Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Mendatangi Istana Igardias


__ADS_3

Sebuah portal lingkaran terbentuk di depan Istana Kerajaan Igardias, Uzan dan para rekannya keluar dari portal tersebut. Rura dan keempat kawannya melayang – layang di sekitar pangeran sejenak untuk memastikan keamanannya. Kemudian, Rura berisyarat pada para kawannya untuk berpencar dan mengelilingi kawan – kawan Uzan juga untuk memastika keamanan mereka.


Ketika sudah selesai, Rura berisyarat kepada kawan – kawannya agar mereka pergi sehingga ia adalah pembimbing sang paangeran untuk menemui para Petinggi Istana.


Linda sang Pixi hanya duduk di bahu Dubal sambil mengistirahatkan diri.


“Kita sudah sampai di bagian depan Istana Kerajaan Igardias, wahai Pangeran Uzan,” Rura mengepakkan sayapnya dengan cepat sambil mengudara di samping Sang Pangeran.


Uzan dan kawan – kawannya menyaksikan bagian depan Istana Kerajaan Igardias. Tidak seperti di Kastala yang memiliki gerbang besar dan pagar yang menjadi pemandangan, bagian depan Istana Igardias adalah undakan tangga luas berkarpet merah.


Para pengunjung istana diharuskan menaiki undakann tangga tersebut. Namun, mereka tidak perlu khawatir karena mereka tidak akan keberatan karena tangga tersebut memiliki sudut kemiringan cukup proporsional dan terkesan megah dan didesain agar para pengunjungnya terasa nyaman ketika mendatangi tangga tersebut.


Tidak seperti Istana Kastala yang memiliki memiliki atap kerucut, Istana Igardias memiliki banyak kubah perak sebagai bagian pelindung untuk istananya.


“Aku hampir lupa betapa megahnya Istana ini,” Dubal berkomentar sambil tersenyum.


Rura melayang menghampiri Dubal dan membungkuk “Terima kasih atas pujian yang engkau haturkan wahai Tuan…”


“Dubal,” prajurit berjenggot itu melanjutkan. “lebih baik kau memberikan penghormatan kepada Pangeran Uzan.”


Rura mengangguk cepat. Lalu, ia menjauh dari Dubal dan kembali mengudara di samping Uzan.


“Tidak disangka bahwa pixi itu melaporkan bahwa Kapal Uvuk bisa ia kerdilkan begitu saja. Bukankah begitu, Linda?”


“Itu benar, Tuan Dubal,” Linda mengangguk. “Ketika aku mencari Pixi yang bisa melakukan sihir portal langsung ke Istana ini, aku mendapati Rura yang sedang bersantai bersama kawan – kawannya dan memberitahu tentang kedatangan pangeran Uzan membawa kapal. Mereka bilang bahwa mereka setuju untuk mengantar kita, namun tidak memindahkan benda besar. Jadi, seperti yang kita lihat sebelum kita masuk portal, mereka mengkerdilkan kapal uvuk. Ukurannya sangat kecil sehingga sekarang kapal itu sedang berada di dalam saku Pangeran Uzan.”


“Kau tidak melakukan itu, Linda?” tanya Dubal.


Linda menggeleng kesal. “Seandainya saja aku bisa…”


Setelah Uzan selesai memandangi Istana Igardias, ia menatap Rura yang sedang mengudara di sampingnya. “Semoga saja kami tidak merepotkanmu, Rura. Situasi dan kkondisi yang sedang kami alami ini sangatlah merugikan. Bahkan Hikin sendiri sedang menyandang status sebagai sandra di tangan Faraq.”


“Sayang sekali, pangeran,” kata Rura. “Hikin adalah pixi yang baik. Semoga saja situasi dan kondisi di kerajaan Kastala yang dilaporkan oleh Linda kepada kami tidak seburuk yang diperkirakan.”

__ADS_1


Uzan menghela. “Aku akan menjelaskannya lebih jauh kepada para petinggi Istana di Igardias tentang hal itu.”


“Kami menghargai keputusan anda, pangeran Uzan,” Hikin mengangguk. “Mari kita segera melayang ke atas untuk masuk istana.”


Uzan menyetujui. “Mari…”


Rura menyalakan telapak tangannya. Kemudian, puluhan cahaya putih mengelilingi Uzan dan para rekannya. Lalu, tubuh mereka melayang rendah.


Setelah itu, Rura melayang naik ke Istana. Diikuti oleh Uzan dan lainnya.


 


Setelah itu, mereka mendarat di ruang tenga Istana yang mempunyai fungsi ganda sebagai ruang singgasana Istana. Di sana terihat dua kursi besar istana. Sebagai hiasan, terdapat empat patung kuda bersayap—Pegasus—yang bertempat di setiap sudut ruangan.


“Sayangnya, Raja Guvar dan Ratu, ” kata Rura. “Akan tetapi, sebentar lagi Putri Layla akan datang menghampiri anda.”


“Terima kasih, Rura,” kata Uzan.


Perempuan itu tampak cantik dengan rambut merah yang tertata di kedua bahunya Ia mengenakan gaun panjang berwarna ungu. Ia adalah Putri Layla


“Pangeran Uzan,” Layla menggamit gaunnya dan menunduk sebagai tanda penghormatan.


Uzan juga menunduk, diikuti oleh para rekannya.


Rura dan kawan - kawannnya berkata bahwa Kerajaan Kastala baru saja diambil alih,” Layla tampak khawatir. “Apakah itu benar, Uzan?”


“Itu benar, Layla,” Uzan mengangguk. “Kami baru saja mengalami kekalahan dalam pertarungan dan mengharuskan diri untuk menjauh dari Pulau Kastala.”


“Itu sayang sekali,” Layla menghela cemas. “Jadi, bagaimana kabar Raja Endan dan Ratu Sofia?”


“Mereka berdua sedang dijadikan sandra.”


“Menjadi Sandra di Istana sendiri…” Layla mengedarkan pandangan ke arah para rekan Uzan. Mereka tampak lelah dan ia mengira bahwa mereka sudah mengikuti Uzan dalam waktu lama.

__ADS_1


“Aku ingin mengetahui lebih tentang ini, Uzan,” kata Layla. “Tapi tampaknya kalian menjalani perjalanan yang cukup menyulitkan untuk sampai ke sini. Jadi, kalian bisa istirahat sebentar.”


“Aku bisa mewakilkan menceritakanmu segera tentang hal ini, Layla,” kata Uzan. “Para rekanku ini berhak mendapatkan istirahat mereka.”


“Baiklah,” Layla mengangguk. “Rura, bimbing rekan – rekan Uzan ke tempat – tempat peristirahatan tamu!”


“Segera saya laksanakan, Putri,” Rura mengangguk. Kemudian, ia berkata, “Mari!”


Sang Pixi melayang menjauhi Uzan dan Layla dan mengarahkan Edgar dan lainnya ke ruang peristirahatan.


Setelah Rura dan lainnya pergi, Layla berujar, “Kau mengajak Edgar dan Sara untuk ikut bersamamu, ya?”


“Itu benar,” kata Sang Pangeran.


“Betapa Sentimentil,” Layla memutar kedua bola matanya. “Mari kita berjalan ke teras lantai atas sambil bercerita tentang perjalananmu dengan mereka.”


“Baiklah,” kata Uzan. “Mari!”


Uzan dan Layla berjalan bersebelahan dengan tenang ke lantai atas semabri menaiki undakan – undakan tangga yang tersedia.


Sambil berjalan, Uzan menceritakan tentang awal mula terjadinya gempa periodik yang terjadi di Kerajaan Kastala. Sang Pangeran juga berkata tentang pemecahan masalah yang dipalsukan melalui misi untuk memulihkan Keadaan tersebut. Pencarian Meterial Magis dan lain – lain. Selain itu, ia juga bercerita tentang para anggota yang ikut dengannya dan bagaimana ia menemui mereka. Terakhir, ia menceritakan tentang ajudan Faraq bernama Malvin yang mereka lawan.


Akhirnya, mereka berdua sampai di teras bagian paling atas istana. Uzan dan Layla bersandar di pagar sambil melihat pemukiman sekitar Istana Kerajaan Igardias yang tampak tenang dan normal.


Setelah mendengar penjelasan Uzan, raut muka Layla semakin cemas. “Aku juga ikut berduka cita atas meninggalnya Kamasa.”


“Tidak apa – apa,” kata Uzan. “Yang paling penting saat ini adalah bahwa aku sudah tahu tentang apa tujuan Faraq dan apa yang perlu dilakukan untuk meghentikannya.”


Perlahan pagi merambat menjelang siang. Aliran udara yang diarasakan oleh Uzan dan Layla beralih semakin hangat. Walaupun begitu, Uzan dan Layla tidak dapat menikmati kehangatan udara ini karena berita yang sedang baru saja diutarakan.


Uzan mulai melanjutkan, “Sebenarnya ada masalah – masalah minor lain yang kami temui di perjalanan, tapi hanya aku cukupkan ceritaku mengenai hal – hal penting yang berkaitan dengan Faraq yang baru saja merebut Istana.”


“Tidak apa – apa, Uzan,” kata Layla. “Maklumat yang kau berikan kepadaku tentang perebutan kekuasaan sudah membuatku tidak nyaman. Itu bukan bidangku. Aku beruntung bahwa kalian sampai di sini dengan selamat.”

__ADS_1


__ADS_2