
Uzan memiliki tiga tebakan ketika sedang ada di posisi lingkaran seperti ini. Pertama, seluruh prajurit batu akan melakukan serangan bersamaan ke arahnya karena ia adalah target serangan pertama. Kedua, satu persatu dari para prajurit yang sedang mengitarinya akan menyerangnya. Ketiga, salah satu prajurit akan menjadi wakil dari mereka semua dan bertarung satu melawan satu dengannya di dalam lingkaran ini.
Tebakan Uzan yang ketiga terbukti benar. Salah satu dari para prajurit batu tersebut. Berjalan ke tengah. Sang pangeran mengira bahwa ia akan menerjang dan menyerang. Namun, ia hanya berjalan tenang.
Setelah itu, Uzan dan salah satu prajurit batu tersebut berhadapan di tengah lingkaran para prajurit batu.
“Kau bisa memanggilku Dim,” kata prajurit tersebut. “Dan ini adalah wilayah Tuan Invel.”
“Aku kira bahwa kalian akan bertarung secara bersamaan,” kata Uzan. “Kuakui, hal ini sangat ganjil.”
Dim menghela. “Kita semua tahu bahwa kalian kau akan berjalana dengan penyihir itu dengan menggunakan sihir kubah angin untuk mencapai batu Akais itu.Itu sebabnya kami memisahkan kalian berdua. Agar kalian tahu bahwa untuk mencapai batu akais tersebut, tidaklah semudah itu.”
Uzan menatap Dim. “Di dalam posisi ini, apakah kau bermaksud untuk bertarung melawanku atau hanya berbicara dan melakukan negoisasi.”
Dim berujar, “Di sini, aku hanya ingin memberi maklumat kepada kalian berdua bahwa para prajurit batu, termasuk diriku, dikendalikan sepenuhnya oleh Tuan Invel.”
“Lalu?”
“Kau harus mengetahui bahwa perkataannya tidak harus ditanggapi secara serius walaupun ia berperan sebagai pemandu bagi kalian. Hal ini karena, seperti yang telah kau ketahui bahwa ia suka bermain – main dan berputar – putar.”
“Hal ini sangatlah ganjil, Dim,” kata Uzan. “Jika kau tidak punya hal lain untuk dikatakan, kita bisa langusng bertarung.”
“Itu tidak perlu dan tidak diperlukan wahai pangeran Uzan,” Dim menggeleng. “kami tahu bahwa kau akan langsung kalah jika kita bertarung di sini.”
“Maksudmu?”
“Kami bisa menggunakan kekuatan kami untuk membuat tubuhmu tidak bisa bergerak dan langsung melayangkan menghempaskanmu,” kata Dim. “Di samping itu, aku juga berasumsi bahwa kau tidak punya niatan bertarung kecuali memang sangat diperlukan. Itu adalah harapanku.”
“Baiklah,” kata Uzan. “Lalu, katakan kepada kami tentang Tuanmu Invel dan segala seluk beluk tentang cara bicaranya yang berputar.”
“Pembicaraan Tuan Invel tidak sepenuhnya berputar, pangeran Uzan,” kata Dim.”Terkadang, ia memang suka membuat kenyataan palsu dan memutarbalikkan fakta. Tapi, tidak semuanya.”
Uzan memikirkan maklumat yang baru saja dilontarkan oleh Dim. Beberapa saat kemudian, ia berujar, “Pastinya kau bisa meyakinkanku bahwa cerita Invel tentang penyihir angin yang memperoleh Batu Akais itu hanyalah sebuah karangan, bukan?”
“Itu hanyalah cerita rekaan biasa,” kata Dim. “Tidak ada yang pernah memperoleh batu Akais yang ada di gua akais ini.”
“Sekalipun?”
“Sekalipun.”
“Itu berarti bahwa kita berdua juga tidak mempunyai kesempatan untuk memperolehnya?”
“Hal itu berbeda,” Dim menghela. “Sejak Ujian Pertama yang kau lakukan dengan Arika dan mendengar tentang tujuan kedatanganmu kemari untuk mendapatkan Batu Akais, maka Tuan Invel terlihat tertarik. Mungkin ia berperilaku buruk. Tapi sebenarnya, Tuan Invel sang drakula adalah orang yang sangat teliti.”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti tentang apa maksudmu, kata Uzan. “Tapi lanjutkan penjelasannya.”
“Setelah Tuan Invel tahu bahwa tujuanmu adalah untuk menghentikan gempa di Kastala, beliau memberitahu kepada kami untuk memberikan Batu Akais ini secara Cuma – Cuma.”
“Apakah itu adalah cerita rekaan atau kau ingin menipu kami?” geram Uzan.
“Tuan Invel juga sudah tahu bahwa kau memiliki krisis kepercayaan, pangeran Uzan,” kata Dim. Namun ini adalah kenyataan.”
Uzan tahu bahwa pengetahuan Dim tentang dirinya ini adalah akibat cerita antara dia dan Arika ketika mengisi kekosongan sebelumnya. Lalu, ia memutuskan untuk percaya saja walaupun tidak sepenuhnya. “Baiklah, Apa yang terjadi dengan Arika di sisi lain lingkaran ini?”
“Ia sedang diberi maklumat yang kurang lebih sama denganmu,” kata Dim. Kau akan segera bertemu dengannya. Sambil menunggu, sebaiknya kau istirahat sebentar.
Beberapa saat kemudian, pikiran Uzan memudar. Ia merasakan perasaan hening sama yang ia rasakan ketika ia memasuki gua ini. Sangat kosong. Setelah itu, ia memutuskan untuk menaruh pedangnya di sarung pedang. Lalu duduk bersila sembari memejamkan mata.
Para prajurit batu, termasuk Dim, perlahan wujudnya memudar menjadi ratusan cahaya perunggu yang menyebar dan lenyap.
-
-
-
Arika mengedarkan pandangan ke seluruh prajurit batu yang sedang mengelilinginya. Ia tidak sangka bahwa ia akan dengan mudah dipisahkan dengan Uzan seperti ini. Ia mengira bahwa ia akan menghadapi satu per satu dari mereka. Seperti yang ia alami pada ujian kedua ketika ia harus berhadapan dengan Sara dan Rota.
Setelah itu, seorang prajurit batu datang kehadapan Arika. Arika mempunyai ide. Karena ia memiliki gelang Azure, ia akan bisa mlakukan sihir pusaran Angin agar seluruh prajurit batu yang sedang mengelilinginya terhempas, terpental, dan terkikis.
Namun, ketika penyihir itu berkonsentrasi akan sihirnya, tidak ada yang terjadi. Sihirnya nihil. Apa yang terjadi?”
Setelah itu, ada seorang prajurit batu yang ada di depannya. Ia masih memegang pedang dan tameng. Entah mengapa Arika merasa bahwa ia akan langsung diserang.
Akan tetapi, satu prajurit batu itu tidak melakukan serangan. Malahan, ia berujar, “kau tidak bisa melakukan saat ini, Arika?”
Dahi arika mengerut. “Maksudmu?”
“Tempat ini adalah alam magis gua akais dan masih termasuk dalam wilayah gua walaupun kau bisa merasakan terik matahari dan kau bisa melihat langit dan juga awan – awan yang mengambang di atas.”
“Baiklah,” kata Arika. “Apakah kau tidak menyerangku?”
“Tidak,” kata prajurit batu tersebut. “Justru aku ingin bicara denganmu.”
“Bicara tentang apa?”
“Bicara tentang hal – hal yang berkaitan dengan batu Akais,” kata prajurit batu tersebut. “Sebelumnya, perkenalkan, namaku adalah Dim.”
__ADS_1
Arika tertegun. Ia tidak bisa mengira tentang apa yang sedang terjadi di sini.
Dim berujar, Sebelumnya, aku akan menjelaskan kepadamu tentang hal – hal yang sudah kami jelaskan kepada pangeran Uzan.
Setelah itu, Dima mengutaran tentang hal – hal yang berkaitan dengan gua akais, niat Invel, cerita rekaan, dan niatan bahwa batu akais akan diberikat kepadanya dan Uzan secara Cuma – Cuma.
Setelah memikirkan tentang maklumat yang baru saja dilontarkan Dim dan berpikir selama beberapa saat tentang itu, Arika berujar, “Apa kau serius tentang ini?”
“Itu benar,” kata Dim.
“Lalu apa tujuan Invel di ujian kedua dengan memasang kami berdua untuk bertarung dengan teman – teman kami?”
“Hal itu untuk menguji tentang seberapa terikatnya diri kalian dengan teman – teman kalian,” kata Dim. “Atau mungkin dalam hal ini, adalah tes kekompakan.”
Arika merengut sambil menghentakkan kaki. “ini menyebalkan. Jika begini caranya, kenapa kalian tidak bilang dari awal?”
“Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, Tuan Invel memang suka bermain – main untuk mengetahui lebih jauh tentang kalian,” kata Dim. “ Selain itu, kalian berdua juga bisa mengetahui tentang kemampuan bertarung teman – teman kalian.”
Arika cemberut. Ia masih kesal karena di dalam pihak yang kalah ketika dipasangkan dalam pertarungan.
“Kalian harus bisa mengambil hikmah dari hal ini, Arika,” kata Dim. “menang dan kalah tidaklah relevan untuk ini. Pengalaman yang kau alami berguna untuk kau fungsikan untuk ke depannya.”
“Aku mengerti,” Arika mengangguk. “Lalu, apa yang terjadi dengan sihirku baru saja. Kenapa nihil?”
“Ketika kau sedang berada dalam kerumunan prajurit batu seperti ini, dengan sekehendak kami, kami bisa mematikan kekuatan magis apapun untuksementara. Lagipula, setelah ini, kau bisa melakukan sihir kembali. Cobalah!”
Arika mengangguk. Gadis penyihir itu menjentikkan jarinya. Pusaran angin lembut kemilau kehijauan berhembus di sekitarnya. “Baiklah, sihirku sudah kembali.”
“Hanya itu maklumat yang perlu kami sampaikan,” kata Dim. Selanjutnya, kami akan melenyapkan diri dan kau bisa langsung menghampiri pangeran Uzan untuk memperoleh Batu Akais dan melanjutkan apa yang menjadi tujuan kalian.”
Arika menghela. “Baiklah.”
Beberapa saat kemudian, Arika menyaksikan para prajurit batu tersebut langsung pecah menjadi ribuan cahaya perunggu yang langsung melayang ke udara dan memudar.
Setelah itu, Arika menghilangkan tongkat sihirnya. Lalu menoleh ke arah uzan yang tampak sedang duduk bersila. Kemudian, penyihir itu langsung menghampirinya. “Pangeran Uzan!”
Uzan langsung membuka mata dan berdiri menyambut Arika. Setelah itu, mereka berdua berbicang tentang apa yang baru saja mereka alami.
“Memang ganjil,” kata Uzan.
Arika menyetujui. “Awalnya aku juga tidak mempercayai perkataan Dim, tapi karena aku diberi maklumat yang sama dengan pangeran. Aku mulai mempercayainya.”
Setelah itu, Uzan dan Arika menghadapkan tubuh mereka ke arah Batu Akais yang berkilauan dari kejauhan sambil memandangi Material Magis tersebut.
__ADS_1