
Uzan, Edgar, dan Sara melakukan perjalanan menuju arah Bukit Giraf.
Dengan bantuan perkamen sihir Kamasa, Uzan langsung mengetahui ke mana arah. Uzan dan Edgar mengendarai kuda yang berlari dengan lantang dan cepat. Hutan demi hutan mereka telusuri. Desa demi desa dilewati. Beberapa sungai juga mereka lalui melalui jembatan – jembatan yang telah tersedia.
Mereka sedikit bicara ketika melakukan perjalanan dan berfokus untuk mencapai tujuan. Dalam perjalanan, terkadang, Uzan dan dan Edgar hanya menjalankan kuda – kuda mereka. Sesekali Uzan melihat peta dunia Namaril yang diberikan ayahnya.
Di Dunia Namaril, lokasi Kerajaan Kastala berada di ujung peta. Sebelah barat laut. Perbatasan Pulau Kastala bagian utara terdapat sebuah pulau bernama Igardias. Di sebelah timur pulau itu, ada pulau Enmar. Di sebelah utara Enmar, Terdapat pulau Oslar, dan di sebelah utara pulau Oslar, terdapat pulau Rimasti. Setiap pulau memiliki lokasi istana kerajaan berserta pemukiman khusus yang ada di sekitarnya.
Setelah itu, peta yang diberikan ayahnya tertulis tentang para pimpinan masing – masing kerajaan. Kerajaan Kastala dipimpin oleh Raja Endan dan ratu Sofia. Kerajaan Igardias dipimpin oleh Raja Guvar dan Ratu Agatha. Kerajaan Oslar dipimpin oleh Raja Molin dan Ratu Iwada. Kerajaan Enmar dipimpin oleh Raja Solum dan ratu Safiri. Kerajaan Rimasti dipimpin oleh Raja Astag dan Ratu Idila.
Setelah beberapa lama mereka menempuh perjalanan, Uzan, Edgar, dan Sara memutuskan untuk turun sambil dan berjalan kaki sambil sambil menuntun kuda kedua kuda mereka.
“Sayang sekali, Pangeran Uzan” Sara memulai pembicaraan. “Para prajurit tidak boleh diikutkan untuk tugas ini.”
“Tidak apa – apa, Sara,” kata Uzan.
“Tidak ada masalah,” kata Edgar. “Paling tidak, kita bisa menjalankan misi kita bertiga.”
“Kurasa Faraq benar tentang ini,” kata Uzan. “Tentang fungsi para prajurit yang lebih baik diposisikan sebagai penjaga untuk mengayomi warga.”
“Setelah para penyembuh tingkat Klerik di sekolah Igardias lulus, mereka disebar ke seluruh penjuru Namaril.”
Uzan berujar, “Kenapa kau tidak mendaftarkan diri sebagai Klerik Istana?”
“Itu karena aku ingin membantu para warga yang kesakitan yang ada di sekitar Istana,” kata Sara, “dan…kau tahu kan…”
Edgar bertepuk tangan. “Sungguh mulia teman kita yang satu ini.”
Uzan menatap langit. “Kita juga ikut merasa senang ketika kau bisa di sekolah sihir di Igardias.”
“Tentu saja pangeran,” Sara tersenyum. “Aku berterima kasih pada tuan Kamasa yang memberiku rekomendasi untuk sekolah di Igardias.”
“Memangnya, apa bedanya antara Klerik dengan Tabib?” Tanya Edgar
Sara menjelaskan, “Penyembuh atau tabib adalah orang yang menyembuhkan dengan metode biasa dan alat – alat kedokteran. Klerik adalah orang yang menyembuhkan dengan sihir.
“Memang Klerik bisa lebih cepat menyembuhkan. Namun Klerik jumlahnya sangat jarang. Di Igardias, jumlahnya tidak lebih dari tiga ratus orang. Itupun mereka datang dari seluruh penjuru Namaril. Sedangkan penyihir, jumlahnya bisa seribu lebih.”
“Aku pernah ke Igardias beberapa kali,” kata Uzan, “tapi hanya di kalangan Istana kerajaan saja. Tidak sampai sekolah – sekolah sihir apalagi aku jarang berbicara dengan para penyihir di sana.”
__ADS_1
“Sayang sekali aku juga jarang bertugas kesana,” kata Edgar. “Aku baru sadar kalau ketika aku diberi tugas oleh raja Endan, Klerik istana yang menemani kami cuma dua atau tiga. Apalagi, aku belum sempat berkenalan dengan mereka.”
“Setelah mendengar penjelasan Sara,” kata Uzan. “Aku tidak heran jika klerik Istana jumlahnya cuma sedikit.”
“Kalau boleh tahu,” kata Sara. “Berapa jumlah keseluruhan Klerik Istana, Pangeran Uzan?”
Terakhir yang kuketahui…” Uzan memegang dagu. “Jumlah Seluruh Klerik Istana hanya berjumlah lima puluh orang dan jumlah Penyihir seratus orang.”
“Sebenarnya Uzan yang harus mengatakan ini, tapi Istana juga punya hak untuk memberikasn seleksi ketika pemilihan pegawainya.” kata Edgar.
“Tidak heran Rena ingin mengangkatmu jadi Klerik istana dalam jalur Fast Track” kata Uzan “Sara bisa melakukan Max Purify. Jadi, Rena juga punya alasan bagus untuk mengangkatmu.”
Edgar memandang telapak tangannya sendiri. “Lagipula, jika kita bicara tentang penyihir, siapa yang tidak ingat dengan Rena.”
“Iya” kata Sara. “Ia adalah penyihir pintar."
“Maklum,” kata Edgar. “Dia adalah putri dari tuan Kamasa.”
“Aku ingat ketika bicara dengannya,” kata Sara “Rena langsung ditempatkan di tingkat dua. ketika itu, tidak banyak penyihir yang bisa ditempatkan di tingkat dua.”
“Rena adalah penyihir air, kan?” kata Uzan. “Setahuku, air berkaitan dengan penyembuhan.”
Ketika masih sekolah di Igardias, aku sempat berbincang – bincang dengan Rena mengenai sihir. Ia bilang bahwa banyak sekali penyihir yang tidak tertarik dengan ilmu penyembuhan. Walaupun begitu, sihir mereka bervariasi, dan banyak sekali macamnya. Ilmu Utama adalah penguasaan dari salah satu dari elemen air, angin, api, dan tanah. Mungkin itu yang menghilangkan ketertarikan mereka terhadap ilmu penyembuhan.”
“Orang – orang lebih mengandalkan tabib atau Klerik sebagai penyembuhan bagi mereka,” kata Sara.
“Walaupun khusus dalam bidang penyembuhan,” kata Uzan, “Klerik memang sudah pasti bisa diandalkan dalam bidang itu. Apalagi, kemampuanmu bisa menarik Rena untuk mengangkatmu menjadi pegawai kerajaan dalam bidang Fast Track kemarin.”
“Jikapun Sara setuju…” Edgar menambahkan, “hal itu hanya sedikit menambah pengaruh untuk memulihkan bencana ini.”
“Tentunya,” kata Uzan, “jika dibanding dengan tugas kita sekarang."
Sara menghadap ke tanah dengan raut muka sedikit kecewa. “Gempa berkala ini sangatlah pelik. Beberapa karena para Klerik sekarang sedang berjuang dengan para tabib dengan penduduk sekitar untuk merawat para korban gempa.”
“Jangan Lupa,” Edgar memasukkan kedua tangannya ke saku. “Dengan Prajurit.”
Uzan Berujar, “Tentu saja hal itu akan bisa digantikan oleh para tabib dan penyihir istana yang sedang bekerja selagi kita menyelesaikan tugas kita sekarang.”
“Semoga,” Sara tersenyum. “Ngomong – ngomong soal prajurit, kau dilatih oleh tuan Rowan. Bukankah begitu, Edgar?”
__ADS_1
“Tentu saja!” kata Edgar dengan Bangga. “Aku sudah menjadi Prajurit Istana tingkat atas.”
Uzan menambahkan, “Tuan Rowan sebagai pimpinan tinggi para Prajurit tidak mengizinkan orang – orang lemah untuk dilatih di Istana. Lagipula, Pencapaian Edgar sebagai salah satu Prajurit Terkuat adalah berkat latihan Tuan Rowan.”
“Tuan Rowan memang keras,” Edgar menyetujui, “tapi seluruh Prajurit yang dihasilkannya tidak lemah.”
“Itu bagus,” Uzan mengangguk. “Aku dilatih pedang oleh ibu dan diajari tentang seluk beluk pemerintahan oleh ayah. Semoga dengan pengalaman kita bertiga, ini cukup menyelesaikan tugas ini.”
Sara menelungkupkan jemarinya sambil berharap, “Semoga kita berhasil menempuh perjalanan ini.”
“Tentu!” kata Edgar dengan nada meyakinkan, “Lalu para prajurit bisa berlatih lagi!”
“Mengenai tugas ini, aku teringat akan maklumat yang pernah kupelajari di Igardias,” kata Sara. “Bahwa selain mendaki bukit Giraf, Kita juga akan diserahi tugas oleh penjaganya untuk melakukan sesuatu untuk mereka.”
Uzan terheran. “Penjaga?”
“Iya,” Sara mulai menerangkan “Di atas bukit Giraf, ada tiga ras penduduk yang tinggal di sana. Mereka adalah Gulda, Silvar, dan Barinza. Ketiganya disebut Girafan.”
“Penduduk ya?” kata Edgar, “Kurasa Bukit Kagar tidak seluas itu. Maksudku, aku pernah melewati Bukit Kagar ketika mendapatkan tugas pasukan Kastala. Tapi aku tidak tahu bahwa jika disana ada tiga ras penduduk.”
“Memang bukit Giraf tidaklah seluas yang manusia kira,” kata Sara, “Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ras – ras tersebut menggunakan Aura Magis untuk menyembunyikan lokasi mereka. Selain itu, kemungkinan besar jalur yang dilewati oleh manusia di sekitar bukit itu berbeda dengan lokasi mereka.
“Dengan Aura Magis, suatu lokasi bisa menjadi berkali - kali lebih luas dari pada aslinya. Sehingga, aku tidak heran jika Girafan disebut sebagai Makhluk Magis.”
“Makhluk magis ya?” kata Uzan “Lalu, apakah mereka semua merupakan penjaga Kain Kagigar perak?”
“Tidak, pangeran,” Sara menggeleng. “Setauku, Gulda adalah penjaga Tongkat Kagigar emas. Silvar adalah penjaga Kain kagigar perak. Barinza adalah penjaga Seruling Kagigar perunggu.”
“Apa kau tahu tentang apa yang diujikan oleh Silvar?” tanya Edgar.
“Aku hanya tahu tentang itu ketika aku sekolah di Igardias.”
“Baiklah,” Uzan mengangguk mantap. “Kurasa kita harus langsung mendatangi mereka untuk mengetahuinya."
“Tidak sia – sia kau pergi ke Igardias, Sara,” kata Edgar.
“Itu benar,” kata Uzan “Sekilas maklumat tentang hal – hal yang berkaitan dengan tugas akan sangat berguna bagi perjalanan kita.”
Sara tersenyum. “Terima kasih.”
__ADS_1