
Langit tampak berwarna hitam kebiru – biruan. Awan pekat bergumpal. Sebuah daratan melayang – layang di tengah zona tersebut. Perlahan, ribuan debu debu perak melayang – layang dan berputar – putar di atas tanah tersebut. debu perak tersebut perlahan melayang dan menyatu, memadat, dan menjelma menjadi Uzan dan Dubal.
“Jadi, di sini ya?” kata Uzan sambil memeriksa pergelangan tangannya yang masih mewujud menjadi tangan.
Dubal mengangguk. “Iya.”
Uzan melihat ke keadaan sekitar. Ia berada bersama di sebuah antah berantah. Ia tahu bahwa ia sedang berdiri bersama Dubal di atas tanah. Namun daerah sekitarnya adalah kegelapan tak berujung.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita harus berjalan ke arah sana sekitar sana,” kata Dubal sambil menunjuk ke suatu arah.
“Arah?” Uzan bertanya dengan ragu – ragu. “Bagaimana kau bisa mengetahui tentang arah di antah berantah ini, Dubal?”
“Alam ini adalah alam magis Girafan. Memang tidak ada arah atau tujuan,” kata Dubal. “Kita hanya perlu berjalan tanpa henti ke suatu arah sampai kita menemukan sebuah tanda”
“Tanda?”
“Iya, Pangeran Uzan. Akan ada beberapa hewan Magis yang akan menghadang kita. Tugas kita adalah memusnahkan mereka”
“Memusnahkan mereka ya?” Uzan menenangkan dirinya, “Cukup masuk akal bagiku.”
“Mungkin aku akan menjelaskannya lebih jauh ketika tanda itu datang, Pangeran,” kata Dubal. “untuk sementara, mari kita berjalan dahulu.”
“Baiklah.”
-
-
Mereka berdua berjalan – jalan tanpa henti. Beberapa saat kemudian, Ratusan debu perak berkumpul menjadi satu dan dengan cepat mewujud menjadi badak berwarna keperakan. Binatang itu bersiap untuk berlari menuju Uzan dan Dubal.
Uzan dan Dubal bersiap siaga sambil mengambil mengeluarkan senjata mereka. Ketika si badak menyerbu, Uzan dan Dubal berhasil menghindar
Dubal berseru, “Biar aku beri contoh!”
Uzan berposisi siaga, “Baiklah.”
Sang badak berbalik arah, menghadap Uzan dan Dubal.
Dubal mengacungkan kapaknya ke arah Badak tersebut dengan memberikan tatapan tajam. Merasa ditantang, Badak itu berlari mengarahkan culanya ke Dubal.
Uzan hanya mengamati badak itu dengan seksama. Ia tahu bahwa sang badak sedang murka kepada Dubal. Ia hanya bersiap siaga di samping Dubal
__ADS_1
Ketika sang badak menyerbu, Uzan dan Dubal melompat kesamping menghindari serangan itu. Sembari melompat, Dubal menghujamkan kapaknya ke perut bagian samping badak itu. Sehingga badak itu terpental dan terjatuh. badak itu terjatuh dan tertatih berusaha untuk berdiri. Namun, Dubal tidak memberinya kesempatan untuk berdiri lagi. Ia berlari menuju badak itu dan mengujamkan kapaknya ke perut badak itu. Badak itu terlempar lagi dan meraung – raung kesakitan. Namun Dubal hanya berjalan santai, lalu menghantamkan bagian tajam kapaknya ke badak sampai hewan itu terlempar untuk ketiga kalinya.
Setelah beberapa saat, badak itu tidak bergerak dan perlahan lenyap menjadi debu perak.
“Heh!” Dubal tersenyum puas.
Uzan hanya memandangi Dubal yang sedang terkekeh sambil kembali berjalan ke arahnya.
“Kau tidak mencegahku atau mengingatkanku ketika aku menghabisi badak itu, Pangeran?”
“Tidak” kata Uzan dengan tenang “Aku tahu bahwa kau paham terhadap apa yang kau lakukan. Lagipula, tidak semua orang bisa menebas seekor badak dengan tiga kali tebas.”
“Heh! Aku suka cara menyikapi itu.”
“Lagipula, apakah lenyapnya badak itu punya hubungan dengan kain Kagigar yang akan kita dapatkan?”
“Ada, Pangeran,” kata Dubal. “Kain Kagigar Perak bukanlah kain yang kita cari – cari dan kita temukan di suatu tempat.”
“Maksudmu?”
“Alam magis ini hanyalah suatu perlindungan, Pangeran,” kata Dubal “Kain Kagigar akan terbentuk ketika kita berhasil menaklukkan makhluk – makhluk semacam yang kubunuh tadi.”
“Begitu ya? itu mudah!” kata Uzan, ia mulai mengerti “Berapa banyak yang harus kita musnahkan?”
“Apakah mereka akan hidup lagi?”
“Tidak,” kata Dubal “Mereka adalah binatang Magis Silvar. Mereka akan terbentuk kembali setelah tiga ratus hari. Jika tidak kita musnahkan, mereka yang akan membunuh kita.”
Uzan mengangguk. “Baiklah.”
Beberapa saat kemudian, debu – debu perak muncul dan mengitari Uzan dan Dubal. Uzan dan Dubal kembali mempersiapkan senjata mereka masing – masing.
Debu – debu perak tersebut berputar cepat dan menggumpal, menyebabkan hembusan angin yang cukup kuat. Lalu, gumpalan tersebut menjelma menjadi tiga harimau.
Uzan dan Dubal bersiap – siap sambil menatap harimau – harimau yang siap memangsa mereka.
Setelah beberapa saat, salah satu harimau tersebut melompat kearah Uzan. Sang Pangeran menendang mulut Harimau tersebut ke atas dan berlari menjauhi Dubal. Harimau tersebut mengikuti Uzan.
Setelah Uzan menjauh, Dubal mengambil perhatian dua harimau lainnya. Salah satu Harimau berhasil mencakar dada Dubal, namun ia tidak mengalami masalah karena dadanya terlindung baju besi. Harimau lainnya berhasil mmelukai Dubal. Namun ia tidak gentar. Mantan prajurit Oslar tersebut akhirnya berhasil memenggal kepala salah satu Harimau dan menghajar Harimau lainnya. Keduanya lenyap menjadi debu perak.
Uzan masih berhadapan dengan salah satu Harimau tersebut sambil melangkah berputar. Setelah itu, Harimau tersebut meloncat kembali ke Uzan. Uzan yang sigap langsung menghindar dan langsung menusukkan ujung pedangnya hingga menembus leher Harimau tersebut sehingga harimau terjerembab ke tanah dan tewas seketika. Beberapa saat kemudian, ia melebur menjadi debu perak.
Setelah itu, Dubal menghampiri Uzan “Kau tidak apa – apa, Pangeran!”
“Tidak apa – apa!”
__ADS_1
“Memisahkan diri supaya harimau itu berpencar?” Dubal tersenyum. “Kau tahu bahwa aku bisa menghadapi dua sekaligus dan kau memutuskan untuk membunuh satu. Betapa cerdik.”
“Tentu saja,” kata Uzan sambil menepuk - nepuk pakaiannya. “Aku juga sudah tahu bahwa kau akan mampu menghadapi dua harimau sekaligus, Dubal.”
“Heh!” Dubal terkekeh. “Tentu saja.”
“Dua macam hewan magis musnah. Tinggal tiga lagi,” Uzan kembali memasukkan senjatanya ke sarung pedangnya.
-
-
Edgar tidak bisa menyembunyikan keheranannya. “Rota, Apa maksudmu kau akan dibunuh oleh kaummu sendiri?”
“Itu karena kain Kagigar merupakan salah satu kain penting kaum Silvar” Ujar Rota “Kain itu sebenarnya sangat di lindungi di bukit Giraf, selain tongkat Kagigar emas dan seruling Kagigar perunggu.”
“Lalu apa yang terjadi dengan sihir ini? Apakah ada maksud kau melakukan sihir ini?” Ujar Sara. Gadis itu masih memancarkan cahaya putih lewat kedua telapak tangannya.
“Sebenarnya kain Kagigar itu ada di dalam Piramida itu” kata Rota “Namun, jika orang – orang masuk ke sana, maka akan terdapat hewan – hewan Kagigar Magis yang akan membunuh mereka berdua.”
“Apakah bantuan sihirku berpengaruh terhadap mereka?
“Dengan cara ini, Dubal dan Pangeran itu bisa menghadapi hewan – hewan tersebut yang sudah lima sampai tujuh kali lebih lemah.”
“Kenapa kau mau sampai membantu Dubal sampai sejauh ini?” kata Sara.
“Ceritanya panjang” kata Rota “Pendeknya, Dubal pernah menyelamatkanku dari bahaya ketika aku berkunjung ke kerajaan Oslar.”
“Tunggu! Dia bilang, dia adalah mantan Prajurit di sana.”
“Itu benar.” kata Rota “Karena jasanya kepadaku, dia dikeluarkan dari kerajaan dan sekarang, Dubal dan Istrinya hidup di Kastala.
“Semenjak aku tahu bahwa ia dikeluarkan, aku tidak suka dengan seluruh kerajaan di Namaril. Aku menunjukkan sikap acuh tak acuh pada urusan, seluk – beluk dan permasalahan kerajaan.
Namun, karena Dubal kesini, aku membantunya. Hal ini tidak ada apa – apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukannya padaku. Jasanya tidak akan pernah kulupakan.”
“Jadi, ini adalah hal melanggar peraturan kaummu?”
“Benar!” “Kain Kagigar Perak, setelah diambil, maka tidak akan muncul sampai tiga ratus hari.”
“Kalau begitu, aku akan menjaga sekitar wilayah sini,” Edgar berujar dengan raut muka serius “Sara, apakah kau bisa bertahan dengan sihir Klerikmu?”
“Masih, Edgar.”
“Bagus, aku akan keliling sambil mengawasi.” Edgar segera mengendarai kudanya dan segera berjalan – jalan mengitari hutan.
__ADS_1