
Setelah beberapa saat berjalan menyusuri pedesaan, Uzan dan Edgar berhenti di depan rumah Sara. Mereka berdua turun dari kuda mereka.
Rumah Sara terlihat sederhana. Namun bagian dinding luarnya terlihat ada sedikit retakan akibat gempa. Tidak heran jika keluarga Sara belum mengungsi.
Setelah pintu diketuk, seorang pria paruh baya membukakan pintu.
“Pangeran Uzan?” pria itu menyambut.
“Selamat siang, Tuan Odd.” Sang Pangeran menyapa.
“Ada apa gerangan anda mau merepotkan diri untuk datang kesini?”
“Apakah Sara ada?”
“Tentu saja ada,” Jawab pria itu. “Ia ada di dalam. Silahkan masuk!”
Setelah itu, Uzan dan Edgar masuk ke rumah Sara. Mereka di persilahkan duduk oleh tuan Odd di ruang tamu. Setelah itu, tuan Odd masuk ke dalam untuk memanggil Sara.
Edgar berbisik di samping Uzan, “Semoga saja dia mau.”
Uzan mengangguk “Ya. Semoga saja.”
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Siapa lagi yang ingin mengunjungi Sara?” Edgar berdiri dan membukakan pintu. Prajurit itu mendapati Rena, Penyihir wanita berjubah putih petinggi Istana.
“Rena?” ujar Edgar sambil terkejut, “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Oh, Uzan dan Edgar ya?” kata Rena “Aku sedang mencari Sara. Kalian?”
Uzan menghela “Aku juga sedang mencari Sara untuk mengikutiku menjalankan tugas untuk memulihkan kerajaan ini.”
Rena duduk di sofa tamu “Jadi, kalian sudah memutuskan anggota yang akan ya?”
Uzan mengangguk “Jumlah semuanya akan ada tiga orang. Aku, Edgar, dan Sara”
“Sebenarnya kami ingin mengajakmu, Rena!” Ujar Edgar. Ia kembali duduk. “Tapi tahu sendiri kan, kau sibuk jadi petinggi dan sebagainya”
“Memang benar,” Rena tampak kecewa. “Sayang sekali”
Uzan berujar, “Jadi, apa maksud kedatanganmu ke sini?”
“Sebenarnya, aku ingin menjadikan Sara sebagai penyihir Istana melalui jalur Fast Track” Rena menghela. “Apa boleh buat. Ia akan dipilih sebagai pendamping untuk menjalani tugas. Raja Endan memang bertindak cepat atas hasil dari Rapat kemarin.”
“Apa kau tidak dikawal oleh para Prajurit? Kau adalah petinggi”
“Beberapa prajurit menawari pengawalan kepadaku ketika aku akan kesini. Namun aku menolaknya. Aku bilang bahwa aku ingin bertemu dengan teman lama.”
“Rena,” panggil Edgar. “Kau bisa menjelaskan rapat yang kau lakukan dengan Raja Endan?”
“Aku sedang tidak ingin membahasnya, Edgar,” wajah Rena terlihat cemberut. “Padahal, aku sudah membuat keputusan bersama para anggota kelompok Penyihir dan Klerik Istana, tapi ketika rapat, Raja Endan meminta agar kami menyediakan solusi yang langsung bisa dieksekusi, bukan hanya laporan dan perencanaan.”
“Dan Faraq memiliki solusinya,” Uzan berkomentar.
“Itu benar,” Rena mengangguk. “Terkadang, aku berpikir bahwa Raja Endan langsung mengambil keputusan karena suatu keputusasaan.”
“Atau karena didesak warga karena unjuk rasa kemarin.”
“Walaupun begitu,” Edgar menambahkan, “langkah Raja Endan untuk langsung bertindak patut diacungi jempol. Ini bukti bahwa Raja Endan memang menjawab panggilan rakyatnya.”
Rena melirik Edgar sejenak, lalu berujar, “Aku tidak yakin, tapi memang gempa ini patut dihentikan. Apalagi Faraq juga menerima pesan dari ayah.”
__ADS_1
Uzan memegang dagu. “Kau sudah diberi tahu oleh ayahmu, kan?”
“Belum,” Rena menggeleng. “Sejak diangkat menjadi Penasehat Istana, ayah lebih akrab dengan Faraq.”
“Tenang saja...” Edgar menenangkan. “Yang paling penting, Kamasa punya inisiatif untuk memulihkan kerajaan ini.”
Beberapa saat kemudian, Sara datang. Gadis berambut pirang itu langsung terkejut ketika melihat Uzan, Edgar, dan Rena yang sudah menunggunya dan segera duduk di kursi tamu. Dengan suara lembutnya, ia menyapa, “Ada apa gerangan kalian datang kesini?
“Sebenarnya kami ingin menculikmu.” Celetuk Edgar. Uzan langsung menatap Edgar sambil terheran.
Rena berdehem untuk mengingatkan Edgar untuk serius. Edgar memasang wajah santai.
Uzan menyatakan maksud kedatangannya. “Sebenarnya kami ingin mengundangmu untuk mengikuti kami menjalani sebuah tugas untuk memulihkan bencana ini.”
“Uzan,” kata Edgar “Apakah kita tidak bicara basa basi dulu?”
Rena berkata, “Kita akan basa – basi nanti, Edgar”
“Baiklah.” Edgar mengangkat bahu.
Uzan, Rena, dan Edgar memberitahukan tentang hal – hal yang akan di sampaikan kepada Sara. Bahkan Rena juga menceritakan maksud awal kunjungannya ke rumah Sara.
“Jadi, kalian ingin mengajakku untuk melakukan perjalanan guna memulihkan bencana ini?”
“Begitulah, Sara” kata Uzan.
“Aku tidak tahu…” kata Sara dengan nada ragu, “aku harus menjaga ayahku karena dia hanya sendirian di sini.”
Seketika itu pula tuan Odd datang dan menyambut Uzan dan lainnya sambil membawa teh. Sembari ia bersimpuh untuk meletakkan teh, ia berujar, “Tidak apa – apa, Sara.”
Bagiku, ini adalah suatu kehormatan untuk mengikuti pangeran Uzan untuk memulihkan bencana ini.”
“Ayah” kata Sara “Mengapa ayah harus repot – repot membuatkan teh? kan ayah bisa menyuruhku.”
Edgar berdehem. “Prajurit Edgar”
“Ya,” Tuan Odd tersenyum. “Aku menyediakan jumlah teh yang cukup. Di samping itu, mungkin kalian berempat bisa berbicara antara satu sama lain tentang pelaksanaan tugas ini.”
“Itu benar,” kata Edgar “Tuan Odd juga menyaksikan kita berlima.”
“Yah, begitulah.” kata Tuan Odd “Kalian berempat bersama Rafael yang beberapa tahun lalu hilang entah ke mana.”
Rena mendengus kesal karena Edgar mengatakan itu dan menyayangkan sesuatu hal buruk di masa lalu.
“Sara memang sudah beberapa kali menjalankan tugas, walaupun bukan tugas istana,” kata tuan Odd, “Namun sifatnya yang masih manja padaku juga mungkin merupakan penghalang untuk tujuan kalian”
“Menurutku,” kata Uzan, “Sara bukanlah perempuan manja dan kekanak – kanakan. Tapi kita juga harus menghargai keputusannya untuk melindungi orang tuanya.”
“Terima kasih, pangeran Uzan” Sara tersenyum.
“Begitulah.” Tuan Odd mengangguk. “Aku akan meninggalkan kalian disini untuk membicarakan perihal tugas yang akan kalian emban dan iya atau tidaknya Sara akan ikut menunaikan perjalanan yang kalian maksud,” Tuan Odd berjalan meninggalkan ruang tamu untuk masuk ke dalam. “Aku permisi dulu.”
“Apa kau harus menyebutkan tentang Rafael, Edgar?” Rena mendengus sambil bersedekap.
“Hei!” Edgar Protes “Dia adalah teman seperjuanganku sebagai prajurit dan salah satu teman masa kecil kita,” Edgar bertopang dagu. “Kenapa Tidak?”
“Sayang sekali dia menghilang secara misterius beberapa tahun lalu” Uzan menyayangkan “Bagaimana kalau kita membicarakan tugas kita sekarang?”
Rena mengabaikan protes Edgar dan langsung menyatakan maksudnya, “Sebenarnya aku bisa langsung menjadikanmu Klerik istana dengan jalur Fast Track. Secara, kau direkomendasikan ayahku untuk belajar di Igardias dan kau bisa melakukan Max Purify. Menurutku, tidak banyak Klerik yang punya keterampilan itu.”
“Iya, Sara,” Edgar mendukung. “Menjadi Klerik Istana lebih cocok untukmu.”
__ADS_1
Sara hanya menghela. Gadis berambut pirang itu tidak mengatakan apapun. Keheningan menyeruak diantara mereka berempat.
Untuk memecah kesunyian, Uzan berujar, “Kita sudah berdiskusi bahwa Rena akan membatalkan rencananya untuk mengangkatmu langsung menjadi Klerik istana.”
“Itu benar,” Rena mengangguk. “Tapi setelah tugas Istana ini selesai, aku akan langsung mengangkatnya menjadi Klerik Istana.”
Edgar memperhatikan Sara yang tampak murung. “Sekarang, apakah Sara mau atau tidak?”
“Aku merasa bimbang, kawan – kawan,” Sara mulai membuka suara. “Sebenarnya, aku mau. Ayah juga sudah mendukungku untuk mengikuti tugas dan lain – lain. Namun, kau tahu kan. Keputusanku dulu untuk tidak menjadi pegawai istana karena sepeninggalan ibuku yang…” wajah Sara menggelap “Meninggal.”
“Aku tahu Sara, tapi…” Rena menghentikan ucapannya, “Uzan, apa kau tahu harus berkata apa?”
Edgar menambahkan, “Yah, kami tahu tentang alasanmu untuk melakukan hal sudah sampai sekarang kau lakukan. Tapi kita sedang dalam situasi genting sekarang. Kita harus memulihkan gempa ini dan semuanya akan baik – baik saja.”
“Edgar..” Uzan berkata “Biarkan Sara memutuskan, mungkin masa lalunya mempengaruhi berbagai keputusan yang diambilnya dan… “Uzan menghela, “Seperti yang sudah aku katakan, Sara memiliki keputusan dan kita sedang dalam situasi genting sekarang.
Rena mengangguk. “Ini juga menyangkut tentang rakyat kita, lebih cepat, lebih baik”
“Maaf, aku tidak bisa tidak menguping pembicaraan kalian” tuan Odd datang. “Dan Sara..” Ia duduk di samping Sara. “Hal ini bukanlah hanya masalah kita, namun masalah penduduk lainnya juga. Jika aku jadi kau, aku akan ikut. Selain sebagai kehormatan karena mengemban tugas istana, ini juga sebagai tambahan pengalaman bagimu. Dan kau tidak perlu meratapi hal – hal yang lalu dan membiarkannya untuk mempengaruhi keputusanmu sekarang.”
“Ayah,” ujar Sara, “Siapa yang akan menjaga ayah jika aku setuju untuk menjalankan tugas ini?”
“Aku melihat para prajurit istana bersusah payah bertugas untuk mengevakuasi warga," ujar Tuan Odd. "Aku akan langsung ke pengungsian. Di sana banyak orang – orang yang senasib seperti diriku, bahkan lebih buruk”
“Itu benar,” kata Uzan.
“Lagi pula, aku akan bisa menghilangkan rasa kesendirian dengan para pengungsi yang memiliki nasib sama.”
“Itu juga benar.” kata Edgar.
“Baiklah, aku akan ikut” Sara memeluk ayahnya. Tuan Odd juga membalas pelukan putrinya. “Hati – hati ayah…”
Uzan, Edgar, dan Rena merasa lega ketika menyaksikan Sara berpelukan dengan ayahnya.
“Baiklah, karena sara Ikut,” Uzan langsung memutuskan. “Kita akan berangkat besok.”
“Besok tepat?” tanya Rena.
“Iya,” Uzan mengangguk.“Lebih cepat, lebih baik.”
“Baiklah,” kata Rena. “Aku akan ikut untuk menghadiri pelepasan kepergian kalian besok."
Setelah Tuan Odd dan Sara selesai berpelukan, gadis menyambut kembali tamunya dengan tatapan terang. “Silahkan, tehnya diminum!”
Uzan dan lainnya menyetujui dan meminum teh mereka.
“Tiga Anggota,” Uzan menyimpulkan. “Aku, Edgar, dan Sara akan menjalani tugas ini."
“Bagus!” kata Edgar “Sara, besok pagi aku akan menjemputmu di sini sembari menuju titik perkumpulan.”
“Baiklah” kata Sara, wajahnya tampak cerah. “Aku akan bersiap – siap.”
“Tuan Odd,” kata Uzan, “Sebaiknya anda sesegera mengungsikan diri ke tempat yang telah disediakan, kurasa rumah ini kondisinya sudah tidak kondusif.”
“Baiklah, Pangeran Uzan,” Tuan Odd menyetujui. “Memang, Aku akan segera memindahkan diri kesana sekitar tiga hari lagi. Ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Sekali lagi saya berterima kasih atas kedatangannya.”
“Kalau begitu, kami permisi dulu,” Uzan disusul Edgar dan Rena yang berdiri bersamaan sambil memberi hormat kepada tuan Odd dan Sara.
Ketika Uzan dan Edgar berjalan ke pintu depan, Edgar berkomentar, “Tuan Odd, Tehnya enak!”
__ADS_1
Tuan Odd tersenyum. “Akan kupersiapkan bekal untuk kalian bertiga besok.”