Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Bertemu Uvuk


__ADS_3

“Apa kau sudah siap, pangeran?”


Pagi itu, Uzan dan Linda sudah berdiri di depan rumah penginapan. Setelah menandaskan sarapannya, sang pangeran langsung bersiap – siap untuk menemui uvuk.


“Aku sudah siap, Linda,” kata Uzan sambil merapikan pakaiannya.


“Mari ikuti saya,” Linda melayang ke sebuah arah di hutan Lumina. Uzan berjalan mengikutinya.


Ketika perjalanan, Uzan mengedarkan pandangan sekeliling. Ia mungkin hanya mendapati beberapa pepohonan yang ada di hutan pada umumnya. Ketika ia melengak, pemandangan yang ditemuinya juga adalah ratusan pixi yang berlalu lalang untuk melakukan aktivitas keseharian mereka.


Akan tetapi, lama kelamaan, sang pangeran diarahkan ke kumpulan pepohonan yang tampak gelap.


“Mari,” kata Linda sambil melayang menuju sisi gelap pephonan tersebut.


Dengan raut muka serius, Uzan berjalan mengikuti Linda.


Ketika sampai di ruang gelap tersebut, sang pangeran harus menyingkirkan banyak ranting dari tangannya. Sesekali ia juga menemui ular derik, tikus, tupai, dan sebagainya. Akan tetapi, ia tidak perlu khawatir karena hewan – hewan tersebut langsung melesat pergi ketika tahu bahwa ada orang yang sedang hadir. Linda pun tidak berkomentar banyak.


Beberapa saat kemudian, Uzan dan Linda sampai ke sebuah taman berbentuk lingkaran yang memiliki rumput indah kehijauan. Walaupun begitu, yang menjadi pandangan utama Uzan bukanlah pemandangan sekitar taman, melainkan sebuah pohon beringin besar yang ada di tengah taman tersebut.


Pohon beringin berukuran besar, namun sedikit lebih kecil daripada pohon tempat Uzan dan kawan – kawannya menghabiskan malam sebelumnya. Dibagian bawah pohon tersebut, terukir sebuah pintu berbentuk segitiga sama kaki yang besarnya seukuran tinggi badan manusia normal.


Setelah berpijak di dekat pohon tersebut, Linda berkata, “Akan saya bukakan pintunya dahulu, pangeran.”


Setelah itu, sang pixi menjentikkan jarinya. Lalu, terdengar lima kali suara ketukan di pintu segitiga tersebut. Beberapa saat kemudian, pintu tersebut membuka. Tidak seperti pintu biasa, segitiga sama kaki tersebut tenggelam ke tanah sehingga membuka ruangan untuk Uzan.


Setelah itu, Uzan masuk ke dalam ruangan. Sang Pangeran mendapati sebuah ruang tamu besar. Berikut uvuk yang sedang duduk di sofa. Uvuk berukuran sebesar manusia biasa, memiliki sayap. Akan tetapi, ia tampak seperti pria tua.


“Selamat datang, pangeran Uzan,” kata Uvuk.


“Salam, tuan Uvuk…” Uzan membungkuk.


Uvuk mengangguk sambil mengangkat telapak tangannya. “Silahkan duduk!”

__ADS_1


Uzan duduk di sofa yang, entah sejak kapan, ada sudah tersedia di belakangnya.


“Jadi, pangeran Uzan ingin memperoleh Tongkat Lumina di sini, ya?” kata Uvuk.


“Itu benar, Tuan,” kata Uzan.


“Kau akan langsung memperolehnya, Pangeran Uzan. Ini dia” Setelah itu, sebuah tongkat putih dengan pendaran cahaya keemasan muncul dari ketiadaan. Di salah satu ujung tongkat tersebut, sebuah lubang persegi terbentuk. Tongkat itu melayang di genggaman Uvuk. “Tetapi, sebelum aku memberikanmu tongkat ini, aku ingin bercakap - cakap denganmu mengenai hal - hal yang berkaitan dengan tujuanmu.”


“Baiklah,” Uzan memulai. Setelah itu, sang pangeran tujuan memperoleh material magis itu kepada Uvuk. Selain itu, Uzan juga bercerita tentang seluruh perjalanannya dari awal sampai akhir, sampai ia dan para rekannya tiba di hutan Lumina. Selain itu, ia juga menceritakan tentang keraguannya.


“Biarkan aku berfikir,” kata Uvuk sambil memegang dagu. Uvuk berdiam diri sambil sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Gestur yang dilakukan Uvuk berlangsung lama. Sebenarnya, Uzan tahu betapa tidak nyamannya menunggu. Akan tetapi, kemungkinan sesepuh peri yang sedang duduk di depannya punya solusi untuk masalah yang sedang dihadapinya.


Linda juga merasa bosan. Ia merengut dan bersedekap sambil mengudara.


“Apakah ada usul untuk perjalanan kami, Tuan Uvuk?” akhirnya Uzan bertanya.


Linda berkata, “Saya tahu bahwa anda juga mengenal Ruhin, kan, Tuan?”


“Itu benar,” Uvuk menghela. “Dia adalah sahabatku. Ia menaungi pabrik emas ajaib di Desa Sakanan, karena ia memiliki daya magis yang kuat. Akan tetapi, ia memudar setelah desa Sakanan dibangun di pabrik emas itu. Hal ini karena pemimpin desa Sakanan saat itu menyewa penyihir yang bisa melakukan segel gaib. Sehingga, keberadaan Ruhin langsung lenyap. Walaupun begitu, ia masih bisa mengetahui tentang keadaan yang ada di sekitar Desa Sakanan melalui Pabrik Emas itu walaupun tidak memilki wujud.”


“Ruhin sudah bangkit kembali, Tuan,” kata Uzan.


“Aku tahu itu,” kata Uvuk. “Dan ia berencana untuk membunuh Galar dan seluruh makhluk Girafan jenis Gulda. Bukankah begitu?”


“Kenapa sampai – sampai ia menginginkan untuk melakukan kejahatan seperti itu?” tanya Linda.


“Itu karena menaungi tempat magis merupakan tugas terhormat bagi para kaum pixi, Linda,” kata Uvuk. “Apalagi, aku yakin bahwa keinginan Ruhin bisa dibilang wajar, karena secara tidak langsung, ia menganggap bahwa kehormatannya sudah diambil dengan hancurnya. Pabrik emas itu.”


Linda menghela sambil menagguk sebagai tanda mengerti.


“Mari kita berdiri, pangeran Uzan,” Uvuk berdiri. Sang pangeran juga ikut berdiri.

__ADS_1


Setelah itu, Uvuk memberikan Tongkat Lumina kepada Uzan. Setelah menerima Material Magis itu, Uzan menunduk sebagai ucapan terima kasih.


“Dengan cerita tentang perjalananmu, aku hanya mengerti tentang kebangkitan Ruhin. Aku sangat beruntung karena kau juga memberi kepercayaan karena kau juga bersedia menceritakan tentang keraguanku kepada diriku. Akan tetapi, aku tidak memiliki komentar apa – apa tentang itu. Selain itu, jika kau ingin menemui Uvuk di Igardias, dia ada di sebuah tempat bernama Hutan Sitrin. Hanya itu saja yang bisa kukatakan kepadamu.”


“Satu lagi,” kata Uzan. “Apakah kegunaan tongkat ini dan bagaimana aku menggunakannya?”


Jadi, kau ingin mengetahui tentang fungsi tongkat itu, ya?” Uvuk tersenyum. “Setelah ini, Linda akan memandumu untuk menggunakan tongkat Lumina itu.”


“Itu benar, pangeran,” Linda mengangguk.


“Setelah ini, aku akan mengumandangkan kepada seluruh Hutan Lumina akan kehadiran pangeran Uzan di sini. Selain itu, melalui Linda, kau akan bisa berhubungan langsung denganku jika kau membutuhkan bantuan.”


“Terima kasih, Tuan Uvuk,” kata Uzan.


“Jadi, akrabkan dirimu dengan Linda, pixi yang sedang ada di sampingmu.”


“Baiklah, Tuan,” kata Uzan. “Semenjak datang ke Hutan Lumina ini, saya mempunyai rencana untuk mengajak seorang Pixi untuk menjadi anggota kelompok utama.”


Linda mengatup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. “Apakah itu benar, pangeran?”


“Tentu saja,” kata Uzan. “Perkataan yang saya baru saja saya katakan ini mungkin terkesan tiba – tiba. Akan tetapi, saya masih penasaran tentang Ruhin sang pixi yang ada di Igardias dan ingin menemuinya. Jadi, saya juga akan sangat beruntung jika memiliki anggota berupa seekor pixi yang bisa mendampingi saya di perjalanan.


“Baiklah,” kata Uvuk. “Semoga kalian bisa akrab antara satu sama lain. Di samping itu, semoga kau bisa memanfaatkan Linda sang Pixi sebagai anggota iutama rekanmu itu.”


“Itu sudah pasti,” kata Uzan.


“Aku permisi dulu, pangeran,” kata Uvuk. Setelah itu, Uvuk memudar menjadi ratusan butiran cahaya putih.”


“Apa Tuan Uvuk baik – baik saja, Linda?” tanya Uzan.


Dengan buru – buru, Linda berujar, “I-iya pangeran, Tuan Uvuk sedang mengumandangkan kehadiran pangeran ke seluruh penjuru hutan Lumina.”


“Begitu, ya?” kata Uzan. Sepertinya Tuan Uvuk yang baru saja ia temui adalah orang yang ganjil. Ia tidak akan bertanya kepada Linda tentang Uvuk. Melainkan, ia akan bertanya tentang hal yang lebih penting, yaitu tentang kekuatan yang bisa dipancarkan oleh tongkat Lumina yang sedang digenggamnya.

__ADS_1


__ADS_2