Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Diskusi di Kapal


__ADS_3

"Apakah benar bahwa kau bisa melakukan Plasma, Rota?"


Santapan Uzan dan lainnya sudah habis. 10 menit setelah mereka beristirahat. Mereka mulai memutuskan untuk kembali berdiskusi tentang kasus yang sedang mereka hadapi.


"Itu benar, pangeran," kata Rota. Sang Silvar duduk sambil bersedekap. Resikonya sama seperti yang dilakukan oleh Arika. Yaitu selama tiga hari, dua lenganku tidak akan bisa digunakan.


Tunggu sebentar!" Kata Dubal. "Seingatku kau membutuhkan bantuan Sara dan Arika untuk berpindah tempat dari desa Sakanan ke area luar gua akais,bukan?


"Itu benar, Dubal" kata Arika. "Tapi perlu diketahui bahwa jika seorang penyihir, atau--- dalam konteks ini---Rota melakukan plasma, batas kemampuan sihir yang seharusnya bisa dilakukan oleh beberapa orang, kali ini bisa dilakukan sendiri. Bukankah begitu, Rota?"


"Itu benar, Arika," kata Rota.


"Jika benar begitu, syukurlah," kata Uzan. "Pada akhirnya kita juga akan melakukan sihir itu. Tapi kita harus menentukan langkah saat ini juga tentang ketika kita sampai di Igardias.


"Di sana ada ada Raja Guvar dan Ratu Agatha," kata Arika. " Jadi, kita tidak perlu khawatir."


"Sebenarnya aku juga akan melaporkan tentang permasalahan ini kepada mereka berdua. Tentu saja" kata Uzan. "Akan tetapi, kalau bisa aku juga ingin agar kita bisa memantau perkembangan Pulau Kastala...


"Itu tida masalah, pangeran," kata Linda.


"Maksudmu?" Tanya Uzan


"Ketika kita bertemu dengan Uvuk untuk memperoleh tongkat Lumina, ia bilang bahwa ia akan menyebarkan maklumat tentang pangeran Uzan kepada para pixi, kan?


"Itu benar," kata Edgar. "Lalu?"


Linda menjentikkan jari. Aku bisa melakukan telepati kepada Tuan Uvuk bahwa dan....


"Tunggu sebentar," kata Sara. "Kau cerita kepadaku di rumah aman bahwa jika ketika pixi melakukan telepati dari kejauhan tanpa melihat pixi lainnya, maka kekuatannya berkurang drastis kan?


"Itu benar," kata Linda. "Tidak ada cara lain selain itu, dan demi tugas ini, aku harus melakukannya."


Uzan meghela. "Aku sarankan bahwa jangan sampai kalian keletihan ketika melakukan tugas kalian. Lagipula, jika memang Linda mempunyai kekuatan Telepati dengan Uvuk, aku merasa lega."


Sara memegang dagu. ,"Kalau masalah telepati, seingatku aku ingat bahwa ada piranti telepati yang ada di Istana Igardias, bukankah begitu, Arika."


Gadis penyihir itu terpaku, lalu ia berkata, "Aku tidak yakin, tapi mungkin kita akan tanyakan saja kepada Para pimpinan Istana tentang ini,"


"Baiklah," kata Uzan. "Kemampuan yang kalian inginkan sangatlah penting pengaruhnya kepada tugas ini. Terima kasih"


"Apakah kita tidak akan membicarakan tentang Fara dan para ajudannya, Uzan." Kata Edgar. "Maksudku, tentu saja kita juga curiga tentang kaling hijau yang digunakan oleh Malvin itu."


"Itu kalung jimat rimasti" kata Arika. Menurut sepengetahuanku, "kakung itu memiliki daya untuk menambah kekuatan orang yang memakainya menjadi berkali - kali lipat. Apalagi, jika kita lihat temtang Malvin, kita tidak bisa memungkiri bahwa Penyihir dua elemen itu tidak pernah ada sejauh yang aku ketahui."

__ADS_1


Uzan memegang dagu. "Apakah kau punya maklumat lain tentang kalung itu, Sara?"


"Aku tidak mengetahuinya, pangeran," kata Sara.


“Baiklah,” kata Uzan. “Kita akan menangguhkan hal tersebut ketika kita sudah sampai di Pulau Igardias.


“Uzan,” ujar Edgar. “Kita sudah tahu bahwa kita sudah mengirimkan beberapa Material Magis ke Istana. Jika salah satu fungsi dari Tongkat Lumina ini sangat berguna bagi kita—tongkat itu sudah menyelamatkan kita—pastinya Material Magis seperti Kain Kagigar Perak, Kepala Sentafal, dan Batu Akais itu juga punya kegunaan masing – masing.”


Uzan mengangguk. “Tentu saja mereka punya fungsi masing – masing, apakah kau bisa menjelaskannya, Arika?”


“Bisa, Pangeran,” kata Arika. “Mereka masing – masing memiliki tiga fungsi pokok.”


Arika ingin mengeluarkan tongkat sihirnya. Namun ia menyadari bahwa kedua lengannya tidak bisa bergerak. “Aku ingin menjelaskan melalui kalimat barisan cahaya, pangeran, tapi….” Arika termenung sejenak, kemudian, ia berujar, Sara, apakah kau bisa membantuku untuk menuliskan kalimat penjelasan?”


“Bagaimana caranya?”


“Kau bisa ambil tongkat sihirku di topi, karena jika bukan aku, biasanya ia terletak di topi.”


“Baiklah,” Sara mengangguk. Ia sudah pernah mengambil Tongkat Lumina. Jadi, untuk kesekian kalinya, Klerik itu memasukan tangannya ke topi penyihir Arika, dan mengeluarkan tongkat sihirnya.


Kemudian, Ariak memberitahu tentang bagaimana cara untuk menyalurkan pikirannya ke tongkat tersebut.


Sara menempelkan ujung tongkat tersebut ke dahi Arika. Kemudian, tongkat tersebut menyala. Lalu, Klerik itu melepaskan tongkat itu dan mengarahkannya ke ruanga kosong.


Kain Kagigar Perak


• Pembangunan kembali,


• Menyembuhkan Luka parah


• Pemulihan tenaga kembali


Kepala Sentafal


• Anti sihir


• penggandaan kekuatan


• Percepatan gerakan


Batu Akais


• Penggandaan Kekuatan

__ADS_1


• Pengurangan Tenaga


• Perlambatan gerakan.


Uzan dan lainnya memperhatikan penjelasan yang dilakukan Arika lewat kalimat – kalimat melayang tersebut. Rota dan Dubal mengangguk menyetujui poin – poin singkat yang baru saja tertera.


“Bah!” Dubal menggeram, “Sayang sekali bahwa kita memberikan Material Magis bermanfaat itu kepada Faraq.”


“Itu benar,” Edgar bekara dengan kesal. “Pastinya benda – benda itu akan digunakan untuk memenuhi kehendaknya.”


“Sebelumnya, aku melihat bahwa Material Magis selanjutnya adalah Rivata, kan?” ujar Rota. “Apakah tidak ada penjelasan tentang itu?”


Uzan berkata, “Seingatku sesuai dengan penjelasan Arika, Rivata adalah semacam Ivy, pengendali tanaman, tapi aku sudah kehilangan ingatan tentang dia.”


“Maksudnya?” tanya Sara.


“Ingatan arah tentang Material Magis yang sebelumnya tertanam di pikiranku sudah sirna,” kata Uzan. “Aku sudah tidak mengetahui, tidak mengarah, dan tidak berkeinginan kembali untuk memperoleh Material Magis.”


“Syukurlah, pangeran,” Linda memegang dada. “Itu berarti Pangeran Uzan sudah tidak dikendalikan.”


“Pikiranku sudah bebas sekarang,” Uzan mengangguk. Kemudian, sang pangeran menatap Arika yang mulai memudarkan sihir keterangan cahaya miliknya.


“Kira – kira, apa yang Faraq inginkan dengan mengambil alih Kerajaan Kastala?” tanya Arika.


“Itu sudah pasti, kan?” Dubal memutar kedua bola matanya.


“Maksudnya?”


Uzan bersedekap. “Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa dengan langkah awal ini, Faraq pasti ingin menguasai seluruh Kerajaan di Dunia Namaril.”


“Bagaimana kau tahu itu, pangeran?” tanya Sara.


“Ini adalah perumpamaan jika aku menjadi Faraq.”


“Tentu saja…” Akhirnya Sara menyadari. “Seperti yang sudah diketahui bahwa Faraq adalah petinggi bagian hubungan antar negeri, jadi hal itu sangatlah memungkinkan.”


Edgar berujar, “Pastinya hal ini tidak disetujui oleh para pimpinan kerajaan lain.”


“Syukurlah jika kita sudah mengetahui tentang tujuan besar Faraq, meskipun hanya spekulasi,” kata Uzan. “Tentu saja kita akan bekerja sama dengan kerajaan lain untuk mengambil alih kembali kerajaan.”


“Pangeran Uzan, apakah kau tidak merasa sedih karena ini?” tanya Arika dengan nada khawatir.


Uzan menghadap Arika sembari termenung. Kemudian, sang pangeran berkata, “Dengan ini, aku bisa beruntung karena aku tidak perlu curiga tentang misi ini dan sudah punya keyakinan tentang apa yang akan aku lakukan setelah ini, Arika. Selain itu, jika ayahku, Raja Endan pernah mengalami masa peperangan ketika ia masih muda dan harus berurusan dengan hiruk pikuk kondisi itu, hal yang sedang aku alami ini tidak apa – apanya.”

__ADS_1


Sara memandang raut wajah setelah Uzan melontarkan jawaban tersebut. Walaupun kata – katanya terdengar meyakinkan, sang pangeran tampak khawatir.


__ADS_2