
Malvin mengulurkan tangan kanannya ke depan. Puluhan bola api meluncur dari teapak tangannya ke arah Rota. Silvar itu berlari menyamping menghindari serangan Malvin dan berusaha mencari celah untuk menyerang.
Setelah serangan bola api terhenti, Rota segera berlari menuju Malvin, melompat, dan menghujamkan dua pisau yang digenggamnya ke arahnya. Malvin tersenyum. Ia menyalakan cahaya dari telapak tangannya kembali. Kemudian, gundukan tanah dengan cepat mencuat di depannya, melindungi dirinya dari serangan Rota.
Rota yang sadar akan hal tersebut menghentikan serangannya dan memutuskan untuk melompat ke belakang untuk menjaga jarak.
Malvin terkekeh. “Ada apa dengan seranganmu, Makhluk Girafan?”
“Sangat aneh,” Rota terengah karena kelelahan. “Sepertinya kau sengaja mengulur waktu ketika bertarung denganku.”
“Kenapa tidak?” penyihir itu bersedekap. ‘Sudah kubilang bahwa aku tidak akan menghabiskan tenaga untuk bertarung serius denganmu, kan?”
Kemudian, arah pandangan Malvin tertuju pada Uzan yang perlahan mendekati Rota.
“Apa kau baik – baik saja?” ujar sang pangeran pada rekannya. Linda yang mengudara di sampingnya juga ikut mengamati.
“Aku baik – baik saja, pangeran,” jawab Rota. “Bagaimana dengan Golemnya?”
“Hanya satu cara untuk menghentikan golem tersebut,” Uzan mengarahkan pandangan kepada Malvin.
“Tidak mungkin kau tahu tentang kelemahan Golem itu!” Malvin menggeram.
“Tentu saja aku sudah mengetahuinya,” kata Uzan. “Kau harus rela untuk mencabut nyawamu sendiri dengan keinginan sendiri, kan?”
Malvin mendecih. “Dari siapa kau mengetahuinya?”
“Apakah kau tidak memperhatikan bahwa salah satu rekanku juga merupakan penyihir?”
“Tidak kusangka,” Malvin mendengus. “Kukira hanya anggota istana yang tahu tentang ini.”
Beberapa saat kemudian, tanah yang dipijak oleh Uzan, Rota, dan Malvin bergetar pelan. Mereka bertiga tersentak.
Arika, Dubal, Edgar dan Sara perlahan datang ke arah mereka bertiga dengan Golem Gorila yang mengamuk di belakang mereka. Makhluk itu meraung – raung seolah sesuatu yang penting darinya dicuri.
Edgar dan lainnya menghampiri Uzan dan Rota dan berdiri di dekat mereka berdua. Mereka mempunyai perkiraan bahwa Golem itu akan menyerang mereka. Namun perkiraan mereka keliru. Malahan, ketika Golem Gorila datang, makhluk tersebut tampak tenang dan perlahan mendekati majikannya.
“Bagaimana kalian mengarahkan raksasa itu ke sini?” tanya Uzan.
__ADS_1
“Itu mudah, pangeran,” kata Dubal. “Ketika bertarung dengannya, aku memotong jari telunjuknya dengan kapakku dan menggoyangkannya di depannya. Ia pasti mengira bahwa jari telunjuknya sudah dicuri, padahal jari telunjuknya tumbuh kembali.
“Memang pada dasarnya dungu, mau bagaimana lagi?” kata Edgar.
“Walaupun begitu, kita tidak akan bisa mengalahkan Golem itu dengan mudah,” kata Arika.
“Itu benar,” Sara menambahkan. “Lagipula, jika makhluk tersebut lama tinggal lama di sini, ia akan merusak Hutan Lumina dan mengganggu para Pixi.”
“Syukurlah,” Linda tampak lega. “Ia tidak akan menghancurkan rumah tamu.”
“Jadi, bagaimana kita akan menghadapi makhluk besar di hadapan kita ini?” kata Edgar. “Kita sudah tahu tentang kelemahannya, kan?”
“Dua cara untuk mengalahkannya,” kata Arika. “Pertama, Malvin harus menghentikan pengaruh jimat itu. Kedua, ia harus rela….mencabut nyawanya sendiri sesuai dengan kehendaknya.
“Selain itu, kita juga tidak boleh meremehkan Malvin,” Rota melempar pisaunya. “Ia penyihir yang cukup tangguh. Ia bisa memanipulasi Api dan Tanah sekaligus.”
“Sudah kukira bahwa ini sangat tidak wajar,” kata Arika. “Normalnya, penyihir hanya menguasai satu elemen. Apalagi, untuk memunculkan Golem Gorila Lava, dibutuhkan setidaknya lima penyihir, dua elemen api dan tiga elemen tanah.”
Edgar menghela kesal. “Pastinya ada kaitannya dengan kalung hijau itu.”
Sang pangeran dan para rekannya menyaksikan Malvin yang mulai melayang di samping Golem Gorila lava yang tampak tenang.
“Kalian memang sudah menemukan solusi untuk menghentikan sihir ini,” kata Malvin. “Tapi itu tidak cukup. Aku tidak akan pernah menghentikan sihir ini atau mencabut nyawaku sendiri.”
Penyihir itu menyalakan telapak tangannya. Kemudian, Golem itu berdiri tegak sambil menghantam dadanya dengan kedua tangannya sampai tanah yang ada di sekitarnya bergetar.
“Aku bilang bahwa riwayat kalian akan tamat, kan?” seru Malvin. “Aku tidak akan pernah kembali ke istana sebelum aku bisa menuntaskan tugasku!”
Golem itu segera berlari ke arah Uzan dan para rekannya.
Serangan golem tersebut tidak mengenai siapapun karena targetnya berpencar ke dua arah yang berbeda. Uzan, Arika, dan Linda berlari ke bagian kiri, sedangkan Edgar, Dubal, dan Sara berlari ke bagian kanan.
Setelah jaraknya cukup jauh, Uzan dan kedua kawannya memelankan langkah mereka dan kembali menghadap ke arah Golem. Makhluk itu memutar kepala karena kebingungan.
“Apakah Edgar dan lainnya baik – baik saja, pangeran?” tanya Arika.
“Pasti mereka baik – baik saja,” kata Uzan. “Arika, apa kau bisa melakukan sihir lingkup bola angin seperti yang kau lakukan sebelumnya?”
__ADS_1
“Aku bisa pangeran,” kata gadis itu, “tapi hanya sejenak, karena sihir itu butuh banyak energi magis.”
“Berikan aku waktu sejenak saja untuk berfikir,” kata Uzan. “sejenak saja juga tidak apa – apa.”
“Baiklah, pangeran,” kata Arika.
Gadis penyihir itu mengarahkan tongkat shirnya ke arah Golem. Sesaat kemudian, bola angin kehijauan perlahan memutar dan melingkup raksasa tersebut sampai ia meronta – ronta.
Uzan mengamati Golem yang sedang meronta. Setelah itu, ia melihat Malvin yang hanya berdiri di tempat semula tanpa menggerakkan posisinya sejengkal pun.
Arika melirik Uzan sejenak dan menyadari apa yang dipikirkan sang pangeran. Selain berkonsentrasi dengan sihirnya, ia berujar, “Pangeran, Malvin menetap di sana untuk menjaga energi sihirnya ketika mengendalikan golem tersebut. Selain itu, walaupun golem itu dungu, pastinya kekuatannya akan lebih bertambah ketika penyihir yang mengendalikannya berkonsentrasi.”
“Itu berarti bahwa kita harus bertarung melawan Malvin agar Golem tersebut semakin melemah,” kata Uzan.
“Tapi bagaimana kita akan menghentikan golem itu seluruhnya, pangeran,” kata Linda. “Padahal syaratnya sangat sulit.”
Uzan menghela. “Aku yakin bahwa ketika Malvin merasa kelelahan setelah bertarung, ia akan bisa kita ajak untuk bernegoisasi untuk menghentikan amukan Golem itu.”
“Apakah ada yang bisa saya bantu, pangeran?” tanya Linda.
“Ada,” kata Uzan. “Terbanglah ke arah Edgar dan lainnya dan sampaikan tentang caraku untuk menghadapi situasi ini. Aku dan Arika akan menghadapi Malvin. Paling tidak, mereka harus mengalihkan perhatian raksasa itu selagi aku dan Arika menghadapi Malvin.”
“Baiklah, pangeran,” Linda segera bersiap untuk mengepakkan sayap.
“Satu lagi…”
“ya?”
“Beritahu Sara agar ia hanya berfokus melakukan Max Purify kepada Edgar, Dubal, dan Rota karena mereka lebih membutuhkan hal itu untuk mengalihkan perhatian Golem itu,” kata Uzan. “Setelah memberikan maklumat ini kepada mereka, kembalilah kemari”
“Baiklah, pangeran,” Linda mengangguk. “Akan kukirim pesan - pesanmu.”
Linda menerangkan pendaran cahaya dari tubuhnya dan langsung melayang cepat ke bagian dimana Edgar dan lainnya berada.
Arika segera meredupkan tongkat sihirnya dan meredakan sihir angin yang melingkup Golem itu. Uzan menghunus pedangnya untuk bersiap – siap.
Pandangan mereka berdua mengarah ke Malvin yang sedang mengendalikan raksasa tersebut.
__ADS_1