
(1)
Pangeran Uzan dan lainnya memulai kembali perjalanan mereka di pagi hari. Setelah sarapan, mereka langsung berangkat dari tempat peristirahatan mereka.
Edgar yang mengendarai Trez menyatakan bahwa jalanan yang dilaluinya cukup stabil walaupun harus merintangi berbagai macam halangan berupa bebatuan, batang pohon, kijang, atau rusa yang sesekali lewat dan hampir dihantam oleh Trez.
Dubal tertidur sambil terduduk di dalam kereta kencana. Uzan, Arika, dan Sara, juga tidak melakukan percakapan sama sekali seiring dengan perjalanan. keadaan tersebut bertahan sampai tengah hari, waktu Dubal sudah terbangun.
Beberapa saat setelah Dubal terbangun, ia memecah keheningan. "Pangeran Uzan, kau bisa merasakan tempat Sentafal itu. Apakah masih jauh?
"Sekitar dua jam lagi, kita akan sampai," jawab Uzan dengan nada datar.
"Semuanya," Arika mengumumkan. "Aku ingin menyampaikan sesuatu tentang Sentafal yang akan kita hadapi ini."
"Kenapa tidak kau sampaikan dari tadi, Arika?" tanya Edgar melalui telepati kereta.
"Aku hanya ingin memberitahu tentang maklumat ini setelah Tuan Dubal sudah terbangun sehingga semua anggota kelompok bisa mengetahuinya."
"Baikah," kata Uzan. "Segera sampaikan!"
Seluruh Anggota kelompok memperhatikan Arika.
(2)
“Jadi, Sentafal yang akan kita hadapi ini adalah makhluk setengah banteng setengah manusia, namun ia memiliki kepala banteng.”
“Dalam misi kali ini, kita harus memperoleh kepalanya.” Uzan menatap Arika. "Lalu, bisakah kau memberitahukan kami tentang kemampuannya?”
“Ia tidak begitu terpengaruh oleh sihir. baginya, efek yang ditimbulkan oleh sihir tidaklah seberapa,” Arika menjelaskan. “Bahkan Sihir Elemen tanah dengan mempertajam bentuk tanah yang diarahkan ke Sentafal pengaruhnya hanya sedikit, karena itu juga termasuk sihir.
“Ini seperti pengalamanku ketika aku masih di Igardias,” Arika menghela sejenak, kemudian melanjutkan, “Aku dan beberapa kawanku pernah melawan Risaik, Elang berekor pedang. Namun ia melarikan diri karena kami hampir tidak bisa melukainya. Padahal kami sendiri terdiri dari empat orang Penyihir, satu Klerik, dan satu Prajurit yang menggunakan pedang.”
“Bagaimana nasib pertarunganmu dengan Risaik?” kata Dubal.
“Elemen Angin yang dimilikinya sangatlah dahsyat sehingga kami tidak berdaya ketika menghadapinya. Ia terkena luka berat karena temanku yang berpedang sempat menebas sayapnya, namun sebelum menangkapnya, Risaik melarikan diri.”
“Sayang sekali,” kata Sara dengan muka muram.
“Itu benar,” Arika mengangguk lesu. “Dan yang kutahu, Sentafal memiliki kekuatan berbasis tanah jadi, kita harus berhati – hati.”
“Elemen tanah,” Uzan bergumam. “Jadi, ini berkaitan dengan gempa.”
Walaupun aku tidak yakin bahwa sihir periodik yang terjadi di Kastala bukan merupakan efek dari Penyihir Elemen Tanah,” Arika merapikan jubahnya, “namun aku harus mengakui bahwa salah satu materialnya memiliki keterkaitan, pangeran.”
“Bisakah kau menjabarkan lebih banyak tentang Risaik, Sentafal, dan lainnya kepada kami, Arika?” tanya Sara.
"Tentu saja," kata Arika “Mereka disebut juga dengan Namaril Mystical Beasts atau Hewan Buas Mistis Namari. Mereka adalah hewan – hewan buas mistis penjaga kuil masing – masing pulau di seluruh Namaril. Untuk lebih jelasnya, akan kujelaskan dengan Litera Sihir.”
Arika menengadahkan telapak tangannya. Perlahan, bola cahaya putih berpendar ditengah mereka berempat yang sedang duduk di kereta sehingga, Uzan dan lainnya bisa melihat tulisan perincian keterangan Namaril Mystical Beasts.
Kastala – Sentafal – Banteng Setengah Manusia Berkepala Banteng – Hutan Roderi
Igardias – Risaik – Elang Ekor Pedang – Gunung Atlas
Rimasti – Manseis – Gorila Enam Tangan – Gua Rabrab
__ADS_1
Oslar – Rabasha – Ular Raksasa Berkepala Gajah – Bukit Reddin
Enmar – Cerberaz – Serigala Raksasa bernafas api – Hutan Lavar
Mereka berempat memperhatikan tulisan tersebut. Uzan memperhatikan keterangan Sentafal yang memiliki wujud ganjil dalam bentuk tulisan. Ia tahu bahwa sekarang, mereka sedang melintasi Hutan Roderi, dimana mereka akan menemui Hewan Buas Mistis tersebut.
“Aku tidak bisa melihatnya,” kata Edgar.
“Tenang saja,” kata Arika. Gadis itu menjentikkan jarinnya. “Terima kasih karena adanya keterkaitan antara sihir dan kereta kencana ini, pengendara kuda juga bisa mengetahui seluruh maklumat ini.”
Beberapa saat kemudian Edgar berkata, “Kurasa mereka memiliki kekuatan di atas normal seperti wujud mereka. Lagipula, bentuk teraneh bagiku adalah Rabasha, Ular Raksasa Berkepala Gajah.”
Dubal bersedekap sambil mengangguk. “Aku pernah menemui makhluk itu ketika masih di Oslar. Ia sedang mengamuk di sebuah desa di dekat bukit Reddin. Sayang sekali misi kita sudah selesai ketika itu sehingga kami tidak sempat menyelidikinya lebih jauh.”
“Apakah mereka semua tinggal di daerah hutan dan perbukitan, Arika?” tanya Sara.
“Tidak semuanya. Tapi yang pasti, mereka bertempat tinggal di kui.” Arika menjelaskan. “Untuk Sentafal, ia bertempat tinggal di sebuah kuil di tengah Hutan Roderi, hutan yang sedang kita lintasi.”
Aku baru dengar nama dari Mystical Beasts ini, Arika,” Kata Sara, sambil tersenyum. Apakah yang tinggal di kuil itu hanya satu?”
“Aku bisa mengatakan bahwa yang tertera pada Litera Sihirku adalah satu – satunya tempat dimana Namaril Mystical Beasts berada. Di tempat –tempat tersebut, jumlah mereka tidak diketahui karena kemunculan mereka yang terkesan tiba - tiba dan jarang. Hal ini karena mereka memilih untuk menjadi Ghaib dan tidak bisa dirasakan oleh manusia.
Uzan mengangguk. “Aku bisa merasakan ada satu ekor Sentafal di kuil yanng sedang kita tuju.”
“Syukurlah,” kata Sara sambil menghela lega. “Kalau begitu, dari sekian banyak Sentafal di Hutan Roderi ini, yang akan kita hadapi hanyalah satu.
“Apakah ini pertanda bahwa Sentafal itu sudah siap kita datangi?” Dubal menegakkan posisi duduknya. “Semoga saja ini bukanlah seperti Bukit Giraf yang dihuni oleh Girafan.”
“Ini berbeda dengan Bukit Kagigar, Tuan Dubal.” Kata Arika. “Kuil Sentafal berhubungan langsung dengan Hutan Roderi yang sedang kita susuri dan tidak melalui Portal Alam Magis.”
(3)
“Kawan – kawan,” kata Edgar. “Ada makhluk aneh yang sedang menghadang kita.”
“Makhluk apa?” tanya Uzan. Ia dan ketiga penumpang lainnya merasa panik karena adanya guncangan kasar di dalam ruangan kereta.
“Kalian harus keluar untuk-”
Uzan tidak mendengar perkataan Edgar. Ia hanya mendengar cambukan batang pohon yang mengenai Trez. Kuda itu meringkik keras, lalu perlahan suaranya menjauh.
“Tali penghubung Kuda dan kereta kencana sudah terputus,” kata Arika dengan nada panik.
Uzan dan lainnya bisa mendengar seruan Edgar yang menyuruh seluruh penumpang untuk keluar.
Uzan membuka pintu kereta, namun pintu itu tertutup rapat seolah - olah terkunci. Tubuhnya dan para penumpang lainnya terbanting kesana kemari
Edgar melihat kereta kencana yang dibawanya terlilit akar. Ia tidak mengerti apakah sambungan telepati suaranya bisa terdengar ketika tali penghubung antara Trez dan Kereta.
Edgar sedang menunggangi Trez dan menggenggam tombak.
Ia melihat enam manusia pohon setinggi manusia dewasa yang sedang mengulurkan tangan – tangan dahannya yang mencuatkan akar yang melilit Kereta Kencana. Dan mengombang – ambingkannya selayaknya sebuah mainan.
Edgar merutuk. Ia tidak bisa membayangkan keadaan Uzan, Dubal,Sara, dan Arika yang tubuhnya menghantam satu sama lain karena guncangan yang dihasilkan oleh perlakuan itu.
Salah satu manusia pohon berbicara. “Ada dua orang penumpang di dalam kereta kencana itu.”
__ADS_1
“Aku bisa merasakan keberadaan mereka. Sayang sekali, aku bisa merasakan keberadaan kalian di seluruh bawah pohon rindang yang ada di hutan belantara ini. Aku hanya memeriksa selama setengah jam, namun malam itu aku menemui dua orang sedang berbicara, dan satu orang sedang tidur di sebuah tenda.”
Dobrakan – dobrakan pintu masih terdengar dari dalam kereta kencana tersebut. Keempat tubuh penumpang yang saling menghantam satu sama lain juga terdengar.
“Dua orang ya?” gumam Edgar. Ia tahu bahwa anggota kelompoknya, termasuk dirinya, berjumlah lima. Namun, setelah dia mengingat – ingat, Arika tidur di tendanya sendiri. Sementara, Sara tertidur di kereta kencana, tadi malam. Itu berarti, Sara dan Arika luput dari pemantauan makhluk – makhluk ini.
“Kurang ajar kalian!” Dengan mengendarai Trez, Edgar berseru menyerbu manusia – manusia pohon tersebut, namun mereka berhasil menghindar. Akar – akar yang menjalar di sekitar Uzan dan lainnya pun menjauh mengikuti induknya.”
Setelah itu, Manusia Pohon itu mengangkat Kereta kencana itu ke atas, lalu membantingnya ke bawah dengan bantingan yang teramat keras.
Setelah kereta kencana itu hancur, Uzan dan lainnya muncul dan terengah – engah. Sara menyalakan cahaya putih di kedua telapak tangannya, memulihkan ketiga rekannya.
“Perkiraanku salah,” kata salah satu manusia pohon. “Seluruhnya berjumlah lima.”
Keenam manusia pohon tersebut menjauh dan berdiri berjajar menghadap Uzan dan lainnya. “Kami tahu apa yang kalian inginkan.”
“Kalian tidak apa – apa?” tanya Edgar kepada Uzan, mengabaikan perkataan manusia pohon tersebut. Sang pangeran, Dubal, Sara, dan Arika mulai berdiri.
“Untung saja,” berkat Kereta Kencana Magis ini, jika kereta nya hancur, penumpangnya tidak akan terluka.”
“Aku tidak yakin akan keadaan kalian.” Kata Edgar.
“Arika,” panggil Uzan. “Kau tahu siapa mereka?”
“Lebih tepatnya, apa mereka?” Edgar membenarkan.
“Mereka adalah manusia pohon anak buah Sentafal.” Jawab Arika.” Setelah ini, kita akan menemui sang Sentafal.”
“Jadi, kita harus mengalahkan mereka dahulu?” tanya Sara.
“Begitulah!”
Dubal menepuk nepuk dada. “Apakah kau punya taktik untuk mengalahkan mereka, Arika?”
Arika mengangguk. “Serangan akar tangan mereka cukup merepotkan, tapi relatif pendek sehingga belum sampai tahap sulur. Dan, setelah mereka kalah, Sentafal akan segera datang.”
Uzan memperhatikan manusia- manusia pohon tersebut. “Aku simpulkan bahwa ini adalah taktik Sentafal untuk mengurangi tenaga musuh sebelum melawannya. Sara akan tinggal di Lini belakang sementara yang lainnya-
“Pangeran Uzan aku…” Arika membuat pengakuan. “Mungkin aku bisa membantu dalam hal pengetahuan tentang sihir dan perjalanan atau kemudahan untuk kelompok ini, tapi kemampuan bertarungku sendiri..."
“Kalau begitu... “Uzan mencerna pengakuan dari Arika. “Untuk sementara ini, kau dan Sara di lini belakang, sementara Aku, Edgar, dan Dubal akan menghajar Manusia Pohon ini.”
“Apakah kau langsung menyimpulkan bahwa gadis penyihir itu memang tidak bisa bertarung, pangeran?” tanya Dubal.
“Kita semua pada akhirnya akan bertarung melawan Sentafal, Dubal,” kata Uzan. “Namun untuk saat ini, Aku, kau, dan Edgar akan jadi yang utama.”
“Itu bagus, pangeran.” Kata Dubal sambil menyeringai.
Edgar menggertakkan giginya sambil menatap manusia – manusia pohon itu dengan tajam. “Untuk ini, aku tidak sudi kabur seperti yang sudah – sudah.”
“Ayo bersiap!” kata Uzan dengan nada meyakinkan. “Kita tidak berencana untuk gagal.”
Arika memunculkan tongkat sihirnya, menggenggamnya dengan tangan kanan, dan menyalakan cahaya hijau di telapak tangan kirinya. Sara bersiap memperhatikan pertarungan dan bersiap untuk menyembuhkan. Uzan, Dubal, dan Edgar maju kedepan. Sang pangeran menghunus pedangnya, Mantan prajurit Oslar tersebut mengeluarkan kapak besarnya dan menggenggamnya erat – erat. Sambil mengendarai Trez si Kuda Magis, Edgar bersiap dengan tombaknya.
“Tidak kami sangka bahwa mereka semua berjumlah lima orang,” Salah satu manusia pohon itu mencibir. “Asumsi kami adalah bahwa gadis Penyihir itu tidur di tenda yang terlindung dari pemantauan kami dan gadis Klerik itu beristirahat di kereta kencana Magis. Menarik sekali.”
__ADS_1
Uzan mengacungkan pedangnya. “Majulah!”
Keenam Manusia pohon tersebut berlari menyerbu ke arah Uzan dan kawan – kawannya. “Kalian berlima akan segera tamat!”