Kerajaan Kristal Merah

Kerajaan Kristal Merah
Mendatangi Sang Pangeran


__ADS_3

Di hutan Lumina, sebuah portal putih terbentuk dari ketiadaan. Malvin keluar dari portal tersebut. Di dekatnya, Hikin melayang sambil mengepakkan sayap capungnya.


Malvin mengamati keadaan sekitar dengan memandang daerah yang baru saja dipijaknya. Puluhan pixi lelaki dan perempuan berterbangan lalu lalang di bagian hutan tersebut. Karena sekarang sudah petang menjelang malam, jumlah mereka mulai berkurang.


Mata malvin melihat ke arah Hikin. Ia memastikan bahwa kalung sihir sudah terpasang di leher pixi tersebut. Kalung sihir tersebut berfungsi untuk mengikat makhluk itu. Ia sudah memberitahu Hikin bahwa ia harus menemaninya di sini untuk menemui Uzan dan segera membunuhnya. Jika ia berani melawan, kalung itu akan terbakar dan Hikin akan langusng tamat riwayatnya.


Karena ancaman itu, Hikin menurut. Pixi itu tampak murung dan sedih.


“Apakah kau mengetahui keberadaan Uzan dan teman – temannya?” tanya Malvin.


“Aku mengetahuinya,” kata Hikin. “Salah satu tempat untuk menyambut tamu di Hutan Lumina adalah Rumah Aman.”


“Rumah Aman?”


“Rumah Aman adalah Rumah yang disediakan oleh para Pixi untuk tamu mereka yang berukuran lebih besar.”


“Kau bisa mengarahkanku ke mereka?”


“Tentu saja,” kata Hikin. Kemudian, ia berputar melayang dan bergerak lambat menuju Rumah Aman yang dikatakannya. Dengan tenang Malvin berjalan mengikuti Hikin. Ia tampak tidak khawatir jika Pixi itu kabur karena sudah memakai kalung api.


Ketika berjalan ke tujuan yang dimaksud oleh Hikin, Malvin harus melewati beberapa semak besar dan berbagai macam serangga yang menghadang jalannya. Ia sedikit merasa terheran akan serangga – serangga yang didapatinya dan kenyataan bahwa mereka juga hidup berdampingan dengan aman dengan para pixi sehingga dua jenis makhluk tersebut tidak saling memangsa.


Namun ia segera memudarkan rasa kagumnya karena tujuan utamanya datang ke tempat ini adalah untuk menghancurkan Uzan.


Beberapa saat kemudian, Malvin dan Hikin menemui sebuah penginapan berukuran normal manusia yang mereka pandang dari kejauhan.


Hikin berhenti di udara sambil memejamkan mata.


“Apa yang sedang kau lakukan, Hikin?” tanya Malvin.


Hikin tidak menjawab dalam waktu lama. Matanya masih terpejam. Beberapa saat kemudian, ia menjawab, “Aku sedang melakukan telepati dengan seorang pixi yang sedang ada bersama mereka.”


“Maksudmu, mereka juga ada sedang bersama seorang pixi?”

__ADS_1


“Itu benar,” Hikin mengangguk. “Aku baru saja memberikan maklumat kepada mereka tentang apa yang terjadi di Istana Kastala.”


“Itu bagus,” Malvin mengangguk. “Kau melakukan seperti apa yang aku perintahkan.”


“Tentu saja,” Hikin tampak ragu. “Aku sudah memberitahu Linda bahwa kekuasaan Istana Kastala sudah diambil oleh Faraq—”


“Tuan Faraq.”


Malvin membenarkan. “Tuan Faraq.”


“Tuan Faraq,” Hikin menelan ludah. “Selain itu, aku juga sudah memberi tahu mereka bahwa mereka semua harus keluar dari sana untuk menemui dirimu untuk mendengarkan penjelasan lanjut. Kalau tidak, kau bisa saja membakar seluruh Hutan Lumina ini.”


“Itu bagus,” Malvin terkekeh. “Selain itu, maklumat apa yang baru saja kau dapat dari mereka?”


Hikin menatap ke bawah sejenak, lalu berkata, “Pangeran Uzan baru saja memperoleh Tongkat Lumina dan berkata bahwa tongkat tersebut tidak akan ia kirimkan ke istana melalui Perkamen khusus Material Magis.”


“Lalu?”


“Sayang sekali bahwa rencana mereka batal karena malam ini, aku akan menghancurkan mereka,” Malvin mendecih. “Apakah kau sudah memberitahu mereka perihal kedatanganku?”


“Sudah,” kata Hikin. “Kalau aku boleh memberi saran, kita harus mendekat ke rumah tersebut karena sebentar lagi Uzan dan kawan – kawannya akan keluar.”


“Baiklah,”


“Satu lagi.”


“Ada Apa?”


“Kau di perintah Tuan Faraq untuk menghancurkan Pangeran Uzan di sini,” Hikin terpaku sejenak, lalu berkata, “Apakah kau yakin harus menggunakan sihir tingkat tinggi untuk menghadapi mereka? Maksudku, kau bisa saja mencabut nyawa Pangeran Uzan secara diam – diam atau dengan cara lain yang lebih efisien.”


“Sebagai sandra, kau punya pertanyaan menarik. Walaupun, sebenarnya pertanyaan itu tidak diperlukan. “Malvin menyeringai. “Tuan Faraq memang mengutusku untuk membunuh Uzan. Namun, seperti yang sudah kuberitahu kepadamu sebelum kita membuka portal ke sini, aku juga ingin mengetahui mengenai Uzan dan lainnya. Selain itu, aku lebih mementingkan rasa puas ketika membasmi musuh – musuhku dengan kehancuran total dari pada dengan car – cara sembunyi – sembunyi yang yang baru saja kau katakan.”


“Baiklah,” Hikin tampak khawatir. “Mari kita berjalan dan sedikit mendekat ke rumah tersebut karena sebentar lagi, Pangeran Uzan dan lainnya akan segera keluar untuk menemui kita.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Uzan dan lainnya keluar dari Rumah Aman dan menemui seorang penyihir asing bersama Hikin yang sedang melayang di sampingnya.


“Jadi dugaanku benar,” Uzan menghunus pedangnya. “Faraq telah mengkhianati kerajaan kami.”


“Sial!” seru Edgar.


“Pangeran Uzan, apa kau tidak meragukan perintahmu untuk membunuhnya, padahal sudah jelas bahwa Faraq adalah pelaku pengkhianatan ini?”


“Jika aku berkehendak langsung, aku akan menyerang penyihir asing itu,” kata Uzan dengan tenang. “Tapi Linda berkata bahwa Faraq sudah membunuh Kamasa, mengalahkan Rowan dan Rena, dan memenjarakan Ayah dan Ibuku. Kita harus berhati – hati dengan penyihir ini karena kalung yang mereka pakai.”


“Ternyata prasangka kita selama ini benar,” Arika termangu.


“Aku juga khawatir dengan nasib para warga dan penduduk Kastala ketika dilanda pengkhianatan seperti ini,” kata Sara.


Sembari melayang di samping Uzan, Linda berkata, “Sayang sekali Hikin sedang dijadikan sandra dan tidak bisa macam – macam walaupun bisa saja menggunakan telepati untuk menguak kelemahan musuh karena taruhannya dalah nyawa.”


“Selamat malam, Pangeran Uzan,” kata Malvin dengan suara yang ditinggikan. “Namaku adalah Malvin dan aku datang ke sini karena diutus oleh Tuan Faraq untuk menghancurkanmu.


“Tidak aku sangka banyak sekali maklumat yang disampaikan oleh Hikin melalui telepati mengenai situasi dan kondisi yang sebenarnya terjadi di Kerajaan Kastala. Di samping itu, aku tahu bahwa kau juga menaruh perhatian besar pada Pixi pegawai istana kecil ini. Tentu saja.”


Malvin mengamati Uzan dan seluruh kawannya yang sudah bersiap – siap bertarung. Jika dibandingkan dengan raut wajah kawannya yang tampak khawatir, takut, atau marah, wajah sang pangeran masih terlihat tenang.


“Jika kau kesini untuk menghancurkan kami,” Uzan mengarahkan ujung pedangnya ke Malvin. “Ayo lakukan!”


Arika memunculkan tongkat sihirnya, Edgar mengeluarkan tombaknya, Dubal menghantamkan kapaknya ke tanah, Sara membuat kedua telapak tangannya berpendar, ia juga sudah memakai satu gelang Azure di pergelangan tangan kanannya.


“Aku sedang berhadapan dengan pangeran yang sudah siap untuk menemui ajalnya.” Malvin terkekeh. Setelah itu, melepaskan jimat hijau Rimasti dan menggenggamnya. Kemudian, ia mengulurkan tangannya ke atas. Cahaya hijau berpendar terang dari jimat tersebut.


Uzan dan kawan – kawannya memperhatikan pengaruh dari cahaya tersebut. Perlahan, sebuah makhluk raksasa keluar dari ketiadaan. Di sekujur tubuhnya, terdapat beberapa garis – garis berapi hitam. Perangainya bagaikan kera. Ia menggenggam kedua telapak tangannya dan menhantamkannya ke tanah. Ia menatap tajam ke arah Uzan.


Uzan dan kawan – kawannya tersentak ketika melihat makhluk tersebut. Arika mundur satu langkah dan bergumam dengan nada khawatir, “Raksasa golem lava gorila….”

__ADS_1


__ADS_2