
Beberapa saat setelah gempa tersebut, seseorang keluar dari pintu kedai. Ia berbadan kekar dan tidak memiliki sehelai rambutpun di kepalanya. Ia memiliki jenggot sepanjang dada.
“Astaga! Bencana itu lagi!” kata orang tersebut dengan nada kesal.
Setelah itu, si pria menoleh ke arah Uzan. “Pangeran Uzan?” orang itu langsung duduk di sebelah Sara. Sara yang sedikit terkejut menggeser posisi duduknya.
“Bagaimana kau mengenalku?” tanya Uzan.
“Namaku Dubal. Aku adalah mantan prajurit kerajaan Oslar yang tinggal di Kastala dan aku mengenal baik raja Endan dan ratu Sofia. Apa yang kau lakukan di sini?”
“Kami sedang melakukan perjalanan untuk memulihkan keadaan ini” kata Uzan.
“Apa kau bercanda? ” kata Dubal sambil mendengus “Dimana prajurit lainnya?”
“Tidak” kata Uzan “Tidak ada prajurit. Hanya dua temanku yang sedang duduk disini. Di sampingku adalah Edgar.”
Edgar hanya mengangguk sambil mengamati Dubal.
“Perempuan yang ada sedang duduk di sampingmu adalah Sara”
Sara tersenyum sembari sedikit memalingkan pandangan ketika Dubal melihatnya. Dubal tidak memperdulikan. Perhatiannya kembali tertuju ke arah Uzan.
“Oh ya?” Dubal sambil memainkan jenggotnya “Apa posisi mereka?”
“Edgar adalah salah satu prajurit terbaik di Istana dan Sara adalah seorang Klerik.”
“Klerik ya? Menarik sekali” kata Dubal “Jadi, bagaimana kalian akan menghentikan gempa yang terus menerus terjadi ini?
Uzan terdiam sejenak. Ia merasa sedikit ragu untuk membagikan maklumat tentang material magis kepada orang asing, namun karena ia adalah mantan prajurit dan mengaku bahwa dia mengenalnya, sang pangeran memutuskan untuk memberitahukannya.
“Untuk pertama, kami memerlukan Kain Kagigar Perak”
“Hanya itu?”
“Ya,” kata Uzan. “Hanya itu saja yang perlu kau ketahui.”
Duba bersedekap sambil tersenyum. “Di atas bukit Giraf”
“Bagaimana kau tahu?”
“Ya,” kata Dubal. “Aku dan Istriku sering berpergian kesana. Ada banyak hal yang perlu diwaspadai. Ujian untuk mendapatkan material magis itu hanya salah satunya”
Sara merasa sedikit tertegun ketika Dubal sudah mengetahui tentang adanya Ujian Kain Kagigar.
Dubal memilin jenggotnya. “Jika pangeran mau, aku memiliki beberapa maklumat tentang Bukit Giraf dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan itu. Hanya itu. Namun, tentu saja aku harus mendapatkan pemasukan setara dengan apa yang akan aku lakukan. Mungkin aku hanya akan membantu di sekitar bukit Giraf saja. Untuk selanjutnya, aku akan pulang dan hanya berharap semoga pangeran bisa lekas menyelesaikan tugas kerajaan. Bagaimana?”
__ADS_1
“Baiklah,” Uzan menyetujui. “Berapa yang kau minta?”
“Sebenarnya, lima ratus Roll jika kau adalah pengelana biasa. Karena kau adalah seorang pangeran, seribu Roll. Bagaimana?"
Edgar menggebrak meja “Apa – apaan ka-“
“Edgar, tunggu!” cegah Uzan. “Orang ini bermaksud baik. Ia juga ingin mendapatkan pemasukan setara dengan jasa yang diberikannya.”
Sang pangeran memandangi Dubal sejenak. Dubal mengangkat alis sebagai tanda minta persetujuan pada sang pangeran. Ia tampak tidak perduli dengan Edgar yang sedang memandangnya dengan tatapan tajam.
Setelah keheningan sesaat, Uzan tersenyum. “Jika aku memberimu dua ribu lima ratus Roll, apa lagi yang kau tawarkan?”
Pria itu tertawa terbahak – bahak sambil memukul - mukul meja. Sara merasa risih dan harus bergeser menjauh dari Dubal. Mereka bertiga hanya memandangi pria itu. Setelah tawanya reda, ia berujar, “Kau memang memanfaatkan statusmu sebagai pangeran.”
“Tentu saja!” kata Uzan dengan meyakinkan sembari bersandar dan bersedekap.
“Memang seluruh uang yang dibawa Uzan tidak memiliki kegunaan untuk memulihkan gempa Kastala. Namun, jika ada orang yang bisa memudahkan dalam tugas ini, maka kesempatan ini tidak bisa dilewatkan. Apalagi kalau bisa lebih.
Akhirnya, pria itu berkata, “jika itu yang kau mau, aku akan memberi jasa tambahan.”
“Baiklah” Kata Uzan.
“Apakah kita sepakat?” sang pria menyodorkan tangannya untuk disalami.
“Ya, kita akan berangkat segera setelah ini” Uzan menyalami tangan orang itu sambil menganngguk. “Aku akan mengurangi jumlah uangnya jika kau terlalu lama mempersiapkan diri.”
Pria itu langsung berdiri dan beranjak pergi.
Setelah pria itu pergi, Edgar berujar dengan nada gusar. “Uzan, apa kau yakin? Aku tidak begitu suka dengan orang ini.”
Uzan menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak punya komentar apa - apa tentang itu. Namun, kita punya kesempatan untuk mendapatkan maklumat dan anggota untuk mengumpulkan kain Kagigar dengan cepat. Maka, aku tidak ingin kesempatan ini terlewatkan.”
Edgar menghela kesal “Baiklah! Sara, kau juga tidak suka dengan orang itu kan? Tidak heran kalau kau merasa risih ketika duduk dengan orang itu.”
“Tidak, Edgar” kata Sara “ Pangeran Uzan benar. Jika Ia memiliki maklumat yang kita butuhkan, maka kita tidak boleh menyia – nyiakan kesempatan ini.”
“Di samping itu,” kata Uzan. “Aku memberinya lebih supaya ada kesan bahwa kita yang sedang memanfaatkannya. Bukan sebaliknya. Dia adalah mantan prajurit Kerajaan Oslar. Sekiranya cukup berumur dan berpengalaman. Berbaiklah dengannya. Mungkin Kau bisa belajar satu atau dua hal dari mantan prajurit itu.
Edgar terdiam sejenak. Setelah menenangkan diri dan berpikir matang – matang. Setelah beberapa saat, akhirnya ia menghela dan berujar, “Baiklah.”
Setelah itu, pelayan datang memberikan the kepada Uzan dan kedua kawannya.
“Tadi aku mendengar orang keributan dari dalam” kata pelayan itu “Apa ada masalah?”
“Kami baru saja kedatangan orang botak yang marah – marah sendiri,” kata Edgar sambil bersedekap.
__ADS_1
“Apa itu benar?” Pelayan itu tampak khawatir.
“Tidak” Uzan meralat “Kami baru saja bernegoisasi dengan orang botak tadi”
“Syukurlah” kata Pelayan itu, “Tuan Dubal memang suka marah – marah sendiri. Istrinya, Nyonya Natalia juga sering menegurnya.”
“Nyonya Natalia yang berprofesi sebagai Tabib itu?” Sara langsung bertanya.
“Iya” kata pelayan itu “Apa kau sudah bertemu dengannya?”
“Aku adalah seorang Klerik” Sara memperkenalkan diri “Aku baru saja disembuhkan oleh Nyonya Natalia.
“Oh, ya?” kata Pelayan itu. “Pasti kau langsung bisa sembuh kan?”
“Iya.”
Pelayan itu tersenyum. “Dia bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dari yang magis maupun yang biasa. Mereka berdua bukanlah penduduk asli pulau Kastala”
“Itu menakjubkan,” kata Uzan. “Apa kau tahu lebih tentang Dubal dan Nyonya Natalia?”
“Mereka terasa menyenangkan ketika diajak bicara. Namun, mereka tidak terbuka ketika ditanyai tentang kehidupan mereka di Oslar.”
“Kenapa?”
“Saya juga tidak tahu. Seakan – akan mereka merahasiakannya”
“Baiklah. Terima kasih atas hidangannya.”
“Selamat menikmati.”
Pelayan itu kembali memasuki kedai.
“Dengan apa Nyonya Natalia menyembuhkanmu, Sara?” tanya Uzan.
“Dengan melingkarkan pita Azure di pergelangan tanganku,” kata Sara “Hal itu sangat menakjubkan karena tidak banyak tabib yang tahu tentang ranah Penyihir dan Klerik apalagi menyediakan alat magisnya.”
“Lagipula,” kata Edgar “Apa fungsi pita itu?”
“Untuk memulihkan kekuatan Magis milik Penyihir ataupun Klerik”
“Kalau menggabungkannya dengan maklumat yang akan kita peroleh dari Dubal,” Uzan bersedekap “Pasti Nyonya Sara atau Tuan Dubal memang punya kaitan khusus dengan hal – hal magis.”
“Kurasa itu benar, pangeran Uzan”
“Baiklah, kita akan membahasnya nanti.”
__ADS_1
Uzan, Edgar, dan Sara mulai meminum teh mereka.