau, tapi seakan nyawanya tidak terbatas.”


“Itu benar,” kata Edgar. “Pastinya, Malvin harus menghentikan Golem ini, atau berkehendak untuk mencabut nyawa diri sendiri.”


“Aku kira syarat yang kedua tidak akan mungkin terjadi,” kata Edgar.


“Mungkin terjadi,” kata Rota. “memangnya kenapa seseorang berkehendak untuk mencabut nyawanya sendiri?”


“Mungkin karena ia memiliki pengalaman buruk,” kata Sara.


“Mari kita kesampingkan hal itu dahulu,” kata Dubal. “Ngomong – ngomong, ketika menghadapi Golem itu, apakah kalian melihat sebuah kubah tanah di sebelah san?”


Edgar dan lainnya melihat Arah yang ditunjuk oleh Dubal.


“Ada sebuah kubah besar di sana,” kata Sara.


“Pastinya itu adalah perbuatan Malvin,” kata Rota. “Ia bisa memanipulasi api dan tanah.”


“Kalian tahu....” Edgar memegang dagu. “Aku merasa curiga kalau situasi ini ada hubungannya dengan kalung hijau yang dipegang oleh Malvin.”

__ADS_1


“Mari kita ke pembicaraan awal sebelum Golem dungu itu kembali lagi untuk menyerang kita!”


“Baiklah,” kata Edgar. “Tentang kubah tanah itu.”


“Pastinya kita mengira Uzan, Arika, dan Linda terjebak di dalam sana, kan?”


“Itu benar,” kata Edgar. “Dan pastinya kita harus menyelamatkan mereka.”


“Bagaimana caranya?” tanya Sara.


“Itu sangat mudah,” ujar Rota. “Kita akan menggiring Golem dungu ke arah kubah besar tersebut. Setelah itu, kita akan arahkan serangannya ke sana dan akhirnya kubah itu akan hancur.”


“Solusi sudah ditemukan,” kata Dubal. “Mari kita eksekusi!”


Edgar berujar, “Karena Sara tidak begitu bisa berlari cepat, aku akan mengiringinya mengarah ke kubah besar itu. Selain itu, aku juga merasa bosan jika harus bertarung dengan musuh yang tidak bisa dipastikan kalahnya seperti ini.”


“Baiklah,” kata Dubal. “Kita akan lebih bisa berkonsentrasi jika hanya dua penyerangnya.”


Rota mengangguk. “Mari, Dubal!”


Golem tersebut berjalan ke arah Edgar dan lainnya sambil menghentak – hentakkan kakinya. Ia juga menghantamkan kedua tangannya di dada bak gorila. Kemudian, ia segera melompat dan melancarkan tinju ke arah Edgar dan lainnya.


Tinjuan tersebut meleset dan hanya mengenai pohon yang langsung roboh karena serangan itu.


Edgar dan Sara segera berlari ke arah Kubah besar tempat Uzan dan lainnya berada.


Dubal berlari bagian bawah Golem. Setelah itu, ia menebas kaki makhluk tersebut sampai terbentuk belahan besar di kakinya.


Karena serangan tersebut, Golem tersebut meraung kesakitan sambil memegangi kakinya.


Ketika sedang dalam raungannya. Raksasa tersebut memandang Edgar dan Sara yang sedang berlari ke arah sebuah kubah tanah besar. Kemudian, ia berjalan terpincang untuk menggapai mereka berdua.


Rota yang memperhatikan gerakan raksasa itu menyimpulkan, “Sepertinya Golem ini sudah memandang Edgar dan Sara. Pasti ia akan pergi ke arahnya.”


Setelah Dubal menghampiri Rota, sang prajurit berkata, “Kita hanya tinggal mengikuti raksasa ini saja.”


“Itu benar,” Rota mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2