Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Bertarung Melawan Sentafal (2)


__ADS_3

Sentafal tersentak. Ia meraung kesakitan. Ujung tombak itu telah menembus tepat di bagian jantung.


Dubal menghentikan langkahnya. Arika mengucapkan mantra, angin memutar di sekitar gadis penyihir itu, lalu ia melayang menjauhi Sentafal dan berdiri di samping Dubal dan Edgar.


“Arika,” panggil Dubal. “Makhluk ini pasti belum mati.”


Arika mengangguk. “Itu benar, Tuan Dubal.”


“Tunggu sebentar!” Edgar terheran. “Apa berarti Sentafal tidak akan mati walaupun ditusuk jantungnya?”


“Sayang sekali, Edgar,” kata Arika. “Ia hanya akan mati jika kepalanya putus.”


“Menyebalkan!” Dubal menggeram. “Aku juga terheran sendiri mengapa pendarahan di tangan kanannya berhenti dengan cepat. Seharusnya dia sudah kehabisan darah.”


Arika menghela. “Ini karena gelang emas yang terpasang di hidungnya.”


“Apakah itu berarti Material Magis yang kita butuhkan adalah gelang emas itu, bukan kepala Sentafal?” kata Dubal.


“Itu benar, Tuan Dubal.”


“Senjata yang bisa menebas kepala makhluk itu hanya kapak dan pedang,” kata Edgar. “Sudah kuduga, tombakku tidak akan begitu berguna di sini.”


Sentafal mencabut tombak Edgar. Darah mengalir dari dadanya. Sesaat kemudian, aliran darah tersebut berhenti.


Setelah itu, ia menggenggam tombak Edgar sampai patah.


“Tombakku!” seru Edgar.


Sentafal meraung – raung. “JANGAN REMEHKAN AKU!”


Arika mengucapkan mantra. Angin mengelilingi dirinya, Edgar, Dubal, dan Trez. Mereka melayang menjauhi makhluk itu.


Uzan dan Sara berlari menghampiri Arika dan lainnya.


“Kalian tidak apa – apa?” tanya Sara.


“Kami tidak apa – apa, Nona Sara.” Dubal masih memperhatikan Sentafal yang meraung – raung. Setelah itu, ia memberitahu Uzan perihal gelang yang terpasang di hidung sentafal. Uzan tampak mengerti tentang maklumat itu.


Setelah raungan itu, Sentafal berjalan menghampiri tombak yang tertancap di dinding dan mencabutnya. Setelah itu, ia melepaskan tombak tersebut.

__ADS_1


Uzan dan kawan – kawannya memandang Sentafal yang sedang menatap mereka. Setelah melepaskan tombaknya, makhluk Mystical Beast tersebut hanya berdiri tegak. Senjatanya melayang – layang di sampingnya. Beberapa saat kemudian, cahaya putih mengitari makhluk tersebut.


“Arika, apa yang dia lakukan?” tanya Uzan.


“Aku tidak tahu, pangeran,” kata Arika.


Sentafal memegang hidungnya dengan tangan kirinya. Setelah beberapa saat, seketika tangan kanannya muncul kembali.


“Apa – apaan!” seru Edgar.


“Tangan kanannya tidak tumbuh, melainkan muncul,” Uzan berkomentar.


Arika tampak khawatir. “Seandainya aku mengetahui tentang itu dari awal, aku akan memberitahu kalian,” ujar gadis penyihir dengan nada kecewa.


“Kau tidak perlu khawatir, Arika!” Sara menenangkan. “Kita pasti bisa melalui ini bersama.”


Arika mengangguk, tapi ia tampak tidak yakin. Penyihir itu melepaskan topinya dan melemparkannya ke depan. Topi itu membalik dan melayang – layang, ia mengucapkan mantra. Sebuah tombak melayang keluar dari topi itu dan menuju ke Edgar.


“Sara benar, Arika,” kata Dubal. “Kita hanya perlu menebas kepalanya.”


“Hei!” Edgar menangkap tombak yang diberikan Arika. “Mungkin aku, Sara, dan Arika bisa melakukan kekuatan hijau yang bisa menghancurkan manusia pohon dalam sekali serang.”


Dubal menoleh ke Edgar. “Tadinya aku kira kau bisa menghajar manusia pohon itu sendirian, Edgar.”


“Bagaimana lagi?” kata Edgar sambil menggaruk kepala. “Aku sendiri tidak berdaya saat mendapati bahwa tombak tidak mempan untuk melawan manusia pohon.”


Beberapa saat setelah mendengar percakapan kawan – kawannya, Uzan berujar, “Kita akan menggunakan kekuatan hijau yang barus saja dikatakan Edgar.”


Arika berujar, “Pangeran Uzan, ketika Wind Burst sudah digunakan untuk kedua kalinya, ketiga penggunanya akan kehabisan tenaga selama tiga hari dan—”


“Jika hanya itu resikonya,” potong Dubal, “maka yang penting adalah pengambilan waktu.”


Arika dan Sara termenung beberapa saat. Edgar juga tampak ragu karena ide yang dituturkannya kurang lebih adalah candaan yang mungkin tidak akan dipertimbangkan. Setelah itu, ia berujar pelan. “Itu akan masuk akal jika dijadikan cadangan.”


“Itu memang akan dijadikan cadangan, Edgar.” Uzan mengangguk. “Sekarang, kita perlu taktik utama.”


Edgar menaiki Trez. Sara menyalakan kedua telapak tangannya, melakukan Max Purify. Tenaga seluruh kawannya kembali. Arika kembali memakai topi penyihirnya. Uzan mulai membicarakan sebuah taktik kepada rekan – rekannya.


Tidak lama kemudian, lingkaran cahaya yang mengelilingi Sentafal sirna. Tombak yang melayang disampingnya ia genggam kembali. “Jangan kira bahwa klerikmu saja yang bisa melakukan penyembuhan.”

__ADS_1


Dari kejauhan, Sentafal tidak tahu tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Uzan dan lainnya. Kini, ia tidak hanya akan menjadikan klerik itu sebagai target utama, ia akan membunuh mereka semua.


Sentafal langsung berlari menerjang Uzan dan para rekannya. Mereka menyebar.


Uzan menerjang dan menebaskan pedangnya ke arah Sentafal, namun makhluk itu menangkis tebasan sang pangeran dengan tombaknya dan menyebabkan pedang itu terlempar. Setelah itu, Sentafal mengepalkan tinju dan segera meluncurkannya ke Uzan sampai sang pangeran terlempar.


Selanjutnya, Dubal datang mencoba untuk menebas tubuh banteng Sentafal. Beruntungnya, makhluk itu sempat menghindar. Ia membalikkan tubuh dan menendang Dubal dengan kedua kaki belakang sampai prajurit itu terlempar.


Setelah itu, bola angin dengan kerlap – kerlip kehijauan melingkup Sentafal. Ia tidak merasakan efek apa – apa. Namun bola angin itu cukup menganggu karena pandangannya terganggu dan gerakannya terbatasi. Selain itu, gadis penyihir itu ada di jarak jauh bersama klerik yang akan menyembuhkan seluruh anggota kelompok.


Dengan sekuat tenaga, Sentafal meraung mengeluarkan diri dari sihir tersebut. Bola angin itu sirna dan menyebabkan Arika tertegun dan terdorong mundur. Sara melirik Arika sejenak, namun masih berkonsentrasi dengan Max Purify.


Ketika Sentafal berniat untuk berlari menuju Arika dan Sara, tidak di sangka, Edgar datang bersama Trez. Ia menarik tali kekang kuda yang ditungganginya dan memerintahkan Trez untuk membalik tubuh. Akhirnya, Trez berhasil menendangkan dua kaki belakangnya ke dada Sentafal.


Sentafal tersentak ke belakang. Ia meraung kesakitan. Ia langsung ingin membalas dendam dengan mengarahkan ujung tombaknya ke Trez dan bersiap untuk menghujamnya.


Targetnya meleset karena Uzan menebas kaki kanan depan Sentafal sampai makhluk itu terjatuh. Darah mengucur dari kakinya.


Melihat Sentafal yang sedang lumpuh, Edgar mengetuk kekang kuda Trez dan segera berlari menuju Sentafal sembari mengarahkan ujung tombaknya. Ketika mendekati Sentafal, makhluk itu melakukan hal yang tidak ia lakukan sebelumnya.


Kedua mata Sentafal berpendar dengan cahaya perunggu. Ia membuka mulutnya. Sebuah bola kayu melayang, menggumpal, dan membentuk di depannya. Setelah itu, bola kayu itu membesar dan langsung melesat ke arah Edgar dan Trez, menyebabkan keduanya terpental.


Dubal menggeram. “Mengejutkan!”


Sentafal menoleh ke arah Dubal, dengan cepat ia meluncurkan bola sihirnya dan membuat prajurit itu terpental.


Uzan berlari ke arah Sentafal, sang pangeran melompat dan bersiap menebas badan makhluk itu, namun ia merasa tebasannya bagaikan ditangkis. Udara di sekitar Sentafal bagaikan dinding yang melindunginya.


Cahaya putih mengitari tanah yang dipijak Sentafal. Makhluk itu melepaskan tombaknya. Ketika senjatanya tengah melayang, ia memegang hidungnya. Setelah itu, kakinya memulih seperti semula. Akhirnya, ia berdiri tegak dan menggenggam tombaknya kembali.


“Ini akan sangat merepotkan,” Uzan berkomentar.


“Oh, ya?” Sentafal menyeringai. “Kalian juga merepotkan.”


Sentafal menoleh ke arah Sara dan Arika. Ketika ia bersiap untuk meluncurkan bola sihirnya ke mereka berdua, Edgar mendekat dan menyuruh Trez untuk menendangkan kedua kaki belakangnya.


Karena tendangan itu, Sentafal tersentak. Sihirnya batal. Ketika ia melihat Edgar bersiap untuk menghujamkan tombaknya. Ia bisa menghindar. Setelah itu, ia meluncurkan tinju ke Edgar sampai ia terpental.


Sentafal akan menghujam Trez dengan tombaknya, namun serangannya meleset karena Trez segera berlari kembali untuk menghampiri Edgar yang terjatuh.

__ADS_1


Uzan menghampiri Dubal dan memastikan bahwa prajurit itu tidak apa - apa. Setelah itu, mereka berdua bersiap untuk menyerang Sentafal yang sedang meraung keras sambil mengangkat tombaknya.


__ADS_2