Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Terlihat Mudah


__ADS_3

Uzan dan Arika jatuh keras di tanah. Untuk sesaat, mereka kesakitan sambil memegangi tubuh mereka. Kemudian, Uzan berdiri.


“Ini menyebalkan,” Arika merengut ketika ia memegang tangan Uzan yang memberdirikan dirinya. “Aku bahkan tidak bisa mengaktifkan sihirku ketika masuk ke dalam lubang hitam itu dan ketika jatuh ke sini.


Uzan juga menghela kesal tapi tidak berkomentar apa – apa. Sang pangeran dan Arika membersihkan pakaian mereka..


Beberapa saat kemudian, mereka memandang sekitar dan menyadari bahwa mereka sedang ada di batuan yang sedang melayang. Hal yang lebih ganjil adalah bahwa mereka ada di sebuah tempat di mana terik mentari terasa.


Ketika mereka melengak ke atas, mereka melihat beberapa gumpalan awal putih melayang di langit. Mereka mearasa bahwa mereka sudah ada di luar gua.


Di depan mereka, terdapat ratusan prajurit batu yang sedang berkerumun di sebuah lapangan luas. Dari kejauhan, Uzan dan Arika bisa melihat kilauan cahaya merah yang mereka asumsikan merupakan Batu Akais.


“Kita tahu bahwa tujuan kita adalah memperoleh Batu Akais yang ada di sana,” kata Uzan sambil menunjuk ke arah Batu Akais yang berada di kejauhan.


Arika mengangguk. “Itu benar, pangeran.”


“Yang jadi permasalahannya adalah bagaimana kalian mencapai batu Akais itu?”


Uzan dan Arika menoleh ke sumber suara. Invel sedang bersedekap dan menyeringai, menunjukkan dua taring tajamnya. Sang pangeran dan penyihir itu berdiri dengan siap siaga.


“Aku adalah pemandu kalian dan akan memberi arahan kepada kalian tentang bagaimana kalian akan menjalani ujian di sini.”


“Pastinya semua prajurit batu tersebut akan hidup,” tebak Arika. “Dan pastinya kita akan melawan seluruh prajurit batu tersebut.”


“Aku ingin mencecarmu karena kau sok tahu, Arika,” Invel tersenyum sambil menggeleng. “Tapi apa daya, kau benar. Itu karena kau mungkin sudah terbiasa dengan ini karena kau adalah penyihir.”


“Walaupun begitu, pastinya kau punya maklumat lain untuk disampaikan, bukankah begitu?” tanya Uzan.


“Itu benar, Pangeran Uzan,” ujar Invel sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia berjalan ke sana kemari. “Ada maklumat tambahan yang harus kalian ketahui. Terutama berkenaan dengan Arika yang pada tahap ini harus siap menghadapi ajalnya. Seperti yang kuceritakan pada ujian pertama.”


Arika tertegun. Ia mundur sejenak. Setelah itu, ia memunculkan tongkat sihirnya.


Invel menghentikan langkah sambil tergelak. “Aku hanya bercanda.”


Uzan mengeluarkan pedang dan menggenggamnya erat- erat. “Itu tidak lucu, Invel!”


“Sebenarnya, aku mengatakan itu untuk sebuah keringanan.”


Dengan ragu, Arika bertanya, “Ma-maksudmu?”


“Kalian berdua punya potensi untuk menemui ajal kalian di sini,” kata Invel. “Pangeran Uzan juga Arika.”


“Aku tidak suka cara bicaramu yang berputar – putar, Invel!” seru Uzan.


“Ya…ya…untuk basa – basi dan sebagainya,” kata Invel. “Paling tidak kalian harus berterima kasih karena aku sedang memperlambat kematian kalian.”


Beberapa saat kemudian, Invel menjentikkan jari. Setelah itu, batuan melayang yang mereka pijak perlahan menurun dan tergeletak di tanah.

__ADS_1


“Memang benar bahwa kalian akan menghadapi para prajurit batu tersebut untuk memperoleh batu Akais itu,” Invel berkomentar kembali. “Tapi pertanyaan utamanya adalah apakah kalian mampu menghadapi mereka?”


“Kau seorang pemandu, kan?” Arika tampak khawatir. “Kau harus memberitahu kami tentang apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana cara mengalahkan mereka.”


“Setelah ini semuanya akan aku serakan kepada kalian,” Invel menggeleng. “Aku tidak akan memberitahu kalian tentang apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana cara mengalahkan mereka.”


“Kau adalah pemandu paling buruk yang pernah kami temui,” kata Uzan dengan nada tenang.


“Baik atau buruk, paling tidak, aku sudah memperkenalkan diri sebagai pemandu,” kata Invel dengan nada girang. “Sekarang, selamat berjuang untuk bertahan hidup!”


Setelah itu, Invel menjentikkan jari. Tiba – tiba, tubuhnya menggelap. Setelah itu, ia menjadi puluhan kelelawar kecil dan terbang menyebar.


-


-


-


Uzan dan Arika mulai bersiap untuk menghadapi para prajurit batu tersebut. Pandangan berdua mereka tertuju pada Batu Akais yang ada di bagin paling belakang para prajurit tersebut. Di atas sebuah batu yang lebih tinggi.


Ketika diperhatikan lebih jelas, para prajurit tersebut membawa pedang dan di tangan kanannya dan tameng persegi panjang vertikal di tangan kirinya. Mereka tampak memakai seragam besi, bukan besi sungguhan, melainkan batu


Uzan menghela. “Aku punya firasat bahwa jika kita langsung meluncur untuk memperoleh batu tersebut, kita tidak akan berhasil. Jadi, terpaksa kita harus melawan ratusan prajurit ini.”


Setelah itu, Uzan dan Arika di datangi berbagai para prajurit batu yang berjalan cepat sambil berkali – kali menghentakkan kaki mereka.


Uzan pun memiliki pengalaman serupa. Ia berhasil menjatuhkan banyak personil karena mereka mudah jatuh karena ditebas, ditendang, bahkan terkena tinjuan. Ketika sang pangeran melawan prajurit tersebut, ia merasa bahwa yang ia serang dan lawan bukanlah batu biasa. Melainkan mereka yang mudah jatuh. Ia juga beberapa kali menebas prajurit batu. Dan ketika menebas, prajurit baru tersebut mudah terbelah dan pecah menjadi abu. Namun, ia hanya bisa merasa lega karena itu dan melanjutkan serangannya.


Setelah lama mereka bertarung menghadapi para prajurit batu tersebut, Uzan dan Arika kembali berdua di tempat yang sama. Mereka berdiri berpunggungan satu sama lain sembari mengedepankan senjata mereka ke para Prajurit batu.


“Pangeran Uzan,”


“Ya?”


“Apakah kau merasa bahwa prajurit batu yang baru saja kita lawan lebih um…lunak daripada batu biasa?”


Uzan memperhatikan para prajurit yang sedang siap siaga dan masih mengelilingi mereka berdua. Ternyata Arika juga merasakan hal yang sama. “Itu benar.”


Arika berujar, “Aku rasa bahwa mungkin kita bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Walaupun,” Arika menembakkan bola angin ke prajurit yang baru saja berjalan cepat ke arahnya sampai ia terpental. “Aku tidak yakin kartena mereka selalu mendatangi kita. Entah apakah jumlah mereka berkurang atau tidak.”


Uzan mengedarkan pandangan sekeliling. Para prajurit batu tersebut memang terlihat lemah dan dan mudah ditumpas. Namun, jumlah mereka terlihat tidak berkurang.


Beberapa saat kemudian, Uzan menyimpulkan. “Kemungkinan kita harus berjalan berdua untuk mencapai batu Akais itu Arika.”


“Maksud pangeran?”


“Kita akan melakukan hal yang sama seperti ketika kita melarikan diri dari serangan ratusan bandit yang mengerubungi kita ketika ada di Pasar Riyaal.

__ADS_1


Arika terpaku sembari memikirkan tentang kejadian ketika ia melakukan sihir angin untuk membantu Pangeran Uzan untuk pertama kalinya. Ia ingat persis tentang itu. “Aku mengerti, pangeran!”


“Apakah kau bisa menciptakan Kubah Angin untuk melingkup kita berdua seperti ketika di ujian pertama, Arika?”


“Bisa, pangeran,” Arika mengangguk. Pastinya Pangeran Uzan berupaya untuk berjalan berdua ke arah batu Akais tersebut sembari memanfaatkan Kubah angin kencang yang diciptakannya sehingga para prajurit bebatuan ini akan terhempas dan terkikis oleh pusaran angin yang mengelilingi mereka berdua.


Aku sedang memakai gelang Azure, pangeran,” kata Arika sembari melirik gelang dengan pendar biru di pergelangan tangannya. “Pastinya aku akan bisa melakukan sihir kubah angin dengan lebih lama.”


“Bagus!” kata Uzan mantap.


Kemudian, Arika berkonsentrasi dan menyalakan cahaya cahaya hijau di ujung tongkatnya. Setelah itu, pusaran angi kehijauan mulai mengitari Uzan dan Arika dan memebentuk sebuah kubah angin dengan kerlip kehijauan dan desau kencang.


“Mari kita jalan ke sana berdua,” kata Uzan.


“Baiklah,” kata Arika.


Setelah itu, Uzan dan Arika berjalan bersama ke tempat batu Akais merah itu berada. Seluruh prajurit batu yang mendekati mereka berdua terkikis, terpental, dan saling berjatuhan dengan satu sama lain.


Sembari berjalan, Uzan dan Arika yang sedang berjalan bersama yakin bahwa mereka terlindungi dan bisa menghadapi prajurit batu yang tidak terbatas ini. Itu adalah harapan mereka.


Tiba – tiba, ada satu prajurit batu yang seakan tidak terpengaruh dengan Angin tersebut. Karena itu, Uzan dan Arika berhenti sejenak. Arika masih mengaktifkan sihirnya. Uzan menebas prajurit batu itu dengan pedang. Namun, ia sangat keras dan tak terpengaruh.


Melihat itu, Arika juga terheran. Gadis penyihir itu mematikan sihir kubah anginnya. Untuk memperhatikan lebih dekat.


Uzan tidak berkomentar tentang batalnya sihir angin.


Tiba – tiba, sang pangeran tidak bisa bergerak. Ia mencoba berbicara, namun lisannya tercekat. “Egh!”


Kemudian, prajurit batu itu mencekik mengangkat pedangnya. Lalu, tubuh Uzan melayang.


Melihat itu, Arika mencoba untuk membantu dengan si—


Entah mengapa ia juga tidak bisa bergerak dan berbicara. Gadis penyihir itu hanya bisa melihat sang pangeran melayang tanpa bisa mengendalikan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, tubuh Uzan terlempar lebih jauh.


“Pangeran Uzan!” seru Arika. Entah mengapa ia bisa bicara sekarang.


Arika langsung memberikan tekanan angin kehijauan di ujung tombaknya dan menghantam patung batu yang baru saja melayangkan Uzan sampai hancur. Ia sendiri tertegun. “bagaimana?”


Arika tampak bingung Setelah itu, ia sadar bahwa tugas patung batu tersebut hanya untuk mencapai Uzan dan memindahkannya jauh darinya. Setelah itu, ia akan bisa dihancurkan seperti prajurit batu lainnya.


Setelah itu, Arika di kelilingi ratusan prajurit batu. Yang memberi ruang berbentuk lingkaran kepada Arika. Arika memandang para prajurit batu sekelilingnya sambil mengangkat tongkatnya dan siap siaga.


Di sisi lain, Setelah Uzan terjatuh, ia juga mendapati dirinya juga dikelilingi ratusan patung batu yang memberinya ruang berbentuk lingkaran bagaikan sebuah arena.


“Ini seperti latihan sparring senjata prajurit,” Uzan kembali memegang pedangnya dan mengedarkan pandangan sekeliling.

__ADS_1


__ADS_2