Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Dipermainkan


__ADS_3

Ruangan yang sedang di tempati Uzan, Edgar, dan Dubal kini sama persis seperti ruangan sebelumnya.


Edgar membenahi tombaknya. “Aku tidak tahu bahwa aku akan dikirim ke sini untuk melawan sang pangeran.”


“Hal ini pastinya akan menjadi menarik,” kata Dubal.


“Peraturannya sederhana, Pangeran Uzan,” kata Edgar. “Kau harus membunuh kami berdua jika kau ingin lulus pada ujian kali ini.”


“Jika aku berhasi membunuh kalian berdua, apa yang akan terjadi kepada Edgar dan Dubal yang asli yang masih ada di atas sana?”


“Kau tidak perlu khawatir, pangeran,” katta Dubal. “Jasad kedua orang ini memang bertugas sebagai wadah untuk dirasuki. Walaupun begitu, kemampuan kedua orang tersebut tetaplah sama.”


“Dan kemampuan mereka berdua,” kata Edgar sembari menyeringai. “Akan kami gunakan untuk membunuhmu.”


Uzan mengamati Edgar dan Dubal yang sedang menyeringai kepadanya. Sang pangeran sudah tahu bahwa mereka berdua sedang dikendalikan oleh sihir milik Gua Akais. Apapun caranya, ia akan melawan mereka. Walaupun, ia juga memiliki rasa enggan karena mereka berdua adalah kawannya.


Setelah itu, Edgar berlari menerjang ke arah Uzan dan meluncurkan tombaknya. Uzan menghindar. Setelah itu, Uzan menghdapi Dubal yang bersiap untuk memukulkan kapanya. Lagi – lagi Uzan dapat menghindar dan menendang Dubal, namun Dubal hanya mundur sedikit karena tubuh kuatnya.


Setelah itu, Uzan melompat mundur untuk menjaga jarak. Setelah itu, Dubal melompat ke arah Uzan sembari menghujamkan kapaknya. Namun dengan gesit sang pangeran menghindar.


Tebasan Dubal dengan kapak itu sampai membuat senjatanya tenggelam ke tanah. Prajurit itu harus menunduk untuk mencabut kapaknya.


Ketika Dubal menunduk, Uzan menjadikan bahu prajurit Oslar tersebut sebagai pijakan dan melompat. Bersiap untuk menebas Edgar. Namun Edgar sudah siap dengan memegang tombaknya secara datar dan menangkis tebasan Uzan.


Setelah itu, Uzan melompat menyamping karena berjaga – jaga jika Dubal menyerang dari belakang.


Nyatanya, Dubal memang mengejar Uzan namun hanya sepintas, ia tidak mengejar Uzan sampai penuh.


Setelah itu, Edgar dan Dubal berdiri berdua kembali sembari memperhatikan Uzan dengan seksama.


Sang pangeran memperhatikan kedua rekannya yang sedang terhipnotis dan berencana agar tidak terkena serangan satupun. Namun hal itu terasa mustahil karena ia sudah tahu tentang kemampuan mereka. Ditambah lagi, ia juga harus membunuh mereka semua.


--


“Apakah kau merasa ragu, pangeran Uzan?” tanya Dubal


“Ini sangat menyebalkan, Dubal,” kata Edgar. “Aku tahu bahwa pangeran Uzan tidak akan tega untuk membunuh rekannya walaupun sudah jelas bahwa kami hanyalah wadah. Namun, kau harus mengetahui bahwa…”


Edgar mengangkat tombak yang digenggamnya. “Jika aku berhasil membunuh Dubal, Dubal yang di atas akan mati.”


“Dan jika aku bisa membunuh Edgar,” kata Dubal sambil menyeringai. “Maka Edgar lah yang akan mati.”


Edgar menghela. “Jadi, kau harus menyesuaikan diri dan kami akan menjamin bahwa pilihannya ada dua.

__ADS_1


Pertama, kau harus membunuh masing - masing dari kami. Jika kau lengah, maka kami akan saling bunuh. Jika Edgar mati di tangan Dubal dan sebaliknya, maka masing – masing dari mereka yang ada di atas akan mati seketika.”


“Ugh!” seru Uzan dengan nada kesal. “Kau hanya bisa mengganti – ganti peraturan sesuai dengan keinginanmu saja.”


“Itu benar, panegeran Uzan,” kata Edgar. “Kalau aku harus memuntahkan fakta, maka hal ini, selain merupakan ujian, aku juga ingin melampiaskan hasrat pertarungan dengan seorang pangeran jua.”


“Dengan kata lain,” Dubal menyeringai. “Hal ini kami lakukan hanya untuk bersenang – senang.”


Dubal dan Edgar tergelak bersama. Uzan memperhatikan mereka berdua dengan tatapan tajam.


Mereka berdua adalah temannya dan ia sedang dipermainkan oleh Gua Akais agar ia menjadi bimbang karena nyawa teman – temannya di permainkan.


Sang pangeran bertekad bahwa untuk sementara ini, ia akan mematikan hatinya dan akan berniat untuk membunuh Edgar dan Dubal yang sedang ia hadapi ini dengan sungguh – sungguh.


--


Uzan berlari ke arah Edgar dan Dubal. Kedua prajurit tersebut bersiap – siap untuk menyambut ke datangan sang pangeran dengan mengangkat senjata mereka.


Uzan berlari ke arah Edgar dan menebasnya. Namun dengan cepat, Edgar menangkis serangan Uzan dengan tombak yang dipegangnya. Setelah itu, Dubal bersiap untuk menghujam Uzan dengan kapaknya.


Namun, Uzan bergerak cepat. Sang pangeran melompat ke samping untuk menghindar.


“Menghindar lagi, ya?” Edgar mendecih.


Melihat itu, Uzan langsung berlari ke arah Edgar dan Dubal untuk mencegah hal itu. Sang pangeran berhasil menusukkan ujung pedangnya ke tangan Dubal sampai ia melepaskan genggamannya dari leher Edgar.


Edgar terlihat tenang dan berkata dengan pelan, “Bagus, pangeran Uzan.”


Setelah itu, Edgar melepaskan tombaknya dan langsung menendang perut Uzan dengan lututnya sampai sang pangeran tersungkur.


Dubal juga tidak mau kalah. Ia langsung menendang Uzan sampai ia terlempar dan dalam posisi terlentang.


Masih di dalam posisi terlentang, sang pangeran terbatuk dan ketika ia akan bangun, ia melihat Edgar berusaha untuk menghujamkan ujung tombaknya ke arahnya.


Uzan berguling dan serangan Edgar meleset.


Setelah itu, sang pangeran langsung berdiri dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Dubal dan Edgar.


Setelah ia menghindar dari serangan Edgar, ia mengira bahwa Dubal akan menyerangnya juga. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan perkiraannya. Malahan…


Dubal meletakkan kapaknya ke tanah dan mengambil pedang Uzan.


Kemudian, Edgar berseru, “Tebas leherku, Dubal!”

__ADS_1


Dubal tergelak. Setelah itu, ia mulai mengangkat pedang dan mengayunkannya ke tepat ke leher Edgar.


Uzan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia langsung berlari cepat dan melompat sampai ia menubruk Edgar sampai prajurit itu terjatuh sehingga ayunan pedang Dubal meleset.


Setelah itu, Uzan langsung berdiri dan menendang dada Dubal dengan keras. Mantan prajurit Oslar tersebut hanya terdorong mundur akibat tendangan itu. Lalu, Edgar mulai mengayunkan pedang ke arah Uzan.


Sang pangeran melompat ke samping dan langsung mengalihkan pandangan ke tombak Edgar yang sudah tergeletak di tanah dan segera mengambilnya.


Uzan melihat Edgar terbangun dan hanya berdiri mematung sembari bersiap ditebas lehernya oleh Dubal. Dubal pun bersiap – siap untuk melakukan ayunan pedang kembali.


Uzan berlari dan bersiap dengan tombaknya. Setelah itu, ia berlari ke arah Dubal dan menghujamkan ujung tombak ke dada Dubal.


Dubal melepaskan pedang sambil teriak kesakitan. Prajurit itu, memegang tombak yang baru saja menusuknya. Beberapa saat kemudian, ia berjalan mundur dan terjatuh dan tidak bergerak lagi.


Uzan yang baru saja melihat hal tersebut merasa tidak tega. Tapi perasaan tidak tega yang dirasakannya tidak berlangsung lama karena Edgar langsung menendang dada sang pangeran sampai ia terpental. Pedang yang digenggamnya terlepas.


Uzan langsung bangun dan sesekali tersungkur sembari tengerah. Ia masih menatap Edgar yang tampak berdiri mematung dan menatapnya.


“Kau tahu bahwa teman – temanmu ini hanyalah bayangan yang tidak nyata,” kata Edgar. “Selain itu, kau juga sudah megetahui bahwa kau sedang dipermainkan. Aku tidak habis pikir dan mencoba menerka tentang perasaan apa yang harus aku rasakan saat ini.”


“Kau bukan Edgar,” kata Uzan. Seharusnya kau sudahi saja pertarungan ini!”


“Oh, ya?” Edgar mengambil pedang yang terjatuh di tanah dan melemparkannya ke Uzan sampai senjata itu berdenting di depan sang pangeran. “Jika kau berharap bahwa pertarungan ini akan sangat adalah semacam pertarungan antar teman, kau salah. Di sini, memang sudah aku kondisikan bahwa kau harus menang. Selain memberikan luka yang tidak seberapa kepadamu, kami juga ingin mengetahui tentang orang macam apa kau ini.”


Uzan mengambil pedangnya. Ia melihat Edgar. Prajurit itu mengambil tombak yang berlumuran darah dari dada Dubal.


“Kau adalah orang yang sangat perhatian dengan teman – temanmu, pangeran,” Edgar tertawa. “Aku juga mengetahui reaksi darimu jika aku melakukan ini.”


Edgar membalik tombak yang dipegangnya dan bersiap menghujam dadanya dengan ujung runcing tombak tersebut.


Melihat itu, Uzan berlari cepat dan langsung menendang Edgar sehingga perilakunya batal.


Tombak yang digenggam Edgar terlepas dan ia jatuh terlentang. Uzan langsung mendatangi Edgar yang terengah sambil tertawa. Kemudian, prajurit itu berujar, “Bunuh aku, pangeran!”


Dengan berat hati, Uzan mengangkat pedangnya, mengarahkan ujung senjatanya ke arah Edgar, dan langsung menghujam jantung kawannya.


Sang pangeran memalingkan muka ketika Edgar berteriak kesakitan karena hujaman tersebut. Setelah itu, Edgar berhenti bergerak.


Uzan menghembuskan nafas panjang karena sudah membunuh kedua ‘temannya’. DI sini, ia merasa dipermainkan di dalam ruangan di gua ini. Tentu saja ia adalah orang perhatian. Ia tidak mungkin ingin semerta – merta mematikan kedua kawannya walaupun itu hanya ada di dalam khayalan.


Walaupun begitu, Uzan tidak suka dipermainkan.


Beberapa saat kemudian, sebuah portal lingkaran hitam muncul. Lalu, Uzan langsung terhisap masuk ke dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2