Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Serpihan Kedua


__ADS_3

“Jadi, apa yang membuatmu pergi ke Pulau Kastala?” tanya Uzan.


“Aku hanya berkunjung ke Pasar Riyaal untuk berkelana dan mampir ke Toko Kuda milik Tuan Roshar,” kata Arika.


“Kau mengenalnya?”


“Tentu saja, Tuan Roshar adalah teman pamanku.”


“ Apakah berarti dia adalah mantan pegawai kerajaan Igardias?”


“Dulunya, ia adalah mantan pegawai Istana. Akan tetapi, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan bermigrasi ke Kastala. Ia sempat membeli Trez, kuda magis Istana untuk di jual kembali ke Kastala. Entah darimana ia bisa membeli kuda magis istana tersebut.


“Aku menginap di tempat Tuan Roshar selama beberapa hari. Kemudian, aku menyimpulkan bahwa hal ini berkaitan dengan kekuatan magis tingkat tinggi dan hanya pihak kerajaan Igardias lah yang mengerti tentang ini. Itu hanya perkiraanku.


“Suatu hari, aku mendengar bahwa ada segerombolan bandit yang menyerang bagian tertentu pasar Riyaal dan memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut dan memberitahu kepada Tuan Roshar tentang itu. Roshar memberitahuku bahwa ada sebuah penginapan kecil di bagian sibuk pasar Riyaal yang bertempat di dekat gerbang. Kata Tuan Roshar, jika aku ingin melakukan penyelidikan, aku di sarankan untuk berpindah tempat di sana. Sehingga, jika ada serangan bandit lagi, aku akan keluar untuk menghadapi mereka.


“Selain itu, aku juga menyampaikan harapanku kepada Tuan Roshar agar jika ada seseorang atau kelompok yang ingin menghentikan gempa periodik yang sedang terjadi, maka ia bisa menghubungiku dan akan aku rujuk langsung ke Kerajaan igardias. Walaupun, ketika itu, aku rasa kemungkinannya adalah satu banding seribu dan itu hanyalah sebuah angan – angan.”


“Kau bilang bahwa kau akan menghadapi bandit tersebut, kan?” Ujar sang pangeran. “Yang jadi permasalahan adalah bahwa bandit yang datang jumlahnya ratusan dan aku tidak yakin kau bisa menghadapi mereka semua.”


“Ketika pangeran datang, jumlahnya memang ratusan,” kata Arika. “Tapi kabar yang kudapatkan dahulu, bandit tersebut jumlahnya hanya lima. Dan Setelah aku bergambung dengan kelompok pangeran, aku juga terkejut karena para bandit tersebut berasal dari Desa Wulfric dan ingin mengejar pangeran.”


“Pengejaran mereka yang berjumlah ratusan memang pantas untuk dicurigai.”


“Aku tidak tahu bahwa ini adalah suatu keberuntungan atau apa,” Arika tersenyum. “Tetapi aku merasa lega karena bisa turut dengan kelompok pangeran.”


“Kami juga merasa beruntung, Arika,” kata Uzan. “Kau bahkan tahu tentang tujuan – tujuan yang akan kami capai. Entah darimana engkau mengetahuinya.”


“Sebelum berkelana ke sini, aku mempelajari buku dan peta khusus Kepulauan Kastala dan mengingat situs – situs magis penting di sini, pangeran,” kata Arika. “Selain memang tempat – tempat pokok untuk dikunjungi dan ditinggali.”

__ADS_1


“Ini mengenai gempa periodik, Arika,” kata Uzan. “Sebenarnya semakin jauh kita berjalan kemari, aku semakin ragu.”


“Apa yang kau maksud, pangeran?”


“Maksudku, gempa yang di awal bencana ini di Kastala sangatlah besar. Namun, jika kita rasakan sampai sekarang, mungkin bisa kita bilang bahwa gempa ini sudah tidak terjadi lagi. Apakah kau juga merasakan itu?”


Arika terdiam sejenak sambil menatap Uzan yang tampak kebingungan. Memang sebelumnya ketika ada di pasar Riyaal, ia merasakan gempa tersebut. Namun, semakin jauh ia melakukan perjalanan, maka ia semakin mempunyai persamaan pikiran dengan Uzan mengenai ini. “Aku juga bisa merasakannya, pangeran.”


“Semakin lama, aku merasa bahwa aku sedang dikhianati,” kata Uzan dengan nada pahit.


“Apakah um…” Arika terbata – bata untuk mengucapkan kata selanjutnya.


“Apa yang akan kau katakan, Arika?”


“Itu,” Arika menghela, dengan ragu – ragu gadis itu berujar, “Tuan Dubal bercerita bahwa kau mempunyai krisis kepercayaan terhadap orang – orang yang ada di Istana…”


Uzan menghela. “Itu benar, Arika.”


“Iya dan Tidak.”


“Maksud pangeran?”


“Iya karena masa lalu yang kualami dengan bersama dengan Rena, Sara, dan Edgar,” kata Uzan. “Tidak karena aku melihat ini secara nyata dengan mempertimbangkan kejadian – kejadian yang sudah kita alami dan betapa ganjilnya jika gempa ini sudah memulih sebelum kita bisa memperoleh seluruh Material Magis yang dibutuhkan.”


“Maaf pangeran, aku hanya bisa memberi petunjuk tentang pengubahan tujuan perjalanan dan alat magis yang dibutuhkan,” Arika menatap ke bawah sambil menggigit bibir. Setelah itu, gadis itu berujar. “Jika kau menanyakan tentang ini, aku tidak tahu.”


“Baiklah,” Uzan menghela. “Mungkin kita berdua di sini tidak akan tahu pasti tentang langkah selanjutnya yang akan kita lakukan. Tapi, aku yakin bahwa jika kita berdiskusi dengan Edgar dan lainnya, maka kita akan bisa mencapai kesepakatann tentang apa yang harus kita lakukan.”


“Itu benar,” Arika mengangguk.

__ADS_1


-


-


Tiba – tiba, puluhan kelelawar berkumpul di dekat Uzan dan Arika. Kelelawar tersebut memutar dan membentuk pusaran. Setelah itu, mereka meledak mencjadi percikan cahaya hitam dan menjelma menjadi Invel sang drakula.


Mengetahui itu, Uzan dan Arika langsung berdiri dan siap siaga. Arika menerbangkan topinya dan segera memakainya.


“Aku lega karena akhirnya kalian berdua sudah pulih dan kita bisa melanjutkan ke ujian berikutnya,” kata Invel.


“Rupanya kau bisa muncul kapan saja, Invel,” Kata Uzan.


“Bagaimana lagi?” Invel berdecak dan menggeleng. “Aku kira aku bisa menikmati masa tungguku selama kalian menetap untuk mengobati petarung yang kalah. Namun, tidak kusangka bahwa pengobatannya begitu cepat dengan gelang Azure sehingga aku tidak perlu menunggu lama lagi.”


Arika memunculkan tongkatnya. “Ini berarti kita akan langsung menuju ke ujian terakhir, kan?”


Tentu saja, Arika,” Invel bersedekap. “Maklumat tentang Indara dan Perang Frederik yang baru saja kalian ceritakan sangatlah menarik bagiku.”


“Kau mendengar perbincangan kami?” tanya Uzan.


“Tentu saja, pangeran,” kata Invel. “Ini wilayah kami para Drakula. Jadi, aku bisa mendengar dan menerima maklumat yang baru saja kalian perbincangkan.”


Uzan sedikit merasal kesal dan berharap bahwa seharusnya ia berbincang bersama Arika setelah memperoleh Batu Akais.


“Pastinya kalian akan mengira bahwa aku akan memanfaatkan maklumat hasil perbincangan kalian untuk diriku sendiri,” Invel menyeringai. “Tentu saja, namun untuk sementara ini kalian tidak perlu memikirkan itu dan harus memfokuskan pikiran kalian pada ujian berikutnya.”


Uzan dan Arika berhadapan satu sama lain. Dahi Arika mengerut karena tampak ragu. Namun, beberapa saat kemudian, ia mengangguk pelan. Uzan mengerti arti anggukan gadis penyihir itu. Ia mengerti bahwa mereka berdua tidak akan membahas tentang perbincangan yang baru saja mereka lakukan dan harus fokus kepada ujian terakhir.


“Baiklah,” Uzan tidak boleh terpancing emosi karena ini. Sang pangeran menghela. “Kami sudah siap untuk menjalani ujian ketiga.”

__ADS_1


“Aku kagum karena kalian sudah menyatakan kesiapan kalian untuk ujian ketiga,” kata Invel. “Aku akan langsung menunjukkan medan tempat Batu Akais berada.”


Sang drakula menjentikkan jarinya. Setelah itu, sebuah lubang hitam muncul di bawah Uzan dan Arika, menyebabkan mereka berdua langsung terjun bebas sambil berteriak.


__ADS_2