Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Rekap Sementara


__ADS_3

“Untung saja kita terbantu berkat kekuatan tongkat Lumina.”


Sore itu, Uzan dan teman – temannya sedang terduduk di sebelah pantai sembari sesekali menatap ombak yang berdebur.


Sudah setengah jam sang pangeran dan teman – temannnya terduduk di sana. Arika sudah disembuhkan oleh penyembuhan milik Sara.


“Serangan ini sangat merugikan,” Linda mengudara sambil bersedekap. Wajahnya berlinang air mata. “Uvuk pasti sangat sedih dengan hancurnya hutan Lumina ini.”


“Maafkan soal itu, Linda,” Uzan tampak mengerti tentang apa yang sedang dirasakan oleh pixi itu.


Sebagian wilayah dari Hutan Lumina hancur karena serangan milik Malvin. Tidak hanya itu, para Pixi dan makhluk hidup yang berada di area serangan juga tewas karena itu. Karena hal tersebut, Uzan dan para rekannya merenung sejenak dan beristirahat untuk menenangkan diri karena mereka sudah gagal melawan Malvin.


“Aku sudah tidak lagi merasakan keberadaan Malvin,” kata Linda. “Pastinya dia sudah kembali ke Istana lewat portal yang diciptakan oleh Hikin.”


“Terlepas dari semua kejadian ini, kita harus beruntung karena akhirnya kita selamat karena pada akhirnya, tidak ada dari kita terluka,” Uzan berkomentar.


“Tentu saja,” kata Linda. “Salah satu kekuatan tongkat Lumina adalah melindungi semua kelompok kita dari serangan skala besar itu dan meninggalkan rekaan tubuh terluka kita di area tempat dimana kita berpijak sebelumnya. Hal ini mirip seperti cicak yang melepaskan ekornya ketika terancam bahaya. Akan tetapi, ekor di dalam kondisi kita ini berarti klon rekaan. Sebagai tambahan, klon kita bertahan selama lima menit.”


“Itu berarti kln kita sudah menghilang,” kata Edgar.


“Itu benar,” kata Linda.


“Mari kita bicara tentang keadaan kalian dahulu,” kata Rota. “Apakah kalian bisa menceritakan tentang pertarungan kalian ketika sedang ada di kubah itu?”


Uzan menghela sejenak. “Arika, apakah kau bisa menceritakannya?”


“Tentu saja, pangeran,” gadis penyihir itu mengangguk.


Arika menceritakan tentang pertarungan dengan Malvin sang penyihir. Tentang kekuatan yang dimiliki penyihir berkalung hijau tersebut serta kekuatannya. Arika juga menceritakan bahwa sebelumnya, sang pangeran, Linda, dan dirinya dikelilingi lingkaran api sebelum akhirnya dilingkup oleh kubah tanah tersebut.


“Jadi, kau melakukan sihir plasma, ya?” tanya Sara.


“Itu benar,” kata Arika. Ia tampak termenung sambil menatap tongkat dan topi penyihir milikny yang tergeletak di atas tanah tanpa bisa melakukan apa – apa karena kedua tangannya tidak bisa bergerak. “Itu karena diriku terjebak sihir elemen tanah yang menihilkan sihir orang yang terkena. Karena itu, aku langsung menggunakan plasma. Hanya berlangsung sebentar, tapi hal itu demi membantu Pangeran Uzan.”


“Itu benar,” kata Linda. “Bahkan dengan plasma, Arika juga membantu ketika Pangeran Uzan memaksakan kehendak untuk bertarung dengan Malvin di dalam kubah itu.”


“Pastinya kau juga ikut andil,” kata Edgar.


“Itu benar,” kata Linda. “Aku hanya mengalihkan perhatian agar serangan – serangan Malvin meleset ketika ia bertarung dengan Pangeran Uzan. Walaupun, sepertinya ia tidak terpengaruh karena ketika itu Malvin hanya berfokus kepada Pangeran Uzan.”

__ADS_1


“Tidak apa - apa, Linda,” kata Uzan. “Paling tidak, kau tidak apa – apa.”


“Terima kasih, pangeran,” kata Linda. “Aku berhutang kepadamu dan kepada teman – teman yang ada di sini karena sudah diselamatkan.”


Uzan dan para rekannya akhirnya menghela lega dan mensyukuri karena pada akhirnya, mereka masih hidup.


Dubal bersedekap. “Mari kita berbicara tentang masalah utama.”


“Itu benar,” kata Edgar. “Masalah utamanya dalah bahwa Kerajaan Kastala sudah diambil alih, Uzan.


“Akhirnya kecurigaanku selama ini berbuah menjadi realita,” Uzan tampak termenung. “Tugas yang kita jalani ini ternyata hanyalah rekaan belaka.”


“Ini bisa disimpulkan bahwa tujuan tugas ini adalah membuangmu dari Istana, lalu mengambil alih kekuasaan ketika kau tidak menyadarinya.”


“Benar katamu, Dubal,” kata Uzan. “Akan tetapi, aku juga harus mengambil poin bahwa orang tuaku masih di sana dan dipenjarakan.”


“Itu benar, pangeran,” kata Dubal. “Dan itu berarti bahwa kau tidak akan bisa kembali ke istana lagi karena sekarang kekuasaan istana Kastala sudah ada di tangan Faraq.”


“Kau benar, Dubal,” Uzan berkata lirih sambil menunduk. “Rencana Faraq untuk mengambil alih Istana Kastala sudah menjadi realita.”


“Aku turut berduka cita atas musibah yang sedang kita alami ini, pangeran,” kata Sara.


“Sebenarnya aku juga sedang bersedih dengan apa yang akhirnya terjadi ini,” kata Uzan sambil menunduk dan menghela. “Tapi aku juga sedang mencari cara untuk mengatasi masalah ini.”


Tiba – tiba, terdengar sebuah suara. “Aku mempunyai satu pemecahan atas masalah yang sedang menimpamu sekaran, pangeran Uzan.”


Sang Pangeran dan para rekannya menoleh dan mengedarkan pandangan di sekitar mereka sembari mencari sumber suara yang baru saja mereka dengar.


Beberapa saat kemudian, sebuah portal terbentuk. Lalu, Uvuk keluar dari portal tersebut.


“Tuan Uvuk!” kata Uzan.


“Kita bertemu kembali, pangeran Uzan,” Pixi itu melihat deburan air yang ada di pantai di dekatnya. Kemudian, ia berkata, “Aku dan pixi lainnya menyaksikan pertarungan yang kalian lakukan dengan penyihir berkalung hijau tersebut.”


“Bagaimana bisa?” tanya Linda.


“Seperti yang sudah kau ketahui, aku mendapatkan laporan dari para pixi yang ada disekitar kalian dan…” Uvuk melanjutkan. “Aku menyimpulkan bahwa penyihir itu sangatlah berbahaya.”


Edgar berujar, “Tentu saja berbahaya. Maksudku, dia sudah mengklaim bahwa Kerajaan Kastala sudah diambil alih, kan?”

__ADS_1


“Itu benar,” kata Uvuk. “Mari kita melanjutkan maksud utama pembicaraan selanjutnya.”


“Bahwa kau mempunya pemecahan masalah untuk situasi yang sedang menimpa kita saat ini,” kata Uzan dengan nada datar.


Uvuk bersedekap. “Aku mempunyai pendapat bahwa sebaiknya kalian pergi ke Pulau Igardias saja.”


“Maksudmu, melarikan diri?” tanya Edgar.


“Jangan terlalu berpikir negatif!” Uvuk menggeleng pelan. “Hal ini sudah kupertimbangkan matang – matang setelah aku menerima maklumat dari para pixi yang menyaksikan percakapan antara kalian dan masalah utama yang dimana Kerajaan Kastala sudah diambil alih.


Selain itu, aku baru saja mendengar bahwa kalian baru saja menggunakan salah satu kekuatan dari tongkat Lumina. Jadi, pastinya penyihir itu mengira bahwa kalian sudah ia basmi.”


“Yang dikatakan Tuan Uvuk ini ada benarnya juga,” kata Linda dengan meyakinkan.


“Itu hanyalah satu pendapat dariku, pangeran,” kata Uvuk. “Pastinya kau memiliki ide lain yang bisa dilaksasanakan dan mungkin ebih baik dari ideku ini.”


Dubal berujar, “Itu ide yang cukup masuk akal Tuan…”


“Tuan Uvuk,” Linda membenarkan.


“Yah tentu saja,” kata Dubal. “Mari kita dengar jawaban dari Pangeran Uzan.”


Dubal dan lainnya tidak perlu menunggu jawaban Uzan karena sang pangeran langsung menjawab, “Mari kita lakukan rencana yang kau cetus, Tuan Uvuk.”


“Sangat cepat sekali kau mengambil keputusan, pangeran,” kata Uvuk.


“Itu karena kau sepemikiran denganku,” kata Uzan. “Disamping itu, status Pangeran yang sedang aku sandang ini, jika aku masih berada di Pulau Kastala, tidak akan mempunyai banyak makna. Jadi, mari kita laksanakan apa yang baru saja kau bicarakan, Uvuk.”


Uvuk mengangguk. “Tentu saja, Pangeran.”


Rota menunjuk ke arah pantai yang mengeluarkan deburan ombak. “Pastinya kita akan melakukan hal itu dengan berlayar ke sana, kan?”


“Itu benar,” kata Uvuk. “Aku sudah mempersiapkan kapal untuk kalian untuk berlayar ke sana.”


Sang pixi menjentikkan jari. Tiba – tiba, sebuah kapal berlayar lebar muncul dari ketiadaan. Uzan dan lainnya langsung berdiri karena terkesiap. Sang Pangeran menatap kapal tersebut dengan seksama. Kapal yang sedang ada di hadapannya saat ini berukuran sebesar rumah biasa yang berbentuk kapal. Kendaraan itu tampak terbuat dari kayu dan berwarna coklat.


“Jangan khawatir,” kata Uvuk. “Bahan yang digunakan untuk membuat kapal ini sangat kokoh karena kuperintahkan para pixi terbaik untuk membuatnya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir.”


“Terima kasih, Uvuk,” kata Uzan.

__ADS_1


__ADS_2