
Dubal mengeluarkan kalung Sila dari Sakunya, lalu mengenakannya. Perlahan, Kalung itu memendarkan cahaya putih hangat yang menjalar di sekeliling Dubal. Setelah beberapa saat, timbulah bayangan Natalia di depan Uzan dan lainnya.
“Dubal,” sapa Natalia, “Syukurlah, kau tidak apa – apa.”
“Natalia,” Dubal tersenyum sambil mengangguk. “Aku tidak apa – apa.”
“Natalia,” kata Dubal. “Aku sudah berjanji kepadamu bahwa aku akan mengikuti pangeran Uzan dan kelompok kecilnya.”
“Jadi,” kata Natalia, “dugaanku bahwa sang pangeran akan melakukan pengelanaan untuk memulihkan gempa ini memang tepat, benarkah begitu?”
Uzan mengangguk. “Itu benar, Nyonya Natalia”
Natalia tersenyum. “Syukurlah.”
“Nyonya Natalia,” kata Sara. “Terima kasih karena sudah menyembuhkanku.”
“Sama – sama, Nona Sara.” Jawab Natalia.
“Aku sudah bergabung di dalam sebuah kelompok kecil yang anggotanya sudah sedang kau lihat,” kata Dubal. “Aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku sudah berada di Pasar Riyaal dan akan menuju perjalanan selanjutnya.”
Uzan dan teman - temannya melambaikan tangan ke arah Natalia. Istri Dubal hanya tersenyum. Namun setelah beberapa saat, senyumnya memudar. “Aku ingin memberitahumu tentang keadaan di Desa Wulfric. Entah mengapa keadaannya sedang kosong.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu,” Natalia menggeleng. “Kemarin, aku menyaksikan sebuah perkumpulan di depan rumah kepala desa. Namun, aku tidak mengetahui lebih jauh tentang apa yang mereka diskusikan.”
“Kita sudah tahu bahwa di tempat itu memang janggal semenjak kita pindah dari Oslar, kan?”
“Aku sudah tahu itu. Namun kemarin pagi mereka berbondong – bondong untuk keluar dari desa. Sepertinya mereka membentuk suatu kelompok. Aku tidak mengerti tujuan mereka dan—”
“Bah!” potong Dubal. “Biarkan saja mereka melakukan apapun sesuai dengan keinginan mereka. Yang penting hal itu tidak menjurus ke arah pengusiran warga atau merugikan warga itu sendiri.”
“Baiklah,” kata Natalia. Ia mengurungkan niat untuk menjelaskan lebih lanjut. Ia terlihat tidak terlalu yakin.
Setelah itu, Dubal menyudahi perizinannya dengan Istrinya. Natalia melambaikan tangan, lalu citranya mulai menghilang. Cahaya yang menyinari kalungnya sirna.
“Apakah kau memiliki hubungan dengan Girafan, Tuan Dubal?” tanya Arika.
“Itu benar,” Dubal mengangguk. “Sebelum ini, aku yang membantu Pangeran Uzan dan lainnya dalam upaya mendapatkan Kain Kagigar Perak di Bukit Girafan.”
“Marilah kita bercerita tentang itu di perjalanan, Dubal,” Uzan membuka pintu kereta kencana. “Kita akan langsung—”
“PANGERAN UZAN!!”
__ADS_1
Terdengar teriakan seseorang dari kejauhan. Uzan dan lainnya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ratusan bandit berbondong – bondong memunculkan diri mereka di sekeliling sang pangeran dan teman – temannya. Mereka tampak membawa berbagai macam senjata tajam.
Dubal menggeram. “Norman!”
Sang Pangeran dan lainnya mengenali dua orang di antara bandit – bandit tersebut. Norman dan Marko
“Kami punya lebih banyak anggota sekarang!” Norman tertawa terbahak – bahak. “Serahkan kereta kencana dan kudanya kalau kalian ingin hidup tenang dan keluar dari kepungan kami.”
“Juga Klerik itu!” Marko ikut menyahut.
“Norman, ya?” kata Dubal sambil menggeram. “Kenapa kau tidak kembali saja ke Desa Wufric?”
“Tutup mulutmu, prajurit buangan!” bentak Marko. “Ini adalah mata Pencaharian utama kami!”
“Pangeran Uzan,” kata Dubal dengan nada marah. “Personil mereka memang lebih banyak dari sebelumnya dan—”
“Ini menyebalkan!” potong Edgar. “Aku bisa langsung menumpas mereka dengan melepaskan kuda ini dari kencananya.”
“Jangan gegabah, Edgar!” kata Sara.
“Kau gila?” Sahut Dubal “Kabar Natalia tentang perkumpulan warga desa barusan, ternyata tentang ini.”
“Betapa mereka berdua tidak memiliki hati,” kata Sara. “Memperalat warga desa menjadi anggota kelompok bandit.”
Sara menghela. “Rasanya seperti ketika kita dikejar oleh makhluk – makhluk yang ada di alam magis.”
“Sebijaknya, kita tidak boleh langsung mengambil keputusan untuk melawan mereka,” kata Dubal yang sedang menenangkan diri. “Aku yakin bahwa sebagian besar mereka merupakan warga desa Wulfric yang bahkan tidak mengerti tentang apa yang mereka lakukan.”
“Arika,” kata Uzan, “apapun yang kau lakukan, kami akan sangat mengapresiasi bantuanmu.”
“Pangeran,” kata Arika dengan wajah cemberut. “Kita belum basa - basi dengan perkenalan antara satu sama lain, tapi sudah ditimpa masalah.”
“Kita akan basa - basi setelah menyelesaikan masalah ini. Ini karena kami memang membutuhkan bantuanmu.
Arika masih memandangi Marko, Norman, dan perambah lainnya. Gadis itu tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi permasalahan pertamanya sejak bergabung dengan sang pangeran. “Apa yang bisa aku bantu?”
“Kita akan langsung melanjutkan perjalanan dan melesat lewat gerbang pintu keluar.” kata Uzan. Ia masih mengedarkan pandangan ke arah ratusan orang yang ada di sekelilingnya. “Kau bisa mengeluarkan kami dari situasi ini?”
“Kuda dan kereta kencana ini punya kekebalan terhadap kekuatan magis” kata Sara “Ada keterkaitan, bukankah begitu?”
“Itu benar, Sara,” kata Arika. Penyihir itu mulai menyalakan cahaya di telapak tangannya. “Akan kubuktikan rasa terima kasihku untuk kalian.”
“Tunggu, Arika!” panggil Sara. “Sebelumnya, beritahu kami bagaimana kau akan melakukan sihirmu.”
__ADS_1
Arika mengangguk. “Setelah angin mengelilingi area sekitar Kuda Magis, kita akan langsung masuk kereta kencana.” Arika perlahan menggerakkan tangannya. Semilir angin berkilau kehijauan perlahan mengelilingi Uzan dan lainnya. Arika perlahan menggerakkan kedua tangannya. “Karena kuda dan kencana yang pangeran gunakan memiliki keterkaitan dengan sihir ini, kita bisa langsung berangkat.”
“Baiklah!” kata Uzan. “Dubal! Kau akan langsung mengendarai kuda dan membawa kami.”
Dubal mengangguk. “Baiklah, pangeran.”
“Seandainya dua berandalan itu bernasib sama dengan Dori ketika kita bertemu pertama kalinya,” Edgar menggeram kesal, “kita tidak akan mendapatkan masalah seperti ini.”
“Ayolah, Edgar,” Ajak Uzan. “Aku yakin pasti akan ada waktu untuk berurusan dengan mereka berdua.”
Edgar masih merasa kesal. “Hmm!”
Uzan, Edgar, dan Sara masuk ke kereta kencana.
Arika menyalakan cahaya di kedua telapak tangannya. Perlahan, desau angin terdengar dan kerlap kerlip kehijauan mulai mengelilingi dirinya dan ruangan di sekitar kuda dan kereta kencana di dekatnya.”
Marko memperhatikan penyihir itu. “Apa yang sedang mereka lakukan?”
Setelah itu, Arika meredupkan pendaran cahaya di telapak tangannya. Pusaran angin hijau masih mendesau di sekelilingnya.
Beberapa saat kemudian, Arika menghampiri Dubal yang sudah menunggangi kudanya. “Mari kita berangkat, Tuan Dubal!”
Arika langsung berjalan masuk ke kereta kencana. Setelah itu, Dubal merasakan kereta kencana itu melayang. Sebuah pusaran angin melingkupi Dubal, Trez, dan kereta kencana. Suara desauan angin sesekali terdengar. Kemerlap kehijauan menghiasi kubah angin tersebut.
“Mereka akan kabur!” teriak Norman. “Serang!”
Semua bandit berbondong – bondong berlari ke arah Dubal dan mengeluarkan berbagai macam senjata mereka.
“Apakah mereka semua mengalami penyakit keterlambatan berpikir?” Dubal menyeringai. Ia segera memacu kuda tersebut agar mereka langsung bisa berangkat.
Kuda tersebut berlari menyusuri jalanan pemukiman kecil tersebut. Seluruh bandit yang menghalanginya terhempas ke samping. Beberapa bandit melemparkan tombak dan pedang ke arah kuda dan kereta kencana. Namun, senjata – senjata mereka terpental karena angin sihir yang melingkupi kuda itu menjadi pelindung terhadap lemparan mereka.
Akhirnya, Dubal dan lainnya berhasil melenggang dari pasar Riyaal melalui gerbang pintu keluar.
__ADS_1