Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Pantai Igardias


__ADS_3

Pagi itu, di sebuah daratan pantai, terbentuk sebuah lingkaran besar yang mengudara.


Tiba – tiba, sebuah kapal besar keluar dari kapal tersebut, membucahkan pasir dan air di pinggiran pantai tersebut.


Akhirnya, Uzan dan kawan – kawannya keluar dari kapal tersebut dan memijak ke tanah.


“Cepat sekali,” ujar Sang Pangeran.


Sara yang sedang berada di samping Uzan berkata, “untuk tiga hari ini, Arika dan Rota tidak akan bisa menggerakkan lengan mereka dan melakukan sihir secara Indvidu, pangeran.”


“Apakah kau tidak bisa menyembuhkan mereka?”


“Sihir plasma punya resiko tetap. Jadi, klerik pun tidak akan bisa mengobatinya. Lagipula, kita hanya perlu menunggu tiga hari jadi…”


Klerik itu menghentikan ujarannya karena sudah tahu bahwa sang pangeran juga sudah senang dengan maklumat yang diberikannya dan mulai memandang tanah yang baru saja dipijaknya.


Mereka sudah tiba di pantai pulau Igardias. Pasir putih pantai tersebut terasa lembut. Hal ini tampak karena Edgar dan Dubal juga sesekali merunduk dan mengambil pasir yang dengan lembut turun dari genggaman tangan mereka. Linda juga tampak senang sekali karena bisa menikmati cahaya mentari pagi yang terasa kehangatannya.


Mereka sedang ada di dalam suasana hati gembira karena mereka sudah sampai di Pulau Igardias.


Rota dan Arika keluar dari kapal untuk yang terakhir kalinya. Mereka berdua memang sedang tidak merasa gembira seperti para anggota kelompok Uzan lainnya karena sedang dalam kondisi sihir non aktif. Akan tetapi, mereka berdua juga ikut merasa lega karena bisa sampai di Igardias dengan cepat.


Ketika Rota sudah melangkah di samping Uzan, sang pangeran berkata, “Terima kasih karena kau telah melakukan hal ini untuk kami, Rota.”


“Sama – sama, pangeran,” Rota tersenyum. “Ternyata pembukaan portal ini jauh lebih cepat pengaruhnya ketika dilakukan setelah bangun tidur. Untung saja kau tidak melakukan keputusan terburu – buru dan menyuruh semua anggota kelompok untuk tidur terlebih dahulu.”


Uzan mengangguk. “Tentu saja.”


“Ngomong – ngomong,” Sara menyapa Rota. “Ternyata kau sudah bisa menyesuaikan diri dengan kami, Rota. Mungkin hal ini hanya menurut pandanganku, tapi kurasa kita bisa menjadi lebih akrab karena sepertinya kau sudah terlepas dari Tuan Dubal.”


“Itu benar, Sara,” komentar Rota. “Lagipula, tujuan awalku mengikuti kalian adalah untuk menemukan galar, tapi saat ini aku juga merasa bahwa aku bisa turut andil untuk membantu Pangeran Uzan.”


“Bagus…” Uzan menghela lega.


Tidak jauh dari mereka, Arika juga sedang menyaksikan kawan – kawannya yang sedang menikmati ketibaan mereka di Igardias. Mereka sudah tiba di pantai Igardias. Akan tetapi, yang dilihatnya selain lautan adalah hutan lebat.

__ADS_1


Gadis penyihir itu melirik Rota yang tampak sedang berbicara dengan Uzan dan Sara. Seandainya portal yang digunakan Rota bisa mencapai bagian depan Istana Kerajaan Igardias, itu pasti sangatlah menghemat waktu untuk sampai ke sana.


Beberapa saat kemudian, Edgar dan lainnya berkumpul menghampiri sang pangeran.


“Aku tahu bahwa kita sudah ada di wilayah Igardias,” Edgar berkomentar. “Tapi kita juga butuh waktu lagi untuk sampai ke sana. “


“Itu benar, pangeran,” kata Dubal.


“Aku dan Linda sudah berdiskusi tentang ke mana kita mendaratkan kapal kita, ” kata Rota. “Tempat ini adalah tempat yang disarankan oleh Linda.”


“Itu benar, pangeran,” kata Linda. “Hal tersebut karena hutan lebat yang berada di sana adalah Hutan Pixi.”


“Apa kau yakin?” tanya Sara.


“Itu benar,” kata Linda. “Setelah ini, kalian hanya perlu menunggu di sini sementara aku memanggil beberapa pixi yang ada di tempat itu untuk membantu kita dan membuat portal yang langsung bisa mencapai ke Istana.”


“Bagaiman bisa?”


“Pastinya kalian ingat tentang Hikin yang mengantar Malvin untuk menuju ke Hutan Lumina,” sembari mengudara, Linda memutar tubuh. “Beberapa pixi di Hutan Lumina punya akses khusus untuk membuat portal langsung ke istana atau sebaliknya.”


“Itu benar,” Linda mengangguk tanda menyetujui. “Tapi aku juga mengetahui tempat dimana biasanya mereka berkumpul.”


“Baiklah, Linda,” kata Uzan. “Kami mengandalkanmu.”


Linda mennagguk. Kemudian, ia melayang cepat ke arah Hutan tersebut.


“Jika Hutan pixi yang ada di Igardias bernama Lumina…” Edgar melirik Arika. “Apakah Hutan Pixi di sini bernama sama?”


Arika menghela. “Hutan ini bernama Hutan Restra. Yang Unik dari hutan ini adalah bahwa hutan ini dari luar terlihat dari hutan biasa. Akan tetapi, di dalamnya terdapat banyak pixi yang tinggal. Di Hutan Restra wilayah Igardias ini, Pixi jarang menampakkan diri seperti para pixi yang ada di Kastala. Untung saja Linda menyadarinya, tadinya aku merasa sedikit khawatir jika kita harus melakukan perjalanan lagi.”


“Apakah Ruhin juga tinggal di sini?” tanya Dubal.


Ketika Mantan prajurit Oslar tersebut berbicara tentang Ruhin, Uzan dan lainnya segera mengingat tentang kejadian di Desa Sakanan.


“Seharusnya kita bertanya kepada Linda tentang Pixi itu,” Edgar bersedekap. “Apakah Ruhin juga tinggal di sini?”

__ADS_1


“”Sebenarnya aku juga curiga,” Dubal menambahkan. “Maksudku, Arika baru saja bilang bahwa para Pixi di Hutan Restra ini jarang menampakkan dirinya. Jadi, kemungkinan besar Ruhin berada di sini, bukan?”


“Bagiamana pendapatmu, Arika, apakah kau mengetahuinya? Tanya Uzan.


“Itu…” Arika termenung sejenak. Kemudan, ia berujar, “Mungkin sebaiknya kita bertanya kepada Linda karena dia juga dalah seorang pixi yang lebih mengetahui tentang ini.”


Tidak lama kemudian, Linda tampak melayang keluar dari pepohonan diikuti oleh lima pixi lelaki.


Ketika lima pixi lelaki tersebut sudah sampai ke hadapan Uzan dan lainnya, mereka segera menunduk sambil melakukan penghormatan.


“Pangeran Uzan…” kata salah satu pixi tersebut. “Kehormatan bagi kami karena bisa bertemu dengan anda…”


Uzan mengerutkan dahi. Kemudian, ia mengangkat tangannya agar para pixi tersebut menyudahi penghormatannya.


“Kalian mengenalku?” tanya Uzan.


“Siapa yang tidak mengenal anda, wahai pangeran,” kata sa;lah satu dari keliama pixi tersebut. “Kau adalah Pangeran Uzan Alexander, satu satunya Putra mahkota dari Kerajaan Kastala.”


“Syukurlah,” Uzan menghela lega.


“Perkenalkan, namaku Raru, perwakilan utama dari kami,” Seorang pixi dari mereka memperkenalkan diri. Ia memiliki rambut berwarna biru dan memakai pakaian panjang serba merah.


“Apakah yang dikatakan Linda rekan kami benar, apakah pangeran baru saja dilanda musibah dan pengkhianatan?”


“Itu benar,” Uzan tampak cemas. “Apakah kabar tentang musibah ini sudah diketahui oleh Raja Guvar, Ratu Agatha, atau Putri Layla?”


“Kami belum mengetahuinya, pangeran Uzan,” kata Raru. “Alangkah baiknya jika Pangeran Uzan dan para rekannya kami antarkan langsung ke Istana Igardias untuk menemui mereka dan melaporkan tentang kejadian ini.”


“Kami ingin meminta bantuan kalian agar bisa menyampaikan hal ini kepada mereka secepatnya,” Uzan berkomentar.


“Akan kami lakukan secepatnya,” kata Raru.


Sesaat kemudian, pixi itu berbicara kepada para rekannya sembari memberi aba – aba. Beberapa kali mereka menunjuk ke arah Uzan dan satu per satu anggota rekannya, berikut dengan Kapal Uvuk.


Akhirnya, kelima Pixi itu mengudara berjajar di depan Uzan dan kawan - kawannya sambil mengeluarkan cahaya dari telapak tangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2